Prambanan Jazz Festival 2020 Digelar Virtual Akhir Oktober

Tengah Co-Founder Prambanan Jazz Festival, Bakkar Wibowo. Kanan Direktur Utama Rajawali Indonesia TOvic Raharja. Kiri Ovie Ermawati
Tengah Co-Founder Prambanan Jazz Festival, Bakkar Wibowo. Kanan Direktur Utama Rajawali Indonesia, Tovic Raharja. Kiri Ovie Ermawati

Prambanan Jazz Festival 2020 (PJF) akan tetap terselenggara di Candi Prambanan pada 31 Oktober dan 1 November 2020. Namun karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda, terlebih melonjaknya angka kasus Covid-19, membuat Rajawali Indonesia selaku promotor acara ini, hanya mendapatkan izin pertunjukan secara virtual. Sebelumnya, Prambanan Jazz Festival 2020 (PJF) direncanakan digelar pada 3-5 Juli 2020 dan harus diundur karena adanya pandemic Covid-19.

Duta Damai Yogyakarta berkesempatan menghadiri acara press conference yang diadakan pada 1 Oktober 2020 di kantor Rajawali Indonesia. “Kami turut prihatin dengan terus melonjaknya angka kasus Covid-19, namun kami ingin tetap menghadirkan PJF 2020 di tengah keterbatasan. Dengan berat kami sampaikan kepada #PJFLovers jika PJF 2020 tidak akan hadir secara offline,” ujar Anas Syahrul Alimi selaku Founder Prambanan Jazz Festival.

Menurut Anas, keputusan ini adalah langkah terbaik yang bisa ditempuh pada saat ini. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada #PJFLovers dikarenakan belum bisa menggelar penghelatan secara offline.

Selain itu, Bakkar Wibowo selaku Co-Founder Prambanan Jazz Festival menyampaikan “ Prambanan Jazz Virtual Festival 2020 akan digarap oleh Tompi untuk visual broadcastingnya. Seorang musisi yang akhir-akhir ini kerap menggarap film layar lebar sebagai film director atau sering didapuk menjadi video music director.”

Tulus, Fourtwnty, Isyana Sarasvati, Joko In Berlin, Pusakata dan Tompi yang akan mengisi pada hari pertama 30 Oktober 2020. Untuk hari ke dua 1 November 2020 yang akan mengisi adalah Andmesh, Ardhito Pramono, TheEverydayBand, Nadin Amizah, Pamungkas, Sinten Remen, dan Yura Yunita yang  akan menampilkan penghelatan musik bergengsi ini. Mereka akan membawakan lagu-lagu mereka dalam jazz version.

Direktur Utama Rajawali Indonesia Tovic Raharja menuturkan, untuk pertama kalinya PJF menggandeng musisi asal Yogyakarta yang tergabung dalam TheEverdayBand. Merekan mengaransemen dan membuat lirik lagu “Ke Prambanan Jazz Lagi” sebagai tema lagu.

“Ini jadi upaya untuk terus mempromosikan Yogyakarta dan sebuah harapan untuk bisa menyaksikan Prambanan Jazz kembali secara langsung nantinya,” tutur Tovic.

Pramabanan Jazz Virtual Festival 2020 tidak ada musisi atau artis dari luar negeri. Pada saat acara hanya akan ada kru yang bertugas dan musisi/artis yang akan menghadiri venue secara bergantian sesuai dengan rundown.

Standar protokol kesehatan tetap akan diterapkan dalam acara ini. Penampil dan kru akan melakukan rapid test terlebih dahulu sebelum acara dan selama pelaksanaan. Promotor memastikan protokol kesehatan tetap berjalan, seperti dengan menyiapkan hand sanitizer,  tempat cuci tangan, menggunakan masker dan face shield serta tidak berkerumun dan tetap menjaga jarak.

Rekomendasi Makanan Gurih Non Manis di Yogyakarta

Dikutip dari www.food.detik.com

Yogyakarta memang akrab dengan makanan manis seperti gudeg, atau sayur, serta sambel-sambelan yang dimasukkan gula pasir di dalamnya. Tipikal makanan seperti itu menjadi kesukaan banyak orang, namun menjadi petaka bagi mereka yang lebih menyukai makanan gurih yang sama sekali tidak mengandung gula di dalamnya. Maka dari itu tulisan ini lahir untuk memberikan serangkaian rekomendasi makanan yang bisa jadi pas di lidah para pecinta makanan gurih nan pedas-pedas sikit.

1. Nasi Ayam Goreng Padang Sederhana

Kalau kamu sedang berada di Jalan Kaliurang km 5, tepatnya di sekitar pom bensin, kamu bisa sekali loh melipir ke samping Pizza Hut. Jadi di sana ada seorang Mas dan Mbak (berdasarkan hasil investigasi saya, mereka adalah sepasang suami istri) yang berjualan makanan padang sederhana. Gerobaknya berwarna kuning putih dengan tulisan berwarna biru. Kamu bisa menemuinya pada pukul 10 pagi hingga 1 siang, tergantung seberapa cepat makanannya habis.

Ayam goreng tepungnya andalan sih di situ. Hanya dengan mengeluarkan uang Rp. 9.500 saja, kamu akan mendapatkan sebungkus nasi porsi besar, sayur daun ubi kalau bukan bayam, kuah padang, dan ayam goreng yang lezat. Apabila berkenan, belilah es teh yang hanya seharga Rp. 2.000 saja. Es teh mas itu mantap sekali loh. Pas dan isinya tidak hanya es, tetapi tehnya berasa. Kalau kamu tidak suka ayam, di sana ada berbagai lauk pilihan lainnya, seperti lele, tahu, tempe, telur biasa, dan telur balado.

2. Lotis dan Rujak Pedas Sesuai Selera

Nah, penjual lotis dan rujak keliling ini ada di lorong samping Pizza Hut Jakal juga. Jadi setali tiga uanglah kalau kamu mampir ke sana membelinya. Penjualnya seorang bapak-bapak, biasanya dia memakai batik, dan gerobaknya berwarna biru. Terpajang buah-buahan khas penjual rujak dan lotis lain seperti bengkuang, papaya, mangga, jambu, dan lain sebagainya.

Lantas apa yang membedakannya dari penjual lain sampai dia harus masuk rekomendasi tulisan ini? Oh ya tentu saja, bumbunya! Jadi saat membeli lotis atau rujak, kamu bisa meminta bapaknya untuk membuatkan bumbu yang paling enak. Tinggal sebutkan saja berapa cabe yang kamu mau sebagai campuran. Bumbu bapak ini mantap sekali untuk ukuran penjual lotis dan rujak keliling. Ia kental dan pokoknya kamu harus coba langsung!

3. Angkringan depan Hotel 101 Tugu

Maafkan penulis yang lupa sekali nama angkringan bapak ini. Tapi tenang saja, kamu bisa menemukannya di depan Hotel 101 Tugu. Dia tepat berada di sana. Mungkin kami akan kebingungan karena ada dua angkringan sekitar situ, tapi percaya samaku. Jika kamu melihat Hotel 101 kamu tinggal menyebrang saja. Angkringan bapak itu di depannya menyajikan banyak lauk, mulai dari sosis, ayam, ikan, beberapa jenis nasi kucing, goreng, dan kerupuk tentu saja.

Kalau kamu suka makanan gurih, banyak, dan murah, angkringan bapak ini adalah tujuan yang amat membahagiakan. Bagaimana tidak? Beliau dan istrinya, juga beberapa karyawannya, menyediakan pelanggan sayur dan sambel gratis, serta nasi yang bisa ditambah sendiri jika tidak puas dengan nasi kucing isi-isiannya di pajangan. Nasi, sayur, dan sambel itu bisa kamu ambil sendiri di belakang gerobaknya. Sisanya ya, silakan memilih lauk yang kamu suka. Pesanlah es teh biar lebih mantap!

4. Soto Sampah, Alun-Alun Utara

Setelah dari Tugu, sekarang kita beranjak ke arah Altar, atau Alun-Alun Utara. Di sana kamu bisa mencari Soto Sampah, tulisannya besar di bagian depan. Sepertinya akan segera nampak jika kamu mencarinya dengan saksama. Meskipun namanya soto sampah, kamu ndak akan disajikan semangkuk air dan plastik serta sisa makanan kok. Justru kamu akan disajikan “sampah” istimewa, berupa soto enak dan tentu saja, lagi-lagi, murah!!!

Harga soto sampah jika nasinya digabung hanya sekitar Rp. 8.000 saja. Tapi rasanya, hm mungkin bisa dibilang Rp. 50.000. Soto di hotel besar di tempatmu saja mungkin kalah enak sama soto sampah andalan ini. Oh ya, di sana juga ada berbagai macam sate-satean pengantar makan. Mulai dari sate ampela hingga telur puyuh. Ada pula gorengan dan tentu es teh, es jeruk, dan es es-an yang lain. Kalau kamu kurang dengan nasi yang dicampur soto, mintalah memisahkan nasinya. Nanti bakalan dikasi nasi plus bawang goreng di atasnya. Rasa soto dan nasi hangat ini akan sangat sopan masuk ke perutmu.

5. Sop Ayam Pak Min Klaten di Jalan Mataram

Kalau kamu berada di jalan menuju Malioboro, kan lampu merah belok kanan itu sudah menuju parkiran yang bertingkat, nah kamu ambil jalan sebelah kiri, namanya Jalan Mataram. Teruslah berkendara sampai dapat tugu kecil, samping tugu, masih di pinggir jalan, ada penjual sop ayam namanya Sop Ayam Pak Min Klaten. Orang asli Yogyakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan tempat yang satu ini. Kenapa?

Karena cabangnya sudah di mana-mana. Ada di Gejayan, Monjali, bahkan Jakal atas. Rasa kuahnya memang enak sekali. Isian sopnya bisa kamu pilih langsung, mulai dari dada hingga sayap semuanya ada. Nasinya bisa diminta pisah atau campur. Ada gorengan sebagai pelengkap. Ada es teh sebagai penghilang dahaga.

6. Ayam Lalapan Ngasem Jakal km 9

Menurut penulis, inti dari sebuah ayam lalapan berada pada sambel dan gurih ayamnya. Ayam Lalapan Ngasem menawarkan keduanya. Ayamnya gurih, tidak benyek, dan tentu saja tidak terlalu berminyak serta masih bisa dikunyah dengan baik. Sambelnya? Jika kamu tidak suka dengan yang pedas, kamu bisa minta sambel kacang saja. Sambel kacangnya ini, astaga, jika di KBBI ada kata di atas kata ENAK, maka itulah kata yang akan kupilih untuk mendefinisikan sambel tersebut.

Harganya lumayan murah karena tidak akan menguras kantongmu terlalu dalam. Tapi tempat ini hanya buka pada malam hari, sehabis magrib. Jadi jika kamu ingin mencobanya, berkendaralah ke sana, jangan lupa memakai jaket agar tidak masuk angin. Jakal ke atas lagi dingin-dinginnya kan kalau malam.

Jadi itulah tadi beberapa rekomendasi makanan yang bisa kamu coba jika sedang berkunjung ke Yogyakarta dan ingin mencoba makanan lain selain gudeg dan kawan-kawannya yang manis. Semoga satu dari rekomendasi ini pas di lidah dan tenggorokanmu ya. Soalnya yang pas itu biasanya tidak bikin enek dan menghasilkan efek candu. Siapatau setelah ini kamu jadi candu ke Yogyakarta. Hehe..

From Jogja With Love

From Jogja With Love
Kita telah sampai pada sepertiga dari bulan April 2020. Namun ternyata pandemi covid-19 masih jadi bahasan yang santer. Tersiar tidak hanya dari corong masjid namun juga media masa yang update bahkan nyaris hampir setiap menit.


Telah berbulan-bulan corona virus mampir membawa tak hanya petaka tapi juga keresahan yang sulit untuk dilibas. Tidak sedikit imbauan juga peraturan baru ditetapkan, sebut saja lockdown lokal. Namun tetap saja seolah semua yang diupayakan itu nyaris tak tampak hasilnya. Kita serupa menumpahkan segelas air di hamparan gurun pasir. Menguap tanpa ada sisa.

Seperti halnya sebuah kejadian, covid-19 hadir juga diikuti dengan dampak-dampaknya. Baik itu dampak positif mau pun negatif. Memang ada dampak positif corona? Tentu saja ada, salah satunya adalah polusi yang semakin berkurang. Di media masa jelas kita bisa melihat berita tentang ini. Bagaimana kawasan di Eropa semakin sejuk, sungai-sungai jernis dan dari pantauan satelit NASA tampak Bumi yang lebih ‘sehat’ dibanding bulan-bulan sebelumnya. Dampak postif yang lain bisa jadi kita semakin akrab dengan anggota keluarga pula semakin sadar tentang pola dan gaya hidup sehat.

Baca juga tentang positif corona


Namun tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari corona virus ini menjadi sorotan paling banyak. Mulai dari melemahnya perekonomian negara, tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara yang terjangkir virus ini otomatis sektor ekonomi terguncang hebat. Disektor industri kita mendengar tentang pemutusan hubungan kerja, atau merumahkan karyawan karena perusahaan tidak lagi bisa beroperasi. Covid-19 juga melumpuhkan bidang pendidikan. Kampus dan sekolah tutup dan menggantinya dengan kelas online (yang ternyata memicu banyak kendala). Sektor agraria juga terguncang dengan pandemi ini. Ada barang namun tidak ada proses distribusi mengakibatkan jungkir balik harga. Pun dibidang pariwisata, corona virus telah sukses membuat industri wisata tak hanya lesu namun terancam gulung tikar.


Sejak awal Maret di Yogyakarta sediri telah banyak obyek wisata ditutup. Penerbangan terkena imbas. Pula perhotelan mulai terguncang. Banyak hotel yang terpaksa membanting harga dengan memberi penawaran promo khusus untuk menarik pengunjung. Namun tidak serta merta calon costumer datang. Sebab banyak orang memilih untuk stay at home dibanding menghabiskan waktu di hotel. Lebih-lebih kewaspadaan tinggi mengingat di hotel sering dipakai untuk kumpul para wisatawan asing.


Dalam suasana prihatin karena dampak pandemi covid-19, maka beberapa hotel berbintang di Yogyakarta (lebih dari 50 hotel) menggelar aksi kepedulian bertajuk ‘From Jogja With Love’. Yaitu sebuah aksi dengan menyalakan lampu hotel dengan membentuk logo menyerupai hati. Aksi ini dilakukan secara serentak pada tanggal 4 April 2020 mulai pukul 19.00 – 21.00.


Dengan aksi ini para penggiat dunia perhotelan ingin menyuarakan semangat bagi semua masyarakat khususnya Yogyakarta untuk tetap bahu membahu dan jangan mudah kalah dalam mengatasi pandemi corona. Selain aksi ini, beberapa hotel di Yogyakarta juga membuat aksi peduli kepada para tim kesehatan yang berada di garda depan dalam perlawanan menghadapi covid-19.

Cara Membuat Hand Sanitizer Sendiri – DIY

WHO : Hand Sanitizer
Hand sanitizer atau pembersih tangan, salah satu fungsinya untuk mencegah diri kita terkena virus corona(covid-19). Meningkatnya kasus corona di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia khawatir. Kekhawatiran itu terbukti dengan banyaknya orang yang berburu masker dan hand sanitizer.

Tim Duta Damai Yogyakarta mencoba untuk mendapatkan hand sanitizer ke beberapa apotek di Yogyakarta. Namun dari hasil pencarian kami, stok di apotek telah habis. Kemudian kami mencoba untuk mencari alternatif lain untuk mendapatkan hand sanitizer.

Kami menemukan cara pembuatan hand sanitizer dari WHO(World Health Organization) yang ditulis ulang oleh BPOM(Badan Pengawas Obat dan Makanan). Dan kamu bisa membuatnya sendiri dirumah. Berikut adalah alat dan bahan untuk pembuatan hand sanitizer serta cara pembuatannya.

Bahan-bahan yang harus disiapkan :
1. Etanol 96 %
2. Gliserol 98%
3. Hidrogen Peroksida 3%
4. Air steril atau Aquadest 1000ml

Alat yang harus disiapkan :
1. Gelas Ukur 1000 ml
2. Beckerr glass
3. Gelas Ukur 50 ml
4. Gelas Ukur 25 ml
5. Batang Pengaduk
6. Botol Kaca

Cara pembuatan :
1. Siapkan gelas ukur 1000 ml, kemudian masukkan 833 ml etanol 96%
2. Selanjutnya tambahkan 41,7% hidrogen peroksida 3% ke dalam gelas ukur tadi
3. Tambahkan 14,5 ml gliserol 98% menggunakan gelas ukur, pastikan gliserol tidak tertinggal dengan cara membilasnya menggunakan air dan masukkan bilasan air ke gelas ukur 1000 ml tadi
4. Masukkan air steril atau aquadest hingga volume menjadi 100 ml, kemudian aduk hingga homogen(rata)
5. Pindahkan campuran kedalam botol kaca bersih
6. Simpan selama 3 x 24 jam guna memastikan tidak ada kontaminasi organisme dari wadah botol
7. Selesai, hand sanitizer siap untuk digunakan

Jika kamu kesulitan mencari etanol 96% kamu bisa menggunakan alkohol dengan minimal kadar 70%. Namun alkohol di beberapa apotek juga sulit dicari. Tips untuk mendapatkannya, coba cari di beberapa toko sembako untuk mendapatkannya.


Sumber : BPOM( Badan Pengawas Obat dan Makanan)
WHO – Guide to Local Production
BPOM: Pembuatan hand sanitizer sendiriBPOM: Pembuatan hand sanitizer sendiri

Seminar Wawasan Kebangsaan Kolaborasi Duta Damai Yogyakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Seminar Kebangsaan
Duta Damai Yogyakarta

Yogyakarta, 19 Oktober 2019
Duta Damai Yogyakarta dibentuk dengan tujuan untuk mengkampanyekan pesan-pesan damai diberbagai kesempatan dan platform. Sejak berdiri dari tahun 2016, Duta Damai Yogyakarta telah banyak menyelenggarakan berbagai acara online maupun offline. Baik acara yang diprakarsai dan dilaksanakan secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain diberbagai bidang.


Pada kesempatan kali ini Duta Damai Yogyakarta mendapat kepercayaan berkolaborasi dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk menggelar acara seminar kebangsaan. Sebuah acara yang digelar dengan target peserta kalangan milenial.


Seminar kebangsaan bertajuk Wawasan Kebangsaan Untuk Generasi Milenial di Era Digital ini dilaksanakan pada Sabtu, 19 Oktober 2019 di gedung Bonaventure Kampus 3 Universitas Atma Jaya dengan menghadirkan narasumber yang cukup kompeten dibidangnya masing-masing. Yaitu, Dr. H. Amir Mahmud yang merupakan Alumni Akademi Militer Afghanistan dan juga direktur Amir Mahmud Center; M. Mustafid, S. Fill selaku Koordinator Bidang Agama FKPT DIY; dan Dr. Muhammad Suaib Tahir selaku pejabat BNPT.


Acara ini dibuka oleh Dr. Bernadus Wibowo Suliantoro, M. Hum selaku koordinator mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Beliau dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda agar terus update informasi dan jangan mau ketinggalan zaman. Tidak lupa memberi penjelasan bahwa paham radikalisme terorisme bisa merasuki siapa saja tidak terkecuali mahasiswa maupun aparat negara.


Dalam seminar ini Dr. Amir Mahmud membeberkan beberapa fakta yang terjadi di Suriah dan Damaskus sebelum dan sesudah terjadi konflik. Beliau menjelaskan bahwa 85% rusaknya Suriah karena media sosial. Untuk itu beliau berpesan kepada generasi Indonesia agar jangan mau menjadikan Indonesia tercinta menjadi seperti Suriah. Maka, langkah yang perlu diambil adalah dengan selalu bijak memberikan informasi di media sosial. “Indonesia bukan negara agama namun Indonesia ini negara religius. Indonesia punya pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. “Dimana negara tidak mengusik, namun mengatur kehidupan beragama,” tutur beliau.

Kenyataannya memang Indonesia dikenal dengan negara Bhineka Tunggal Ika, meski beda namun tetap satu. Selain itu juga Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi. Sementara konflik-konflik sosial yang terjadi selama ini (tidak hanya di Indonesia) disebabkan oleh tidak ada ikatan kuat dan adanya gesekan-gesekan yang menghadirkan kekacauan.

Kekerasan, radikalisme, terorisme adalah bentuk-bentuk kekacauan yang terjadi oleh beberapa sebab diantaranya perbadaan fisik, emosi, kebudayaan dan perilaku.


Apa yang disampaikan Dr. Amir Mahmud ini sejalan dengan yang disampaikan oleh M. Mustafid, S.Fill bahwa 4 akar dari radikalisme adalah penafsiran agama yang salah (terlalu kurang atau berlebihan), adanya politisasi pada agama, persoalan pencarian identitas dan konteks kesenjangan ekonomi, politik, hukum dll.
Menurut M. Mustafid, S. Fill tantangan kebangsaan terletak pada Globalisasi Ekonomi, Global Governance (homogenisasi budaya), Etno Nasionalisme dan Separatisme, Intoleransi Radikal Terorisme dan Identitas Jati Diri. Maka, cara untuk menghadapi tantangan tersebut bisa dilakukan dengan mengambil nilai-nilai baik dari sebuah kebudayaan, membangun komunikasi untuk menumbuhkan jati diri dan generasi milenial haruslah melakukan kontekstualisasi. “Saat ini tantangan terbesar adalah kemajuan teknologi. Era analog pindah ke ranah digital. Media sosial tidak bisa lagi dibendung. Sebagai generasi milenial hendaknya bisa berubah dari konsumen menjadi produsen,” ujar beliau.


Sementara itu Dr. Muhammad Suaib Tahir juga menjelaskan bahwa tantangan dan keresahan yang ada disuatu negara merupakan tanggung jawab semua warga bangsa. Beliau menjelaskan bahwa aksi terorisme sejatinya sudah terjadi sejak lama di benua lain. Dari hasil penelusuran beliau yang sudah lama malang-melintang ke berbagai negara dapat disimpulkan bahwa tantangan bagi negara-negara berkembang (khususnya Afrika) terletak pada falsafat negara. Beruntung Indonesia punya pancasila yang didalamnya mengandung sila-sila yang cukup ideal untuk dijalankan. Tidak lupa beliau juga mengingatkan bahwa teroris itu bukan Islam. Pula target rekrutmen para penganut paham ini adalah anak-anak muda.


Pada akhirnya acara seminar wawasan kebangsaan ini digelar dengan maksud untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dikalangan anak muda sekaligus memberi motivasi agar generasi milenial tidak acuh pada perkembangan teknologi di era industri 4.0.


Hendaknya milenial dan siapa saja lebih peduli lagi dengan apa yang diposting di media sosial dan juga agar tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang bernarasi negatif. Selain itu, sangat baik kiranya jika generasi milenial sebagai pengguna aktif sosial media untuk menerapkan penciptaan opini di masyarakat kemudian disebarluaskan di sosial media guna perlawanan terhadap narasi yang bertolak belakang pada data faktual, yang mana biasa kita sebut sebagai Narasi Alternatif (Alternative Naratif), saran dari bapak Dr. Muhammad Suaib Tahir.

“Saat simbah kakung masih hidup, malam satu suro menjadi malam yang ditunggu-tunggu. Biasanya simbah akan puasa pati geni (puasa tidak berbicara) sebelum malamnya menjalani ritual ngumbah gaman (mencuci pusaka)”

Orang Jawa menyambut Suro dan Muharram dengan berbagai perayaan dan pensakralan. Hal ini tidak terlepas dari penanggalan Jawa dan kalender Hijriah yang memiliki korelasi dekat. Menurut Muhammad Sholikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa; pengaruh kontrol kraton yang kuat melatarbelakangi tindakan revolusioner Sultan Agung dalam upayanya mengubah sistem kalender Saka (perpaduan kalender Jawa asli dengan Hindu) menjadi penanggalan Jawa yang merupakan perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriah.

Revolusioner ini membuat bulan Suro atau Muharram dianggap istimewa.
Berbagai tempat mengadakan perayaan untuk memperingatinya, bukan sekedar untuk kegiatan keagamaan namun perayaan kultur budaya dengan mengangkat berbagai tradisi masyarakat.

Di Kota Yogyakarta, Suro atau Muharram dirayakan dengan prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng. Seperti namanya, Lampah Budaya Mubeng Beteng adalah ritual berjalan kaki mengelilingi benteng yang memagari keseluruhan wilayah Kraton Yogyakarta.

Tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram di Kotagede ratusan tahun silam yang dilakukan oleh Prajurit Kraton untuk menjaga keamanan wilayah Kraton. Dalam tradisi ada pantangan yang harus ditaati oleh yaitu tidak boleh bersuara apalagi berbicara dengan yang lainnya. Pantangan berbicara inilah yang sering dikatakan sebagai Topo Bisu alias tidak berbicara. Selain itu dilarang makan dan minum selama prosesi.

Walau melelahkan, tentu saja kegiatan ini bukan tanpa makna. Lampah Budaya Mubeng Beteng bertujuan untuk bersyukur, mendoakan keselamatan lahir dan batin bagi bangsa, negara, keluarga, hingga diri sendiri. Melakukan instropeksi diri atas perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir, serta berjanji untuk memperbaiki di tahun-tahun mendatang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

Prosesi berjalan dilakukan dengan rute ke arah barat kemudian ke selatan, ke timur, baru ke utara, dan kembali ke tempat dimulainya prosesi ini. Dimulai dari Ndalem Ponconiti, kemudian berjalan melalui jalan Rotowijayan, jalan Agus Salim, jalan KH Wahid Hasyim, pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, pojok Beteng Wetan, jalan Brigjen Katamso, jalan Ibu Ruswo, Alun-alun Utara, dan baru kembali ke Ndalem Ponconiti. Totalnya sekitar empat kilometer atau dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk menyelesaikannya.

Lampah Budaya Mubeng Beteng menjadi bukti kebersamaan rakyat yang terjalin di Yogyakarta. Melalui prosesi ini kita diingatkan meskipun diam, sebenarnya rakyat bukan pasif tapi juga tetap bersuara. Adanya hoax, ujaran kebencian, dan teror merupakan ancaman bagi persatuan bangsa. Melalui filosofi Lampah Budaya Mubeng Beteng, semoga kita dapat merevitalisasi kembali semangat gotong-royong bersama melawan hal-hal yang memecah kesatuan Negara Indonesia dengan membentenginya dari Kota Yogyakarta.

Ditulis oleh : @catherine.cece