Masih adakah toleransi di bumi pertiwi Indonesia ?

Isu yang merebak sehubungan dengan intoleransi di Indonesia seakan pecah, menyusul tindakan radikalisme terorisme yang baru-baru ini terjadi di Mapolresta Surakarta.

terbakarnya masjid di Tolikara Papua, penyerangan terhadap jamaah Katolik di Sleman Yogyakarta, penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Tasikmalaya , penyerangan komunitas Syiah di Sampang, Madura, kejadian Tanjung Balai, menyusul kejadian intoleransi di Gondang Klaten belum lama ini tentu memicu keprihatinan banyak pihak. Toleransi yang selama ini dibangun dan dikampanyekan seakan runtuh begitu saja. Kekerasan yang mengatasnamakan agama dan tindakan Intoleransi seolah menghancurkan nilai-nilai agama dan kearifan lokal yang selama ini di agungkan dan dipegang teguh.

Pertanyaan berikutnya adalah, masih adakah orang-orang yang memegang nilai-nilai luhur agama dan kearifan lokal di negeri ini ?

Belum lama ini, penulis menghadiri sebuah hajatan pernikahan seorang saudara di daerah Cileungsi Bogor. Teman penulis ini seorang Katholik. Rangkaian acara dari hari pertama sampai hari terakhir diwarnai nuansa jawa dan religius Katholik.

Acara ini terselenggara dengan lancar dan sukses karena warga masyarakat didaerah itu ikut membantu pelaksanaan hajatan.
Ada satu hal yang membuat saya takjub, masyarakat dari berbagai kalangan dan Agama terutama minoritas(Muslim) di daerah itu bahu membahu tanpa sekat dalam tali persaudaraan yang saya sendiri sulit untuk menggambarkannya.

Bahkan dalam acara doa secara  katholik di rumah dan di Gereja, saudara-saudara Muslim mempersilahkan pemilik rumah untuk fokus saja berdoa, dan merekalah yang akan membereskan urusan yang lain. Luar biasa indahnya persaudaraan dan suasana toleransi yang saya saksikan.
Bahkan dari komentar beberapa warga, mereka mengatakan bahwa “Tidak hanya hajatan, kami pun selalu bersama-sama saat Idul Fitri dan Natal”.

Peristiwa diatas memunculkan harapan dan meneguhkan kita semua bahwa optimisme itu masih ada. Optimisme untuk mengembalikan kembali keutuhan negara ini dari rongrongan intoleransi, radikalisme dan terorisme.

pemahaman kita tentang toleransi seringkali dangkal dan hanya berhenti pada pemahaman sesama agama saja. Lebih dari itu sebenarnya toleransi memiliki makna luas. Menghargai sesama warga negara tanpa melihat dan memandang suku, agama, ras, dan keyakinan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *