Pemerintah(an) dan Agama

Mari berandai-andai, bagaimana ketika dunia tempat yang kita singgahi berada dalam keadaan alamiah (natural), sebuah dunia tanpa adanya pemerintahan?

Pemerintah(an) adalah sebuah istilah yang disematkan kepada sebauh entitas yang luas yang dikelola oleh institusi-institusi politik: pemerintah pusat, pemerintah daerah, polisi, pengadilan. Berbagai macam institusi tadi mendistribusikan dan mengelola kekuasaan politik. Tugasnya yakni menempatkan siapa saja yang pantas menduduki jabatan, lalu orang-orang ini mengklaim diri mereka sebagai pemilik atas hak dalam memerintah dan membuat kebijakan. Apabila tidak mematuhi aturan yang dibuat, maka akan tertangkap lalu dihukum. Kehidupan kita secara tidak sadar dibentuk dan dikontrol dalam genggaman keputusan yang dibuat orang lain. Campur tangan politik semacam ini tampaknya tidak bisa terhindari. Suka tidak suka, mau tidak mau, eksistensi manusia akan selalu berbenturan dengan eksistensi manusia lainnya.

Keberadaan pemerintah kerap kali dituduh sebagai biang keladi atas segala problematika yang muncul. Kematian, kelaparan, kemiskinan, adalah sedikit hal yang terus menerus terjadi karena pemerintah yang dinilai tidak becus. Orang-orang yang bergelut di dalam pemerintahan menggunakan kekuasaan yang menempel padanya hanya untuk kepentingan golongan.

Lantas pertanyaan selanjutnya yang menarik untuk diajukan adalah apakah keberadaan pemerintah justru menjadi lumbung terciptanya kekerasan? Sumber dari mengalirnya kemiskinan? Cikal bakal munculnya para pelaku koruptor? Terkadang manusia justru hidup semakin baik manakala hidup secara kolektif. Artinya manusia membangun interaksi sosial satu sama lain secara berkelompok. Idealnya suatu kelompok, maka tiap individu memiliki perannya masing-masing. Dalam hal ini, suatu ‘pemerintahan’ terbentuk secara alamiah sama halnya dengan manusia.

Keberadaan pemerintahan yang kuat sebenarnya adalah untuk menjamin agar kita semua yang hidup di dalamnya tidak tergelincir ke dalam peperangan antar sesama. Ketika tidak ada pemerintahan, tabiat dasar manusia pasti akan membawa manusia pada konflik yang keras. Manusia memiliki insting untuk mempertahnkan hidupnya. Tidak ada sebuah sistem yang mengatur akan membuat kekacauan. Hal ini karena manusia didorong ketakutan terhadap kematian.

Ada dua kunci untuk memahami situasi ini. Pertama, memahami bahwa segala persoalan yang timbul di dunia selalu bermuara kepada manusia. Sejatinya, manusia terlabih dahulu harus mengintrospeksi diri secara jujur terhadap dirinya mengenai siapakah manusia itu sebenarnya. Lalu jika hal tersebut telah selesai, maka beranjak kepada level berikutnya. Bagaimana kemudian memahami manusia yang tergabung dalam masyarakat politik, manusia sebagai warga negara. Kunci kedua, yakni mengetahui motif apa yang menggerakkan manusia baik secara personal maupun sosial. Dalam melakukan suatu tindakan manusia senantiasa didorong atas nilai-nilai. Nilai ini yang kemudian menjadi sumber apakah perbuatan seseorang baik atau buruk.

Kalau kita kembali melakukan sebuah asumsi, seharusnya nilai tertinggi yang menjadi motif dibalik tingkah laku manusia adalah nilai yang tidak lagi melihat enak atau tidaknya sesuatu, sakit atau tidak, berat atau ringan, ada suatu dorongn sejati yang menggerakkan seorang manusia untuk bertindak. Kita sering menyebut nilai ini dengan agama. Dalam diri manusia ada insting keberagamaan. Di sana tersimpan bermacam-macam emosi manusia, mulai dari rasa tkaut, harap, cemas, cinta, kesetiaan, pengagungan, penyucian dan beragam emosi yang menghiasi jiwa manusia. Emosi itu adalah dorongan bagi manusia untuk melakukan hubungan antar jiwa dengan sesuatu kekuatan yang diyakini sebagai Maha Agung.

Maka, dari sini seharusnya kita dapat mengetahui sumber dari pemerintahan yang buruk adalah tidak adanya agama sebagai pegangan hidup. Sebelum mengenal peradaban seperti sekarang, meski tidak menamakan diri sebagai sebuah ‘pemerintahan’, manusia berbondong-bondong dalam satu kelompk yang terstruktur menempuh jalan untuk mencari kekuatan yang Maha Agung ini, meski nama yang disandang berbeda-beda, seperti Penggerak Pertama, Yang Mahamutlak, Pencipta Alam, Kehendak Mutlak, Yang Mahakuasa, Yahwa, Allah, dan sebagianya. Itu mengapa tiap agama datang membawa dan mengajak pada kedamaian: salam, syalom, assalumaalikum. Semua bermakna pada pesan kedamaian. Damai memiliki konotasi yang mendalam. Artinya kehidupan harmonis tanpa saling menyakiti dan memberi gangguan.

Kedamaian tidak hadir jika hanya seorang saja. Ia justru lahir karena adanya manusia lain yang turut memahami satu sama lain sehingga menghasilkan apa yang disebut damai. Damai hanya terjadi ketika individu tergabung dalam suatu kelompok. Makna damai artinya kita bermunajat bahwa tiap-tiap manusia mendapat keselamatan.

Kembali ke pertanyaan di awal, maka jawabannya adalah tidak bisa. Karena hidup berkelompok adalah insting manusia yang tidak dapat dilepaskan. Hal ini bagian dari hakekat manusia sebagai manusia bertuhan yang memerlukan pencarian terhadap sesuatu yang Maha Agung dengan melibatkan manusia lainnya. Sehingga pemerintah yang mendasari agama sebagai pijakan, terlepas dari agama manapun, sejatinya menjamin keselamatan tiap-tiap warga negaranya. Karena ada tanggungjawab penuh yang akan dikembalikan kelak kepada yang Maha Agung.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *