Makna Solidaritas Biopolitik Menuju Kosmopolitik

Solidaritas, biopolitik dan kosmopolitik

Evelyn Fox Keller seorang ahli epigenetik sudah lama menentang pemisahan antara nature dan nurture. Pernyataan ini dianggapnya sebagai masalah logis yang berakar pada kebingungan terminologis dalam ilmu. Pembagian antara nature dan nurture awalnya dilakukan untuk politik solidaritas yang kemudian menjadi imputasi biopolitik. Biopolitik sebagai salah satu upaya untuk melindungi hak asasi makhluk hidup yang dalam konteks ini masih terfokus pada agen moral yaitu manusia (Keller, 2010).

Pemisahan antara nature dan nurture mengindikasi suatu keterpisahan makhluk hidup dengan lingkungannya. Namun lagi-lagi  makhluk hidup yang dimaksud adalah manusia yang menjadi agen moral.

Evelyn Fox Keller

Dalam kajian epigenetika, seperti yang pernah diobservasi oleh Keller bahwa pemisahan antara nature-nurture hanya merupakan fatamorgana. Keller berpendapat bahwa DNA dan sel tetap adalah yang sangat penting dalam membuktikan keterkaitannya dengan lingkungan melalui ‘plastisitas’.

Pada abad kesembilan belas ketika batas spasial tubuh manusia dibagi menjadi dua yaitu luar dan dalam, alam disamakan dengan faktor genetik yang merupakan bagian dalam tubuh. Sedangkan pengaruh lain seperti kebersihan, pendidikan dan sebagainya merupakan bagian luar tubuh. Alam sebagai faktor genetik sudah diberikan otoritas moral tersendiri. Hal ini setidaknya membawa angin segar meskipun belum sepenuhnya demikian sebab masih adanya bias antara alam dan genetik.

Kondisi Ekstrem Eugenika

Dalam persamaan ‘alam’ dengan genetika juga pernah memiliki sejarah politik yang menemukan ekspresi paling dramatis dalam skema eugenika. Kondisi ini terjadi ketika Adolf Hitler merencanakan pemurnian manusia dengan upaya pengikisan segala macam hal yang dianggap menyimpang dalam genetik manusia. Peristiwa ini adalah salah satu yang paling memilukan dalam sejarah. Respon pertemuan antara nature dan nurture yang keliru dapat menyebabkan konsekuensi yang tragis. Tampaknya otoritas moral yang dilekatkan sejak awal pada persamaan alam dan genetik tidak egitu diperhatikan dengan baik.

Neoliberalisme dan Biopolitik 

Gagasan ‘gaya hidup’ dan persamaannya dengan tanggung jawab pribadi sesungguhnya berakar pada neoliberalisme dan tata kelola biopolitik. Kecenderungan kepada upaya nurture daripada nature sesungguhnya tidak sepenuhnya keliru. Namun implikasi yang membentuk kondisi sosial masyarakat modern kemungkinan akan menjadi individualis dan pragmatis. Namun Biopolitik solidaritas  ini datang dengan efek menyoroti logika ‘kontrol versus tanpa kendali’, mengartikulasikan agensi gaya hidup sebagai urusan individu yang terisolasi dengan lingkungan.

Ranah solidaritas dengan demikian berbeda dari apa yang semakin dilihat sebagai ‘tanggung jawab pribadi. Dalam kedua kasus – genetika atau gaya hidup – lingkungan tidak masuk dalam pertimbangan.

Dalam kebijakan imigrasi, misalnya, keputusan untuk memberikan izin tempat tinggal sementara didasarkan pada penilaian motif pengungsi, dalam arti literal dari ‘apa yang menggerakkannya’. Perbedaan antara korban pengungsi PBB dengan  ‘migran’ ekonomi dan ‘pengungsi’ politik sudah merupakan konsekuensi dari klasifikasi ini, meskipun perbedaan antara keduanya tidak secara langsung jelas.

Mengacu pada penerapan aturan imigrasi yang lebih ketat di Prancis selama tahun 1990-an, Didier Fassin (2009) mencatat bahwa perbedaan antara ‘pengungsi politik’ dan ‘migran ekonomi’ semakin membuat perbedaan selama dekade yang sama. Perbedaan baru didasarkan pada aturan pengecualian kemanusiaan bahwa pemerintah Prancis mulai menerapkan untuk melegalkan imigran tidak berdokumen yang menderita penyakit parah yang tidak dapat diobati di negara asal mereka juga karena alasan finansial. Didier Fassin (2009) menyebut tindakan ini sebagai contoh dari apa yang disebut sebagai ‘biolegitimasi’.

Ahli epigenetik telah menganalisis  faktor lingkungan dapat memengaruhi cara DNA beroperasi. Perhatian bergeser ke proses biokimia yang mengatur gen dan banyak faktor yang memengaruhi proses ini. Oleh Karena itu, epigenetik memunculkan bentuk hereditas lain selain genetika tradisional, misalnya, paparan jangka panjang terhadap zat beracun dapat mengubah regulasi kimiawi DNA dan perubahan ini dapat diteruskan ke keturunannya. Sedangkan dalam hal ini ‘lingkungan’ belum tentu merupakan entitas spasial. Nutrisi juga dapat dianggap sebagai lingkungan bagi tubuh kita (Landecker, 2011).

Klasifikasi antara Nature dan Nurture

Mengapa Kosmopolitik?

Kosmopolitik adalah konsep untuk membuka kemungkinan makna dan praktik politik dan mengundang untuk mempertimbangkan apa jadinya politik jika kita menganggap dunia kita bukan sebagai ‘masyarakat’ tetapi sebagai ‘kosmos’. Di mana konsep masyarakat secara tradisional disediakan untuk manusia, ‘kosmos’ membawa serta aktor non-manusia, bentuk agensi, dan cara-cara eksistensi seperti binatang, roh, tumbuhan, dan objek teknologi. Memang imputasi biopolitik membatasi pertanyaan pada agensi manusia individu sementara manusia selalu menjadi bagian dari ekologi yang lebih luas. Namun Kosmopolitik tidak mengandaikan intervensi arbiter untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dunia, tetapi mempertaruhkan pertanyaan ‘apa yang perlu dibangun dunia’. Sebaliknya, imputasi biopolitik menuntut pemisahan politik dan kosmos.

Dengan kata lain, biopolitik masih mengistimewakan jenis tertentu yang diarahkan untuk mendefinisikan dan membatasi subjek manusia yang berhak atas manfaat kebijakan khusus masyarakat. Imputasi biopolitik melakukan logika yang secara diametris bertentangan dengan kosmopolitik yang lebih memandang skema alam sebagai bentuk yang komprehensif atau sederhananya seperti prinsip ekologi (Hendrickx & Voyweghen, 2020).

Hubungan kosmos inilah yang menjadi signifikan dalam kosmopolitik bahwa kebijakan yang dihasilkan perlu dikaji ulang jika belum sesuai dengan prinsip ini. Walaupun seandainya imputasi biopolitik masih diterapkan setidaknya perlu diperhatikan kecenderungan kosmos menjadi yang utama daripada hanya terfokus pada salah satu agen yaitu manusia.

Poin penting yang dapat kita pahami melalui adanya kosmopolitik yaitu kecenderungan untuk memahami alam lebih sebagai suatu kesatuan daripada entitas-entitas yang tidak saling berhubungan. Meskipun terdapat perbedaan biner dalam alam semesta namun bukan berarti kehadirannya mengeliminasi kehadiran lainnya. Konsep harmoni yang diajarkan oleh alam ini menurut saya adalah simbol yang sesungguhnya telah diciptakan oleh manusia sendiri, meskipun saya juga berpikir bahwa mungkin saja makna itu telah ada sebelumnya.

Referensi:

Hendrickx, Kim, Voyweghen, 2020, Solifarity After Nature: From Biopolitics to Cosmopolitics, Sagepub Journal, Leuven.

Fassin D, 2009, Another politics of life is possible, Theory, Culture & Society 26(5): 44–60.

Landecker H, 2011, Food as exposure: Nutritional epigenetics and the new metabolism, Biosocieties 6(2): 167–194.

Keller EF, 2010, The Mirage of a Space between Nature and Nurture, Duke University Press, Durham and London.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *