Keimanan adalah modal untuk bertahan

Bangsa indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Bangsa yang yang selalu berpegang pada norma-norma agama yang dianutnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal Ini juga tercantum dalam sila pertama Pancasila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Keimanan kepada Tuhan adalah modal terbesar bagi seseorang agar mampu bertahan hidup dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam hidupnya. Terutama bagi mereka yang mengimaniNya.

Keimanan seseorang dalam keseharian mungkin bisa berubah ubah. Terkadang terlihat kuat dan kokoh hingga ia mampu mensikapi segalanya dengan bijak dan tegar. Namun tidak jarang pula ia akan terlihat begitu lemah dan terpuruk ketika hawa nafsu lebih menguasai dan dominan dalam hatinya.

Keimanan

Proses membentuk keimanan yang kuat dan stabil, tentunya tidak bisa dicapai dengan cara instan, akan tetapi terus berjalan seumur hidup. Dibutuhkan berbagai macam perkara,  supaya imannya bersemi, bertumbuh dan akhirnya berbuah manis.

Terlepas dari proses keimanan seseorang, sebagai orang Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, kita perlu melihat kembali kata-kata bung Karno Presiden pertama RI yang mangatakan “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara yang kaya raya ini”.

Hal ini kalau kita sikapi dengan positif tentu bisa jadi salah satu pegangan kita dalam bersikap dan bergaul dengan sesama manusia. Bersyukur atas keberadaan sesama di sekitar kita, yang suatu ketika mungkin harus berpegangan tangan bersama dalam menghadapi sesuatu. Hal ini justru akan bisa menjadi cerminan kedalaman keimanan seseorang. Bahwa Keimanan seseorang tidak lalu menjadikannnya eksklusif tetapi inklusif.

Terutama disaat seperti sekarang ini, ketika pandemi corona melanda negeri, setiap orang berkesempatan untuk saling membantu, berperan sebagai seorang inspirator bagi orang lain. Berguna bagi sesama, transformatif, berdaya ubah dengan tetap menyandarkan diri pada keimanan masing-masing.

Kalau ini benar-benar dimaknai sebagai implementasi dari keimanan kita, tentunya akan semakin mempererat tali silaturahmi antar anak bangsa. Dan dengan eratnya tali silaturahmi yang terjalin justru akan semakin menyempurnakan ibadah kita masing-masing sebagai manusia yang beriman.

Pluralitas masyarakat Indonesia, terutama dalam hal keyakinan bukanlah untuk dipertentangkan, tapi justru menjadi modal serta kekuatan untuk kita bisa saling mengisi dan mendukung agar senantiasa dikuatkan dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun.

Salam Perdamaian!

Belajar di Tengah Keprihatinan

Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas tahun ini diperingati di tengah keprihatinan wabah corona. Untuk itulah Menteri pendidikan menyatakan bahwa tema Hardiknas di tahun ini adalah “Belajar dari Covid-19”

Bukanya tanpa alasan tema ini diangkat oleh Kemendikbud. Walaupun dalam masa krisis pandemi Covid-19, dan seluruh lembaga pendidikan saat ini harus melakukan pembelajaran dengan jarak jauh, tetap saja ada pembelajaran serta hikmah yang bisa diambil daripadanya.

Begitupun juga yang disampaikan oleh mendikbud Nadiem Makarim, bahwa “Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari Covid-19″.

Dari krisis yang terjadi di negeri ini, kalau kita tetap berpikiran positif, pasti akan menjadi daya dorong luar biasa untuk menerjang segala tantangan untuk terus mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

Saat ini, Guru dan siswa “dipaksa” untuk melaksanakan pembelajaran secara online dengan perangkat atau gadget yang sebenarnya sudah digunakan setiap hari. Cuma kita kurang menyadari bahwa ternyata alat-alat ini bisa digunakan juga untuk hal yang lebih baik selain hanya sebagai alat komunikasi. Ternyata belajarpun bisa dilakukan dari dan di mana saja.

belajar di tengah keprihatinan

Orangtua siswa pun jadi tahu bahwa mengajar dengan efektif dan tepat adalah tugas yang tidak mudah. Ini terjadi saat mereka mendampingi putra-putrinya belajar mandiri di rumah dengan sytem daring.

Bagaimana orangtua kemudian berempati terhadap pendidikan dalam hal ini Guru. Bagaimana pendidikan itu ternyata harus dilakukan bersinergi, tidak hanya diserahkan saja kepada pihak sekolah. Hal yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Proses pendidikan kepada anak dalam hal ini peserta didik tentu harus dilakukan secara kolaboratif agar efektif. Orangtua, Guru dan siswa adalah komponen yang tak terpisahkan dari proses pendidikan agar efektif

Proses pendidikan yang saat ini  dilakukan menggunakan sistem daring, bisa jadi membuka wawasan banyak pihak bahwa sistem pembalajaran model ini bisa jadi metode alternatif yang bisa dikembangkan.

Tidak hanya saat ini di masa pandemi, tapi juga berlanjut di saat kehidupan kembali normal ketika masa krisis sudah berlalu.

Inovasi dan pengembangan system pendidikan daring bisa jadi solusi untuk mendukung pembelajaran efektif yang kolaboratif. Proses masih panjang, tapi setidaknya ada optimisme yang terbentuk dari proses yang ada ditengah krisis ini.

Di tengah keprihatinan krisis Covid-19 yang melanda, asal kita optimis dan terus berpikiran positif, pasti dibukakan jalan dan tetap ada hikmah serta hal baik yang bisa diambil.

Selalu jaga kesehatan dengan terus menjalankan protokol kesehatan. Semoga kita semua dihindarkan dari virus covid-19. Amin..

Salam Perdamaian!

Kebencian Tidak Akan Membawa Kebaikan

Pernah sakit hati ? wajar bagi setiap orang yang punya perasaan. Bolehlah kalau anda merasa kecewa bahkan marah. Namun jangan sampai membenci.

Dengan Membenci justru memberikan dorongan energi kepada “musuh” untuk menghancurkan diri anda sendiri. Anda akan sangat terganggu sampai tidur pun tidak nyenyak, nafsu makan berkurang, tekanan darah tidak stabil, dan yang pasti akan menjauhkan anda dari kebahagiaan.

Kebencian

Musuh anda atau siapapun yang anda benci pasti akan bergembira. terlebih bila mereka mengetahui kalau mereka dapat membuat anda kacau balau, sedih dan rasa dendam menguasai anda.

Kebencian yang menguasai anda, tidak akan berakibat apapun pada mereka, tetapi justru efek dari kebencian anda akan berbalik mengenai anda sendiri.  Kebahagian anda akan tertutupi dan bahkan dapat menimbulkan pertengkaran.

Kebencian adalah racun mematikan yang tanpa disadari, pelan tetapi pasti akan menghancurkan anda. Menumpuk kepahitan terus menerus akan menggerus hati, pikiran dan pasti mengancam kesehatan.

Sebaliknya, jika hati penuh cinta kasih dan mudah untuk memaafkan, yang terjadi adalah aura positif yang tentu juga menyebar ke sekitar. Dunia terasa indah dan bersemangat dalam menjalani hidup. mengembalikan lagi tawa ceria  dalam keseharian.

Hati yang gembira adalah obat paling mujarab untuk membangun relasi. Menyusun kembali keping-keping perselisihan.

Menebar kegembiraan dan persahabatan akan lebih bermakna dalam hidup, daripada memelihara bibit kebencian yang ada.

Kebahagiaan adalah jalan untuk membuka diri kepada penerimaan akan perbedaan. Akan membuka pikiran positif dan energy luar biasa untuk berkembang menuju kesuksesan.

Dalam kehidupan bersama, energi positif yang ditimbulkan karenanya akan mampu menerobos segala tantangan dan meninggikan semangat solidaritas, kebersamaan serta toleransi.

Salam Perdamaian !

Adakah Sisi Positif Dibalik Wabah Corona?

Kecemasan dan kepanikan terjadi di seluruh penjuru dunia, setelah wabah Corona (Covid-19) mulai menyebar ke negara-negara lain semenjak kejadian pertama di Wuhan.

Virus ini menyebar bak air bah yang menerjang semua tanpa pandang bulu. Bagi yang terkena, jika tidak diambil tindakan yang tepat, bisa berujung kematian. Terlebih lagi bahwa virus ini belum ada vaksin nya.  

Dampak Jelas yang ditimbulkan corona tidak hanya dari aspek psikologis semua orang, tetapi juga telah meruntuhkan ekonomi di banyak negara. Ekonomi global terancam dan mengalami perlambatan. Bahkan ada beberapa negara yang terancam akan terjadi resesi karenanya.

Dari sekian efek luar biasa negatif yang ditimbulkan virus covid-19, masih adakah dampak baik atau sisi positifnya?

Samuel Paul Veissière Ph.D, seorang ilmuwan kognitif dan antropolog interdisipliner mengatakan bahwa ketakutan yang berlebihan dalam kondisi wabah corona justru akan sangat merugikan. Ketakutan ini bisa menimbulkan kerawanan ekonomi, sosial serta psikologis tanpa disadari.

Ketakutan yang berlebihan akan mengakibatkan situasi menjadi sulit, terutama ketika informasi valid tentang kondisi sebenarnya akibat dampak virus corona, bersanding dengan berita-berta hoax yang ramai bertebaran di media sosial. Jika filter yang dimiliki seseorang tidak bekerja dengan baik akibat kepanikan, maka situasi yang terjadi dapat menempatkan orang dalam kondisi rentan.

