Cafe Taru Martani
Gaya Hidup Opini

Taru Martani: Virus Perdamaian melalui Cafe Viral di Jogja

Damai adalah suara yang terdengar dari keramaian menuju setiap ruang sepi bernama sanubari. Mendambakannya adalah impian setiap jiwa, berdamai dengan teman, lingkungan, keadaan hingga dengan dirinya sendiri. “ Jika candi Prambanan adalah saksi kekuatan cinta tak terbalas dari Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang. Maka Taru Martani adalah saksi bahwa Jogja masih menebar wangi damai seperti daun yang terus menghidupi, karna Jogja terdiri dari Cinta, Kopi, Tembakau dan Taru Martani,”. Beragam café, angkringan dan warkop mewarnai malamnya Yogyakarta. Salah satunya Café Taru Martani. Tak hanya sekadar café biasa, namun melekat sejarah dan budaya pada Taru Martani ini. Berdiri tahun 1918, bangunan ini didirikan oleh Belanda, sempat jatuh di tangan Jepang yang kemudian kini dikelola oleh pemerintah Yogyakarta dengan produk tembakau berkualitasnya untuk diolah menjadi cerutu. Sejarah legendaris menjadi saksi awal Industri rokok bermula di tanah air sejak lebih dari satu abad yang lalu. Berbagai gelak tawa dan diskusi hangat menyelimuti para pengunjung. Melalui Taru Martani, kopi, tembakau dan cinta nyawiji pada setiap sudutnya. Taru yang berarti daun dan martani yang berarti kehidupan, dilihat dari beberapa sisi Taru Martani memiliki makna yang dalam, bahwa dalam setiap daun ada penghidupan didalamnya. Sejarah dan Arti Damai Taru Martani Coffe & Resto 1918 Berdiri sejak tahun 1918, 104 tahun yang lalu bangunan cagar budaya ini dilestarikan dan direvitalisasi secara berkala. Tersembunyi dari pusat kota di timur stasiun lempuyangan, tempat ini tetap ramai dikunjungi berbagai kalangan dari masyarakat Jogja hingga wisatawan luar daerah. Perpaduan ciri khas bangunan Belanda yang tergambar pada pagar putih yang besar, corak jepang di dinding ruangan  hingga nuansa ukiran jawa yang unik dipersatukan tanpa saling memisahkan pengaruh tiga negara bersejarah dalam berdirinya PD Taru Martani. Lahan yang luas di halaman pabrik dimanfaatkan sebagai café yang menjadi daya tarik pengunjung untuk melepas tawa dan canda di tempat ini. Nuansa perpaduan bangunan yang bersatu, alunan musik yang menemani setiap perbincangan, hingga foto – foto lama yang menceritakan sejarah PD Taru Martani menjadi alternatif yang tepat agar tempat ini ramai dikenal oleh kawula muda. Sebagai pabrik industri rokok pertama di Indonesia, tempat ini menjadi sumber ekonomi yang berpengaruh kala itu hingga saat ini. Sembari tetap beroperasi sebagai pabrik cerutu, café Taru Martani juga tak kalah sibuknya menghidupi puluhan karyawannya, musisi jogja yang tampil bergantian setiap malam hingga tempat persinggahan menikmati senja hingga malam datang. Banyak orang berpikir damai haruslah sepi dan menyendiri, namun dalam keramaian dan diskusi kopi, kedamaian juga dapat tercipta. Bertemu banyak kawan dan rekan, bersapa dan bertanya kabar, serta memunculkan obrolan-obrolan lucu hingga menyenangkan. Macam orang dengan berbagai latarbelakang dan kepentingan beradu pada satu tempat, Taru Martani. Bagaimana café yang berdampingan dengan pabrik ini dapat sama-sama saling mengisi tanpa menganggu, juga merupakan bentuk damai dari lingkup kecil. Alunan live music menambah romantika malam Jogja ditengah bangunan monumental berjuta sejarah. Melirik cerita panjang bagaimana Taru Martani menjadi saksi perdamaian Belanda, Jepang, Jawa hingga Indonesia yang tergambar di setiap bingkai foto dindingnya. Perdamaian itu nyata menggenerasi hingga abad ini, menjadikannya sebagai salah satu destinasi café bersejarah di Jogja adalah jembatan pewaris kedamaian yang paling tepat. Segala permasalahan dari sosial, perkuliahan, organisasi hingga komunitas bisa terselesaikan dengan duduk bersama dan bercengkrama. Sejak pandemi Covid-19, perkembangan café di Indonesia cukup pesat dengan berbagai penawaran rasa hingga suasana. Maka nilai perdamaian yang terjalin dari satu café ke café lainnya mampu berkontribusi membangun perdamaian di bumi pertiwi. Semua yang berbeda identitas, ras hingga bahasa bisa saling menghormati dalam satu meja. Maka café menjadi ruang baru bagi tumbuhnya perdamaian dan kebersamaan. BACA JUGA: Definisi Cinta dalam Drama ‘Alchemy of Souls’ Potensi Strategis Ruang Ngobrol untuk Perdamaian Tradisi “ Skuy Ngafe” yang melejit di masa endemi dimana orang–orang mulai kembali produktif bekerja dengan sistem WFH (Work from Home) yang berubah menjadi work from anywhere karna mulai merasa bosan dengan aktivitas #dirumahaja kala itu. Bantak kawula muda yang pindaj dari satu café ke café lainnya untuk mencari tempat ternyaman untuk menyelesaikan pekerjaan. Menjadi ruang favorit untuk diskusi, berbagi inovasi hingga merencanakan program kerja ataupun acara keren café menjadi tempat strategis menyuarakan pesan–pesan positif, salah satunya perdamaian. Alasan mendasar café dan sejarah bisa menjadi wadah memviralkan perdamaian : Di tengah naiknya mobilitas kerja dan budaya produktif, café menjadi tempat alternative untuk sekedar memanjakan dan menuangkan rasa bahkan sudah menjadi budaya era milenial. Mendamaikan hati sambil menyedup hangatnya kopi di café terkini bisa membangun ruang damai bagi setiap kalangan di tengah hiruk pikuknya dunia Beragam masalah mampu terselesaikan hanya dengan kalimat ajakan “Ngobrol di café aja yuk biar lebih jelas dan santai” Kembali mengingat sejarah dan budaya bisa kita dapatkan secara mudah dengan café yang menawarkan nuansa budaya serta sejarah seperti Taru Martani Budaya mengunggah moment di sebuah café dengan postingan paling “estetik” mampu membuat siapapun yang melihat untuk merencanakan waktu ke café Maka jikalau ditanya bagaimana perdamaian bisa viral ? café menjadi salat satu wadah berpotensi untuk menebar perdamaian di Nusantara. Jangkauan keviralan sebuah café yang meningkat menjadi peluang besar untuk menjadikan setiap ruang diskusi di café salah satu upaya saling berdamai dan menebar perdamaian. Skema Perkembangan Café Menjadi Destinasi Viral yang Berpengaruh Sebagai salah satu negara penghasil biji kopi terbaik di dunia, apalagi Taru Martani dan cerutunya sudah berkembang sejak satu abad silam menjadi saksi perjalanan kebiasaan sehari–hari masyarakat Indonesia. Namun agak sedikit berbeda dengan masuknya akulturasi coffee shop berbentuk café di era modern. Dahulu muda–mudi pribumi gemar berkumpul di bawah pepohonan sambil meracik kopi dengan waktu yang cukup lama, namun sistem coffee shop membawa perubahan dalam efektivitas waktu. Siapapun dapat menikmati kopi dengan waktu cepat sembari menyelesaikan tugas kantor, kuliah hingga berdiskusi panjang. Maka tak heran bisnis ini menjadi salah satu usaha yang meningkat pesat di seluruh kota. Berbicara soal nuansa setiap tempat memiliki ciri khas tersendiri, dari klasik hingga modern. Pertumbuhan 50 persen area di kota besar yang kian banyak disulap menjadi café adalah faktor utama yang membuat istilah ngopi di café menjadi gaya hidup manusia modern. Dalam upaya persaingannya café memerlukan peningkatan kualitas, rasa hingga promosi. Membangun nuansa positif di sebuah café memiliki daya tarik tersendiri, seperti mengadakan live music, diskusi, rapat bahkan kegiatan dakwah, sosialisasi hingga seminar yang biasa di gelar di gedung luas kini lebih nyaman diselenggarakan di café. Perpindahan minat ini sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam rangka menebar perdamaian, di Jogja kami belajar dari Taru Martani yang mendamaikan setiap orang yang berkunjung hingga jalur perkembangan café di sekitarnya. Jikalau bertanya bagaimana perdamaian bisa viral? Gaya hidup modern melalui tempat viral adalah solusi paling efektif untuk dikembangkan. Sejatinya nilai damai bisa sampai melalui ruang dimana manusia bisa nyaman mengemukakan dan menerima pendapat orang lain. Memanfaatkan keunikan café sangat strategis untuk diupayakan oleh kawula muda dalam usaha penyebaran virus perdamaian. Editor: Bennartho Denys

Berita

Opini

Taru Martani: Virus Perdamaian melalui Cafe Viral di Jogja

Damai adalah suara yang terdengar dari keramaian menuju setiap ruang sepi bernama sanubari. Mendambakannya adalah impian setiap jiwa, berdamai dengan teman, lingkungan, keadaan hingga dengan dirinya sendiri. “ Jika candi Prambanan adalah saksi kekuatan cinta tak terbalas dari Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang. Maka Taru Martani adalah saksi bahwa Jogja masih menebar wangi damai...

Definisi Cinta dalam Drama ‘Alchemy of Souls’

Semalam, Minggu (8/1), baru saja saya selesai menonton episode terakhir drama berjudul 'Alchemy of Souls' untuk musim keduanya. Sebetulnya, saya tidak berpikir untuk mengikuti musim kedua setelah cukup berakhir 'mengenaskan' di musim pertama. Namun, memang drama ini memaksa saya penasaran akan kelanjutan kisahnya. Resiko mengikuti sebuah drama sudah jelas bikin 'kecanduan', padahal sebetulnya saya jarang...

Hiburan

Event