Keimanan adalah modal untuk bertahan

Bangsa indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Bangsa yang yang selalu berpegang pada norma-norma agama yang dianutnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal Ini juga tercantum dalam sila pertama Pancasila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Keimanan kepada Tuhan adalah modal terbesar bagi seseorang agar mampu bertahan hidup dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam hidupnya. Terutama bagi mereka yang mengimaniNya.

Keimanan seseorang dalam keseharian mungkin bisa berubah ubah. Terkadang terlihat kuat dan kokoh hingga ia mampu mensikapi segalanya dengan bijak dan tegar. Namun tidak jarang pula ia akan terlihat begitu lemah dan terpuruk ketika hawa nafsu lebih menguasai dan dominan dalam hatinya.

Keimanan

Proses membentuk keimanan yang kuat dan stabil, tentunya tidak bisa dicapai dengan cara instan, akan tetapi terus berjalan seumur hidup. Dibutuhkan berbagai macam perkara,  supaya imannya bersemi, bertumbuh dan akhirnya berbuah manis.

Terlepas dari proses keimanan seseorang, sebagai orang Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, kita perlu melihat kembali kata-kata bung Karno Presiden pertama RI yang mangatakan “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara yang kaya raya ini”.

Hal ini kalau kita sikapi dengan positif tentu bisa jadi salah satu pegangan kita dalam bersikap dan bergaul dengan sesama manusia. Bersyukur atas keberadaan sesama di sekitar kita, yang suatu ketika mungkin harus berpegangan tangan bersama dalam menghadapi sesuatu. Hal ini justru akan bisa menjadi cerminan kedalaman keimanan seseorang. Bahwa Keimanan seseorang tidak lalu menjadikannnya eksklusif tetapi inklusif.

Terutama disaat seperti sekarang ini, ketika pandemi corona melanda negeri, setiap orang berkesempatan untuk saling membantu, berperan sebagai seorang inspirator bagi orang lain. Berguna bagi sesama, transformatif, berdaya ubah dengan tetap menyandarkan diri pada keimanan masing-masing.

Kalau ini benar-benar dimaknai sebagai implementasi dari keimanan kita, tentunya akan semakin mempererat tali silaturahmi antar anak bangsa. Dan dengan eratnya tali silaturahmi yang terjalin justru akan semakin menyempurnakan ibadah kita masing-masing sebagai manusia yang beriman.

Pluralitas masyarakat Indonesia, terutama dalam hal keyakinan bukanlah untuk dipertentangkan, tapi justru menjadi modal serta kekuatan untuk kita bisa saling mengisi dan mendukung agar senantiasa dikuatkan dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun.

Salam Perdamaian!

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *