Kenapa harus 14 hari dirumah? Baiknya ngapain ya selama dirumah?

source: miranda marquit due.com

Beberapa Sekolah, Universitas dan tempat kerja telah banyak yang dihimbau untuk melakukan social distancing, dan mengurangi kegiatan serta melakukan beberapa tugas/pekerjaan via online. Beberapa Universitas, pun tempat kerja memang telah banyak menerapkan sistem kuliah/kerja dan rapat online, sehingga tidak begitu pusing dengan adanya himbauan ini. Hanya saja, untuk kegiatan yang mengharuskan tatap muka, benar-benar harus dikurangi, kecuali bersifat sangat penting.

Kebanyakan himbauan yang diedarkan adalah siswa, mahasiswa, juga pekerja di liburkan selama 14 hari. Namun, dengan adanya libur tersebut, beberapa orang malah menjadikannya kesempatan untuk pergi piknik, bahkan mudik. Memang, supaya tetap sehat kita pun butuh refreshing seperti piknik atau bertemu orang tersayang, tetapi ini bukan saatnya. Loh kok gitu? Kenapa harus ada libur dong?

            Kenapa harus 14 hari dirumah, mengisolasi diri? Kenapa sepenting itu dan haruskah dilakukan? Jawabannya, YA, Sebisa mungkin dilakukan, karena….

            Dengan dirumah selama 14 hari ternyata dapat menghentikan laju penularan COVID-19. 14 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk mengetahui aman atau tidaknya seseorang dari infeksi virus corona. Dalam kasus begini, saat seseorang tidak sengaja dan tanpa sadar melakukan kontak fisik terhadap apapun yang bisa menginfeksi dirinya dari virus corona, maka dibutuhkan waktu 14 hari untuk menunggu (dirumah), jika tidak terjadi apa-apa maka orang tersebut aman. Namun, jika ternyata orang tersebut terinfeksi dan tetap kesana-kesini padahal sudah dihimbau untuk mengurangi kegiatan, bisa saja dia menularkan kepada orang lain, dan rantai penularan semakin meluas.

            14 hari libur dilakukan untuk memotong rantai penularan, hal ini dilakukan dengan harapan dapat meminimalisir laju bahkan menghentikan serta menyelamatkan ribuan orang. Tetapi, hanya akan berhasil apabila semua orang tetap tinggal dirumah masing-masing selama 14 hari libur itu. (dr. Reisa Broto Asmoro)

            Nah, agar 14 hari dirumah tidak bosan nih beberapa tips yang baik dilakukan :

  1. Membersihkan rumah, waktu yang cukup lama berada dirumah sebaiknya dilakukan dengan membersihkan rumah agar diri kita juga lebih sehat.
  2. Merawat diri, nih bagi yang biasanya sibuk bepergian untuk kegiatan diluar, waktu libur ini adalah waktu yang tepat untuk merawat diri kalian.
  3. Belajar memasak makanan sendiri, karena setiap hari beli makanan diluar atau bahkan go-food/grab food, dengan adanya libur ini kalian bisa loh mengkreasikan makanan sehat ala kalian.
  4. Berkarya/melakukan hobi, yang suka membuat komik, melukis, bermain alat musik dan lain-lain, saat inilah waktu yang pas untuk kalian melakukan menggali potensi atau hobi kalian.
  5. Bekerja atau doing homework, selain melakukan me-time ala kalian masing-masing, pekerjaan ataupun tugas tetap dikerjakan ya, karena libur bukan berarti bermalas-malasan.

Singkatnya, marilah kita semua mendoakan dunia agar segera pulih, stay safe, stay healthy!

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

“Menjadi sahabat bagi semua orang dengan semangat cinta kasih, adalah harapan dan solusi agar mampu keluar dari sekat-sekat pemisah”

74 tahun sudah kemerdekaan Indonesia dirayakan sebagai buah dari rahmat Tuhan. Hal ini juga dikatakan di dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai kaum beriman, kita pasti meyakini bahwa Tuhan Yang maha Esa ikut berperan dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya.

Bangsa Indonesia yang terdiri atas macam-macam suku, budaya serta keyakinan ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berjuang sekian lama dalam merebut kemerdekaan serta merajut kehidupan bersama dengan bermacam ujian yang harus dilalui

Pada masa perjuangan, persatuan bangsa Indonesia sudah dibuat susah oleh penjajah. Mereka menggunakan berbagai cara, politik memecah belah untuk melemahkan persatuan bangsa Indonesia. Sementara disatu sisi, para pendiri Negara inipun mengalami proses tarik menarik dari banyaknya buah pikir, keyakinan dan kepentingan kelompok.

Tetapi, berkat Rahmat Tuhan jugalah pada akhirnya seluruh perbedaan ini mampu disatukan dan justru menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk merdeka dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Saat ini, setelah 74 tahun mencecap kemerdekaan. Semangat kebersamaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika mulai “diganggu”, di pertanyakan bahkan hendak diganti  keberadaannya oleh sebagian orang yang tidak mengerti dan paham atas sejarah perjuangan bangsa. Semangat untuk menjadi sahabat bagi semua orang seakan luruh.

Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan kita semua anak bangsa. Hanya bisa mengelus dada, saat kejadiaan demi kejadian intoleransi di sana-sini. Saat kedamaian, kerukunan yang sudah lama bertahan, dicabik-cabik oleh ulah sebagian orang dengan provokasi dan propaganda yang mengancam kerukunan serta kehidupan toleransi .

Manusia diciptakan memang berbeda satu sama-lain. Bahkan seorang kembarpun pasti akan ada perbedaannya. Kalaupun secara fisik identik satu dengan yang lain, tapi pola pikir nya pasti berbeda. Bagaimana menyatukan hal-hal yang berbeda ini ? Bagaimana dengan Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan bahasa (amat banyak bahkan).

Para pendiri bangsa, sudah mewariskan semangat persaudaraan dan kebersamaan yang dituangkan dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini sudah cukup untuk merekatkan perbedaan yang ada. Sudah teruji sekian lama dengan terpaan demi terpaan.

Bagi generasi muda, sudah saatnya kita mulai ambil peranan dalam memperjuangkan keberlangsungan bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini lewat kegiatan-kegiatan positif, serta tingkah laku keseharian yang sejuk dan damai.
Tidak usah terlalu muluk-muluk, apalagi harus disertai kekerasan dan angkat senjata. Ini sudah bukan jaman penjajahan, tetapi era mengisi dan mempertahankan kemerdekaan.

Dengan menyadari bahwa setiap manusia diciptakan setara oleh Tuhan, kita akan mampu manyadari mengapa dari setiap kita sebagai pribadi diciptakan, eksis dan ada di dunia ini. Kebetulan kita, anda dan saya terlahir di atas bumi yang disebut sebagai Negara Indonesia ini. Lebih sempit lagi, kampung tempat kita tinggal masing-masing.

Pandangi saja sekitar tempat tinggal kita. Ada banyak manusia yang sama dengan kita yang memiliki kelebihan, kekurangan, keberuntungan dan masalahnya masing-masing. Terkadang manusia mampu memecahkan semua persoalan hidupnya sendiri, tetapi tidak jarang yang membutuhkan orang lain. Begitu juga saya dan anda.

Hidup rukun, bersahabat dan berdampingan sesama manusia tanpa memandang latar belakang, apalagi mempertanyakan keyakinannya, akan sangat berdampak besar bagi perkembangan relasi positif yang saling menguatkan satu sama lain.

Bukankah ketika semua saling bergandengan tangan, tolong menolong, bahu membahu dalam mengatasi dan mencari solusi sebuah permasalahan, akan lebih terasa ringan ? Bukankah ketika hidup di keseharian kita semua dilandasi semangat saling mengasihi dan menghargai sesama manusia akan terasa lebih damai dan menentramkan ?

Menerima perbedaan dengan sikap saling menghormati adalah langkah awal yang bisa kita semua lakukan sebagai generasi muda agar mampu menjadi sahabat Bagi semua orang. Dengan menjadi sahabat setiap orang, kita sudah ikut andil dalam memperkuat dan merawat persaudaraan, serta persahabatan dalam kehidupan bangsa kita

Dalam persahabatan, Hubungan atau relasi antara Pimpinan dan bawahan, antara pejabat dan anak buah, yang berjarak dan mengandung kesenjangan, dirubah menjadi relasi dua arah yang pasti mengangkat martabat dan harkat manusia. Ketika hubungan atau relasi semacam ini terjadi, maka akan terbuka ruang-ruang penerimaan baru pada masing-masing pribadi, bagi tumbuh dan berkembangnya kerukunan, nilai-nilai luhur perdamaian, serta pengertian.

Persahabatan yang dilandaskan pada cinta kasih, adalah solusi dan harapan bagi kita semua bangsa Indonesia untuk keluar dari sekat-sekat suku, budaya, agama, dan lain sebagainya. Bagi sahabat-sahabat generasi muda, mari gaungkan pesan persahabatan yang pasti akan mengarahkan dan membawa kita kembali kepada sejarah bersama bangsa Indonesia, cita-cita bersamanya, dan perjuangan bersama bagi kemanusiaan, untuk terwujudnya sebuah peradaban penuh kasih dan damai, bagi Indonesia yang bermartabat.

Panduan Menyayangi Orang Tua Saat Corona Mulai Menyebar

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa sayang terhadap seseorang. Mengisolasi diri sendiri adalah salah satu di antaranya.

Corona menjadi buah bibir yang sedang hangat dibicarakan oleh semua orang di seluruh dunia hari ini. Sebagai sebuah virus yang ditakuti karena gejalanya yang nampak sama dengan demam biasa, corona hadir sebagai mimpi buruk dari para kapitalis. Meski di sisi lain ia menjadi angin segar bagi orang-orang yang peduli lingkungan, sebab nyatanya, mau tidak mau harus diakui bahwa corona berhasil membuat banyak orang mendekam di rumah dan tidak memenuhi jalan dengan kendaraan yang menghasilkan polusi tiap saat. Sehingga jika kamu sadar, sekarang di beberapa kota besar kamu sudah bisa melihat langit bersih pada pukul 1 siang. Hal yang tentu mustahil untuk kamu temukan pada hari-hari biasa.

Tapi benar-benar luar biasa corona ini. Selain banyaknya perusahaan yang telah menghimbau karyawannya untuk bekerja remote dari rumah masing-masing, insititusi pendidikan juga dibuat kelabakan. Mereka terpaksa mengeluarkan surat keputusan yang terburu-buru—meminta mahasiswanya libur dua minggu hingga satu semester penuh, mengerjakan tugas secara online, bahkan menyuruh untuk pulang ke rumah orang tua masing-masing. Masalah baru timbul ketika mahasiswa yang kebanyakan berkuliah di kota-kota besar, kota yang telah ditemukan pasien positif corona, benar-benar mengikuti anjuran kampus untuk pulang. Berpindah dari kota menuju ke daerah yang mungkin hanya ada puskesmas atau rumah sakit kecil dengan alat yang tidak memadai untuk mengidentifikasi corona.

Coba kamu pikir sejenak. Penanganan corona di kota-kota besar saja sudah ngos-ngosan, apalagi jika ia masuk ke daerah-daerah, seperti Wajo di Sulawesi Selatan atau Desa Tulang di Kabupaten Karimun Kepulauan Riau yang menghabiskan waktu cukup lama untuk sampai ke kota besar saat ada masyarakatnya yang menunjukkan gejala corona. Imbauan beberapa kampus yang menyuruh mahasiswanya pulang akan berbahaya sekali bagi orang-orang di daerah, bagi para anggota keluarga mahasiswa ini, bagi masyarakat sekitar. Mengingat orang yang berusia tua plus memiliki imun yang lemah adalah mereka yang paling rentan untuk terjangkit virus corona, sebab pernapasan merekalah yang diserang. Jadi orang tua yang memenuhi syarat di atas akan semakin berpotensi, dan tentu ini menjadi hal yang miris ketika yang menularkan adalah anaknya sendiri.

Jadi jika kamu adalah mahasiswa yang merasa ini menjadi waktu yang tepat untuk pulang ke rumah, menyaksikan senyum orang tua yang hangat, serta memakan semua makanan yang lezat, sebab kampus libur, maka tolong pertimbangkan lagi. Kamu tidak tahu apakah orang yang kamu temui di kafe, warkop, atau burjo beberapa hari yang lalu benar-benar sehat dan terbebas dari virus corona ini. Kamu tidak tahu apakah orang yang kamu jabat kemarin rajin mencuci tangannya sebelum memegang daerah wajah. Karena kamu serba tidak tahu, maka langkah terbaik yang bisa kamu ambil adalah dengan mengisolasi dirimu sendiri di rumah, kontrakan, atau kosan. Jangan pulang, jangan temui orang tuamu, jangan buat mereka berpotensi tertular apapun yang bisa kamu bawa ke rumah.

Cara semacam itu setidaknya bisa menunjukkan rasa kasih sayangmu pada mereka. Rasa kasih sayang tidak melulu harus bertemu langsung, bukan? Nah, di sinilah kamu menunjukkan baktimu sebagai anak. Setidaknya jika kamu tidak suka dengan konsep anak sebagai investasi orang tua, kamu masih bisa melihat orang tuamu sebagai entitas manusia yang berhak sehat tanpa terpapar virus apapun dari orang di sekitarnya. Sementara itu, kamu sendiri dapat memulai langkah awal untuk menjaga kesehatan dengan membatalkan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu di ruang-ruang publik atau di mana pun yang mengharuskanmu bertemu dengan banyak orang. Jika bisa, masaklah makananmu sendiri. Hindari membeli makanan dari warung yang memajang sayur dan lauknya secara terbuka. Cucilah alat makan di dapur kosanmu sebelum digunakan. Jangan lupa untuk rajin mencuci tangan dengan sabun setidaknya 20 detik, memakai masker saat sedang flu, dan ayolah jangan sentuh lagi daerah wajahmu dengan tangan telanjang. Selain bisa mempercepat penularan corona, kamu pun bisa jerawatan!

Jadi mari kita sama-sama menjaga diri mulai hari ini. Biarkan saja orang-orang mengatakan kita sombong karena tidak mau lagi cipika-cipiki dan bersalaman. Biarkan saja orang-orang mengatakan kita lebih takut virus dibanding Tuhan karena tidak mau lagi datang ke tempat ibadah. Sungguh mereka tidak tahu dan mungkin saja tidak peduli pada apa yang harus kita hadapi bila positf corona, hanya karena lebih mementingkan omongan orang dibanding kesehatan sendiri.

Virus Corona; Waspada Wajib, Panik Jangan

Akhir-akhir ini dunia dibikin heboh dengan munculnya virus corona yang penyebarannya sangat cepat. Penyakit corona sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus baru yang sebelumnya tidak teridentifikasi terhadap manusia. Virus corona atau biasa disebut dengan Covid-19 bisa menyerang siapa saja, baik itu bayi, anak-anak, dewasa, lansia, bahkan ibu menyusui sekalipun. penyebarannya yang begitu cepat, wajib untuk diwaspadai, tetapi jangan sampai panik.

Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini biasanya menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, bahkan menyebabkan kematian terhadap korbannya. Virus ini pada mulanya hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Tetapi seiring berjalannya waktu, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti Middle East Respiratory Syndrom (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Penyebaran covid-19 sangat masif, dalam jangka waktu yang relatif singkat, mengutip dari CNN Indonesia, hingga kamis 12 Maret 2020 yang terinfeksi sudah tercatat sebanyak 126.061 yang tersebar di 118 negara. Melalui situs penghitungan Worldodometers , sekitar 67.064 orang dinyatakan sembuh dan 4.616 meninggal dunia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status covid-19 ini menjadi pandemi, karena penyebarannya yang sangat cepat.  Di Indonesia sendiri, dilansir dari infeksiemerging.kemenkes.go.id jumlah yang diperiksa mencapai 1.198 dengan yang positif sejumlah 69 orang, dan yang meninggal berjumlah 4 orang.

Secara keseluruhan, ada 3 gejala umum yang menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona, yaitu:

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak nafas

Pada awal kemunculannya, covid-19 diduga disebarkan melalui hewan ke manusia, tetapi seiring berjalannya waktu berubah menjadi manusia ke manusia. Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang terkena virus ini, yaitu:

  • Menghirup atau terkena percikan ludah bersin dari seseorang yang terkena covid-19
  • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah bersentuhan dengan korban covid-19
  • Melakukan kontak fisik dengan korban covid-19

Hingga saat ini, penangkal dari covid-19 ini masih belum ditemukan. Akan tetapi, ada beberapa pencegahan yang dapat kita lakukan setidaknya untuk meminimalisir penyebarannya. Sama dengan virus-virus sebelumnya yang pernah merebak, covid-19 ini dapat kita cegah penyebarannya dengan melakukan beberapa langkah. Pencegahan ini dapat kita lakukan dan dimulai dari diri kita sendiri, yaitu:

  1. Hindari bepergian ke negara yang terinfeksi covid-19
  2. Gunakan masker atau semacamnya jika sedang beraktifitas di tempat umum
  3. Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun ataupun hand sanitizer setelah melakukan aktifitas di tempat umum
  4. Tidak menyentuh mulut atau hidung, sebelum mencuci tangan dengan bersih
  5. Mengkonsumsi buah-buahan atau makanan bergizi untuk menjaga kesehatan

Langkah utama dari yang pertama adalah kita tidak boleh panik dengan merebaknya virus covid-19 ini. Waspada wajib, panik jangan. Selalu sediakan persediaan yang diperlukan secukupnya, jaga pola tidur dan pola makan, dan juga jaga kesehatan. Setiap persoalan yang ada, tentunya akan disertai dengan solusi. Cepat atau lambat, penangkal dari covid-19 akan segera ditemukan. Kita hanya perlu selalu waspada terhadap berita apapun yang berkaitan dengan virus ini, jangan sampai terdoktrin oleh berita yang belum tentu benar adanya. Selalu cek dan kroscek melalui portal-portal yang telah disediakan oleh Pemerintah untuk mengupdate berita dari covid-19 ini.https://dutadamaiyogyakarta.id/

Rasialisme dan Sepakbola

Source: fifa.com

Sepakbola merupakan salah satu olahraga yang sangat populer, baik itu bagi kalangan laki-laki maupun perempuan. Tidak jarang setiap kali terdapat kejuaraan mayor, selalu dihadiri oleh orang banyak. Selain digunakan sebagai ajang adu taktik dan kejelian pemain serta pelatih dalam menyusun strategi, sepak bola juga akhir-akhir ini dugunakan sebagai ajang untuk mengkampanyekan suatu hal.

Seperti yang tertera dalam Wikipedia, memasuki abad ke-21 olahraga sepakbola telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di 200 negara, yang menjadikannya sebagai olahraga paling populer di dunia. Tidak heran jika terkadang ada sekelompok orang yang terlibat adu fisik hanya karena berbeda dukungan terhadap tim sepak bola. Mereka biasanya akan mengikuti kemanapun tim yang dibelanya bermain.

Dalam dunia balbalan, apapun bisa terjadi, salah satunya adalah kasus rasisme. Bahkan seiring dengan perjalanan sepak bola itu sendiri, kejadian-kejadian yang bersifat rasialisme selalu mengikuti.  Sudah banyak kasus-kasus yang terjadi, salah satunya pada laga antara Inter Milan dengan AS Roma, dimana pemain Inter Milan dan AS Roma, Romelu Lukaku dan Chris Smalling mendapat perlakuan yang tidak pantas dari Jurnalis Corriere dello Sport. Corriere dello Sport menjadikan gambar dari keduanya sebagai cover, tetapi dibagian bawah ditambahi dengan tulisan “Black Friday”.

