Bu Tejo Film Tilik Potret Hidup Pedesaan

Film Tilik menjadi sorotan utama di semua media sosial. Bahkan menjadi salah satu trending topik Indonesia dengan tagar #BuTejo.

sumber: YouTube Ravacana

Bu Tejo sendiri merupakan sosok vocal yang menjadi sentral pula daya tarik dari film ini. Kehadiran Bu Tejo dalam Tilik menjadikannya perbincangan yang tidak akan cepat basi. Bonusnya akan menghasilkan dialog, diskusi dan obrolan panjang di banyak kalangan. Tidak hanya terbatas kalangan sineas.

Kenapa Film Tilik?


Sebuah celotehan muncul dari salah satu pengguna Facebook menanyakan kenapa film Tilik mendadak viral padahal aslinya film ini sudah lama ada.
Bagi sebagian sineas atau orang yang selalu update film pendek indie pasti tidak asing dengan film besutan sutradara Wahyu Agung Prasetyo ini. Namun khalayak luas baru tahu film ini beberapa hari lalu. Tepatnya sejak kemunculannya di akun YouTube Ravacana Films pada tanggal 17 Agustus 2020.

Sebelum tayang di kanal YouTube, film ini sudah lebih dulu diputar di berbagai kegiatan juga festival. Maka wajar jika sebelumnya sudah ada atau justru banyak yang mengenalnya. Begitu tayang luas, orang-orang mulai ramai membicarakannya. Bukan hanya ceritanya tapi hampir semua elemennya. Mulai dari awal sampai ending. Bahkan tidak sedikit yang mendadak gemas dengan pemandangan lokasi shooting dan tingkah polah para pemainnya.

Film Tilik Film Festival


Di festival, film ini juga termasuk jajaran film berkelas. Terbukti beberapa penghargaan pernah diraih oleh film produksi Ravacana Films kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan DIY. Salah satunya adalah pemenang Piala Maya 2018 kategori film pendek.

Daya tarik utama film ini adalah sosok Bu Tejo yang diperankan oleh Siti Fauziah. Karakternya membuat para penonton ingin ‘ngamuk ngamuk’ namun di sisi lain juga mengocok perut. Ini pulalah yang menjadi perbincangan para netizen beberapa hari belakangan.
Tidak heran jika banyak yang menilai film ini tidak ada apa-apanya jika sosok Bu Tejo itu dihilangkan.

Cerita dari film ini sebenarnya cukup sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan nyata, umumnya daerah pedesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sangat pas sebab lokasi yang dipakai untuk film juga pemandangan khas Yogyakarta.

Film Tilik atau dalam bahasa Indonesia berarti menjenguk, berkisah tentang serombongan ibu-ibu desa yang hendak menjenguk (tilik) Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit di kota. Mereka berangkat dengan menyewa truk. Sesuatu yang unik namun memang demikian fenomena yang ada di masyarakat. Semacam tradisi.
Hal ini menunjukkan bahwa memang rasa gotong royong dan kekeluargaan masih sangat kental di kalangan masyarakat.

Cerita terus mengalir dengan obrolan ibu-ibu di atas truk terbuka. Seperti umumnya ibu-ibu di pedesaan, acara bergosip adalah hal yang lumrah. Sosok Bu Tejo adalah gong utama yang menabuh acara gosip tersebut. Ia memulainya dengan menyebut nama Dian sekaligus memperlihatkan foto dari akun sosial medianya. Dian digambarkan sebagai seorang kembang desa namun cukup kontroversi.

Ibu-ibu bergosip tentang Dian hanya berbekal dengan infomasi dari sosial media tanpa ada saring. Semua menerima dan meyakini sesuai dengan sudut pandangnya. Tanpa perlu melakukan validasi atau pencarian fakta kebenaran.
Di sisi lain ada juga Yu Ning yang membela Dian. Malah satu-satunya pembela Dian. Sayangnya dia ini tidak bisa juga menunjukkan bukti kuat dan hanya berasumsi. Hingga nanti pada akhirnya akan terjawab juga pro kontra perkara Dian ini.

Plot twist yang diberikan lagi-lagi cukup menambah poin film ini. Maka rasanya wajar jika banyak penonton yang membicarakan. Kalau kamu ternyata tidak ikutan membicarakannya, bukan berarti selera kamu buruk. Kamu masih tetap teman mereka kok, selera saja yang beda.

Agama dan Krisis Toleransi

Agamamu apa?

Suka heran sama orang-orang yang suka menanyakan “kakak agamanya apa?”, “Mukanya Kristen”, “kalau kakak Islam aku bakalan follow” di kolom komentar sosial media? Benarkah agama bisa dipandang dari wajah atau pakaian?

Itu hanya beberapa pertanyaan saja yang kerap kali dituliskan oleh pengguna sosial media. Saya sering menemui hal tersebut di sosial media Tiktok karena kebetulan saya pengguna pasif Tiktok.
Tau gak sih hal-hal yang seperti ini yang seringkali merusak perdamaian, menodai Bhineka Tinggal Ika dan Pancasila.

Walaupun sebenarnya komentar-komentar tersebut hanya dituliskan oleh orang-orang yang masih berpikiran sempit atau bahkan akun palsu, masih banyak pengguna sosial media yang pemahaman akan perdamaian, perbedaan, toleransi kurang, jadi ikut-ikutan terjerumus.

“Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”. (Gus Dur)

Tidak seperti kutipan Alm. Bapak Abdurahman Wahid, pengguna sosial media sekarang ini walaupun seseorang sudah berbuat sebaik apapun pasti masih akan ditanya “Kakak agamanya Islam apa Kristen?”.

Dewasa ini toleransi umat beragama mengalami krisis. Sejatinya agama ada juga untuk membimbing dan mengarahkan umat manusia agar berbuat baik dan taat kepada aturan-aturan dasar dalam agama yang di peluknya. Setiap agama di dunia pastinya selalu mengajarkan kebaikan kepada pemeluknya.

Baca juga postingan lomba

Saya rasa hal ini perlu adanya wawasan yang mapan tentang keberagaman. Peran pemuka agama juga sangat penting disini. Yuk mulai dari diri kita dulu, tidak perlu melihat agama seseorang dulu baru kita menghargai orang tersebut. Alangkah indahnya Indonesia tanpa pertanyaan “Kakak Islam atau Kristen?”.

Kita dalam hidup ini sedang belajar. Belajar tentang banyak hal. Tentang perbedaan. Tentang rasa. Tentang kenyamanan. Kita tidak sedang berlomba untuk menjatuhkan. Pun tidak sedang pamer siapa pemilik kesempurnaan. (mini 2020)

“Agamamu apa?”, pada suatu hari pertanyaan ini sangat dibutuhkan. Tapi pada saat yang lain, pertanyaan ini hendaknya disimpan baik-baik. Menanyakan agama kepada orang lain tidak salah kok selama kita paham posisi kita pula sejauh mana pertanyaan itu penting dilontarkan. Misal kita sedang merasa jatuh cinta pada seseorang, sering kita ingin tahu banyak tentangnya. Tapi bertanya agama orang lain dengan maksud men-judge adalah bukan sebuah kesatria. (Mini 2020)

Klepon: Indonesia Dalam Balutan Makanan Tradisional

Sumber: Duta Damai Yogyakarta

Beberapa hari ke belakang, jagat sosial media sedang ramai dengan adanya selentingan foto yang mengatakan bahwa klepon merupakan makanan yang tidak islami. Hal ini bermula ketika terdapat sebuah akun yang mengunggah foto tersebut, lalu kemudian foto tersebut mendapatkan banyak reaksi dari netizen, sehingga kemudian viral. Dan menjadi trending topik di Twitter.

Sudah jamak diketahui, bahwa klepon merupakan salah satu dari sekian banyak macam jajanan nusantara, yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam bahan makanan ketika diolah menjadi sebuah makanan ciri khas negeri ini.

Bahan utama untuk membuat jajanan klepon sendiri terdiri dari berbagai macam, yaitu seperti: kelapa, pandang wangi, gula aren, dan tepung beras ketan. Dari beberapa macam bahan tersebut kemudian diolah, dan menghasilkan sebuah makanan yang mempunyai cita rasa khasnya sendiri.

Jika bisa dianalogikan, jajanan klepon tersebut –juga jajanan tradisional lainnya—merupakan sebuah perumpamaan dari Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai berbagai macam jenis suku, budaya, dan agama yang terkumpul dalam satu kesatuan Republik Indonesia. Begitulah juga dengan Indonesia, ragam budaya dan segala macam kehidupan bersosial hidup dengan rukun.

Indonesia dikenal dengan negara yang majemuk, karena semua agama bisa hidup rukun berdampingan di dalamnya tanpa menimbulkan gesekan sosial dan perpecahan. Begitu juga dengan isi klepon, semua bahan yang tersedia kemudian melebur menjadi satu makanan yang mempunyai ciri khas dan berbeda dengan makanan lainnya.

Ciri khas dan rasa seperti ini tidak bisa diubah dan diotak atik, oleh siapapun. Karena semua bahan diolah sedemikian rupa, sehinggal menghasilkan bentuk dan rupa yang begitu khas dan tidak menyerupai yang lainnya. Jika bahan dari jajanan klepon ini kemudian ada yang ditambah atau dikurangi, maka kemudian hasil makanannya bisa saja nantinya tidak diberi nama klepon lagi. Begitu juga dengan Indonesia, jika kerukunan dan kebersamaan ini nantinya diusik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka kemudian setelah terjadi perpecahan bisa saja tidak disebut lagi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa jadi setiap pulau yang terlepas dari pangkuan ibu pertiwi kemudian menjadi negara masing-masing. Seperti Kalimantan, Sumatera, dan kepulauan lainnya menjadi negara yang berdiri sendiri.

Indonesia tidak akan lagi menjadi negera yang indah dengan perbedaan, jika beberapa kepulauan pecah dan menjadi negara sendiri-sendiri. Maka kemudian, ini menjadi tugas kita bersama untuk selalu menjaga keutuhan dan kerukunan negeri ini. Jangan sampai terpecah belah hanya karena perkara kecil yang bisa diselesaikan lewat ngopi bareng, misalnya.

Selamat menikmati klepon.

jangan lupa ikut lomba cover lagu

Menghindari Jebakan Dunia Maya

Menghindari Jebakan Dunia Maya


Seringkali kita membicarakan krisis yang terjadi di negara tempat kita tinggal di dunia maya. Pembicaraan tersebut ada yang sekadar obrolan ringan angin lalu hingga menjadi debat panas yang mengerutkan dahi. Namun, kita lupa bahwa sesungguhnya kita telah menjadi bagian dari krisis. Krisis yang melampaui materi, yakni perihal eksistensi.

Dokumen dutadamaiyogyakarta.id

Krisis yang timbul karena keajaiban budaya konsumen dan geliat budaya pamer di dunia maya. Yang apabila mengikuti Hierarki Kebutuhan Maslow akan terasa rumit. Mengapa tidak, dunia maya menuntut kita untuk sesegera mungkin memenuhi kebutuhan atas penghargaan dan aktualisasi diri (tingkat kebutuhan tertinggi), di mana hal ini kerap kali mengesampingkan keinginan kita untuk terlebih dahulu memenuhi tingkat dasar dari kebutuhan fisiologis dan rasa aman.

Krisis eksistensi ini makin menjadi-jadi di abad informasi-digital. Dari Rahim globalisasi terlahir generasi-generasi yang kecintaan terhadap diri sendiri melampaui kecintaan terhadap orang lain. Yang bahkan melihat kekaguman diri sendiri (self-esteem) melebihi kekaguman terhadap apa yang berada di luar diri, termasuk Tuhan. Pada akhirnya, hal ini berimbas kepada kecondongan manusia untuk senantiasa terus menyempurnakan dirinya. Ingin dicintai dan terus merasa dicinta. Tidak lebih dan tidak bukan, karena keterlampuan ‘rasa cinta’ terhadap diri sendiri.

Hal tersebut tidak lepas dari setiap realita yang ditampilkan di dalam dunia maya. Di mana segala sesuatu diproduksi seolah-seolah agar kita percaya bahwa kehidupan yang baik adalah sesuatu yang lebih dan lebih, pekerjaan yang lebih baik, atau kuliah di kampus-kampus dalam/luar negeri yang lebih top, atau pacar yang lebih cantik. Dunia maya secara konstan mencecar kita denga paradigma bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik ialah dengan segala sesuatu yang lebih dan lebih. Hingga kita secara tidak sadar menjadi lalai dengan kebutuhan kita yang paling mendasar karena dituntut untuk mengejar sesuatu yang lebih, berbuat lebih banyak, dapat lebih banyak, jadi lebih dan lebih.

Terlebih dengan adanya pandemi, kita semakin dimanjakan dengan keberadaan dunia internet. Di dalam sana, kita bebas memuntahkan sandiawara sesuka hati. Sandiwara memungkinkan kita untuk bisa mendapatkan penghargaan secepat mungkin. Misal, kita ingin dipuja sebagai seorang pecinta kucing, maka cukup dengan memposting foto atau video kucing-kucing lucu dan tambahkan sedikit bumbu-bumbu yang menyentuh hati. Dengan begitu, tinggal menunggu waktu bahwa orang-orang beranggapan jika diri kita adalah seorang pecinta kucing. Lagi-lagi, ujungnya adalah rasa cinta secara berlebihan terhadap diri. Kita ingin menampung semua rasa cinta tersebut tertuju hanya untuk diri kita seorang.

Kecintaan terhadap diri sendiri (self-esteem) adalah sebuah kontruksi identitas yang dibangun dalam dunia jejaring semacam dunia maya. Kecintaan terhadap diri adalah tentang perasaan terhadap diri sendiri. Perasaan tersebut diukur dengan unsur-unsur seperti kebaikan, kebesaran, kecantikan, atau kekuasaan diri. Yang mana rasa cinta tadi akan menarik keinginan untuk mendapat rasa kagum dari orang lain. Dan dunia maya lalu mencampur adukkan perasaan tersebut dengan harapan akan pandangan orang lain terhadap diri sendiri. Seseorang tidak akan merasa cukup hanya dengan merasa dicintai oleh diri sendiri, buth lebih banyak rasa cinta, yaitu dari orang lain. Dunia maya akan menempatkan diri kita sebagai figure sentral dalam panggung sosial ‘maya’, di mana publik akan memuja dan mengagungkan kita di sana.

Hal ini karena dunia maya memberikan kita ketidak terbatasan atas apa-apa saja yang kita lihat dan ketahui. Ketidak terbatasan yang ditampilkan kebanyakan yang berbau kebahagiaan dan kenikmatan. Jika tidak menanggapi secara bijak, maka kita akan terseret oleh jebakan yang dihadirkan oleh dunia maya. Keinginan untuk terus lebih dan lebih. Terus merasa dicinta dan ingin dicintai.

Jebakan tersebut secara tidak sadar akan menggiring kita pada kecenderungan egosentrisme atau bahkan egoisme, di mana kita hanya akan terlalu sibuk mementingkan diri sendiri. Nilai-nilai kepublikan dan kebaikan umum akan terkikis lambat laun oleh individualisme yang sedikit demi sedikit tercipta. Kita pada akhirnya akan tercabut dari akar-akar kehidupan sosial, seperti keluarga, teman, hingga komunitas karena dunia maya menuntun kita membangun sebuah paradigm tentang ke-aku-an, dengan segala sifat, karakter, keyakinan dan nilai-nilainya.

Oleh karenanya, tidak ada yang paling mengerti tentang kadar kita berselancar di dunia maya kecuali diri sendiri. Tentang bagaimana kita memahami, menerima, dan memberikan segala informasi yang ada di dalamnya. Karena pada era yang serba cepat seperti saat ini, dunia maya adalah keniscayaan yang tidak dapat terhindarkan. Maka, agar tetap terjaga dari jebakan-jebakan yang dihadirkan oleh dunia maya, pilihannya adalah dengan menavigasi diri sendiri. Untuk tetap waras dan mawas diri.

Referensi
Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Berlari Dromologi, Implosi, Fantasmagoria, Aurora, Yogyakarta, hlm. 133-137.
Mark Manson, The Subtle Art Not Giving a Fuck, HarperOne, AS, 2016, hlm. 6-10

Musik Dunia Pemersatu Bangsa

Musik dalam KBBI berarti  (1) ini atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan keseimbangan, (2) nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian itu).

Bagi sebagian orang musik adalah satu hobi (kesenangan) yang melengkapi hidup. Musik dipakai sebagai sarana untuk menyalurkan emosi dan rasa. Rasa sedih, bertemu musik. Sedang kecewa, diluapkan dalam musik. Sedang sangat rindu, berteman dengan musik. Bahkan ketika sedang sangat berharap, musik dijadikan satu sarana untuk melengkapi peribadatan. Musik menjadi warna dan hiburan tersendiri dalam lini kehidupan.

Musik oleh sebagian kalangan tidak hanya berhenti sebagai sarana mengekspresikan diri. Musik hadir lebih dari sekedar gaya. Tidak sedikit kita tahu adanya musisi yang memang menggantung diri dari bermusik. Artinya, musik dipakai sebagai media untuk mencari nafkah. Sebut saja pencipta lagu, komposer, produser pula musisi.

Musik hadir memenuhi belahan dunia. Setiap negara bahkan punya ciri musiknya masing-masing. Bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh kultur budaya masing-masing wilayah.
Kita tahu, setiap negara merdeka bahkan punya lagu kebangsaan. Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia.

Sejarah Musik Dunia

Merunut sejarah perkembangan musik telah terjadi sejak zaman purbakala. Kala itu musik hadir sebagai pelengkap dalam menjalankan ritual-ritual atau semacam pengiring dalam upacara-upacara peribadatan. Perkembangan musik terus berlanjut ke abad pertengahan. Pada abad dimana Romawi mulai mengalami kemunduran, musik justru berkembang oleh sebab ditemukannya kemajuan dalam bidang kehidupan. Tokoh yang cukup santer pada masa ini adalah Gullanme Dufay dari Prancis dan Adam de la halle dari Jerman.

Pada abad Renaisans dimana dikenal juga dengan abad kebangkitan, musik kembali mendapatkan pengaruh dan mengalami perkembangan. Pada masa ini mulai mengenal musik dengan bercirikan nuansa percintaan dan perjuangan. Musik yang awalnya identik dengan ritual gereja justru mengalami kemunduran. Perkembangan sains dan teknologi pada masa ini cukup meningkat begitu pun dengan musik. Awal kemunculan piano dan organ dimulai pada masa ini. Inilah cikal bakal lahirnya musik instrumental. Giovanni Gabrieli (1557 – 1612) dari Italia, Galilei (1533 – 1591) dari Italia, Claudio Monteverdi (1567 – 1643) dari Venesia, Jean Baptiste Lully (1632 – 1687) dari Prancis, mereka adalah tokoh-tokoh musik pada masa renaisans.

Di abad pertengahan kembali dikenal jenis aliran musik baru yaitu Barok dan Rokoko. Setelah zaman ini berakhir maka dimulailah era musik klasik yang juga masih dikenal sampai saat ini. Musik klasik dimulai sejak tahun 1750.

Sejarah musik tidak hanya berhenti sebagai sarana hiburan. Musik juga ikut andil dalam perayaan-perayaan kenegaraan. Musik dekat dengan budaya. Musik sebagai penyemangat dalam event olahraga. Musik juga dikenal sebagai media perdamaian. Musik sebagai pemersatu bangsa.

Jangan lupa ikut lomba cover lagu.

Mengenal Salam Yang Berlaku di Indonesia

Mengenal salam yang berlaku di Indonesia. Berbalas salam menjadi satu tradisi dalam masyarakat Indonesia. Kebiasaan tegur sapa dalam masyarakat Indonesia  sudah menjadi sesuatu yang bermakna dalam. Tegur sapa juga telah menjadi bagian dari budaya adat dan sopan santun yang diberlakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Aktivitas ini biasanya menjadi awalan dari suatu interaksi sosial. Misalnya jika kita bertamu ke kediaman seseorang maka kita secara etiket sudah pasti mengucapkan salam atau tegur sapa.  Istilah Salam mungkin lebih dikenal daripada tegur sapa pada konotasi masyarakat Indonesia.

Salam secara etimologi berasal dari kata “Islam” yang berarti perdamaian. Namun secara pengertian umum salam adalah pernyataan hormat kepada seseorang (subjek). Terlepas dari penyelidikan asal kata ‘Salam’ dalam berbagai sumber, namun tidak dipungkiri bahwa salam telah menjadi suatu ciri kemanusiaan. Salam juga memiliki fungsi sebagai penegas bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memaknai hubungan sosialnya juga secara transenden. Kemampuan kognitif manusia untuk memaknai nilai membuat salam tidak hanya sekedar sinyal atau tanda naruliah namun juga sebagai simbol harapan atau cita-cita.

Melihat berbagai fenomena yang terjadi melalui pengalaman pribadi, kita tentu saja telah menyaksikan berbagai macam bentuk salam yang diucapkan oleh manusia. Baik melalui pemahaman budaya maupun agama secara lebih spesifik, kita dapat melihat berbagai keberagaman yang terjadi di dunia ini.

Pengalaman saya ketika tinggal di kota besar seperti Yogyakarta. Kota yang dikenal dengan keberagaman penduduknya itu, telah memberikan saya sebuah kesempatan untuk melihat berbagai sudut pandang semenjak dari ucapan salam. Suatu hal yang belum pernah saya jumpai semasa tinggal di kampung halaman.  

Menurut saya ucapan salam yang beragam itu sangat menarik. Tepatnya pada hari ini, sebelum saya menulis, saya juga sempat berbincang dengan salah satu teman yang mengerti tentang makna dan arti dari salah satu ucapan salam. Mengingat saya juga memiliki pengetahuan mengenai makna salam dari salah satu agama saya pun berpikir. Perbincangan tersebut kemudian menemui suatu kesamaan dari dua ucapan salam yang berbeda. Kata tersebut yaitu “damai”. Ucapan salam itu juga memiliki kesamaan berikutnya yaitu sebagai simbol harapan.

Perbincangan yang menarik itu pun membuat saya penasaran terhadap makna dan arti dari berbagai ucapan salam lainnya. Ketertarikan itu pun membuat saya melakukan riset sederhana terhadap beberapa ucapan salam yang sering kita dengar. Ucapan salam tersebut diantaranya Salam Sejahtera bagi Kita Semua (salam umat Kristiani), Om Swastyastu (salam umat Hindu), Namo Buddhaya (salam umat Buddha), Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu (salam umat Islam), dan Salam kebajikan (salam umat Konghucu).

Salam Sejahtera bagi Kita Semua

Salam yang sering diucapkan oleh pemeluk agama Kristen ini pernah disampaikan oleh Yesus Kristus. Selain itu Alif Danya Munsyi mencatat bahwa istilah ‘sejahtera’ yang digunakan pada ucapan salam ini juga muncul dalam beberapa kitab injil.

Om Swastyastu

Dalam buku ’Mutiara dalam Budaya Hindu Bali’ yang ditulis oleh IB Putu Bangli, kata ‘Om Swastyastu’ memiliki makna semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi.  

Namo Buddhaya

Mahmud Manan pernah menulis dalam bukunya yang berjudul “Transformasi Budaya Unsur-unsur Hinduisme dan Islam pada Akhir Majapahit” bahwa ‘Namo Buddhaya’ awalnya sering diucapkan dengan ‘om namas siwaya namo buddhaya’, yang memiliki makna hormat kepada Siwa dan Buddha.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu’ merupakan salam yang diucapkan oleh pemeluk agama Islam. Ucapan salam tersebut memiliki makna semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian. Ketika seseorang mengucapkan ‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu’ maka yang mendengarnya harus menjawab  ‘Walalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu’ yang berarti semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada kalian. Dalam buku karya Dr. Abdurrahman Misno BP berjudul “The Secrets of Salam: Rahasia Ucapan Salam Dalam Islam” disebutkan makna Assalamualaikum sebagai doa atau harapan.

Salam Kebajikan    

‘Salam Kebajikan’ merupakan salam yang sering diucapkan oleh para pemeluk agama Konghucu. Dalam buku karya Hendrik Agus Winarso yang berjudul  “Keimanan dalam Agama Konghucu: Suatu Tinjauan Teologi dan Peribadahannya” menyebutkan bahwa kebajikan merupakan prinsip keimanan dalam ajaran Konghucu.

Setelah mencoba memahami berbagai istilah ucapan salam dari berbagai keyakinan tersebut. Saya meyakini bahwa ‘salam’ bukan hanya sekedar etiket atau sopan santun dalam kehidupan. Namun juga bermakna simbol harapan, penghormatan, dan terima kasih. Dengan kata lain melalui tiga kata tersebut saya menemukan suatu hubungan yang erat dari ucapan salam. Khususnya terhadap kepekaan manusiawi dan rohani. Selain itu, aspek ketuhanan dan kemanusiaan tampaknya menjadi esensi dari berbagai pengucapan salam.

Bagi kita yang telah terbiasa mengucapkan salam. Bahkan ucapan salam sudah menjadi bagian dari budaya dan diri kita. Maka bukan suatu hal yang benar jika kita tidak mengamalkan makna filosofis yang ada pada kata yang sering kita ucapkan. Antara nafsu dan kerendahan hati seolah menjadi tantangan untuk mencapai keseimbangan hidup yang mana kita dapat mengamalkan dua nilai ketuhanan dan kemanusiaan secara bersamaan.  

Lalu sudahkah kita menyadarinya?

Melawan Radikalisme dengan Kritis di Medsos

Melawan Radikalisme bukan hanya milik perseorangan.
Dalam tayangan dialog Mata Najwa di hari Rabu tanggal 13 November 2019, di situ dibeberkan mengapa anak muda gampang terkena radikalisme. Di sini ditayangkan pengakuan mantan terorisme perekrut mahasiswa. Di mana dalam proses perekrutan, yang pertama dilakukan ialah melihat mereka rajin ibadah atau tidak, kemudian ditanya juga dengan pemahaman dengan Islam. Dari situ pasti akan terlihat gambaran tertarik dengan jihad atau tidak. Jika tertarik, maka akan lebih jauh lagi mengenalnya, melihat kebutuhannya seperti apa?, kemudian mengajaknya berkenalan lebih jauh, seperti misalnya sering bertemu di masjid sampai dengan bermain ke indikos untuk sekedar minum kopi dan saling bertukar informasi atau pendapat tentang Jihad.


Dalam Mata Najwa ini, disebutkan juga ada beberapa kriteria mahasiswa yang mudah terpapar radikalisme. Di antaranya ialah mahasiswa yang secara faktor ekonomi kekurangan, mahasiswa yang senang mengikuti kajian-kajian Islam radikal di kampus, mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya, mahasiswa yang hidup dan tinggal indekos karena jauh dari pengawasan orang tua. Naasnya perekrutan semacam ini masih berlanjut sampai dengan sekarang. Bahkan, disebutkan juga bahwa kemudahan teknologi menjadi salah satu jalur utama untuk mendapatkan pengikut baru, mantan teroris ini sendiri mengaku lebih sering berkomunikasi melalui jalur online. Bahkan dengan adanya ini, jauh lebih efektif daripada penyebaran yang dulu, seperti misalnya mereka tinggal memberikan materi dakwah lewat video.

Senada dengan itu, BNPT terkait dengan aksi terorisme di lingkungan akademik, juga pernah men-survey, bahwa pendidikan tingkat SMA yakni 63, 3%, perguruan tinggi 16,3 persen, tidak lulus perguruan tinggi, 5,5 persen dan SD 3,6 persen. Sedangkan berdasarkan usia 21-30 tahun yakni 47,3%, usia 31-40 tahun yakni 29,1%, usia di atas 40 tahun 11,8%, di bawah usia 21 tahun, masing-masing 11,8 persen. Mantan menteri pertahanan Ryamizard Ryacudu juga menyebutkan bahwa media sosial satu hari bisa menarik 500 orang untuk bergabung dengan paham radikal.


Gambaran inilah yang seharusnya diselesaikan bersama, bagaimana mengatasi radikalisme yang bisa dikatakan sudah mengusik ketenangan dalam berbangsa dan bernegara. Terlebih sekarang ini, propaganda online dianggap sebagai sarana yang sangat efektif, prosedural, mudah hingga murah. Dan, tentunya pemuda menjadi sasaran empuk, didukung dengan dominannya generasi muda dalam mengakses media online. Di sisi lain muda juga masih terselip jiwa yang labil, sehingga akan mudah untuk di propaganda.

Baca info lomba cover lagu
Haitsam al-kailani, mengatakan adanya bahaya yang akan timbul akibat propaganda radikal di media sosial online terhadap generasi muda ialah menciptakan generasi teroris. Terorisme adalah sebuah tindakan kekerasan yang mengancam dan bahkan merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa untuk mencapai tujuan dari kelompok radikal.
Sudah seharusnya kesadaran merebak dalam diri, guna mengajak kita menyukai kerukunan dalam bangsa.

Salah satu solusinya adalah mengimbanginya dengan menebar perdamaian di media sosial, di lain sisi juga perlu kajian-kajian keagamaan yang lebih mendalam dalam kampus, sekolah, dan tempat belajar lainya. Karena rata-rata dari mereka yang terjebak dari paham radikalisme ialah kurangnya pemahaman yang utuh tentang agama yang diikutinya. Di lain sisi, faktor ekonomi juga menjadi lubang yang sering dimasuki radikalisme. Maka, kedekatan seorang guru atau dosen di sini sangat dibutuhkan, agar faktor ekonomi tidak menjadi alasan untuk bertingkah radikal. Lantas arahkan mereka, seperti misalnya memberikan solusi ekonominya dengan mengikuti beasiswa, sampai dengan memberikan atau mencarikan pekerjaan sampingan.


Hal sederhana semacam inilah yang seharusnya senantiasa dikembangkan bersama. Agar generasi bangsa tidak gampang terkena doktrin yang radikal. Sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, bahwa sikap radikal adalah sesuatu yang berlebihan dan itu harus dihindari dalam kehidupan. Rasulullah sendiri pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib; ada dua orang yang akan hancur, yakni; pecinta yang berlebihan dan pemarah yang berlebihan. Makna serupa juga terdapat dalam surah Q.S. An-Nisa (04) ayat 171, kemudian dikuatkan lagi dengan hadits dari Ibnu Abbas, “jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam agama” (H.R. Ahmad).


Untuk itu, kita harus bersama-sama berbenah, kembali pada makna sebenarnya dari lahirnya agama. Bahwa agama tidak mengajarkan fanatik, tidak mengajarkan kekerasan, dan tidak pula mengajak manusia menjadi radikal. Agama lahir semata-mata untuk menyatukan kebersamaan, kerukunan dan bagaimana menjadi manusia yang bisa berguna bagi diri sendiri, orang lain, dan bangsa tercinta Indonesia.

Follow Instagram Duta Damai Yogyakarta

Bersepeda Kini  Naik Daun

Sumber gambar: mamapapa.id

Tren bersepeda masyarakat Indonesia mengalami kenaikan yang luar biasa. Toko-toko penuh akan pembeli serta jalan raya yang ramai dengan pesepeda. Kemunculan tren baru ini entah karena didasari keinginan hidup sehat di tengah pandemi atau hanya sekadar ikut-ikutan tren semata. Namun, satu hal yang pasti bersepeda menjadi gaya hidup baru masyarakat Indonesia.

Menyenangkan memang saat keluar rumah melihat pemandangan baru, bukan motor atau mobil yang berjejer memenuhi jalan raya lengkap dengan suara bising dan polusinya. Melainkan, rombongan pesepeda. Rombongan ini bukan hanya kalangan anak muda saja, namun juga lintas generasi.

Salah satu alasan mengapa bersepeda menjadi hobi baru masyarakat Indonesia adalah karena adanya media sosial. Media sosial berhasil memboomingkan tren baru ini. Lihat saja, banyak teman-teman kita, tetangga atau bahkan keluarga kita yang  mengabadikan diri di setiap kilometer yang berhasi dilalui dengan sepeda mereka. Banyak unggahan entah di story WA atau Instagram yang mengabadikan keseruan mereka saat bersepeda, terlebih saat  beberapa akun info kota serta info cegatan yang juga memposting tren baru ini. Akibatnya banyak masyarakat terpatik untuk mengikuti tren tersebut.

 Meskipun menyehatkan, namun tren yang tercipta karena ikut-ikutan memunculkan persoalan-persoalan baru. Nyatanya, beberapa pesepeda lupa akan etika saat bersepeda di jalan raya. Di media sosial kerap ada unggahan yang menampilkan rombongan pesepedan dengan santainya menerobos lampu merah, memakai dua jalur sambil mengobrol, melawan arus, bahkan menggunakan trotoar sebagai jalurnya.

 Kurang tertibnya rombongan pesepeda, tentunya meresesahkan masyarakat. Jika tren baru ini didasari karena ingin tetap sehat di tengah pandemi, maka mereka pun harusnya sadar akan etika bersepeda di jalan raya agar tidak melukai orang lain bahkan dirinya sendiri. Selain itu, jika mereka menganggap bersepeda menjadi solusi yang paling menguntungkan bagi lingkungan terutama mengurangi polusi, sehingga mereka bebas melanggar etika di jalan raya. Maka, seharusnya mereka sadar bahwa ada pejalan kaki yang juga tidak mengeluarkan polusi udara.

INFO LOMBA COVER LAGU ‘Damai itu Indonesia’ ADA DI SINI

Merek dan harga sepeda juga menjadi sorotan akan kemunculan tren ini. Tren bersepeda seakan menciptakan fenomena baru ajang gengsi gaya hidup. Banyak kemunculan sepeda dengan harga fantastis. Merek-merek lokal pun tak mau kalah bersaing dengan merek luar dengan menawarkan sepeda beserta segala kenyamanan saat digunakan. Gengsi menjadi meningkat, saat transportasi bebas polusi ini digunakan.Sehingga masyarakat berbondong-bondong membeli sepeda baru dengan merek ternama tentunya dengan harga yang bukan main.

Kemunculan tren ini mengingatkan saya akan kenangan masa kecil. Dulu, saya dan teman-teman senang sekali bersepeda. Bukan karena, ingin hidup sehat. Tak ada sedikit pun terlintas pemikiran seperti itu, melainkan sepeda menjadi media bermain kami. Sepeda menjadi alat kami untuk bersama-sama. Bersepeda menjadi sarana kami berimajinasi untuk patuh pada lalu lintas saat kami dewasa nanti.

Tak ada pembahasan mengenai merek ataupun harga. Kami lebih bangga jika dapat melepas kedua tangan saat bersepeda, berbelok di tikungan layaknya pembalap serta membuat suara bising pada sepeda kami menggunakan bekas botol air mineral. Kami lebih bangga pada hal-hal sederhana dibandingkan apa merek sepeda kami bahkan berapa harga sepeda yang digunakan.

 Hiruk pikuk tren sepeda ternyata membawa kenangan akan kayuhan sepeda di masa lalu, saat sepeda bukan dilihat dari harga dan merek. Saat bersepeda, bukan menganggap diri paling berjasa bagi lingkungan. Atau bahkan, saat bersepeda maka bebas untuk tidak menghormati pengguna jalan yang lain.

Memahami Filosofi Jawa “Urip Iku Urup”

Dalam beberapa minggu terakhir ini saya telah berbincang dengan salah satu orang yang cukup memahami mengenai sejarah mataram hingga berbagai aspek filosofisnya. Perbincangan yang terjadi secara spontan tersebut meskipun hanya melalui media daring namun sesungguhnya sudah cukup membuat saya semakin penasaran terhadap sejarah mataram dan sekitarnya bahkan mulai dari awal abad ke-10.

Tidak hanya soal kisah sejarah yang begitu kompleks dan butuh beribu-ribu lembar untuk menceritakannya namun ternyata dalam setiap peristiwa sejarah telah memiliki nilai-nilai luhur yang terkadang belum kita cermati.  Mulai dari kisah percintaan hingga sosial politik sangat erat kaitannya dengan sejarah yang pernah terjadi di tanah agung ini (Nusantara). Mempelajari sejarah merupakan sesuatu yang saya anggap penting terlepas daripada berbagai polemik dan sudut pandang beragam tentang sejarah itu sendiri.

Tokoh proklamator kita pun Bung Karno sangat terkenal dengan wejangannya yaitu “Jas Merah” (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Melalui sejarah kita juga terasa hidup beribu-ribu zaman tanpa kenal waktu. Meskipun peristiwa sejarah telah terjadi namun selalu ada hikmah atau falsafah yang dapat kita ambil guna mengarungi kehidupan di masa kini dan yang akan datang.

Urip Iku Urup

Secara terminologi urip iku urup berarti “Hidup Itu Menyala”. Jika kita mulai tafsirkan secara pengertian awam kata “nyala” mungkin dapat merujuk pada sifat dari api. Keberadaan api dalam kehidupan merupakan sesuatu yang esensial setidaknya seperti sifat “nyala” yang memiliki arti untuk penerangan kehidupan. Bahkan pusat tata surya yaitu matahari tentu saja memiliki sifat nyala ibarat api. Dapat dikatakan pula jika di dunia ini tidak ada satupun yang memiliki sifat “nyala” maka dapat dipastikan kegelapan akan mendominasi. Mungkin saja kita tidak akan mengenal aneka macam ragam warna dalam kehidupan ini kecuali kegelapan itu sendiri.

Pepatah jawa “urip iku urup” memanglah sudah sangat tua dan lama dikenal juga dihormati terutama oleh masyarakat Jawa hingga saat ini. Namun pada prinsipnya ajaran “urip iku urup” tidak cukup hanya dihormati. Tetap perlu adanya laku seperti dalam ungkapan Ronggowarsito bahwa “Ilmu iku kelakone kanti laku” yang artinya Ilmu itu harus sampai pada pengamalannya.

Arti dari “urip iku urup” banyak ditafsirkan sebagai suatu keharusan bahwa hidup harus saling memberikan manfaat bagi sekitarnya. Ibaratkan lilin yang menyala menerangi gelapnya malam selalu ada manfaat yang dapat kita rasakan. Mungkin dapat kita persepsikan bahwa ungkapan “urip iku urup” sangat begitu klasik dan universal. Namun sesungguhnya keberadaan ajaran ini tidak dikekang oleh waktu. Artinya kita pun masih dapat mengamalkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan arif dalam masyarakat Jawa ini merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Besar dalam hal ini tidak hanya luasnya wilayah namun juga disertai dengan luasnya pikiran dan hati dari setiap elemen bangsa ini. Lalu apakah jika ini merupakan ajaran masyarakat Jawa maka selain masyarakatnya tidak dapat mengamalkannya? Tentu saja tidak. Setiap daerah tentu memiliki pandangan arifnya masing-masing namun pada dasarnya kebajikan yang universal itu tetaplah ada sebagai substansi kehidupan terlepas darimana kita memandangnya. Ajaran “urip iku urup” juga merupakan panggilan kemanusiaan tidak hanya bagi masyarakat Jawa namun juga bagi seluruh alam semesta.

Belajar Memanusiakan Manusia

“Tetaplah menjadi manusia. Mengertilah manusia. Manusiakanlah manusia, sebab Tuhan sangat memuliakan manusia.”  Wejangan singkat dari Gus Mus, mengenai memanusiakan maunusia.

“Memanusiakan Manusia” dua kata yang kerap kita dengar di kehidupan sehari-hari. Kata-kata indah sarat akan makna yang menyentuh hati. Gaung-gaunnya kerap kita dengar, namun seakan hanya sekadar ucapan tanpa pembuktian. Masih banyak sekelompok atau bahkan segerombolan manusia yang hidup dalam ketidakadilan, konflik, penyiksaan dan bahkan  kemelaratan.

Memanusiakan manusia seakan hanya menjadi rangkaian kata menyenangkan hati tentang pedulinya kemanusian tanpa mengerti makna,  kenapa mereka harus memanusiakan manusia. Sejatinya, manusia membawa sifat kemanusian yang ada sejak manusia diciptakan. Kemanusian menjadi sifat yang tertanam pada setiap diri manusia. Dalam menjalin pergaulan sehari-hari sifat kemanusian sangat diperlukan agar terjalinnya hubungan saling menghargai satu sama lain.

Di kehidupan sehari-hari kita kerap menjumpai orang-orang yang bersikap sebaliknya, banyak manusia yang bertindak tanpa memanusiakan orang lain. Terlebih di tengah pandemi seperti saat ini, banyak terjadi krisis kemanusian. Rasa ketakutan seakan membutakan rasa kemanusian mereka.

Belum hilang dari ingatan kita tentang tenaga kesehatan Semarang yang positif Covid-19 ditolak pemakamannya oleh warga setempat. Sungguh miris mendengar pemberitaan tersebut, tenaga kesehatan yang berjuang bertaruh nyawa demi menyelamatkan pasien harus mengalami tindakan demikian. Hal ini menunjukkan bahwa memanusiaakan manusia hanya sekadar slogan dalam kehidupan sehari-hari tanpa pembuktian yang berarti.

Sering kali kita menemui jabatan, pangkat, kekayaan seseorang dapat menggelapkan mata yang membuat seseorang dengan mudah bertindak tanpa menghargai perasaan orang lain. Bertindak tanpa memanusiakan manusia, lupa darimana asalnya. Menyombongkan apa yang dia dapat. Menghakimi orang lain dengan pengetahuan yang didapat.

Baca sebelumnya

Beberapa kali saya melihat secara langsung, pelayan kafe atau rumah makan yang mendapat makian secara langsung dari pembeli di hadapan banyak orang. Rasa kecewa dan tidak puas yang mereka alami disalurkan secara langsung tanpa melihat situasi. Tindakan demikian amat disayangkan, karena hal ini dapat membuat pelayan tersebut merasa direndahkan di hadapan oranng lain. Bahkan, tindakan demikian akan membuat malu dan sedih bagi pelayan tersebut. Saat tengah mengalami hal yang tidak mengenakan tersebut ada baiknya dibicarakan secara personal agar tercipta saling menghargai satu sama lain.

Begitu juga saat tengah bersama dengan teman kita lebih asyik dengan gawai kita dibanding mengobrol atau bernostalgia. Seakan menatap gawai lebih menyenangkan dibandingkan bernostalgia bersama teman. Cobalah untuk berhenti menatap layar gawai dan mulailah berbicara dengan temanmu, karena hal ini dapat membuat mereka merasa dihargai sebagai individu dihadapan kita.

Terkadang memanusiakan manusia memang sulit diterapkan, namun tetaplah menjadi manusia yang terus berusaha memuliakan orang lain. Mengerti orang lain, menghargai orang lain tanpa memandang apapun yang tersemat dalam dirinya karena dihadapan Tuhan kita semua sama.