Content Creator vs Penikmat Konten

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan banyaknya anak-anak muda yang saat ini salah dalam mengekspresikan diri. Dalam pembuatan konten sosial media misalnya. Tak sedikit yang harus terkena hujatan bahkan hate speech karena konten yang mereka buat.

Saya bukan seorang content creator. Saya hanyalah penikmat konten saja. Tapi sebagai penikmat konten saya pastinya memiliki hak untuk menilai konten mana saja yang saat ini layak untuk dinikmati. Penikmat konten ada banyak tipe dan jenisnya. Sehingga itu membuat content creator harus memutar otak dan berfikir keras untuk membuat konten apa yang paling atau banyak disukai masyarakat. Sebenarnya semua konten tidak ada yang salah selama tidak membuat keributan, gaduh, dan mengganggu ketertiban umum bahkan menyinggung SARA.

Kita saat ini berada di dimensi dimana salah berbicara sedikit atau bahkan bercanda yang terlewat batas sedikit itu akan membuat kegaduhan dalam masyarakat dan yang paling fatal bui menanti.

Konten-konten yang dibuat oleh content creator itu penikmatnya banyak dan bisa dari berbagai macam sifat/karakter, suku, agama, budaya, sudut pandang, paham, dan masih banyak hal. Alangkah baiknya sebelum membuat konten dipikirkan secara matang untuk konsep dan akibat kedepannya. Mungkin bagi beberapa orang contoh-contoh konten diatas dianggap lucu, menghibur, bahkan sekedar jokes yang maksud tujuannya tidak untuk menyinggung golongan tertentu.

Mari kita lihat beberapa contoh konten yang beberapa waktu lalu sempat viral di Indonesia. Prank ojek online, Prank hantu pocong, Prank Sembako Sampah, dan masih banyak lagi contoh konten yang saat ini menjadi buah bibir karena dinilai melukai hati masyarakat. Mungkin beberapa content creator bertujuan agar menaikkan views, subscribers atau followers bahkan ada beberapa yang bertujuan hanya bercanda saja. Seolah-olah mereka tidak memikirkan dampak kedepannya seperti apa.

Tapi tenang saja, masih banyak sekali konten-konten di sosial media yang bisa kita nikmati. Karya-karya yang memang benar-benar dibuat dengan segala macam rencana, pemikiran, usaha dan kerja keras. Berikut saya akan sampaikan beberapa content creator yang sebagian besar konten-kontennya bagus. Lumayan untuk menemani social distancing atau pun work from home kita semua. Check this out …

  1. Fiersa Besari
    Kalian bisa temukan sosial media beliau cukup dengan menulis nama seperti diatas, otomatis akan muncul akun sosial media beliau yang cukup popular di kalangan anak muda. Youtube beliau berisi tentang penjelajahan negeri, pendakian, cover lagu, inspirasi dan banyak hal lagi.
  2. Hansol Jang
    Youtuber asal negeri ginseng ini sedang digandrungi banyak anak muda yang saat ini tertarik dengan Korea Selatan. Hansol punya ciri khas yaitu logat jawa yang medok. Youtubenya berisi cerita detektif, membahas tentang Korea Selatan, pengalaman pribadi (yang pastinya juga menginspirasi), Mukbang dan banyak hal lainnya. Walaupun Hansol adalah orang Korea Selatan, dia sangat mencintai Indonesia.
  3. Jerome Polin
    Nah content creator satu ini juga tidak kalah bagus. Jerome saat ini sedang menempuh study di Jepang dengan beasiswa. Jerome jurusan Matematika terapan. Konten youtubenya juga menginspirasi banyak anak muda Indonesia. Dia banyak berbagi keseruannya di Jepang bersama teman-temannya.
  4. Nadya Valerie
    Wanita cantik ini punya daya juang yang tinggi, hati yang luas, sabar dan pastinya menginspirasi lewat cerita hidupnya berjuang melawan kanker. Pokoknya kalian harus cek youtube dan Instragram Nadya. Dijamin kalian akan bersyukur memiliki hidup yang masih dalam kondisi sehat seperti sekarang.
  5. Vira Cania Arman, Suhay Salim, Fatya Biya, dan masih banyak content creator ataupun puclic figure yang saat ini konten-kontennya bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran hidup buat kita semua.

Nah itu beberapa rekomendasi content creator yang menurut pendapat pribadi saya bisa menjadi pilihan untuk teman-teman tonton. Mari terus gunakan sosial media kita untuk kebaikan dan menginspirasi banyak orang diluar sana. Buat teman-teman yang juga punya rekomendasi konten, sosial media ataupun content creator panutan kalian bisa tambahkan di komentar dibawah ini. Waktu dan tempat dipersilahkan hehe

Posting Makanan Mengurangi Pahala Puasa

Makanan

Posting makanan di bulan puasa mendadak jadi bahan obrolan yang cukup riuh di sosial media. Awal Ramadan kemarin, netizen sempat ramai mengkritisi tentang perkara posting foto makanan di sosial media. Beberapa akun menyatakan keberatan dengan akun-akun yang sering pamer postingan makanan.

‘Tidak usah pamer foto makanan di sosial media, karena banyak saudara kita yang masih kesusahan makan’.

Kurang lebih begini redaksi yang dipakai oleh akun yang kontra dengan postingan makanan selama Ramadan ini.

Terang saja postingan seperti ini langsung dibalas dengan akun-akun yang merasa posting makanan di sosial media adalah hak pribadi pemilik akun.
‘apa salahnya posting makanan? Kalau enggak suka tinggal blokir saja, kan!”

Saya cukup lama mengikuti riuh perkara posting makanan ini. Sehingga sedikit bisa mengambil kesimpulan dan yakin mau merapat ke kubu mana. Tentu saja saya termasuk orang yang ‘i don’t care’ dengan segambreng postingan orang-orang. Bagi saya selama postingan ini menarik, bagus, bukan pemicu kerusuhan dan tidak menyalahi norma, santai saja adalah yang terbaik.
Jangankan orang posting makanan sepiring steak, posting kulkas beserta isinya saja masih wajar dan sah-sah saja. Tidak langsung membuat saya merana atau merasa menjadi makhluk yang terlampau miskin.

Lagian, untuk apa sih yang seperti ini diperdebatkan?
Apa salahnya posting makanan? Sejak kapan postingan makanan bisa mengintimidasi orang lain?
Bagaimana jika posting makanan itu karena memang kerjaan si pemilik akun adalah posting makanan? Saya misalnya, lewat Instagram sering posting makanan karena memang dapat job demikian. Ini hanya kasus kecil.
Belum lagi orang-orang yang memang harus posting makanan dengan foto paling cantik dan menggiurkan karena demi kepentingan jualan. Menurut saya ini sah dan memang sudah bagian dari marketing mereka. Lalu salahnya di mana?

Dari beberapa komentar netizen, mayoritas menertawakan dan menolak pernyataan yang bilang ‘posting makanan menambah dosa’. Ngeri juga kalau apa-apa dengan mudah dilabeli dosa.

Banyak akun masih percaya bahwa postingan makanan bukanlah ancaman keimanan. Sebagian yang lain malah bilang senang dengan adanya postingan makanan apalagi  disertai keterangan nama makanan berikut bahan baku dan cara pembuatannya.

‘Saya memang enggak sanggup makan  itu makanan malah, tapi saya tidak lantas benci lihat makanan enak. Justru seneng dan berharap kapan-kapan bisa masak seperti itu.’

Nada seperti ini banyak dilontarkan oleh para netizen yang enggak keberatan dengan hadirnya poto makanan di sosial media.

Lagian sosial media itu ranah jagat maya yang sangat luas. Untuk apa sih mengurusi hal-hal remeh? Kenapa yang beginian (posting makanan) dipermasalahkan, sementara video porno atau apalah sejenisnya malah didiamkan saja?

Perkara posting gambar makanan menurut saya adalah sebuah hiburan. Tidak sedikit dari pemosting yang berniat untuk mendokumentasikan hasil karya masaknya. Alasan yang lain ingin berbagi resep dengan temannya. Ada juga yang posting makanan karena memang ingin tapi belum kesampaian. Harapannya dengan posting begituan bisa sedikit jadi bahan ‘pelampiasan’ sesaat.

Kalau alasan pelarangan posting gambar makanan hanya demi menjaga perasaan saudara yang susah makan, agaknya terlalu berlebihan. Misal orang susah makan, benar-benar susah makan, logikanya justru tidak akan buka sosial media. Kalau ada uang mending buat makan dibandingkan buat beli kuota. Itu pikir saya dan beberapa teman yang galau dengan pelarangan posting gambar makanan.

Ada banyak tujuan seseorang dalam sekedar posting sesuatu di sosial media. Mulai dari hanya sekedar hiburan, jualan, kangen-kangenan hingga pamer. Lantas siapa kita yang sebentar-sebentar mengecap saudara sendiri dengan sebutan ‘pendosa’? Kalau postingan masih sopan, wajar dan tidak menyalahi kode etik perinternetan, buat apa dipermasalahkan?

Mau posting makanan, silakan saja. Posting ya posting saja. Lebih bagus kalau makanannya enggak hanya difoto lalu di-posting. Tapi juga makanannya dibagi kepada tetangga dekat atau teman jauh, saya misalnya. Bukankah memberi makan orang puasa diganjar pahala sama dengan orang berpuasa?

Makna Solidaritas Biopolitik Menuju Kosmopolitik

Solidaritas, biopolitik dan kosmopolitik

Evelyn Fox Keller seorang ahli epigenetik sudah lama menentang pemisahan antara nature dan nurture. Pernyataan ini dianggapnya sebagai masalah logis yang berakar pada kebingungan terminologis dalam ilmu. Pembagian antara nature dan nurture awalnya dilakukan untuk politik solidaritas yang kemudian menjadi imputasi biopolitik. Biopolitik sebagai salah satu upaya untuk melindungi hak asasi makhluk hidup yang dalam konteks ini masih terfokus pada agen moral yaitu manusia (Keller, 2010).

Pemisahan antara nature dan nurture mengindikasi suatu keterpisahan makhluk hidup dengan lingkungannya. Namun lagi-lagi  makhluk hidup yang dimaksud adalah manusia yang menjadi agen moral.

Evelyn Fox Keller

Dalam kajian epigenetika, seperti yang pernah diobservasi oleh Keller bahwa pemisahan antara nature-nurture hanya merupakan fatamorgana. Keller berpendapat bahwa DNA dan sel tetap adalah yang sangat penting dalam membuktikan keterkaitannya dengan lingkungan melalui ‘plastisitas’.

Pada abad kesembilan belas ketika batas spasial tubuh manusia dibagi menjadi dua yaitu luar dan dalam, alam disamakan dengan faktor genetik yang merupakan bagian dalam tubuh. Sedangkan pengaruh lain seperti kebersihan, pendidikan dan sebagainya merupakan bagian luar tubuh. Alam sebagai faktor genetik sudah diberikan otoritas moral tersendiri. Hal ini setidaknya membawa angin segar meskipun belum sepenuhnya demikian sebab masih adanya bias antara alam dan genetik.

Kondisi Ekstrem Eugenika

Dalam persamaan ‘alam’ dengan genetika juga pernah memiliki sejarah politik yang menemukan ekspresi paling dramatis dalam skema eugenika. Kondisi ini terjadi ketika Adolf Hitler merencanakan pemurnian manusia dengan upaya pengikisan segala macam hal yang dianggap menyimpang dalam genetik manusia. Peristiwa ini adalah salah satu yang paling memilukan dalam sejarah. Respon pertemuan antara nature dan nurture yang keliru dapat menyebabkan konsekuensi yang tragis. Tampaknya otoritas moral yang dilekatkan sejak awal pada persamaan alam dan genetik tidak egitu diperhatikan dengan baik.

Neoliberalisme dan Biopolitik 

Gagasan ‘gaya hidup’ dan persamaannya dengan tanggung jawab pribadi sesungguhnya berakar pada neoliberalisme dan tata kelola biopolitik. Kecenderungan kepada upaya nurture daripada nature sesungguhnya tidak sepenuhnya keliru. Namun implikasi yang membentuk kondisi sosial masyarakat modern kemungkinan akan menjadi individualis dan pragmatis. Namun Biopolitik solidaritas  ini datang dengan efek menyoroti logika ‘kontrol versus tanpa kendali’, mengartikulasikan agensi gaya hidup sebagai urusan individu yang terisolasi dengan lingkungan.

Ranah solidaritas dengan demikian berbeda dari apa yang semakin dilihat sebagai ‘tanggung jawab pribadi. Dalam kedua kasus – genetika atau gaya hidup – lingkungan tidak masuk dalam pertimbangan.

Dalam kebijakan imigrasi, misalnya, keputusan untuk memberikan izin tempat tinggal sementara didasarkan pada penilaian motif pengungsi, dalam arti literal dari ‘apa yang menggerakkannya’. Perbedaan antara korban pengungsi PBB dengan  ‘migran’ ekonomi dan ‘pengungsi’ politik sudah merupakan konsekuensi dari klasifikasi ini, meskipun perbedaan antara keduanya tidak secara langsung jelas.

Mengacu pada penerapan aturan imigrasi yang lebih ketat di Prancis selama tahun 1990-an, Didier Fassin (2009) mencatat bahwa perbedaan antara ‘pengungsi politik’ dan ‘migran ekonomi’ semakin membuat perbedaan selama dekade yang sama. Perbedaan baru didasarkan pada aturan pengecualian kemanusiaan bahwa pemerintah Prancis mulai menerapkan untuk melegalkan imigran tidak berdokumen yang menderita penyakit parah yang tidak dapat diobati di negara asal mereka juga karena alasan finansial. Didier Fassin (2009) menyebut tindakan ini sebagai contoh dari apa yang disebut sebagai ‘biolegitimasi’.

Ahli epigenetik telah menganalisis  faktor lingkungan dapat memengaruhi cara DNA beroperasi. Perhatian bergeser ke proses biokimia yang mengatur gen dan banyak faktor yang memengaruhi proses ini. Oleh Karena itu, epigenetik memunculkan bentuk hereditas lain selain genetika tradisional, misalnya, paparan jangka panjang terhadap zat beracun dapat mengubah regulasi kimiawi DNA dan perubahan ini dapat diteruskan ke keturunannya. Sedangkan dalam hal ini ‘lingkungan’ belum tentu merupakan entitas spasial. Nutrisi juga dapat dianggap sebagai lingkungan bagi tubuh kita (Landecker, 2011).

Klasifikasi antara Nature dan Nurture

Mengapa Kosmopolitik?

Kosmopolitik adalah konsep untuk membuka kemungkinan makna dan praktik politik dan mengundang untuk mempertimbangkan apa jadinya politik jika kita menganggap dunia kita bukan sebagai ‘masyarakat’ tetapi sebagai ‘kosmos’. Di mana konsep masyarakat secara tradisional disediakan untuk manusia, ‘kosmos’ membawa serta aktor non-manusia, bentuk agensi, dan cara-cara eksistensi seperti binatang, roh, tumbuhan, dan objek teknologi. Memang imputasi biopolitik membatasi pertanyaan pada agensi manusia individu sementara manusia selalu menjadi bagian dari ekologi yang lebih luas. Namun Kosmopolitik tidak mengandaikan intervensi arbiter untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dunia, tetapi mempertaruhkan pertanyaan ‘apa yang perlu dibangun dunia’. Sebaliknya, imputasi biopolitik menuntut pemisahan politik dan kosmos.

Dengan kata lain, biopolitik masih mengistimewakan jenis tertentu yang diarahkan untuk mendefinisikan dan membatasi subjek manusia yang berhak atas manfaat kebijakan khusus masyarakat. Imputasi biopolitik melakukan logika yang secara diametris bertentangan dengan kosmopolitik yang lebih memandang skema alam sebagai bentuk yang komprehensif atau sederhananya seperti prinsip ekologi (Hendrickx & Voyweghen, 2020).

Hubungan kosmos inilah yang menjadi signifikan dalam kosmopolitik bahwa kebijakan yang dihasilkan perlu dikaji ulang jika belum sesuai dengan prinsip ini. Walaupun seandainya imputasi biopolitik masih diterapkan setidaknya perlu diperhatikan kecenderungan kosmos menjadi yang utama daripada hanya terfokus pada salah satu agen yaitu manusia.

Poin penting yang dapat kita pahami melalui adanya kosmopolitik yaitu kecenderungan untuk memahami alam lebih sebagai suatu kesatuan daripada entitas-entitas yang tidak saling berhubungan. Meskipun terdapat perbedaan biner dalam alam semesta namun bukan berarti kehadirannya mengeliminasi kehadiran lainnya. Konsep harmoni yang diajarkan oleh alam ini menurut saya adalah simbol yang sesungguhnya telah diciptakan oleh manusia sendiri, meskipun saya juga berpikir bahwa mungkin saja makna itu telah ada sebelumnya.

Referensi:

Hendrickx, Kim, Voyweghen, 2020, Solifarity After Nature: From Biopolitics to Cosmopolitics, Sagepub Journal, Leuven.

Fassin D, 2009, Another politics of life is possible, Theory, Culture & Society 26(5): 44–60.

Landecker H, 2011, Food as exposure: Nutritional epigenetics and the new metabolism, Biosocieties 6(2): 167–194.

Keller EF, 2010, The Mirage of a Space between Nature and Nurture, Duke University Press, Durham and London.

Belajar di Tengah Keprihatinan

Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas tahun ini diperingati di tengah keprihatinan wabah corona. Untuk itulah Menteri pendidikan menyatakan bahwa tema Hardiknas di tahun ini adalah “Belajar dari Covid-19”

Bukanya tanpa alasan tema ini diangkat oleh Kemendikbud. Walaupun dalam masa krisis pandemi Covid-19, dan seluruh lembaga pendidikan saat ini harus melakukan pembelajaran dengan jarak jauh, tetap saja ada pembelajaran serta hikmah yang bisa diambil daripadanya.

Begitupun juga yang disampaikan oleh mendikbud Nadiem Makarim, bahwa “Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari Covid-19″.

Dari krisis yang terjadi di negeri ini, kalau kita tetap berpikiran positif, pasti akan menjadi daya dorong luar biasa untuk menerjang segala tantangan untuk terus mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

Saat ini, Guru dan siswa “dipaksa” untuk melaksanakan pembelajaran secara online dengan perangkat atau gadget yang sebenarnya sudah digunakan setiap hari. Cuma kita kurang menyadari bahwa ternyata alat-alat ini bisa digunakan juga untuk hal yang lebih baik selain hanya sebagai alat komunikasi. Ternyata belajarpun bisa dilakukan dari dan di mana saja.

belajar di tengah keprihatinan

Orangtua siswa pun jadi tahu bahwa mengajar dengan efektif dan tepat adalah tugas yang tidak mudah. Ini terjadi saat mereka mendampingi putra-putrinya belajar mandiri di rumah dengan sytem daring.

Bagaimana orangtua kemudian berempati terhadap pendidikan dalam hal ini Guru. Bagaimana pendidikan itu ternyata harus dilakukan bersinergi, tidak hanya diserahkan saja kepada pihak sekolah. Hal yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Proses pendidikan kepada anak dalam hal ini peserta didik tentu harus dilakukan secara kolaboratif agar efektif. Orangtua, Guru dan siswa adalah komponen yang tak terpisahkan dari proses pendidikan agar efektif

Proses pendidikan yang saat ini  dilakukan menggunakan sistem daring, bisa jadi membuka wawasan banyak pihak bahwa sistem pembalajaran model ini bisa jadi metode alternatif yang bisa dikembangkan.

Tidak hanya saat ini di masa pandemi, tapi juga berlanjut di saat kehidupan kembali normal ketika masa krisis sudah berlalu.

Inovasi dan pengembangan system pendidikan daring bisa jadi solusi untuk mendukung pembelajaran efektif yang kolaboratif. Proses masih panjang, tapi setidaknya ada optimisme yang terbentuk dari proses yang ada ditengah krisis ini.

Di tengah keprihatinan krisis Covid-19 yang melanda, asal kita optimis dan terus berpikiran positif, pasti dibukakan jalan dan tetap ada hikmah serta hal baik yang bisa diambil.

Selalu jaga kesehatan dengan terus menjalankan protokol kesehatan. Semoga kita semua dihindarkan dari virus covid-19. Amin..

Salam Perdamaian!

Taufik Ismail: Berpuisi dalam Keyakinan

Selama ini kita selalu
ragu-ragu
 
dan berkata:
dua tambah dua
mudah-mudahan sama dengan empat.

Taufik Ismail (Sajak “Aritmatika Sederhana”, 1966)

Puisi merupakan sesuatu yang lahir dari rahim penyair melalui olah batin dengan mata cakrawala; diri penyair bercengkrama dengan dirinya di dalam dirinya sendiri. Puisi tidak menjelaskan peristiwa melalui deskripsi ilmiah yang berisi muatan informasi, melainkan puisi memberi umpan minat kepada manusia untuk menggali informasi. Dan penyairlah yang menjadi hero dalam tambang ilmu tersebut.

Kalau dalam dunia perpuisian, kita mengenal ada dua jenis penyair. Pertama, penyair yang menulis puisi-puisi hanya untuk kongkow dengan dirinya sendiri, curhat kepada isi kepalanya sendiri, dan menumpahkan segala masalah kepada jiwanya sendiri. Ada pula penyair yang menulis puisi-puisi cenderung untuk mengajak pembaca untuk mengobrol, atau mungkin nongkrong satu malam membicarakan kehidupan yang diangkat melalui puisi itu.

Kita kenal penyair di Indonesia yang dilihat dari puisi-puisinya. Ia merupakan penyair yang masuk dalam dua jenis penyair tersebut. Tidak lain tidak bukan adalah Taufik Ismail. Ada satu puisi Taufik yang menggambarkan posisinya dalam kepenyairan:

Aku ingin menulis puisi yang tidak semata-mata berurusan dengan cuaca, warna, cahaya, suara, dan mega.

Aku ingin menulis puisi tentang merosotnya pendidikan, tentang Nabi Adam, keluarga berencana, sepuir Hirarki, lembah Anai, Amirmachmud, Piccadily Circus, taman kanak-kanak, Opsus, Raja Idrus, nasi gudeg, kota Samarkand, Raymond Westerling, Laos, Emil Salim, Roxas, Boulevard, Jafar Nur Aidit, modal asing, Chekpoint, Charlie, Zaenal Zakse, utang $3 milyard, pelabuhan Rotterdam, Champs Elysses dan bayi ajaib, semuanya disusun kembali menurut urutan abjad

Barangkali aku tidak sempat menuliskan semuanya
Tapi aku ingin menulis puisi-puisi demikian
Aku ingin

(Sajak “Aku Ingin Menulis Puisi, Yang”, 1971)

Dalam puisi tersebut, kita dapat melihat keteguhan Taufik sekaligus peranannya sebagai umpan minat kepada pembaca untuk menggali informasi. Proses kepenyairan Taufik juga mengajarkan bahwa ia memang benar-benar berusaha mewujudkan tekad tersebut. Tekad tersebut terkumpul dalam buku-buku kumpulan sajaknya seperti Tirani (1966), Sajak Ladang Jagung (1974), sampai Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998), dll.

Seperti dalam kutipan sajak Aritmatika Sederhana di bawah judul, kita selama ini selalu ragu-ragu di depan kebenaran. Kita sengaja pura-pura tidak mendengar daripada harus bertanggungjawab atas kebenaran itu. Bahkan kita melarikan diri. Karena bagi kita, kebenaran adalah singa yang siap mencabik, tanduk lancip banteng yang hendak menyeruduk. Kebenaran kita posisikan sebagai musuh, bukan kawan. Sehingga kita merasa tidak perlu berurusan dengannya.

Taufik Ismail menyelami dalamnya jiwa manusia yang melarikan diri itu. Ia tidak ragu-ragu menyebut kalau dia ogah terus-terusan berkutat dengan keindahan prasangka, warna-warni kebodohan, atau mega kesalahpahaman. Taufik dengan tegas ingin menulis semuanya, meskipun hanya ingin. Ia tetap tegak di hadapan auman macan, meskipun takut dan merinding. Tapi itulah Taufik. Itulah sejatinya manusia.

Manusia dapat belajar tentang sesuatu. Dan manusia dapat menentukan apa sesuatu itu. Manusia mempunyai pilihan untuk memilih atau tidak memilih. Tetapi bisa jadi dalam proses belajar tersebut manusia menemui apa yang tidak ia pilih. Siap tidak siap, manusia dituntut untuk melewatinya, itu pun lagi-lagi dengan kebebasan: mau menghadapi atau lari darinya.

Tentu saja untuk memilih sesuatu itu kita perlu barang ajaib bernama keyakinan. Yakin itu penting. Ia adalah iman yang membimbing manusia menuju jalur hidup di masa depan. Ketika kita hilang keyakinan, kita hanya menjadi sampah yang terombang-ambing di atas laut; bergerak terbawa arus tanpa kedaulatan.


Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika keadaan yang tidak bisa dijualbelikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kautumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kedzaliman

(Sajak “Nasehat-nasehat Kecil Orang Tua pada Anaknya Berangkat Dewasa”, 1965)

Kita hendaknya terus menggali dan menggali. Sebab di dalam dawai batin kita yang paling sublim, ada yang harus tergali. Penyair dengan puisi-puisinya memang berperan dalam menyentuh keintiman itu, tetapi subjek utamanya ialah diri kita masing-masing. Yang bertugas sebagai mandor kehidupan — tidak lain tidak bukan — adalah diri kita sendiri.

Chairil Anwar, Pelopor Puisi Modern  Indonesia

Sumber: liputan6.com

Chairil Anwar, siapa tidak kenal dengan nama tersebut? Chairil Anwar atau sering juga dijuluki bapak puisi Indonesia. Tepat setiap tanggal 28 April dalam setahun terakhir diperingati sebagai hari puisi nasional. Hari Puisi merupakan perayaan atau peringatan yang ditetapkan oleh beberapa pakar dalam dunia kesusastraan sebagai bentuk apresiasi kecintaan mereka terhadap dunia sastra.

Dalam sejarah penetapan tanggal 28 April sebagai hari puisi berdasarkan pada hari dimana Chairil Anwar meninggal dunia. Chairil Anwar merupakan sosok pelopor puisi modern di Indonesia. Tak heran jika kemudian di hari wafatnya beliau, ditetapkan sebagai hari puisi nasional. Hal tersebut karena kontribusinya yang cukup besar dalam dunia puisi.

Tetapi, hari puisi tidak hanya diperingati setiap tanggal 28 april. Selain tanggal tersebut, hari puisi juga diperingati setiap tanggal 26 Juli. Lagi-lagi, hal ini tidak terlepas dari sastrawan yang dijuluki dengan “si Binatang Jalang” ini. Tepat pada tanggal 26 Juli 1922, Chairil Anwar dilahirkan di Medan. Kemudian pada tahun 1940, ia bersama ibunya pindah ke Jakarta. Dan setelah pindah, si Binatang Jalang tersebut menghasilkan puisi-puisi dari berbagai tema.

Baca sebelumnya tentang konten

Puisi sendiri biasanya digunakan untuk mengungkapkan suatu hal. Tidak jarang para pemuda mengungkapkan perasaannya terhadap pemudi yang disukainya lewat jalan menciptakan puisi yang ditujukan padanya. Ini tentu saja membuat si pemudi tersebut akan merasa berharga dan tersanjung karena sudah diciptakan dan dibacakan puisi yang khusus untuknya.

Terkadang pula, puisi digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap rezim yang dzalim. Juga dipergunakan untuk menyindir elit politik yang semena-mena terhadap rakyat jelata.

Sumber: tim DKV Duta Damai Yogyakarta

Selain beberapa penggunaan puisi di atas. Kita tentunya juga sering menemukan puisi untuk menggambarkan sesuatu yang penting dalam hidup si pencipta puisi tersebut. Contoh, puisi dengan judul Ibu karya D. Zawawi Imron. Atau puisi Gus Mus yang berjudul Kau ini Bagaimana? Atau Aku harus Bagaimana? Dan masih banyak puisi-puisi lainnya yang mempunyai arti atau bahkan mempunyai representasi dari penulis puisi itu sendiri.

Setiap kata yang tertuang dalam bait-bait puisi, biasanya mengandung maksud dan tujuan yang hanya dipahami oleh si pengarang puisi tersebut. Tetapi, kita sebagai pembaca tentu saja mempunyai kebebasan untuk menafsirkan seperti apakah arti dari puisi tersebut. Seperti contoh puisi dengan judul Zikir karya D. Zawawi Imron di bawah ini.

ZIKIR

alif, alif, alif

alifmu pedang di tanganku

susuk di dagingku, kompas di hatiku

alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut

hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang

hingga aku berkesiur

pada angin kecil akdir-mu

hompimpah hidupku, hompimpah matiku,

hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,

hompimpah!

kugali hatiku dengan linggis alifmu

hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,

jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang

mengerang menyebut alifmu

alif, alif, alif!

alifmu yang satu

tegak di mana-mana

1983

Dari puisi di atas, saya dapat mengartikan bahwa dalam puisi tersebut mengandung makna kalau pencipta puisi tersebut memasrahkan hidupnya, jiwa raganya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, seperti yang saya sebutkan tadi bahwa penafsiran ini belum tentu benar adanya. Maka, pembaca puisi yang lain bisa saja mempunyai arti dan penafsiran yang berbeda terhadap satu puisi yang sama.

Bermacam-macamnya penafsiran terhadap satu puisi, tidak lepas dari luasnya pengetahuan dari si pembaca itu sendiri. Sehingga dari satu puisi bisa menghasilkan berbagai macam tafsiran. Dan setiap tafsiran yang didapat oleh seseorang, tidak bisa langsung disalahkan, bahkan oleh pencipta puisi itu sendiri. Karena setiap karya yang sudah dilempar ke ranah umum, maka setiap pembaca tentu saja bebas untuk menafsirkan apa makna yang terkandung di dalamnya.

Selamat Hari Puisi.

Hari Bumi, Covid-19 dan Introspeksi Diri

Di saat masyarakat tengah diliputi pilu, duka dan ancaman lantaran Covid-19, terdapat kabar baik yang datang dari planet kita. Bumi yang kita tempati menunjukkan perbaikan. Beberapa perbaikan, seperti kualitas udara yang semakin membaik, penurunan penggunaan energi, penurunan volume sampah, dan lain sebagainya.

 Covid-19 yang tengah melanda dunia saat ini, barangkali menjadi cara bumi menyadarkan  kita bahwa,  selama ini kita telah banyak melakukan kerusakan di muka bumi. Barangkali juga lewat wabah ini kita dapat tersentil untuk lebih peduli terhadap planet ini. Serta menjadi sarana intropeksi diri  untuk lebih bijak berperilaku di atas planet ini.

Merebaknya wabah ini bertepatan dengan Hari Bumi 2020. Hari bumi kali ini memang berbeda dengan biasanya, tidak ada perayaan untuk melakukan aksi turun ke jalan secara langsung,  untuk menyadarkan masyarakat tentang kondisi bumi saat ini. Lebih dari itu, perayaan hari bumi kali ini dilakukan secara digital dan 24 jam penuh. Perayaan akan diisi dengan pesan-pesan pertunjukkan serta ajakan untuk mengatasi perubahan iklim di situs resmi Earth Day Network dan Twitter.

Meskipun dengan perayaan yang berbeda, namun kali ini bumi menunjukkan kondisi terbaiknya. Dikutip dari  Theran Times, untuk pertama kalinya secara berangsur-angsur emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis mengalami penurunan. Penurunan ini berdampak pada emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama dengan 1990-an atau sekitar 30 tahun yang lalu.  Data ini menyadarkan  bahwa wabah ini berdampak baik pada perbaikan kondisi bumi saat ini.

Berdiam diri di rumah dan  melakukan segala sesuatu dari rumah seakan mengajak kita untuk kembali merenungkan perilaku apa saja yang telah merugikan bumi. Perkembangan zaman, pesatnya kemajuan tekhnologi memang memudahkan kita, namun disisi lain membuat lingkungan kita semakin rusak dan tentunya merugikan bumi. Adanya, wabah ini membuat aktifitas kita di luar ruangan menjadi terhenti, interaksi kita terhadap lingkungan pun semakin berkurang, namun ternyata hal ini berdampak positif bagi bumi. Bumi seakan bernapas kembali.

Keberadaan manusia di planet ini memang sangat berdampak, terlebih di daerah yang menyimpan habitat alami. Mungkin, kita sering mendengar banyak pemburuan pada satwa-satwa liar. Satwa-satwa yang harusnya kita lindungi malah sebaliknya dijadikan bahan yang diperjual belikan. Namun, adanya wabah ini seakan menjadi cara semesta memberikan ruang gerak bagi satwa-satwa liar. Populasi satwa liar mengalami peningkatan dan perbaikan. Hal ini lantaran berkurangnya aktifitas manusia di daerah-daerah tersebut.

Kebijakan pemerintah terkait tidak melakukan kegiatan di luar ruangan menjadi momentum yang tepat untuk bumi dapat pernapas lebih dalam. Berkurangnya kendaraan di jalan raya membawa angin segar bagi bumi. Sebelum wabah ini merebak di perkotaan besar yang padat akan penduduk serta kurangnya tumbuhan hijau, kita mungkin jarang menemui awan biru yang cerah. Namun saat wabah ini merebak dan masyarakat diminta untuk berdiam  diri di rumah, kita dapat dengan mudah menemui awan yang cerah serta polusi yang berkurang.

Kelak saat covid-19 ini telah berakhir, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita, untuk lebih bijak pada bumi.  Agar bumi terus merayakan kondisi terbaiknya. Wabah ini memang harus kita musnahkan. Namun,  perilaku sederhana kita saat ini  yang tidak kita sadari dapat mengurangi kerusakan bumi harus tetap kita lestarikan.

Barisan Kartini Era Milenial

Sumber: Tim DKV Duta Damai Yogyakarta

Seperti yang kita ketahui bersama, setiap memasuki tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Raden Adjeng Kartini merupakan salah satu putri Nusantara yang namanya termasuk ke dalam jajaran pahlawan Nasional. Beliau dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Dari sinilah kemudian asal usul ditetapkannya hari Kartini tepat pada tanggal 21 April.

R. A Kartini merupakan keturunan dari kalangan bangsawan Jawa. Jika ditelisik lebih jauh lagi, dari sisi ayahnya dalam silsilah keluarganya, masih termasuk keluarga dari Hamengkubuwono VI.

Ia juga dikenal dengan pelopor kebangkitan perempuan pribumi pada zaman dahulu. Kartini dengan gigih terus memperjuangkan kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Sejarah telah mencatat bagaimana R.A Kartini tanpa merasa lelah terus mengupayakan agar posisi perempuan dan laki-laki setara dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita tentang perjuangan Kartini pada zaman dahulu tersebut harus kita ingat baik-baik. Selain merawat bukti sejarah, juga sebagai bukti bahwa kaum perempuan berhak dan pantas untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. tetapi, ingatan akan sejarah tersebut bukan lantas hanya sebagai ingatan belaka. Melainkan harus dijadikan cambukan untuk terus mempertahankan kesetaraan antara kaum Adam dengan kaum Hawa.

Di zaman modern seperti sekarang ini, tidak susah bagi kita untuk menemukan perempuan-perempuan yang terus menyuarakan pendapatnya ataupun menduduki posisi setara dengan kaum laki-laki. Banyak perempuan-perempuan hebat yang juga menduduki jabatan strategis, baik itu di tingkat nasional ataupun di tingkat wilayah.

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan sederet nama beken yang sering menghiasi kita, baik di media sosial ataupun di media cetak. Sebutlah Sri Mulyani, Menteri Keuangan. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur. Atau dari bidang yang lain, ada Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia lewat cabang bulutangkis, dengan menjadi juara All England selama empat kali. Kemudian kita juga mengenal sosok Merry Riana, yang sempat menjadi idola pemuda pemudi Indonesia karena kesuksesannya menjadi pengusaha dan motivator, dan juga keberhasilannya mendapatkan sejuta dollar.

Selain nama-nama yang disebut di atas, masih banyak nama-nama lain yang tidak kalah keren dan beken. Lalu kemudian, apa yang bisa kita dapat dari kesuksesan Kartini-Kartini milenial tersebut? Tidak lain adalah kegigihan dan semangatnya dalam mengejar impiannya. Mereka tidak mudah menyerah dan putus asa untuk terus mengejar apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya. Hingga kemudian, pelan namun pasti apa yang mereka inginkan datang dengan sendirinya.

Di zaman yang semuanya serba mudah ini, pastinya juga ada banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk memperjuangkan dan meraih impian yang kita cita-citakan.

Banyak jalan menuju Roma

Selama kita masih mempunyai keinginan dan impian, sepanjang itu pula kita akan selalu menemukan jalan untuk menggapainya. Tinggal kembali kepada diri kita sendiri, apakah akan terus mengejar impian tersebut, atau hanya diam dan menyaksikan kawan-kawan kita berlalu meninggakan kita di belakang. Kesempatan tidak hanya datang satu kali, tetapi akan banyak kesempatan yang akan kita dapatkan selagi kita mau memanfaatkan kesempatan tersebut.

Selama kita berusaha sungguh-sungguh dalam mengupayakan dan mengejar apa yang kita inginkan, bukan tidak mungkin hal tersebut akan kita dapatkan. Tidak ada bedanya antara laki-laki ataupun perempuan, yang membedakan adalah seberapa besar usaha  dan tekad yang kita perjuangkan untuk mencapai impian dan cita-cita yang diharapkan. Laki-laki dan perempuan merupakan takdir dan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita terima dan syukuri. Bukan lantas membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya.

Selamat hari Kartini untuk kalian Perempuan hebat Indonesia. Ys.

Pelajaran dari Kartini di Masa Pandemi

Memasuki masa sepertiga terakhir bulan April. Dunia masih saja diselimuti oleh pandemi. Pandemi yang disebabkan oleh virus kecil tak kasat mata bernama corona. Keberadaannya bukan saja mengancam nyawa manusia, kehadirannya turut mengubah tatanan kehidupan manusia. Ekonomi terpuruk, kesehatan terenggut, hubungan sosial terbatasi. Manusia diterpa ketakutan yang mendalam.


Di situasi mencekam semacam ini, manusia membutuhkan harapan. Memerlukan secercah ketenangan batin, agar ketakutan dapat sirna di dalam jiwa. Dalam menumbuhkan harapan tersebut, manusia perlu aktif berjuang memperbaiki keadaan.


April menjelang akhir, manusia diajarkan agar dapat menyulut semangat perjuangan. Manusia ditarik untuk kembali merangkak dari lumpur ketakutan melalui peringatan lahirnya Kartini.


“Habislah Gelap Terbitlah Terang”
Untaian kalimat filosofis yang mengajak siapapun untuk percaya bahwa sesudah kelabu akan hadir mentari di ujung sana jika tetap melangkah. Kartini mempercayai itu. Kepercayaan yang membawa harapan baru di tatanan masyarakat di zamannya hingga kini. Perempuan tidak lagi dikungkung adat. Perempuan dapat bebas bersekolah, mengejar asa. Perempuan kini memiliki derajat yang sama dengan lelaki.
Pengejawantahan semangat Kartini di masa-masa pandemi seperti saat ini dapat diwujudkan dengan tidak mengubur harapan. Terus berharap dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengeluarkan manusia dari jerat kecemasan.


Maka dalam riak ketakutan yang terur bergejolak, tugas manusia adalah terus berjalan. Melangkah meperjuangkan hidup, asa, dan cinta. Sebagaimana Kartini yang terus berjuang melawan ketidakadilan dan diskriminasi.

Sebagaimana Kartini yang berani mendobrak tradisi melalui tulisan-tulisan penanya. Manusia harus terus melukiskan harapan di masa-masa pandemi ini. Saling tolong melolong untuk mereka yang membutuhkan. Tetap diam di rumah demi meminimalisir resiko penyebaran. Adalah sedikit tindakan yang dapat dilakukan di situasi pilu saat ini. Tanpa mengeluh, dan terus bergerak.

Baca juga ini kebencian tidak akan membawa kebahagiaan


Tekad yang gigih, bukankah itu yang diajarkan oleh kisah Kartini. Mendobrak pemikiran kolot tentang fungsi dan perempuan di mata lelaki. Maka, tugas manusia di masa pandemi adalah mendobrak rasa takut dan cemas yang menyelimuti tubuh. Agar kabut bukit bernama corona ini segera berlalu.
Sebagaimana setiap manusia pernah mengalami masa kegelapan dari rahim ibunya, dan menemukan terangnya kehidupan pasca ia dilahirkan. Maka, di sanalah kehidupan tercipta. Gelap akan senantiasa menemukan terang.


Di penghujung April, ketika masa depan tak tahu rimanya seperti apa. Kala ketakutan bertebaran di atap-atap negeri. Di mana harapan menjadi satu-satunya teman umat manusia. Semoga masa-masa kegelapan ini segera usai dan esok ada terang yang siap menyambut. Dan manusia tidak berhenti melangkah guna memperjuangkan kehidupan. Seperti Kartini yang tidak pernah lelah melawan gelap untuk menyambut terang.

Rekomendasi Film Tentang Toleransi

Menonton film adalah salah satu yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu luang. Terutama di tengah pandemi yang mengharuskan untuk #dirumahaja atau #dikosaja. Film sendiri bisa digunakan sebagai jembatan untuk menyampaikan sebuah pesan pentingnya. Pesan toleransi salah satunya. Film juga bisa dijadikan sarana menampakkan wajah sesungguhnya masyarakat Indonesia yang majemuk.

Berikut ini adalah rekomendasi film yang mengajarkan tentang toleransi. Film-film berikut mempunyai cerita dan genre yang dekat dengan kehidupan nyata. Mulai dari percintaan, persahabatan, agama, juga keluarga.

  1. ? (Tanda Tanya)

Film Tanda Tanya disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Menceritakan 3 keluarga dengan latar belakang agama berbeda. Ketiganya sering kali menghadapi tantangan terkait agama serta kematian beberapa anggota keluarga karena kekerasan agama. 

Film ini menampilkan sosok Menuk, seorang Islam yang bekerja di restoran Cina milik keluarga Tan Kat Sun yang sangat menghormati Islam. Kemudian Surya, seorang Islam yang menjadi tokoh Yesus dalam acara Paskah. Rika, seorang janda dengan seorang anak yang berpindah agama dari Islam ke Katolik.

Meskipun menuai kontroversi dari berbagai pihak, film ini berhasil mendapatkan piala penghargaan Festival Film Indonesia tahun 2011. Juga pernah ditayangkan dalam lingkup internasional. Film ini tidak membicarakan soal benar atau salah. Namun lebih menitikberatkan soal hubungan antar manusia. Seperti yang dikatakan Menuk dalam film ini, “Tuhan mengajarkan cinta melalui agama yang berbeda-beda.”

  1. Bumi itu bulat

Film Bumi Itu Bulat mengangkat isu primordialisme etnis dan keagamaan yang ditarik ke ranah politik sederhana sehingga menciptakan polarisasi dalam masyarakat. Film ini menyampaikan pesan toleransi melalui kisah persahabatan, cinta, serta hubungan antara orang tua dan anak. Berlatar anak-anak muda yang mengejar impian menjadikan film ini relevan dengan kehidupan anak muda masa kini.

Produser film ini, Robert Ronny ingin mengingatkan kembali bahwa semua perbedaan yang ada di Indonesia adalah sebuah kekuatan. Ia percaya apabila setiap elemen masyarakat dapat bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik.

  1. Lima

Film Lima dibuat untuk memperingati hari lahir pancasila. Film ini bercerita tentang konflik tiga bersaudara yang berbeda agama. Tidak hanya soal perbedaan agama, film ini juga menyoroti unsur SARA.

Film ini menyampaikan pesan tentang pentingnya kelima sila Pancasila yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah serta keadilan. Lewat film ini, kita juga diajarkan untuk bersikap tenggang rasa terhadap siapa saja, tidak terhenti dalam keluarga dekat. Lola Amaria, salah satu sutradaranya mengungkapkan film ini dibuat agar Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan nyata.

  1. Indonesia Bukan Negara Islam

Film Indonesia Bukan Negara Islam merupakan dokumenter tentang perbedaan agama yang terjadi di sekolah. Film ini bercerita tentang dua siswa beragama Islam yang bersekolah di Canisius College (CC) atau Kolese Kanisius, Jakarta.  Meski bersekolah di tempat yang mayoritas muridnya tidak seiman dengannya, mereka tetap bisa shalat tanpa ada gangguan atau tekanan dari pihak lain. Film ini diproduksi oleh Jason Iskandar yang saat itu masih berstatus sebagai pelajar SMA. Melalui filmnya, Jason menunjukan Indonesia sebagai negara yang majemuk tidak semuanya Islam

Beberapa daftar film di atas mengajarkan kita untuk selalu bersikap terbuka terhadap perbedaan. Film-film tersebut hadir dengan alur cerita yang berbeda-beda, namun dengan sudut pandang yang sama tentang pentingnya toleransi di tengah banyaknya isu intoleransi. Jangan sampai kita mudah diadu domba oleh berbedaan 🙂