Pada lanjutan laga Liga 1 yg mempertemukan antara Bali United dengan Borneo FC, tiga pemain Bali United merayakan golnya dengan gaya sedang melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Hal ini tentu saja mendapat perhatian dari dunia luar, salah satunya dari Washington Post, mereka dianggap sebagai pemain Indonesia yang menjadi simbol sebagai perdamaian dalam dunia sepak bola.

Bahkan di liga-liga Eropa, seperti di Jerman misalnya, salah satu klub di sana membangun ruang untuk beribadah bagi orang-orang Islam, yang mana kita ketahui bahwa Islam merupakan agama minoritas di negara Eropa. Sehingga untuk mencari ruang untuk beribadah tentu akan sulit.

Kasus rasisme yang baru-baru terjadi adalah ketika pertandingan pekan ke-21 Liga Nos primeira Portugal antara Vitoria Guimaraes melawan Porto, dimana penyerang Porto, Moussa Marega melakukan aksi keluar lapangan yang disebabkan karena diejek oleh suporter tuan rumah. Ia diejek idiot oleh para pendukung Vitoria Guimaraes, sehingga Marega memutuskan keluar dari lapangan. Marega mencetak gol kemengan untuk timnya, dan ia menunjukkan gestur jempol ke bawah yang kemudian hal itu membuatnya digajar kartu kuning oleh wasit. Padalah gestur itu ia tunjukkan bagi supporter tuan rumah yang telah mengejeknya. Masih banyak kasus rasisme yang sering menyerang pemain sepak bola. Entah itu menyerang perbedaan warna kulit, suku, sosial politik, ataupun agama.

Padahal federasi tertinggi sepak bola dunia (FIFA) telah mengeluarkan kampanye anti rasisme melalui slogan yang berbunyi “Say Noto Racism”. Kampanye-kampanye ini sering digaungkan di setiap pertandingan sepak bola, tujuannya jelas untuk mengurangi kejadian-kejadian yang seringkali melukai salah satu pihak pemain.

Bahkan dalam kode disiplin 2019 yang terbitkan oleh FIFA mengatakan bahwa, apabila terdapat seseorang yang mengancam martabat seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan kata-kata atau tindakan yang merendahkan, mendiskriminasi atau memalukan dengan cara apapun  dengan alasan ras, warna kulit, etnis, agama, politik, atau alasan apapun, maka akan dikenai sanksi penagguhan minimal sepuluh pertandingan. Terkadang perbedaan bisa disatukan lewat berbagai macam cara, salah satunya sepak bola. Maka dengan adanya perbedaan di lapangan, tidak perlu lagi adanya ciutan-ciutan kecil yang bertujuan mengejek pemain yang berbeda. Entah itu berbeda dalam warna kulit ataupun berbeda keyakinan.

Penerapan Resilience Pada Generasi Muda

Source: Herman Damar Photography

Generasi Muda

Setiap manusia tumbuh dan berkembang seiring dengan masalah yang dihadapi, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga memiliki porsi masalah yang berbeda-beda di tiap manusia.

Ada yang tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, pertemanan, bahkan pasangan. Ada yang jam makan siang sudah tidak mampu menahan lapar menunggu pesanan datang, ada yang masih berpanas-panasan mengumpulkan botol bekas untuk ditukarkan menjadi makan siang.

Kemudian, ada yang kerja, seringnya ngeluh karena kerjaan tidak sesuai passion, namun ada yang sedang mengantar berkas kesana-sini untuk mendapatkan pekerjaan. 

Masalah yang selalu beriringan dengan manusia menjadi sebuah krisis yang unik disetiap kisah hidup manusia itu sendiri. Masalah terus gugur lalu tumbuh masalah baru. Akan tetapi, sadarkah manusia akan kehadiran masalah dalam hidupnya, menjadikan setiap diri tersebut lebih kuat dan mampu menjalani hari dengan lebih siap, tentunya dengan masalah dan tantangan baru?

Cara menyikapi masalah pada setiap manusia tentu tidaklah sama. Bisa jadi lebih sering reaktif menghadapi masalah, atau malah cenderung responsif.

Menurut KBBI, reaktif adalah sikap tanggap untuk memberikan suatu aksi pada sesuatu yang timbul atau muncul, sedangkan responsif merupakan pemberian respon secara cepat dan menanggapi suatu hal.

Keduanya sama-sama sikap pemberian tanggapan dan aksi secara cepat, namun reaktif lebih kepada pemberian tanggapan atau aksi dengan lebih mendahulukan sisi emosional, beda dengan responsif yang cenderung memberikan reaksi pada suatu hal dengan mengutamakan unsur kognitif terlebih dahulu namun tetap memberikan aksi yang cepat pula.

Perkembangan kehidupan di lingkungan dan masyarakat sudah semakin pesat, baik pada kehidupan nyata maupun di media sosial. Tentu saja masalah di keduanya selalu ada pula, terutama di era ini ialah maraknya masalah yang lebih cepat berkembang dan tersebar melalui media sosial.

Banyak sekali kasus cyber bullying yang terjadi di media sosial dalam bentuk hujatan. Pelaku bisa saja bersembunyi di belakang sebuah fake account dan merasa puas dengan hujatan yang diberikan, mungkin saja merasa ada kepuasan tersendiri.

Namun, tidakkah pelaku menyadari betapa si korban begitu terpuruk. Berbagai sikap yang muncul dari hujatan pun beragam. Mari berbicara kembali mengenai reaktif dan responsif. Korban yang reaktif bisa saja langsung merespon hujatan dengan umpatan, jika korban bersikap responsif, ia akan merespon dengan memberikan waktu untuk dirinya berpikir jernih dan membalasnya dengan kata-kata yang lebih halus seperti orang yang memiliki tingkat kesabaran yang amat tinggi, namun ada pula yang memilih untuk diam dan tidak merespon, tetapi itupun menjadi sebuah respon yang lebih aman, agar pelaku tidak merasa tertantang.

Sikap-sikap yang terlihat kecil dan sepele seperti itulah justru yang akan memberikan dampak positif negatifnya bagi media sosial. Pun dalam dunia nyata, bila kebanyakan orang terutama generasi muda menerapkan sikap seperti itu, maka hujat-menghujat akan lebih berkurang. Sikap tersebut pula menggambarkan seorang generasi muda yang cerdas, memiliki pengetahuan dan moral yang seimbang dalam penerapannya di kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh ketua BNPT, bapak Suhardi Alius dalam tulisannya, karakter generasi bangsa yang mulai hilang perlu dibentuk lagi melalui adanya peran keluarga dan pentingnya pendidikan usia dini.

Selain itu, perlunya menyeimbangkan antara pengetahuan serta moral agar menciptakan karakter bangsa yang lebih baik lagi setelah pudarnya karakter bangsa yang diharapkan. Selain itu bapak Suhardi Alius juga mengatakan bahwa kita sebagai generasi bangsa, perlu memupuk sikap resilience pada diri sendiri, guna merespon dan menghadapi perkembangan lingkungan. Hal tersebut juga berkaitan dengan cara generasi bangsa untuk memiliki jiwa yang kokoh serta daya tahan dan kemampuan diri yang kuat dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Resilience memanglah penting untuk dimiliki generasi bangsa sejak dini, karena ketika memiliki tantangan dan masalah didepan, generasi bangsa dengan segera bangkit dengan kokoh, tanpa berlama-lama terpuruk dan kebingungan terhadap apa yang sebenarnya harus dilakukan. Przybylski, dkk (2014)

Generasi bangsa yang resilience adalah mereka yang mampu responsif menanggapi kemudian mengatasi suatu krisis dengan berfokus pada masalah yang ada, bukan hanya pada emosional. Bukan ketika mereka ditolak pada sebuah pekerjaan lalu mengurung diri dikamar, namun mereka yang terus mencari pekerjaan lain walaupun sempat merasa sedih dan hampir menyerah karena selalu gagal. Hal tersebut dinamakan dengan strategi Problem Focus Coping (PFC).

Maka, sepenting itulah menumbuhkan sikap resilience pada generasi bangsa, agar mampu bersikap responsif pada tantangan atau masalah dan menggunakan strategi Problem Focus Coping (PFC) dalam menyelesaikan krisis dalam hidup, baik krisis perasaan, krisis jati diri, krisis kesehatan, krisis keuangan dan lain-lain.

INTOLERANSI AKAN LANGGENG DI INDONESIA?

Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan beberapa kasus yang membuat jengkel nurani kita sebagai bangsa Indonesia yang majemuk, bangsa yang diperuntukan bagi semua golongan, semua suku bangsa dan semua pemeluk agama yang beragam dari Sabang sampai Merauke.

Tiba-tiba kita mendengar adanya pembangunan gereja baru di Tanjung Balai Karimun, Kepri yang dihentikan padahal sudah memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan sudah berdiri sejak 1928. Begitu juga kasus perusakan Musala di Minahasa Utara dua pekan lalu (polisi sudah menetapkan tiga warga sebagai tersangka).

Selain dua kasus yang menonjol beberapa waktu belakangan, terdapat kasus lain yang semakin marak terjadi, misalnya pelarangan ibadah Hindu di Yogyakarta, pembubaran ibadah gereja di Medan Sumatera Utara, dan aksi intoleransi lainnya terkait kebebasan beragama. WAHID Institute bahkan mencatat jumlah pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia terus meningkat, dari 265 di tahun 2017 menjadi 276 di tahun 2018.

Pelanggaran itu mulai dari pembatasan, pembubaran, penyegelan, hingga pelarangan pendirian rumah ibadah. Banyak pihak menilai, seperti PBNU, bahwa akar masalah pelarangan pendirian tempat ibadah itu ada di SKB Dua Menteri (Menag dan Mendagri), yang mana pendirian rumah ibadah harus disetujui 60 warga sekitar dan memiliki 90 umat yang menandatangani pendirian rumah ibadah. Aturan tersebut perlu dikaji ulang guna menyelesaikan kasus pelarangan pendirian rumah ibadah di berbagai tempat di Indonesia.

Maka dari sekian banyak kasus tersebut, benarkah Indonesia saat ini sedang berperang melawan intoleransi atau hanya sedang berupaya melanggengkan intoleransi? Memang benar ada fakta bahwa pemerintah sedang berupaya menindak para pelaku yang melakukan tindakan intoleran. Namun apakah itu akan cukup untuk menghilangkan intoleransi di Indonesia? Apakah memang akar masalah dari intoleransi ini ada pada masyarakat?

Banyak orang yang dihukum karena melakukan perusakan tempat ibadah hingga dianggap menistakan agama. Tapi mengapa hal tersebut tidak membuat orang belajar untuk lebih bersikap toleran terhadap orang dari golongan yang berbeda?
Banyak aturan yang dibuat untuk mengatur bagaimana rakyat beribadah, seperti aturan pendirian tempat ibadah, pengaturan toa masjid, hingga pasal penistaan agama. Apakah mengatur masyarakat adalah solusinya? Apakah bisa pemerintah mengatur masyarakat?

Akar Masalah Intoleransi

Masyarakat merupakan cerminan dari pemimpinnya. Pemimpin tertinggi hingga pemimpin tingkat RT/RW, dan kelompok masyarakat. Ketika pemerintah mencoba mengatur masyarakatnya, itu seperti pemerintah hanya mencoba mengganti cerminnya saja, namun hasilnya tetap sama (pantulan dari apa yang ada dihadapan cermin)

Para pemimpin itu merupakan elit-elit yang ada di sekitar masyarakat. Elit itu tidak hanya tokoh politik, pemimpin, namun juga dari tokoh agama dan masyarakat atau ormas tertentu. Ada beberapa oknum dari para elit ini yang biasanya memiliki kepentingan-kepentingan dengan memengaruhi masyarakat lewat penyebaran virus intoleransi. Entah untuk meningkatkan elektabilitas dalam pemilu atau untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain.

Publik melihat, beberapa kepala daerah yang seharusnya menjadi simbol pemimpin dan juga teladan di daerahnya seakan tidak mampu berbuat tegas untuk menjalankan amanat konstitusi, yaitu menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah sesuai dengan kayakinan agamanya masing-masing. Kepala daerah cenderung “takut” tidak dipilih lagi oleh mayoritas warganya yang kini mulai terjangkit virus intoleransi, menolak pembangunan rumah ibadah, hingga pembubaran masyarakat yang tengah beribadah.

Bahkan dari elit tersebut merupakan pemimpin dan tokoh agama justru turut menyebarkan virus intoleransi dengan membuat kebijakan dan fatwa untuk mengharamkan dan melarang suatu tradisi dari golongan tertentu. Melihat kasus tersebut, penulis jadi ragu apakah benar virus intoleransi di negeri ini akan hilang.

Menghilangkan permasalahan intoleransi harus dimulai dari membersihkan para elit di negeri ini dari virus tersebut. Pemimpin tertinggi dalam hal ini semestinya mampu memfilter siapa aja yang akan menduduki posisi strategis dan menjadi panutan bagi masyarakat.

Kecepatan dan ketegasan pemerintah menjadi sangat penting. Apalagi dalam UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintah daerah, Gubernur adalah kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Jadi, tidak ada alasan, Pemda bertentangan dengan pemerintah pusat dalam hal penyelesaian masalah intoleransi.

Begitupun para tokoh agama sudah sewajarnya diberi sertifikasi melalui Kementerian Agama untuk mencegah masalah tersebut. Semoga ke depannya dengan membersihkan para elit, virus intoleransi juga menjadi berkurang di negeri ini.

Penulis: Asep Irpan Nugraha

Mengucapkan Selamat Natal, Bisa Menjadikan Kafir?

Sumber: Makassar.tribunnews.com

Memasuki tanggal 25 Desember, setiap umat Nasrani akan melakukan perayaan Hari Natal. Sama seperti agama-agama lain yang ada di Indonesia, hari Natal merupakan hari Suci bagi umat Kristian. Natal berasal dari bahasa Latin yaitu Dies Natalis yang mempunyai arti hari lahir untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Akan tetapi seperti yang tertera dalam Wikipedia, ada beberapa gereja Ortodoks yang memperingati Hari Natal setiap tanggal 6 Januari.

Namun, setiap Natal diperingati, terdapat banyak perayaan non-agamawi yang juga dilakukan. Seperti  misalnya pohon Natal, bertukar hadiah, dan juga Sinterklas. Hal ini dilakukan selain untuk memeriahkan, juga untuk mempererat tali persaudaraan antar pemeluknya. Selain itu, juga bisa digunakan untuk bersenang-senang antara keluarga, teman, ataupun lingkungan sekitar.

Berbeda keyakinan bukan merupakan suatu keniscayaan, akan tetapi dengan adanya perbedaan keyakinan tersebut justru seharusnya bisa semakin mempererat tali persaudaraan antar  sesama. Berbeda bukan berarti harus berjauhan, mestinya dengan perbedaan tersebut harusnya bisa saling bergandengan tangan demi mewujudkan perdamaian di negeri ini.

Siagakan hatimu bagi kebaikan, pemaafan, kasih sayang, dan kelembutan kepada sesama manusia. Jangan pernah engkau bertindak kepada manusia seperti seekor binatang buas yang memuaskan diri dengan mencabik-cabik mangsanya. Sebab ada dua kategori manusia: yang saudara seiman denganmu, dan yang saudara sesama ciptaan Tuhan sepertimu.” Ali bin Ali Thalib

Seharusnya dengan adanya berbagai macam kepercayaan, baik yang diakui ataupun belum, bisa tetap merekatkan tali persaudaraan antar sesama. Jika bukan karena kemanusiaan, setidaknya saudara dalam satu bingkai NKRI. Karena sejatinya keutuhan dan keamanan negeri ini tidak bisa diwujudkan tanpa adanya sikap saling mengasihi antar sesama.

Karena sejatinya kemanusiaan itu hanya satu. Meskipun berbeda bangsa, asal usul, ras, agama, bahasa, adat istiadat, kemajuan, dan sikapnya. Semuanya tergabung dalam satu sebuah wadah besar, yaitu Indonesia.

Sudah sering kita menyaksikan berbagai macam konflik yang terjadi disebabkan karena perbedaan keyakinan. Salah satunya yang sering terjadi yaitu ketika ada sekelompok oknum yang mengatakan bahwa mengucapkan selamat hari Natal kepada saudara pemeluk agama Kristen adalah haram. Padahal pengucapan selamat tersebut hanya sebatas ungkapan atas kebahagiaan umat Kristian dalam menyambut kelahiran Yesus.

Sama halnya ketika kaum Muslimin menyambut Maulid Nabi. Di pelosok negeri manapun semua umat Muslim berlomba-lomba untuk merayakan hari kelahiran rasulullah. Begitu semangat dan antusiasnya mereka dalam menyiapkan kedatangannya, sehingga banyak pernak-pernik yang disediakan ketika akan mengadakan Maulid Nabi. Begitu juga dengan saudara kita yang berbeda keyakinan. Mereka akan menyiapkan semeriah mungkin, sebelum hari Natal tiba.

Saat ini yang sedang viral dan menjadi perbincangan adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa bahwa umat muslim di Jawa Timur dilarang mengucapkan selamat Hari Natal, kecuali Wakil Presiden. Menurut MUI, mengucapkan selamat Natal kepada Umat Nasrani sama saja dengan memberi selamat atas kelahiran putera Tuhan. MUI menganggap bahwa mengucapkan selama hari Natal sudah masuk akidah seseorang, sehingga apabila ada seorang muslim mengucapkannya, maka hal itu dianggap akan merusak akidahnya sebagai orang muslim.

Persoalan mengucapkan selamat hari Natal hanya sebatas ucapan selamat. Ucapan itu tidaklah mungkin sampai ke ranah keyakinan, yang menyebabkan seseorang pindah agama. Maka saya kira, ketika ada seseorang mengucapkan selamat hari Natal kepada saudaranya yang berbeda keyakinan, bukan lantas kemudian ia akan pindah keyakinan menjadi agama Kristen. Ini hanya soal kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama yang kebetulan mereka berbeda keyakinan dengan kita.

Ada satu hal yang lebih urgent tingkatannya dibandingkan dengan agama itu sendiri, yaitu kemanusiaan. Karena sejatinya sejak manusia lahir ke dunia ini, ia lebih dulu menjadi manusia ketimbang dengan memeluk agama. Maka sudah sewajarnya ketika ada saudara yang tidak seiman, kita turut memberinya ucapan selamat. Sama dengan ketika umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri, kadang ada juga tetangga kita yang berlainan agama mengucapkan selamat.

Bahkan Sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Ali Thalib pernah mengatakan, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Seharusnya dengan atas dasar kemanusiaan, persoalan yang setiap tahun terjadi ini selesai. Semua bergantung terhadap keimanan seseorang. Jika mereka mengucapkan hanya sekedar memberi ucapan selamat, maka hal itu sayarasa tidak akan mengubah keimanan seseorang itu.

Perbedaan bukanlah suatu alasan untuk memecah kesatuan dan kesatuan NKRI. Seperti yang termaktub dalam Pancasila sila ke-3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia”, maka apapun kepercayaan yang dianut, selama ia berada dalam tanah Indonesia, maka dalam ranah kemanusiaan ia adalah saudara kita. Apapun yang terjadi, kemanusiaan haruslah tetap yang utama.

Selamat Hari Natal.

Perkara Hak Asasi Manusia dalam Tasawuf

Hak Asasi Manusia

Selain mendapatkan materi ilmu Kalam, dalam seminggu sekali saya juga masuk kelas Tasawuf. Ini sesuatu yang baru untuk setidaknya bekal perjalanan saya selanjutnya.

Kata ‘tasawuf’ sudah lazim saya dengar jauh hari sebelum masa ini. Sayangnya, saya bukan seorang yang rajin atau boleh dibilang kurang perhatian pada hal-hal tertentu, sehingga kata ‘tasawuf’ hanya berhenti sebatas kata tanpa pernah tahu makna, tafsir atau artinya. Saya baru benar-benar ingin mendalaminya ketika semester ini mau tidak mau saya menghadapinya minimal satu setengah jam setiap pekannya.

Minggu di awal Desember udara sedikit lebih panas. Cuaca agak galau, sebentar panas sebentar mendung tapi tak ada hujan. Saya masuk kelas mulai dari pukul 09.30 WIB. Selalu jadi orang barisan pertama yang tiba di kelas. Tidak jarang teman-teman sekelas baru akan datang satu jam atau dua jam kemudian alias di jam kedua atau ketiga.

Kelas Tasawuf berada di urutan ke empat atau lima, sering gantian. Tasawuf secara sekilas bisa saya artikan hampir mirip pelajaran PKN. Isinya membahas etika/ akhlak serta hubungan manusia dengan manusia lainnya. Beda dengan Kalam yang lebih condong membahas hubungan manusia dengan Tuhan.

Arti Tasawuf di KBBI adalah ajaran (cara dan sebagainya) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya.
Kok ada bawa-bawa Tuhan? Katanya membahasa akhlak manusia?
Iya benar. Memang tidak semudah itu menafsirkan sebuah ilmu. Intinya, Tasawuf itu mengajarkan tentang akhlak, memberi pengetahuan tentang etika, moral, pelajaran baik untuk dijalankan dan berusaha menghindari perbuatan buruk, yang nantinya ujung dari semuanya adalah mengharap ridho Sang Pencipta.

Dalam Tasawuf juga membahas kaitan antara akhlak dengan berbagai ilmu yang lain, misalnya hukum, psikologi, ekonomi, sosial, politik, pendidikan dsb. Semakin dijabarkan semakin panjang dan semakin mumet. Setidaknya itu yang saya rasakan saat mendadak harus membedakan antara etika, moral, norma dan akhlak.

Belajar memang tidak mudah, yang mudah itu bilang sayang padahal benci setengah mampus. #eh
Yang seperti ini juga bagian dari tasawuf. Munafikun, munafik: di depan bilang apa di belakang ngaku apa.

Mari kita tinggalkan urusan rumah dan tangga antara Muna dan Fikun, fokus pada hak-hak manusia yang sempat saya dengar di dalam kelas.

Hak merupakan suatu wewenang atau kekuasaan yang secara etis seseorang dapat mengerjakan, memiliki, meninggalkan, mempergunakan, atau menuntut sesuatu. Menurut Poedjawijatna hak merupakan sejenis kepunyaan, semacam milik, yang tidak hanya merupakan benda saja, melainkan pula tindakan, pikiran, dan hasil pikiran itu.
Di dalam Al-Qur’an dijumpai kata al-haqq. Kata memiliki yang merupakan terjemahan dari kata hak tersebut dalam bahasa Al-Qur’an disebut memiliki dan orang yang menguasainya disebut malik.
Pengertian al-haqq dalam Al-Qur’an sebagaimana dikemukakan al-Raghib al-Asfahani adalah al-muthabaqah wa al-muwafaqah artinya kecocokan, kesesuaian dan kesepakatan, seperti cocoknya kaki pintu sebagai penyangganya.

Macam-macam hak yang dimiliki manusia: hak hidup, hak kemerdekaan, hak memiliki.

Itu sedikit penjelasan yang ada dalam makalah yang dibuat teman sekelas saya. Saya sebagai pendengar mendadak langsung bertanya-tanya dong: kok di makalah ini gak disebutkan adanya hak asasi manusia?
Lantas saya melanjutkan: jangan bilang karena hak asasi manusia dibahas di kelas lain (PKN).

Sekelas tertawa mendengar ocehan saya, semakin ketawa saat penyampai makalah menjawab dengan kalimat kurang lebih demikian: ya kami tidak memasukkan HAM di sini karena HAM masuk di bahasan kelas PKN.

Jujur saya tidak terima dengan jawaban yang demikian. Makalah itu jelas-jelas membahas tentang ‘hak, kewajiban dan keadilan’ namun tidak memasukkan unsur HAM. Bahkan satu kata pun tidak ada dalam makalah sejumlah 16 halaman tersebut.

Sebelum saya melayangkan protes, mendadak dosen pengampu mata pelajaran Tasawuf menengahi. Beliau juga mempertanyakan tentang hak asasi manusia yang tidak dicantumkan dalam makalah.
Lantas dengan kerelaan hati beliaulah yang membahasnya.
Saya lega karena bisa mendapat jawaban. Saya ini memang banyak cueknya, namun juga kritis untuk sesuatu yang terjangkau oleh otak saya yang tak seberapa ini.

Hak Asasi Manusia atau biasa disingkat HAM menurut UU RI nomor 39 tahun 1999 adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah dari Tuhan yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara dan hukum.
Sampai di sini kita paham bahwa HAM mempunyai kedudukan tinggi. Belum lama kemarin kita memperingati hari HAM, berharap sih itu bukan cuma ajang selebrasi sesaat, bukan hanya hari itu saja kita ingat tentang hak-hak orang lain. Saya berharap hari HAM itu tidak berhenti hanya sampai orasi di jalan, pembagian poster atau stiker dan ucapan ini itu tapi lebih kepada kesadaran untuk tahu diri, menempatkan diri dan sekaligus adil, mengerti hak dan kewajiban setiap diri.

Max Boli Sabon membagi konsep generasi Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia menjadi 3, yaitu:

  1. Generasi Pertama: Hak Sipil dan Politik (Hak Sipol)
    Hak Sipol ini dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik) (“UU Sipol”)
  2. Generasi Kedua: Hak Ekonomis, Sosial dan Kebudayaan (Hak Ekosob)
    Hak Ekosob ini dituangkan dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya dan telah diratifikasi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) (“UU Ekosob”).
  3. Generasi ketiga mencakup enam macam hak, meliputi:
    hak atas penentuan nasib sendiri di bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan;

hak atas pembangunan ekonomi dan sosial;

hak untuk berpartisipasi dalam, dan memperoleh manfaat dari warisan bersama umat manusia (common heritage of mankind), serta informasi-informasi dan kemajuan lain;

hak atas perdamaian;

hak atas lingkungan yang sehat;

hak atas bantuan kemanusiaan.

Hak Asasi Manusia kalau disingkat cukup tiga huruf, ‘HAM’. Tapi untuk menjabarkan, mengartikan, memahami dan meresapinya tidak akan cukup walau tiga tahun, bisa jadi seumur hidup harus terus dikaji. Maka hal paling mendasar adalah untuk sadar diri bahwa tiap-tiap manusia pastilah dilengkapi dengan HAM. Maka wajib bagi orang lain untuk menghormati agar selalu tercipta kerukunan.

Kadang saya membayangkan jika masing-masing orang sudah menyadari akan pentingnya menghormati sekaligus menjujung hak dan kewajiban, niscaya kedamaian akan mudah beranak pinak. Namun sebagian yang lain bilang: this is impossible. Karena dunia tercipta dengan dua sisi, ada baik dan buruk. Jika hanya baik-baik saja maka akan terjadi ketidak seimbangan.

Karena saya sadar teman sekelas punya hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, ya maka saya wajib menghormati pendapat dan keputusannya.

Nilai Toleransi dalam Kearifan Permainan Tradisional

Permainan tradisional. Pernahkah kamu mengingat masa ketika kita masih kanak-kanak? Bagaimana dulu kamu menghabiskan waktumu? Apakah kalian juga sering bermain ketika itu?

Ya, bermain merupakan salah satu kegiatan paling menarik juga sangat berkesan dalam ingatan semua orang yang pernah melewati masa kecilnya. Ketika bermain tidak hanya sekedar mencari kesenangan semata tetapi dari sanalah kita sesungguhnya juga sedang belajar. Ungkapan yang mengatakan bahwa belajar itu tidak menyenangkan adalah tidak tepat.

Mengapa selama ini kita justru memisahkan antara  kegiatan belajar dan bermain? Belajar seolah menjadi semacam konvensional dan tidak mengasyikkan sedangkan bermain justru terkesan lebih fleksibel dan menyenangkan.

Nilai-Nilai Toleransi dalam Kearifan Permainan Tradisional Nusantara
Nglarak blarak salah satu permainan tradisional asal kulonprogo yang dimainkan bahkan oleh remaja dan dewasa

Bagi kalian yang merupakan generasi tahun 90-an pasti sangat mengingat bagaimana permainan tradisional seperti petak umpet, bentengan, dan engklekan yang hampir dimainkan setiap harinya. Sebelum memasuki era digitalisasi memang permainan tradisional merupakan salah satu primadona bagi kalangan muda.

Hal ini bukan hanya sekedar permainan belaka tetapi sudah menjadi kearifan lokal sejak dahulu. Entah bagaimana permainan ini dapat diwariskan secara turun-temurun.

Tetapi sejak zaman era-kolonial dahulu memang beberapa permainan tradisional sudah dikenali. Perlu kita ketahui bahwa permainan tradisional justru memiliki banyak manfaat daripada permainan digital saat ini. Mengapa? Karena pada permainan tradisional kita tidak hanya sekedar bermain untuk bersenang-senang saja tetapi sekaligus juga belajar.

Malpelani Satriya (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “permainan tradisional berbasis budaya sunda sebagai sarana stimulasi perkembangan anak usia dini” menjelaskan bahwa permainan anak-anak tradisional dapat menjadi sarana perkembangan fisik-motor, kognitif, bahasa, social-emosional, dan seni pada anak sejak dini.

Permainan tradisional yang selama ini kita kenal juga merupakan salah satu wujud kearifan lokal. Hal tersebut dapat tercipta karena adanya perbedaan kondisi alam sehingga ditemukan berbagai perbedaan corak permainan tradisional pada masing-masing daerah sesuai dengan keadaan lingkungannya. Permainan tradisional juga merupakan salah satu produk kebudayaan daerah yang sejatinya perlu kita lestarikan sebagai warisan nilai luhur.

Randang Kusnandar (Jurnal penelitian, balai kajian sejarah dan nilai-nilai tradisi, 2004: 17) menyatakan bahwa awal perwujudan tradisi yang diterapkan pada masyarakat selalu berkaitan dengan keadaan lingkungan sekitar.

Dengan kata lain pada permainan tradisional pun demikian adanya. Terciptanya permainan tradisional sebagai kearifan lokal yang telah turun-temurun diwariskan sebagai tradisi juga menunjukkan adanya keakraban masyarakat di dalamnya.

Melalui permainan tradisional kita sesungguhnya juga mendapatkan transfer value and knowledge dari para pendahulu kita khususnya terkait nilai-nilai kebaikan dalam sosial.

Menariknya, pada permainan tradisional juga tidak ada aturan yang melarang pemain untuk terlibat karena adanya perbedaan agama, ras, suku, gender dsb.  Sehingga dalam hal ini sesungguhnya pada  permainan tradisional juga terdapat “nilai-nilai toleransi” yang diajarkan.

Selain itu, adanya interaksi sosial secara langsung juga dapat melatih kepekaan sosial dalam kepribadian setiap individu yang terlibat. Permainan tradisional juga merupakan sarana pembelajaran yang baik dalam melatih pikiran kita untuk lebih terbuka (open minded)  terhadap perbedaan karena adanya kebebasan berekspresi dan menerima dari masing-masing individu secara otomatis.

Sedangkan kita ketahui selama ini dalam pengajaran di sekolah pada umumnya justru siswa terikat dengan justifikasi kebenaran sepihak oleh kurikulum atau otoritas tertentu yang diberikan sehingga kekurangan perspektif dalam memandang suatu persoalan dapat membentuk pikiran yang sempit dan kaku sejak dini. Maka corak pemikiran yang demikian membawa kita kepada sikap kesukaran dalam menerima perbedaan di sekeliling kita.

Maka dari itu bukan tidak mungkin jika pembelajaran konvensional siswa di sekolah selama ini dapat imbuhkan bahkan digantikan oleh sistem pengajaran tradisional ala permainan jadul ini. Meskipun pengajaran ini tidak bersifat verbal tetapi esensi dari nilai-nilai toleransi tersebut dapat tertanam dengan mudah bahkan pada saat yang sama juga dilatih untuk diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari secara langsung.

Berdasarkan paparan tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa permainan tradisional merupakan salah satu wujud kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai toleransi dan pedagogi dalam bermasayarakat.

Sehingga kita perlu sadari bahwa permainan yang selama ini pernah kita mainkan ternyata memiliki nilai-nilai toleransi yang membentuk kepribadian individu sesuai dengan jati diri bangsa ini yang sangat menghargai perbedaan sejak dalam niat, rasa, pikiran maupun tindakan. Maka dalam hal ini kita wajib untuk melestarikan warisan luhur ini kepada anak dan cucu kita sebagai media pembelajaran bangsa ini terhadap pentingnya menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai baik dari masa lampau sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Sehingga dalam perkembangan zaman ini kita tidak kehilangan nilai-nilai kearifan lokal yang telah membentuk bangsa Indonesia hingga sekarang. Begitupun kita dapat terhindar dari tindakan-tindakan disintegrasi yang akhir-akhir ini sering melanda Bangsa ini.