Walaupun demikian, Veissière menegaskan juga bahwa wabah covid-19 ternyata juga membawa banyak sisi positif. Salah satunya, adalah berita baik bahwa ada sangat banyak pasien yang mampu sembuh.

Ternyata, dari sekian hal buruk yang terjadi, selalu saja muncul serangkaian peristiwa positif yang menyertai dan muncul secara tidak terduga.

Seseorang terkadang terlalu menganggap remeh sesuatu. kita biasanya acuh atau tidak menaruh perhatian, mengingat bahkan menghargai sesuatu sampai hal yang tidak kita perhatikan tersebut hilang bahkan hancur dari hadapan.

Sebagai contoh, seorang yang mengidap penyakit pernafasan seperti asma yang tahu sulitnya bernapas, pasti akan sangat menghargai udara serta memperhatikan kesehatan paru-paru. Hal lain, misalnya dengan saudara-saudara kita yang tidak memiliki anggota tubuh lengkap. Mereka akan juga sangat menghargai hal-hal yang berhubungan dengan kebebasan bergerak.

Dari sebuah kecelakaan kecil, kita jadi teringat orang yang kita cintai. Keadaan ketidakmampuan yang terjadi akibat virus Corona ini pun dapat dengan mudah memicu solidaritas banyak teman serta kerabat untuk yang menawarkan bantuan.

Wabah, bencana, penyakit ataupun kecelakaan, bisa menjadi berkah karena kejadian ini menyatukan keluarga, sahabat maupun komunitas.

Virus covid-19, telah mengingatkan dan mengajarkan umat manusia untuk lebih memperhatikan kesehatan. Lebih banyak bersyukur pada apa yang sudah Tuhan berikan atas kesehatan dan kesempurnaan tubuh.

Bersyukur Bahwa kita adalah bagian dari rantai kompleks setiap kegiatan kehidupan yang terjadi sehari-hari di masyarakat, yang tanpa orang lain kita tidak bisa hidup sendiri. Menjaga satu sama lain adalah sesuatu yang paling mungkin dilakukan spesies yang disebut “manusia” ini, untuk dapat bertahan hidup dan melawan setiap rintangan. Wabah Corona (covid-19) ini juga mengingatkan kita kembali akan betapa berharganya setiap pribadi.

Dari berita yang hadir dari seluruh belahan dunia, banyak negara yang mulai saling membantu, ber gotong-royong, bekerja sama dengan negara lain tanpa lagi melihat sekat dan batas negaranya. Ini menjadi kejadian kemanusiaan luar biasa yang akan dicatat sepanjang sejarah.

Banyak orang dengan suka rela membantu orang lain, gegas dan tanggap dalam melindungi yang lemah, orang asing, bahkan terhadap orang yang diangap  musuh sekalipun. Inilah sekarang yang juga terjadi dengan Israel dan Palestina.

Ternyata pandemi pun bisa menawarkan peluang untuk menyatukan umat manusia untuk bersama-sama melawan ancaman, tanpa lagi memperhatikan suku agama dan ras.

Dari sini, Kita semua manusia akan belajar pentingnya untuk tetap terhubung dengan orang lain dengan tetap memperhatikan keselamatan diri sendiri.

Selain itu, ada juga hal baik lain sebagai akibat hadirnya wabah corona atau covid-19 yang bisa kita rasakan. Selama ini, kita disibukkan dengan aktifitas sehari-hari yang terkadang terasa “over dosis”, menyita waktu dan tenaga.

Wabah ini membantu kita untuk sedikit rehat, jeda dari kerja keras dan produktivitas berlebih. Sebab kita terpaksa harus mengkarantina diri.

Walaupun dalam situasi terpaksa, namun banyak orang mulai merasakan, bahwa mereka memiliki waktu lebih untuk beristirahat, menjalankan hobi dan menikmati quality time bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Ada juga peningkatan tajam perbaikan kualitas udara dengan emisi karbon yang mencapai titik terendah setiap hari. Hal ini pasti juga mengingatkan kita akan kerusakan yang sudah manusia lakukan, dan sekaligus menunjukkan pada kita cara untuk memperbaikinya.

sisi positif wabah corona

Ada waktunya segala sesuatu dapat kita lakukan sesuka hati, berlarian bebas dibawah mentari. Ada kalanya juga saat-saat kita harus menahan diri, bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Terasa sulit memang, menerima bahwa saat ini, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tetap di rumah. Semua ini dilakukan untuk menyelamatkan hidup dan saling menjaga satu dengan yang lain. Bersyukur, akan lebih terasa mendamaikan dalam masa-masa sulit. Yakin akan terbit pelangi indah dan mentari hangat yang menyapa setiap pribadi.

