Penerapan Resilience Pada Generasi Muda

Source: Herman Damar Photography

Generasi Muda

Setiap manusia tumbuh dan berkembang seiring dengan masalah yang dihadapi, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga memiliki porsi masalah yang berbeda-beda di tiap manusia.

Ada yang tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, pertemanan, bahkan pasangan. Ada yang jam makan siang sudah tidak mampu menahan lapar menunggu pesanan datang, ada yang masih berpanas-panasan mengumpulkan botol bekas untuk ditukarkan menjadi makan siang.

Kemudian, ada yang kerja, seringnya ngeluh karena kerjaan tidak sesuai passion, namun ada yang sedang mengantar berkas kesana-sini untuk mendapatkan pekerjaan. 

Masalah yang selalu beriringan dengan manusia menjadi sebuah krisis yang unik disetiap kisah hidup manusia itu sendiri. Masalah terus gugur lalu tumbuh masalah baru. Akan tetapi, sadarkah manusia akan kehadiran masalah dalam hidupnya, menjadikan setiap diri tersebut lebih kuat dan mampu menjalani hari dengan lebih siap, tentunya dengan masalah dan tantangan baru?

Cara menyikapi masalah pada setiap manusia tentu tidaklah sama. Bisa jadi lebih sering reaktif menghadapi masalah, atau malah cenderung responsif.

Menurut KBBI, reaktif adalah sikap tanggap untuk memberikan suatu aksi pada sesuatu yang timbul atau muncul, sedangkan responsif merupakan pemberian respon secara cepat dan menanggapi suatu hal.

Keduanya sama-sama sikap pemberian tanggapan dan aksi secara cepat, namun reaktif lebih kepada pemberian tanggapan atau aksi dengan lebih mendahulukan sisi emosional, beda dengan responsif yang cenderung memberikan reaksi pada suatu hal dengan mengutamakan unsur kognitif terlebih dahulu namun tetap memberikan aksi yang cepat pula.

Perkembangan kehidupan di lingkungan dan masyarakat sudah semakin pesat, baik pada kehidupan nyata maupun di media sosial. Tentu saja masalah di keduanya selalu ada pula, terutama di era ini ialah maraknya masalah yang lebih cepat berkembang dan tersebar melalui media sosial.

Banyak sekali kasus cyber bullying yang terjadi di media sosial dalam bentuk hujatan. Pelaku bisa saja bersembunyi di belakang sebuah fake account dan merasa puas dengan hujatan yang diberikan, mungkin saja merasa ada kepuasan tersendiri.

Namun, tidakkah pelaku menyadari betapa si korban begitu terpuruk. Berbagai sikap yang muncul dari hujatan pun beragam. Mari berbicara kembali mengenai reaktif dan responsif. Korban yang reaktif bisa saja langsung merespon hujatan dengan umpatan, jika korban bersikap responsif, ia akan merespon dengan memberikan waktu untuk dirinya berpikir jernih dan membalasnya dengan kata-kata yang lebih halus seperti orang yang memiliki tingkat kesabaran yang amat tinggi, namun ada pula yang memilih untuk diam dan tidak merespon, tetapi itupun menjadi sebuah respon yang lebih aman, agar pelaku tidak merasa tertantang.

Sikap-sikap yang terlihat kecil dan sepele seperti itulah justru yang akan memberikan dampak positif negatifnya bagi media sosial. Pun dalam dunia nyata, bila kebanyakan orang terutama generasi muda menerapkan sikap seperti itu, maka hujat-menghujat akan lebih berkurang. Sikap tersebut pula menggambarkan seorang generasi muda yang cerdas, memiliki pengetahuan dan moral yang seimbang dalam penerapannya di kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh ketua BNPT, bapak Suhardi Alius dalam tulisannya, karakter generasi bangsa yang mulai hilang perlu dibentuk lagi melalui adanya peran keluarga dan pentingnya pendidikan usia dini.

Selain itu, perlunya menyeimbangkan antara pengetahuan serta moral agar menciptakan karakter bangsa yang lebih baik lagi setelah pudarnya karakter bangsa yang diharapkan. Selain itu bapak Suhardi Alius juga mengatakan bahwa kita sebagai generasi bangsa, perlu memupuk sikap resilience pada diri sendiri, guna merespon dan menghadapi perkembangan lingkungan. Hal tersebut juga berkaitan dengan cara generasi bangsa untuk memiliki jiwa yang kokoh serta daya tahan dan kemampuan diri yang kuat dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Resilience memanglah penting untuk dimiliki generasi bangsa sejak dini, karena ketika memiliki tantangan dan masalah didepan, generasi bangsa dengan segera bangkit dengan kokoh, tanpa berlama-lama terpuruk dan kebingungan terhadap apa yang sebenarnya harus dilakukan. Przybylski, dkk (2014)

Generasi bangsa yang resilience adalah mereka yang mampu responsif menanggapi kemudian mengatasi suatu krisis dengan berfokus pada masalah yang ada, bukan hanya pada emosional. Bukan ketika mereka ditolak pada sebuah pekerjaan lalu mengurung diri dikamar, namun mereka yang terus mencari pekerjaan lain walaupun sempat merasa sedih dan hampir menyerah karena selalu gagal. Hal tersebut dinamakan dengan strategi Problem Focus Coping (PFC).

Maka, sepenting itulah menumbuhkan sikap resilience pada generasi bangsa, agar mampu bersikap responsif pada tantangan atau masalah dan menggunakan strategi Problem Focus Coping (PFC) dalam menyelesaikan krisis dalam hidup, baik krisis perasaan, krisis jati diri, krisis kesehatan, krisis keuangan dan lain-lain.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *