Toleransi dalam Ave Maryam

Ave Maryam

Film garapan Robby Ertanto Soediskam ini telah menyelesaikan proses pengambilan gambarnya pada 2016, namun baru rilis 11 April 2019 di sebagian bioskop Indonesia. Tetapi pada jeda produksi dan perilisannya, Ave Maryam telah melanglang buana ke berbagai festival luar negeri, seperti Cape Town International Film Market & Festival (CTIFM&F) di Amerika Serikat, Hanoi International Film Festival (HANIFF) di Vietnam, dan Hong Kong Asian Film Festival.

Pria yang mulai sekolah film di Institut Kesenian Jakarta pada 2006 ini, sebelumnya menyutradarai 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita (2011) dan Dilema (2012). Kemudian bekerja sama dengan Chicco Jerikho dan Maudy Koesnaedi dalam film Ave Maryam.

Baca: Inspirasi dari tokoh bangsa dalam mengokohkan Nasionalisme

Dalam film yang berdurasi 73 menit ini, penikmat film disajikan gaya film ala Eropa yang minim dialog, berlatar lokasi-lokasi yang eksotik, dan mengangkat tema-tema mendalam seperti cinta, kesetiaan, kerapuhan, dan penerimaan.

Film yang mengakat cerita kehidupan Suster dan Romo ini selain menyajikan cerita reflektif dan sarat makna, juga terselip kisah-kisah toleransi yang keren.

1. Gadis pengantar susu

Pada adegan pertama, kita akan melihat seorang anak perempuan memanggil nama Suster Maryam, ia adalah seoarang pengantar susu. Tak hanya pada pembuka, anak yang didandani sebagai anak muslim yang cantik ini beberapa kali bertemu Suster Maryam untuk mengantarkan susu.

2. Maudy Koesnaedi seorang muslim

Maudy Koesnaedi

Pemeran Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini memerankan tokoh utama sebagai seorang Suster dalam Ave Maryam. Padahal, Maudy adalah seorang muslim. Bahkan Robby Ertanto Soediskam baru mengetahui hal ini setelah proses pengambilan gabar selesai dilakukan.

3. Suster Maryam berpapasan dengan anak sekolah di depan masjid

Dalam satu adegannya, Suster Maryam berpapasan dengan sekelompok anak sekolah yang juga mengenakan jilbab. Nampaknya Robby ingin membawakan pesan bahwa Indonesia merupakan negara yang penuh keragaman dalam filmnya yang telah mejeng di banyak festival film luar negeri itu.

4. Maudy Koesnaedi melakukan live in / riset di Susteran Gedangan

Ave Maryam

Wanita usia 44 tahun ini dikabarkan melakukan live in atau riset untuk mendalami perannya sebagai seoarang Suster. Ia melakukan wawancara dan pengamatan langsung di sebuah biara Susteran di Gedangan, Semarang, Jawa Tengah. Tentu kita bisa membayangkan, Maudy tak hanya membaca tetapi langsung melihat aktivitas-aktivitas keseharian para Suster di sebuah biara.

5. Chicco Jerikho meriset peran langsung dengan para Romo di Jakarta

ave maryam

Tak beda dengan Maudy, Chicco juga melakukan riset untuk mendalami perannya sebagai seorang Romo. Hal ini bahkan dipuji oleh Robby sebagai sutradara, karena menurutnya tak semua aktor mau repot-repot melakukan riset langsung. “Sempat ketemu pastor di Jakarta tanya soal kehidupannya seperti apa, apa aja yang dilewati, sempat juga observasi ke susteran dan pastor di Semarang. Saya lihat aktivitas mereka dan saya kumpulkan datanya, gimana ketemu jemaat, ketemu suster, dan kemudian dikembangkan,” papar suami Putri Marino ini.

Film yang tak disangka Chicco Jerikho dapat lolos tayang di bioskop ini bercerita mengenai Suster dan Romo yang juga manusia biasa, manusia yang bisa jatuh dan jatuh cinta. Selain itu kita juga dapat belajar dari kisah-kisah toleransi yang terjadi selama produksi film Ave Maryam.

Baca review Ave Maryam: Antara Kesetiaan dan Cinta “Ave Maryam”

Yohanes Bara
Bekerja di Majalah BASIS dan Majalah UTUSAN
Dapat berkontak melalui Instagram @yohanes.bara

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *