Melawan Radikalisme dengan Kritis di Medsos

Melawan Radikalisme bukan hanya milik perseorangan.
Dalam tayangan dialog Mata Najwa di hari Rabu tanggal 13 November 2019, di situ dibeberkan mengapa anak muda gampang terkena radikalisme. Di sini ditayangkan pengakuan mantan terorisme perekrut mahasiswa. Di mana dalam proses perekrutan, yang pertama dilakukan ialah melihat mereka rajin ibadah atau tidak, kemudian ditanya juga dengan pemahaman dengan Islam. Dari situ pasti akan terlihat gambaran tertarik dengan jihad atau tidak. Jika tertarik, maka akan lebih jauh lagi mengenalnya, melihat kebutuhannya seperti apa?, kemudian mengajaknya berkenalan lebih jauh, seperti misalnya sering bertemu di masjid sampai dengan bermain ke indikos untuk sekedar minum kopi dan saling bertukar informasi atau pendapat tentang Jihad.


Dalam Mata Najwa ini, disebutkan juga ada beberapa kriteria mahasiswa yang mudah terpapar radikalisme. Di antaranya ialah mahasiswa yang secara faktor ekonomi kekurangan, mahasiswa yang senang mengikuti kajian-kajian Islam radikal di kampus, mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya, mahasiswa yang hidup dan tinggal indekos karena jauh dari pengawasan orang tua. Naasnya perekrutan semacam ini masih berlanjut sampai dengan sekarang. Bahkan, disebutkan juga bahwa kemudahan teknologi menjadi salah satu jalur utama untuk mendapatkan pengikut baru, mantan teroris ini sendiri mengaku lebih sering berkomunikasi melalui jalur online. Bahkan dengan adanya ini, jauh lebih efektif daripada penyebaran yang dulu, seperti misalnya mereka tinggal memberikan materi dakwah lewat video.

Senada dengan itu, BNPT terkait dengan aksi terorisme di lingkungan akademik, juga pernah men-survey, bahwa pendidikan tingkat SMA yakni 63, 3%, perguruan tinggi 16,3 persen, tidak lulus perguruan tinggi, 5,5 persen dan SD 3,6 persen. Sedangkan berdasarkan usia 21-30 tahun yakni 47,3%, usia 31-40 tahun yakni 29,1%, usia di atas 40 tahun 11,8%, di bawah usia 21 tahun, masing-masing 11,8 persen. Mantan menteri pertahanan Ryamizard Ryacudu juga menyebutkan bahwa media sosial satu hari bisa menarik 500 orang untuk bergabung dengan paham radikal.


Gambaran inilah yang seharusnya diselesaikan bersama, bagaimana mengatasi radikalisme yang bisa dikatakan sudah mengusik ketenangan dalam berbangsa dan bernegara. Terlebih sekarang ini, propaganda online dianggap sebagai sarana yang sangat efektif, prosedural, mudah hingga murah. Dan, tentunya pemuda menjadi sasaran empuk, didukung dengan dominannya generasi muda dalam mengakses media online. Di sisi lain muda juga masih terselip jiwa yang labil, sehingga akan mudah untuk di propaganda.

Baca info lomba cover lagu
Haitsam al-kailani, mengatakan adanya bahaya yang akan timbul akibat propaganda radikal di media sosial online terhadap generasi muda ialah menciptakan generasi teroris. Terorisme adalah sebuah tindakan kekerasan yang mengancam dan bahkan merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa untuk mencapai tujuan dari kelompok radikal.
Sudah seharusnya kesadaran merebak dalam diri, guna mengajak kita menyukai kerukunan dalam bangsa.

Salah satu solusinya adalah mengimbanginya dengan menebar perdamaian di media sosial, di lain sisi juga perlu kajian-kajian keagamaan yang lebih mendalam dalam kampus, sekolah, dan tempat belajar lainya. Karena rata-rata dari mereka yang terjebak dari paham radikalisme ialah kurangnya pemahaman yang utuh tentang agama yang diikutinya. Di lain sisi, faktor ekonomi juga menjadi lubang yang sering dimasuki radikalisme. Maka, kedekatan seorang guru atau dosen di sini sangat dibutuhkan, agar faktor ekonomi tidak menjadi alasan untuk bertingkah radikal. Lantas arahkan mereka, seperti misalnya memberikan solusi ekonominya dengan mengikuti beasiswa, sampai dengan memberikan atau mencarikan pekerjaan sampingan.


Hal sederhana semacam inilah yang seharusnya senantiasa dikembangkan bersama. Agar generasi bangsa tidak gampang terkena doktrin yang radikal. Sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, bahwa sikap radikal adalah sesuatu yang berlebihan dan itu harus dihindari dalam kehidupan. Rasulullah sendiri pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib; ada dua orang yang akan hancur, yakni; pecinta yang berlebihan dan pemarah yang berlebihan. Makna serupa juga terdapat dalam surah Q.S. An-Nisa (04) ayat 171, kemudian dikuatkan lagi dengan hadits dari Ibnu Abbas, “jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam agama” (H.R. Ahmad).


Untuk itu, kita harus bersama-sama berbenah, kembali pada makna sebenarnya dari lahirnya agama. Bahwa agama tidak mengajarkan fanatik, tidak mengajarkan kekerasan, dan tidak pula mengajak manusia menjadi radikal. Agama lahir semata-mata untuk menyatukan kebersamaan, kerukunan dan bagaimana menjadi manusia yang bisa berguna bagi diri sendiri, orang lain, dan bangsa tercinta Indonesia.

Follow Instagram Duta Damai Yogyakarta

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *