Dongeng Damai untuk Anak-anak Pemulung Botol

dongeng

Namanya Bara, sejak saya datang dia tidak berhenti membuat keributan dan mengajak teman-temannya untuk membuat ulah. Bara dan teman-temannya selalu datang setiap sore setelah ikut memulung orang tua mereka di pagi atau malam harinya. Seharusnya hari itu kami belajar matematika dasar. Namun, melihat ulah mereka saya memilih untuk mendongeng.

Tidak seberuntung kebanyakan anak, Bara dan teman-temannya tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah. Kebutuhan makan setiap hari saja masih harus berjuang. Kebanyakan orang tua mereka menyampaikan bila pendapatan mereka sedikit bertambah apabila anak-anak ikut memulung. “Apa aja diambil kak, botol-botol, kaleng, paku, kerdus, dan lain-lain” cerita Bara saat saya bertanya apa yang biasanya dia ambil saat memulung.

Jangankan hafal isi dari Pancasila, Bara dan teman-temannya bahkan tidak tahu bagaimana bentuk dari lambang negara itu. Hari itu saya mendongeng tentang Desa Pancasila, dimana didalamnya terdiri dari penduduk dengan berbagai macam latar belakang suku, agama, dan ras. Bagaimana menghargai sesama yang berbeda, memanusiakan sesama, bersatu untuk berbuat kebaikan, hak dan kewajiban yang sama untuk mewujudkan keadilan untuk setiap penduduk. Bara dan teman-temannya mendengarkan dengan sesama, sesekali tertawa saat saya menirukan logat masing-masing penduduk.

Setelah dongeng selesai, saya meminta mereka menyampaikan pesan-pesan dari dongeng yang sudah saya sampaikan. “Perbedaan bukan alasan kita berantem kak” “Harus menghargai pilihan orang lain” “Berbuat baik ndak boleh pilih-pilih” “Adil itu bukan berarti harus sama rata”. Mengajarkan anak-anak memang sesederhana itu. Anak-anak lebih membutuhkan contoh daripada kritik.

“Pancasila seharusnya bukan menjadi hafalan, namun terwujud dalam keseharian kita sebagai warga Indonesia”

Tugas kita bersama untuk mengusahakan Pancasila dapat merasuk ke dalam pribadi anak Indonesia. Anak-anak adalah pewaris bangsa, kita harus berusaha memperkuat pemahaman anak mengenai nilai Pancasila dengan tetap memberikan kebebasan berpikir yang seluas-luasnya. Kita harus bersama-sama berusaha membumikan Pancasila sebagai pandangan hidup (weltanschauung) yang terwujud dalam keseharian kita, menginspirasi kita, apapun latar belakang kita. Anak-anak Indonesia perlu memahami jati diri bangsanya sendiri sehingga mampu dengan kritis mempertanyakan ideologi yang mengancam keutuhan negara.

#SalamPancasila

Pentingnya Kendali Pikiran

Sumber: Hipwee

Belakangan ini pemberitaan mengenai Covid-19 memang menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat Indonesia. Baik bersama teman, keluarga bahkan mungkin pacar, perbincangan yang dibicarakan tidak jauh dengan Covid-19. Semakin banyak informasi yang kita peroleh mengenai pemberitaan ini, menjadikan diri kita semakin panik, khawatir, cemas bahkan ketakutan. Menurut Henry Manampiring, too much information will kill you. Mungkin hal ini sesuai dengan banyaknya informasi menganai Covid-19 yang belum tentu kebenaranya, jika kita tidak pandai menyaring informasi maka dapat merugikan diri kita sendiri. Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan tadi dibutuhkan kendali pada pikiran kita.

Pada bukunya yang berjudul Filosofi Teras, Henry Manampiring menuliskan bahwa dalam hidup terdapat hal-hal yang dapat kita kendalikan dan tidak dapat kita kendalikan. Hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan misalnya, opini orang lain, popularitas, bahkan kekayaan. Sedangkan, hal-hal yang dapat kita kendalikan seperti persepsi, keinginan, tujuan, dan segala sesuatu yang bersumber dari pemikiran kita. Hal ini sesuai dengan yang terjadi akhir-akhir ini banyaknya pemberitaan mengenai Covid-19 yang seringkali membuat diri was-was, ternyata dapat dikendalikan menggunakan pemikiran kita sehingga secara tidak langsung dapat mengatasi kekhawatiran mengenai pemberitaan tersebut.

Nah, mengapa kita harus menjaga pikiran agar tetap terkendali sehingga terhindar dari rasa khawatir yang berlebihan ? pasalnya, menurut penelitian terbaru menyebutkan bahwa, rasa cemas, khawatir yang berlebihan mampu menurunkan sistem imun dan menyebabkan penyakit. Sedangkan, Covid-19 sangat mudah menyerang tubuh manusia yang memiliki sistem imun rendah, sehingga dibutuhkan sistem imun yang kuat agar dapat menangkal Covid-19. Meningkatkan sistem imun dapat dilakukan dengan cara seperti, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi dan makanan penunjang sistem imun, istirahat cukup serta kita juga harus dapat mengelola pikiran kita agar tetap terkendali dari rasa khawatir dan cemas yang berlebihan.

Lebih lanjut lagi, dalam buku Filosofi Teras juga menjelaskan bahwa, menurut Marcus Aurelius rasa cemas, khawatir dan emosi negatif dapat dikendalikan jika kita bisa mengendalikan interpretasi secara aktif. Dengan demikian, kita dapat menginterpretasi atau memaknai sebuah peristiwa secara rasional. Hal ini sesuai dengan banyaknya pemberitaan mengenai Covid-19 yang belum tentu kebenarannya karena banyaknya sumber yang kita terima. Kita dapat mengendalikan pemikiran kita, dengan cara memaknai secara rasional setiap informasi maupun pemberitaan yang diterima, menyaring pemberitaan dan informasi serta mencari sumber lain yang dirasa lebih kredibel.

Selain itu dalam buku ini terdapat langkah-langkah yang dapat kita terapkan ketika kita berada dipuncak rasa khawatir, cemas, sedih serta putus asa terlebih dalam menghadapi berbagai terpaan pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19. Langkah-langkahnya disingkat S-T-A-R (Stop, Think & Asses, Respond).

  1. Stop (Berhenti), begitu merasakan khawatir, cemas yang berlebihan terhadap pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19 dan kita menyadari bahwa hal tersebut telah menciptakan energi negatif pada tubuh maka secara sadar kita harus berhenti.
  2. Think & Asses (dipikirkan dan dinilai), setelah menghentingkan proses emosi sejenak, kita ajak pikiran kita untuk aktif berpikir kembali. Kita paksa pikiran kita untuk berpikir secara rasional sehingga dapat mengalihkan perasaan khawatir dan cemas yang berlebihan tadi. Kemudian melakukan penilian, dengan cara mempertanyakan pada diri apakah dalam melakukan pemaknaan pada pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19 telalu memisahkan fakta objektif dari diri kita sendiri ?
  3. Respond (Respon), langkah terakhir adalah memikirkan respon atau tindakan yang tepat. Dalam pengambilan tindakan harus didasarkan pada pemikiran yang rasional sehingga tercipta tindakan yang bijak, baik serta tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.

Selain pencegahan penularan Covid-19 melalui tindakan preventif, terdapat juga cara pencegahan melalui pengendalian pikiran terhadap banyak pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19, sehingga pikiran kita dapat terkendali tetap waras di tengah pemberitaan dan informasi tersebut. Singkatnya Stay Safe and Healthy Everyone.

Kenapa harus 14 hari dirumah? Baiknya ngapain ya selama dirumah?

source: miranda marquit due.com

Beberapa Sekolah, Universitas dan tempat kerja telah banyak yang dihimbau untuk melakukan social distancing, dan mengurangi kegiatan serta melakukan beberapa tugas/pekerjaan via online. Beberapa Universitas, pun tempat kerja memang telah banyak menerapkan sistem kuliah/kerja dan rapat online, sehingga tidak begitu pusing dengan adanya himbauan ini. Hanya saja, untuk kegiatan yang mengharuskan tatap muka, benar-benar harus dikurangi, kecuali bersifat sangat penting.

Kebanyakan himbauan yang diedarkan adalah siswa, mahasiswa, juga pekerja di liburkan selama 14 hari. Namun, dengan adanya libur tersebut, beberapa orang malah menjadikannya kesempatan untuk pergi piknik, bahkan mudik. Memang, supaya tetap sehat kita pun butuh refreshing seperti piknik atau bertemu orang tersayang, tetapi ini bukan saatnya. Loh kok gitu? Kenapa harus ada libur dong?

            Kenapa harus 14 hari dirumah, mengisolasi diri? Kenapa sepenting itu dan haruskah dilakukan? Jawabannya, YA, Sebisa mungkin dilakukan, karena….

            Dengan dirumah selama 14 hari ternyata dapat menghentikan laju penularan COVID-19. 14 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk mengetahui aman atau tidaknya seseorang dari infeksi virus corona. Dalam kasus begini, saat seseorang tidak sengaja dan tanpa sadar melakukan kontak fisik terhadap apapun yang bisa menginfeksi dirinya dari virus corona, maka dibutuhkan waktu 14 hari untuk menunggu (dirumah), jika tidak terjadi apa-apa maka orang tersebut aman. Namun, jika ternyata orang tersebut terinfeksi dan tetap kesana-kesini padahal sudah dihimbau untuk mengurangi kegiatan, bisa saja dia menularkan kepada orang lain, dan rantai penularan semakin meluas.

            14 hari libur dilakukan untuk memotong rantai penularan, hal ini dilakukan dengan harapan dapat meminimalisir laju bahkan menghentikan serta menyelamatkan ribuan orang. Tetapi, hanya akan berhasil apabila semua orang tetap tinggal dirumah masing-masing selama 14 hari libur itu. (dr. Reisa Broto Asmoro)

            Nah, agar 14 hari dirumah tidak bosan nih beberapa tips yang baik dilakukan :

  1. Membersihkan rumah, waktu yang cukup lama berada dirumah sebaiknya dilakukan dengan membersihkan rumah agar diri kita juga lebih sehat.
  2. Merawat diri, nih bagi yang biasanya sibuk bepergian untuk kegiatan diluar, waktu libur ini adalah waktu yang tepat untuk merawat diri kalian.
  3. Belajar memasak makanan sendiri, karena setiap hari beli makanan diluar atau bahkan go-food/grab food, dengan adanya libur ini kalian bisa loh mengkreasikan makanan sehat ala kalian.
  4. Berkarya/melakukan hobi, yang suka membuat komik, melukis, bermain alat musik dan lain-lain, saat inilah waktu yang pas untuk kalian melakukan menggali potensi atau hobi kalian.
  5. Bekerja atau doing homework, selain melakukan me-time ala kalian masing-masing, pekerjaan ataupun tugas tetap dikerjakan ya, karena libur bukan berarti bermalas-malasan.

Singkatnya, marilah kita semua mendoakan dunia agar segera pulih, stay safe, stay healthy!

Panduan Menyayangi Orang Tua Saat Corona Mulai Menyebar

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa sayang terhadap seseorang. Mengisolasi diri sendiri adalah salah satu di antaranya.

Corona menjadi buah bibir yang sedang hangat dibicarakan oleh semua orang di seluruh dunia hari ini. Sebagai sebuah virus yang ditakuti karena gejalanya yang nampak sama dengan demam biasa, corona hadir sebagai mimpi buruk dari para kapitalis. Meski di sisi lain ia menjadi angin segar bagi orang-orang yang peduli lingkungan, sebab nyatanya, mau tidak mau harus diakui bahwa corona berhasil membuat banyak orang mendekam di rumah dan tidak memenuhi jalan dengan kendaraan yang menghasilkan polusi tiap saat. Sehingga jika kamu sadar, sekarang di beberapa kota besar kamu sudah bisa melihat langit bersih pada pukul 1 siang. Hal yang tentu mustahil untuk kamu temukan pada hari-hari biasa.

Tapi benar-benar luar biasa corona ini. Selain banyaknya perusahaan yang telah menghimbau karyawannya untuk bekerja remote dari rumah masing-masing, insititusi pendidikan juga dibuat kelabakan. Mereka terpaksa mengeluarkan surat keputusan yang terburu-buru—meminta mahasiswanya libur dua minggu hingga satu semester penuh, mengerjakan tugas secara online, bahkan menyuruh untuk pulang ke rumah orang tua masing-masing. Masalah baru timbul ketika mahasiswa yang kebanyakan berkuliah di kota-kota besar, kota yang telah ditemukan pasien positif corona, benar-benar mengikuti anjuran kampus untuk pulang. Berpindah dari kota menuju ke daerah yang mungkin hanya ada puskesmas atau rumah sakit kecil dengan alat yang tidak memadai untuk mengidentifikasi corona.

Coba kamu pikir sejenak. Penanganan corona di kota-kota besar saja sudah ngos-ngosan, apalagi jika ia masuk ke daerah-daerah, seperti Wajo di Sulawesi Selatan atau Desa Tulang di Kabupaten Karimun Kepulauan Riau yang menghabiskan waktu cukup lama untuk sampai ke kota besar saat ada masyarakatnya yang menunjukkan gejala corona. Imbauan beberapa kampus yang menyuruh mahasiswanya pulang akan berbahaya sekali bagi orang-orang di daerah, bagi para anggota keluarga mahasiswa ini, bagi masyarakat sekitar. Mengingat orang yang berusia tua plus memiliki imun yang lemah adalah mereka yang paling rentan untuk terjangkit virus corona, sebab pernapasan merekalah yang diserang. Jadi orang tua yang memenuhi syarat di atas akan semakin berpotensi, dan tentu ini menjadi hal yang miris ketika yang menularkan adalah anaknya sendiri.

Jadi jika kamu adalah mahasiswa yang merasa ini menjadi waktu yang tepat untuk pulang ke rumah, menyaksikan senyum orang tua yang hangat, serta memakan semua makanan yang lezat, sebab kampus libur, maka tolong pertimbangkan lagi. Kamu tidak tahu apakah orang yang kamu temui di kafe, warkop, atau burjo beberapa hari yang lalu benar-benar sehat dan terbebas dari virus corona ini. Kamu tidak tahu apakah orang yang kamu jabat kemarin rajin mencuci tangannya sebelum memegang daerah wajah. Karena kamu serba tidak tahu, maka langkah terbaik yang bisa kamu ambil adalah dengan mengisolasi dirimu sendiri di rumah, kontrakan, atau kosan. Jangan pulang, jangan temui orang tuamu, jangan buat mereka berpotensi tertular apapun yang bisa kamu bawa ke rumah.

Cara semacam itu setidaknya bisa menunjukkan rasa kasih sayangmu pada mereka. Rasa kasih sayang tidak melulu harus bertemu langsung, bukan? Nah, di sinilah kamu menunjukkan baktimu sebagai anak. Setidaknya jika kamu tidak suka dengan konsep anak sebagai investasi orang tua, kamu masih bisa melihat orang tuamu sebagai entitas manusia yang berhak sehat tanpa terpapar virus apapun dari orang di sekitarnya. Sementara itu, kamu sendiri dapat memulai langkah awal untuk menjaga kesehatan dengan membatalkan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu di ruang-ruang publik atau di mana pun yang mengharuskanmu bertemu dengan banyak orang. Jika bisa, masaklah makananmu sendiri. Hindari membeli makanan dari warung yang memajang sayur dan lauknya secara terbuka. Cucilah alat makan di dapur kosanmu sebelum digunakan. Jangan lupa untuk rajin mencuci tangan dengan sabun setidaknya 20 detik, memakai masker saat sedang flu, dan ayolah jangan sentuh lagi daerah wajahmu dengan tangan telanjang. Selain bisa mempercepat penularan corona, kamu pun bisa jerawatan!

Jadi mari kita sama-sama menjaga diri mulai hari ini. Biarkan saja orang-orang mengatakan kita sombong karena tidak mau lagi cipika-cipiki dan bersalaman. Biarkan saja orang-orang mengatakan kita lebih takut virus dibanding Tuhan karena tidak mau lagi datang ke tempat ibadah. Sungguh mereka tidak tahu dan mungkin saja tidak peduli pada apa yang harus kita hadapi bila positf corona, hanya karena lebih mementingkan omongan orang dibanding kesehatan sendiri.

Virus Corona; Waspada Wajib, Panik Jangan

Akhir-akhir ini dunia dibikin heboh dengan munculnya virus corona yang penyebarannya sangat cepat. Penyakit corona sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus baru yang sebelumnya tidak teridentifikasi terhadap manusia. Virus corona atau biasa disebut dengan Covid-19 bisa menyerang siapa saja, baik itu bayi, anak-anak, dewasa, lansia, bahkan ibu menyusui sekalipun. penyebarannya yang begitu cepat, wajib untuk diwaspadai, tetapi jangan sampai panik.

Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini biasanya menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, bahkan menyebabkan kematian terhadap korbannya. Virus ini pada mulanya hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Tetapi seiring berjalannya waktu, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti Middle East Respiratory Syndrom (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Penyebaran covid-19 sangat masif, dalam jangka waktu yang relatif singkat, mengutip dari CNN Indonesia, hingga kamis 12 Maret 2020 yang terinfeksi sudah tercatat sebanyak 126.061 yang tersebar di 118 negara. Melalui situs penghitungan Worldodometers , sekitar 67.064 orang dinyatakan sembuh dan 4.616 meninggal dunia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status covid-19 ini menjadi pandemi, karena penyebarannya yang sangat cepat.  Di Indonesia sendiri, dilansir dari infeksiemerging.kemenkes.go.id jumlah yang diperiksa mencapai 1.198 dengan yang positif sejumlah 69 orang, dan yang meninggal berjumlah 4 orang.

Secara keseluruhan, ada 3 gejala umum yang menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona, yaitu:

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak nafas

Pada awal kemunculannya, covid-19 diduga disebarkan melalui hewan ke manusia, tetapi seiring berjalannya waktu berubah menjadi manusia ke manusia. Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang terkena virus ini, yaitu:

  • Menghirup atau terkena percikan ludah bersin dari seseorang yang terkena covid-19
  • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah bersentuhan dengan korban covid-19
  • Melakukan kontak fisik dengan korban covid-19

Hingga saat ini, penangkal dari covid-19 ini masih belum ditemukan. Akan tetapi, ada beberapa pencegahan yang dapat kita lakukan setidaknya untuk meminimalisir penyebarannya. Sama dengan virus-virus sebelumnya yang pernah merebak, covid-19 ini dapat kita cegah penyebarannya dengan melakukan beberapa langkah. Pencegahan ini dapat kita lakukan dan dimulai dari diri kita sendiri, yaitu:

  1. Hindari bepergian ke negara yang terinfeksi covid-19
  2. Gunakan masker atau semacamnya jika sedang beraktifitas di tempat umum
  3. Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun ataupun hand sanitizer setelah melakukan aktifitas di tempat umum
  4. Tidak menyentuh mulut atau hidung, sebelum mencuci tangan dengan bersih
  5. Mengkonsumsi buah-buahan atau makanan bergizi untuk menjaga kesehatan

Langkah utama dari yang pertama adalah kita tidak boleh panik dengan merebaknya virus covid-19 ini. Waspada wajib, panik jangan. Selalu sediakan persediaan yang diperlukan secukupnya, jaga pola tidur dan pola makan, dan juga jaga kesehatan. Setiap persoalan yang ada, tentunya akan disertai dengan solusi. Cepat atau lambat, penangkal dari covid-19 akan segera ditemukan. Kita hanya perlu selalu waspada terhadap berita apapun yang berkaitan dengan virus ini, jangan sampai terdoktrin oleh berita yang belum tentu benar adanya. Selalu cek dan kroscek melalui portal-portal yang telah disediakan oleh Pemerintah untuk mengupdate berita dari covid-19 ini.https://dutadamaiyogyakarta.id/

Hari Musik Nasional di Yogyakarta



Hari Musik Nasional diperingati pada tanggal 9 Maret 2020. Sejarah penentuan hari musik nasional disamakan dengan hari lahir pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman (WR. Soepratman). Damai Indonesia

Yogyakarta pada 1 Maret 2020 digebrak oleh Scorpion dan Whitesnake dalam JogjaROCKarta Festival #4 2020. Kurang lebih 17.500 penonton memadati Stadion Kridosono. Dua band asal Eropa yang telah dinanti-nati sejak tahun lalu itu telah berhasil menghipnotis para penonton dengan penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang mereka bawakan.

Whitesnake dijadwalkan untuk tampil terlebih dahulu sebelum Scorpions. Personil dari Whitesnake diataranya David Coverdale (vokal), Bernie Marsden (gitar), Micky Moody (gitar), Neil Murray (bass) dan David “Duck” Dowle (drum). Mereka membawakan 14 lagu, antara lain, Hey You, Slow And Easy, Shut Up And Kiss Me, dan Still Of The Night, etc.

David Coverdale menyapa para penonton “Akhirnya bertemu lagi setelah 1975” dengan membuka penampilan mereka dengan lagu Bad Boys. Duck sang drummer juga telah berhasil memukau para penonton dengan pamer skill bersolo drum selama kurang lebih 2 menit. Pria berumur 66 tahun ini tidak terlihat letih dan langsung melanjutkan ke lagu berikutnya.

Selanjutnya, band yang telah ditunggu-tunggu para penonton Scorpions tampil untuk menghibur para penonton. Band yang beranggotakan Klaus Meine sebagai vokalis, Rudolf Schenker & Matthias Jabs sebagai gitaris, Paweł Mąciwoda sebagai basis, dan Mikkey Dee sebagai drummer. Mereka membawakan 15 lagu termasuk hits Wind Of Change dan Still Loving You.

“Selamat malam Yogyakarta, apa kabar?” ujar Klaus menyapa para penonton dan membuka pertunjukan mereka dengan lagu Going Out With A Bang yang langsung di sambut tepuk riuh para penonton.

Scorpions dan Whitesnake yang rata-rata anggotanya telah berumur lebih dari 50 tahun telah menginspirasi generasi muda dengan memberikan penampilan yang memukau melebihi band-band muda yang telah tampil terlebih dahulu sebelum mereka. Kedua band legend ini memperlihatkan semangatnya dalam berkarya dan tampil dengan maksimal tanpa melihat usia mereka.(hd)

Rakornas Duta Damai Dunia Maya BNPT Tahun 2020

Mayjen TNI Paruhuman Lubis
Duta Damai

Denpasar, seperti tahun sebelumnya setelah sekian waktu dibentuk, komunitas Duta Damai Dunia Maya BNPT melakukan rapat koordinasi nasional. Rakornas kali ini di adakan di Hotel Prama Sanur beach Denpasar Bali, diikuti oleh kurang lebih 130 Duta Damai dari 13 kota di Indonesia. Di mulai sejak tanggal 4-6 Maret 2020.

Rakornas Duta Damai kali ini dihadiri pula oleh Kasubdit Kontra Propaganda Kol. Pas. Drs. Sujatmiko dan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Paruhuman Lubis. Dalam sambutannya, Mayjen TNI Paruhuman Lubis menekankan bahwa Duta Damai mengemban tugas penting sebagai penggerak literasi masyarakat khususnya generasi muda sebayanya.

Duta Damai bukanlah organisasi politik bukan pula nonprofit. Duta Damai harus menjadi corong edukasi untuk mencerahkan masyarakat agar cerdas dalam mencari informasi, bijak dalam berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya.

Kehadiran Duta Damai dibentuk tidak untuk melawan narasi radikal. Melainkan hadir untuk membentengi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi kekerasan. Salah satu caranya yaitu dengan membanjiri dunia maya dengan konten-konten positif yang beraroma perdamaian.

Agenda tahunan ini tidak hanya acara selebrasi mengumpulkan Duta Damai. Namun juga menyusun program kerja pula membahas tentang perban (peraturan badan). Perban ini adalah awal dari perjalanan baru Duta Damai. Akan menjadi satu hukum yang mengikat sekaligus melindungi ruang gerak Duta Damai.

Di peraturan badan yang telah disahkan tersebut, Duta Damai memiliki prinsip: sukarela, non-profit, berintegritas, support group, independen. Duta Damai hadir sebagai pendukung terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh BNPT. Khususnya terkait dengan kampanye damai. Baik itu kampanye di dunia maya maupun kegiatan offline dibanyak kota di Indonesia. (min)

Pernak-Pernik Kemeriahan Pekan Budaya Tionghoa di Yogyakarta

Sumber: Dokumentasi Duta Damai Yogyakarta

Tahun baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek biasanya dilaksanan pada bulan pertama dalam kalender Tionghoa. Kemudian diakhiri dengan Cap Go Meh.

Tahun baru Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 25 Januari 2020. Sedangkan perayaan Cap Go Meh dilaksanakan dari tanggal 2-8 Februari 2020, tentunya dengan berbagai macam rangkaian acara untuk memeriahkannya.

Dalam perayaan Cap Go Meh biasanya masyarakat Tionghoa di suatu daerah akan mengadakan pawai barongsai dan yang lainnya. Tenntunya dengan ornamen-ornamen khas Cina. Di Yogyakarta sendiri, perayaan ini dilaksanakan di berbagai tempat, salah satunya di kawasan Malioboro dimana kawasan ini memang menjadi kawasan pusat keramaian. Di hari kedua Cap Go Meh, diadakan acara Malioboro Imlek Carnival.

Pada tahun ini perayaan Cap Go Meh mendapat antusias yang meriah dari masyarakat. Terbukti di hari kedua di sekitar lokasi acara sebelum pawai dimulai sudah lebih dulu dipadati oleh masyarakat. Tidak hanya masyarakat setempat saja yang datang untuk menyaksikan pawai barongsai ini, para mahasiswa yang berasal dari luar daerah juga banyak yang datang ke acara tersebut.

Banyak sekali keseruan-keseruan yang terjadi selama pawai berlangsung, ada beberapa orang yang sengaja mengajak berselfie para peserta pawai yang mengenakan kostum barongsai mini dan reog. Karena dalam pawai ini, tidak hanya menampilkan yang memiliki unsur Tionghoa, akan tetapi terdapat juga kebudayaan lokal yang turut serta ditampilkan. Dalam kemeriahan Pekan Budaya Tionghoa kali ini juga disuguhi dengan aneka kuliner yang bisa dinikmati di lokasi ataupun dibawa pulang. Tentunya juga ada beberapa merchandise dengan nuansa Tionghoa.

Cap Go Meh merupakan salah satu kemeriahan perayaan dari agama dan suku yang ada di Indonesia. Dengan menghormati keyakinan dan kebudayaan dalam agama mereka, maka masyarakat yang di luar agama merekapun juga bisa mengikuti kemeriahaan dari perayaan tersebut. Tanpa adanya saling pengertian dan saling menghormati antar pemeluk agama, maka mustahil hal itu bisa terwujud.

Tuhan menciptakan hamba-Nya dengan berbagai perbedaan. Tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Begitupun juga dalam kepercayaan tiap suku, terdapat perbedaan antar suku. Tidak semestinya kita melarang penganut agama lain untuk melaksanakan kewajibannya dalam agama mereka.

Marilah kita introspeksi diri terlebih dahulu, bagaimana perasaan kita jika kita yang dilarang melaksanakan kewajiban kita untuk beribadah. Apakah kita akan diam saja jika ada sekelompok oknum tiba-tiba datang dan melarang kita untuk beribadah. Dengan adanya perayaan semacam Cap Go Meh ini menjadi bukti bahwa perbedaan tidak harus menjadikan kita terpecah-pecah dalam bersosial. Pelangi bisa indah karena dia terbentuk dari berbagai macam warna, bukan hanya satu warna. Begitu juga dengan hidup, kita tidak akan bisa menikmati keindahan hidup ini jika kita sendiri. Karena sejatinya manusia itu adalah mahluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain.

Sosial Media Untuk Menangkal Paham Radikal, Emang Bisa?

Peserta Seminar dan Pembicara

Akhir-akhir ini penyebaran berita palsu atau hoax semakin masif. Generasi Milenial menjadi sasaran empuk bagi mereka yang menciptakan hoax. Milenial identik dengan gadget. Mengecek sosial media atau sekedar baca-baca status menjelma menjadi kebutuhan wajib.

 Sayangnya tidak semua postingan atau bacaan yang diakses (dikonsumsi) adalah hal baik. Tidak sedikit sebagian dari generasi kita yang justru terjerumus hal radikal dimulai dari ‘kuliah’ di dunia maya. Tentu, dengan semakin inten mereka beraktivitas di media sosial, hal ini akan semakin memberi peluang besar untuk terus mencekokinya dengan paham-paham radikal.

Penyebaran hoax semakin hari semakin merajalela, hal ini tentu tidak bisa kita biarkan berlarut-larut. Sudah banyak kasus tidak menyenangkan terjadi bermula dari penyebaran berita palsu yang kemudian menyebar menjadi kekacauan di pelosok negeri. Sebagai contoh, ketika Ratna Sarumpaet dikabarkan dikeroyok oleh sekelompok oknum yang tidak diketahui, padahal kenyataannya ia melakukan operasi plastik di salah satu rumah sakit di Menteng Jakarta Pusat. Hal ini menyebabkan kegaduhan yang sangat riuh, mengingat pada waktu kejadian tersebut, negeri ini sedang hangat-hangatnya dengan gejolak politik.

Di zaman digital yang serba mudah ini, penyebaran berita palsu akan tersebar dengan cepat melalui dunia maya. Dengan sedikit utak-atik, permainan kata, lalu dengan hitungan detik, berita yang belum tentu benar tersebut akan tersebar dengan hanya satu kali klik. Orang-orang di manapun berada, selama mereka tersambung ke saluran internet akan dengan mudah mengakses berita tersebut. Selama mereka tidak bijak dalam menggunakan smartphone yang dimiliki, maka selama itu pula hoax akan terus tersebar luas.

Melalui tekat untuk memberantas konten hoax di media sosial inilah, Komunitas Duta Damai Yogyakarta yang terbentuk dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kemudian mengadakan Seminar Wawasan Kebangsaan yang diadakan di Kampus Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 19 Oktober 2019.

 Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yaitu: Dr. H. Amir Mahmud M. Ag selaku pengamat pergerakan Islam dan penulis buku Fenomena Gerakan Jihad (Alumni Militer Afghanistan), M. Mustafid, S. Fil selaku Koordinator bidang Agama FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme), dan juga Dr. Muhammad Suaib Tahir sebagai Satgas Pencegahan BNPT. Masing-masing narasumber membahas tentang keberadaan  anak muda saat ini yang harusnya mampu memanfaatkan sosial media sebagai lahan produksi dan mengajak anak muda  agar tidak mudah termakan berita-berita yang belum tentu benar adanya. Dengan harapan agar tidak mudah diprovokasi oleh oknum-oknum radikal untuk menjadi bagian dari mereka.

Menurut Dr. Amir Mahmud, 85% Suriah hancur disebabkan oleh media sosial. Dari fakta yang  beliau sampaikan dapat ditarik kesimpulan bahwa media sosial mempunyai peran yang sangat besar dalam menciptakan kegaduhan. Jika kita tidak bisa memanfaatkan dengan positif atas keberadaan sosmed, kita bisa saja menjadi negara berikutnya yang akan porak poranda karena adu domba yang terjadi lewat media sosial.

Memasuki era yang serba digital ini, untuk menciptakan kegaduhan antar golongan tidak perlu mengandalkan kekuatan fisik. Cukup dengan sapuan jari saja, maka keretakan akan dengan mudah dan cepat menyebar. Sama halnya dengan racun kobra yang menyebar secara diam-diam, dan dengan cepat mematikan lawannya. Begitu juga dengan hoax, ia akan menebar bibit-bibit kebencian dari dalam, sebelum kemudian muncul ke permukaan dan menciptakan kegaduhan yang luar biasa.

Dengan adanya Seminar Kebangsaan semacam ini, diharapkan kedepannya para generasi milenial tidak mudah terbujuk untuk menyebar konten yang belum tentu benar. Cek dan ricek terlebih dahulu sebelum mengklik tombol share. Dan tentu saja, kegiatan-kegiatan yang positif seperti ini juga diharapkan bisa diadopsi oleh pihak-pihak lain, demi mendukung aksi-aksi positif dalam memerangi hoax yang semakin hari semakin barbar.

Dalam seminar ini Duta Damai Yogyakarta mendapat dukungan  dari kampus Universitas Atma Jaya Yogyakarta, FKPT (Forum Komunikasi Pencegahan Teroris) dan juga BNPT.

Banyak sekali tanggapan positif yang datang dari para peserta seminar. Mereka merasa dengan adanya kegiatan seperti ini, akan semakin mengokohkan semangat para pemuda untuk juga turut menjaga perdamaian NKRI dari. Dengan adanya support dan juga apresiasi dari pihak pemerintah terkait dengan kegiatan-kegiatan semacam ini, selain menumbuhkan budaya kehati-hatian, juga akan membuat generasi penerus bangsa untuk selalu waspada terhadap kelompok luar yang mempunyai tujuan untuk menghancurkan keutuhan negeri.

Di era industri 4.0, kita juga dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan informasi, sehingga  tidak akan mudah terpengaruh oleh berita-berita yang belum tentu benar sesuai dengan fakta di lapangan. Maka dari itu, diharapkan ke depannya akan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang bertujuan memberikan edukasi terhadap generasi muda yang masih rentan terpapar paham radikal. Mari kita saling mawas diri, dan tetap berpegang teguh terhadap pedoman NKRI, demi menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa. Salam damai.

Seminar Wawasan Kebangsaan Kolaborasi Duta Damai Yogyakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Seminar Kebangsaan
Duta Damai Yogyakarta

Yogyakarta, 19 Oktober 2019
Duta Damai Yogyakarta dibentuk dengan tujuan untuk mengkampanyekan pesan-pesan damai diberbagai kesempatan dan platform. Sejak berdiri dari tahun 2016, Duta Damai Yogyakarta telah banyak menyelenggarakan berbagai acara online maupun offline. Baik acara yang diprakarsai dan dilaksanakan secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain diberbagai bidang.


Pada kesempatan kali ini Duta Damai Yogyakarta mendapat kepercayaan berkolaborasi dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk menggelar acara seminar kebangsaan. Sebuah acara yang digelar dengan target peserta kalangan milenial.


Seminar kebangsaan bertajuk Wawasan Kebangsaan Untuk Generasi Milenial di Era Digital ini dilaksanakan pada Sabtu, 19 Oktober 2019 di gedung Bonaventure Kampus 3 Universitas Atma Jaya dengan menghadirkan narasumber yang cukup kompeten dibidangnya masing-masing. Yaitu, Dr. H. Amir Mahmud yang merupakan Alumni Akademi Militer Afghanistan dan juga direktur Amir Mahmud Center; M. Mustafid, S. Fill selaku Koordinator Bidang Agama FKPT DIY; dan Dr. Muhammad Suaib Tahir selaku pejabat BNPT.


Acara ini dibuka oleh Dr. Bernadus Wibowo Suliantoro, M. Hum selaku koordinator mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Beliau dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda agar terus update informasi dan jangan mau ketinggalan zaman. Tidak lupa memberi penjelasan bahwa paham radikalisme terorisme bisa merasuki siapa saja tidak terkecuali mahasiswa maupun aparat negara.


Dalam seminar ini Dr. Amir Mahmud membeberkan beberapa fakta yang terjadi di Suriah dan Damaskus sebelum dan sesudah terjadi konflik. Beliau menjelaskan bahwa 85% rusaknya Suriah karena media sosial. Untuk itu beliau berpesan kepada generasi Indonesia agar jangan mau menjadikan Indonesia tercinta menjadi seperti Suriah. Maka, langkah yang perlu diambil adalah dengan selalu bijak memberikan informasi di media sosial. “Indonesia bukan negara agama namun Indonesia ini negara religius. Indonesia punya pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. “Dimana negara tidak mengusik, namun mengatur kehidupan beragama,” tutur beliau.

Kenyataannya memang Indonesia dikenal dengan negara Bhineka Tunggal Ika, meski beda namun tetap satu. Selain itu juga Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi. Sementara konflik-konflik sosial yang terjadi selama ini (tidak hanya di Indonesia) disebabkan oleh tidak ada ikatan kuat dan adanya gesekan-gesekan yang menghadirkan kekacauan.

Kekerasan, radikalisme, terorisme adalah bentuk-bentuk kekacauan yang terjadi oleh beberapa sebab diantaranya perbadaan fisik, emosi, kebudayaan dan perilaku.


Apa yang disampaikan Dr. Amir Mahmud ini sejalan dengan yang disampaikan oleh M. Mustafid, S.Fill bahwa 4 akar dari radikalisme adalah penafsiran agama yang salah (terlalu kurang atau berlebihan), adanya politisasi pada agama, persoalan pencarian identitas dan konteks kesenjangan ekonomi, politik, hukum dll.
Menurut M. Mustafid, S. Fill tantangan kebangsaan terletak pada Globalisasi Ekonomi, Global Governance (homogenisasi budaya), Etno Nasionalisme dan Separatisme, Intoleransi Radikal Terorisme dan Identitas Jati Diri. Maka, cara untuk menghadapi tantangan tersebut bisa dilakukan dengan mengambil nilai-nilai baik dari sebuah kebudayaan, membangun komunikasi untuk menumbuhkan jati diri dan generasi milenial haruslah melakukan kontekstualisasi. “Saat ini tantangan terbesar adalah kemajuan teknologi. Era analog pindah ke ranah digital. Media sosial tidak bisa lagi dibendung. Sebagai generasi milenial hendaknya bisa berubah dari konsumen menjadi produsen,” ujar beliau.


Sementara itu Dr. Muhammad Suaib Tahir juga menjelaskan bahwa tantangan dan keresahan yang ada disuatu negara merupakan tanggung jawab semua warga bangsa. Beliau menjelaskan bahwa aksi terorisme sejatinya sudah terjadi sejak lama di benua lain. Dari hasil penelusuran beliau yang sudah lama malang-melintang ke berbagai negara dapat disimpulkan bahwa tantangan bagi negara-negara berkembang (khususnya Afrika) terletak pada falsafat negara. Beruntung Indonesia punya pancasila yang didalamnya mengandung sila-sila yang cukup ideal untuk dijalankan. Tidak lupa beliau juga mengingatkan bahwa teroris itu bukan Islam. Pula target rekrutmen para penganut paham ini adalah anak-anak muda.


Pada akhirnya acara seminar wawasan kebangsaan ini digelar dengan maksud untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dikalangan anak muda sekaligus memberi motivasi agar generasi milenial tidak acuh pada perkembangan teknologi di era industri 4.0.


Hendaknya milenial dan siapa saja lebih peduli lagi dengan apa yang diposting di media sosial dan juga agar tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang bernarasi negatif. Selain itu, sangat baik kiranya jika generasi milenial sebagai pengguna aktif sosial media untuk menerapkan penciptaan opini di masyarakat kemudian disebarluaskan di sosial media guna perlawanan terhadap narasi yang bertolak belakang pada data faktual, yang mana biasa kita sebut sebagai Narasi Alternatif (Alternative Naratif), saran dari bapak Dr. Muhammad Suaib Tahir.