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

“Menjadi sahabat bagi semua orang dengan semangat cinta kasih, adalah harapan dan solusi agar mampu keluar dari sekat-sekat pemisah”

74 tahun sudah kemerdekaan Indonesia dirayakan sebagai buah dari rahmat Tuhan. Hal ini juga dikatakan di dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai kaum beriman, kita pasti meyakini bahwa Tuhan Yang maha Esa ikut berperan dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya.

Bangsa Indonesia yang terdiri atas macam-macam suku, budaya serta keyakinan ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berjuang sekian lama dalam merebut kemerdekaan serta merajut kehidupan bersama dengan bermacam ujian yang harus dilalui

Pada masa perjuangan, persatuan bangsa Indonesia sudah dibuat susah oleh penjajah. Mereka menggunakan berbagai cara, politik memecah belah untuk melemahkan persatuan bangsa Indonesia. Sementara disatu sisi, para pendiri Negara inipun mengalami proses tarik menarik dari banyaknya buah pikir, keyakinan dan kepentingan kelompok.

Tetapi, berkat Rahmat Tuhan jugalah pada akhirnya seluruh perbedaan ini mampu disatukan dan justru menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk merdeka dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Saat ini, setelah 74 tahun mencecap kemerdekaan. Semangat kebersamaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika mulai “diganggu”, di pertanyakan bahkan hendak diganti  keberadaannya oleh sebagian orang yang tidak mengerti dan paham atas sejarah perjuangan bangsa. Semangat untuk menjadi sahabat bagi semua orang seakan luruh.

Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan kita semua anak bangsa. Hanya bisa mengelus dada, saat kejadiaan demi kejadian intoleransi di sana-sini. Saat kedamaian, kerukunan yang sudah lama bertahan, dicabik-cabik oleh ulah sebagian orang dengan provokasi dan propaganda yang mengancam kerukunan serta kehidupan toleransi .

Manusia diciptakan memang berbeda satu sama-lain. Bahkan seorang kembarpun pasti akan ada perbedaannya. Kalaupun secara fisik identik satu dengan yang lain, tapi pola pikir nya pasti berbeda. Bagaimana menyatukan hal-hal yang berbeda ini ? Bagaimana dengan Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan bahasa (amat banyak bahkan).

Para pendiri bangsa, sudah mewariskan semangat persaudaraan dan kebersamaan yang dituangkan dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini sudah cukup untuk merekatkan perbedaan yang ada. Sudah teruji sekian lama dengan terpaan demi terpaan.

Bagi generasi muda, sudah saatnya kita mulai ambil peranan dalam memperjuangkan keberlangsungan bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini lewat kegiatan-kegiatan positif, serta tingkah laku keseharian yang sejuk dan damai.
Tidak usah terlalu muluk-muluk, apalagi harus disertai kekerasan dan angkat senjata. Ini sudah bukan jaman penjajahan, tetapi era mengisi dan mempertahankan kemerdekaan.

Dengan menyadari bahwa setiap manusia diciptakan setara oleh Tuhan, kita akan mampu manyadari mengapa dari setiap kita sebagai pribadi diciptakan, eksis dan ada di dunia ini. Kebetulan kita, anda dan saya terlahir di atas bumi yang disebut sebagai Negara Indonesia ini. Lebih sempit lagi, kampung tempat kita tinggal masing-masing.

Pandangi saja sekitar tempat tinggal kita. Ada banyak manusia yang sama dengan kita yang memiliki kelebihan, kekurangan, keberuntungan dan masalahnya masing-masing. Terkadang manusia mampu memecahkan semua persoalan hidupnya sendiri, tetapi tidak jarang yang membutuhkan orang lain. Begitu juga saya dan anda.

Hidup rukun, bersahabat dan berdampingan sesama manusia tanpa memandang latar belakang, apalagi mempertanyakan keyakinannya, akan sangat berdampak besar bagi perkembangan relasi positif yang saling menguatkan satu sama lain.

Bukankah ketika semua saling bergandengan tangan, tolong menolong, bahu membahu dalam mengatasi dan mencari solusi sebuah permasalahan, akan lebih terasa ringan ? Bukankah ketika hidup di keseharian kita semua dilandasi semangat saling mengasihi dan menghargai sesama manusia akan terasa lebih damai dan menentramkan ?

Menerima perbedaan dengan sikap saling menghormati adalah langkah awal yang bisa kita semua lakukan sebagai generasi muda agar mampu menjadi sahabat Bagi semua orang. Dengan menjadi sahabat setiap orang, kita sudah ikut andil dalam memperkuat dan merawat persaudaraan, serta persahabatan dalam kehidupan bangsa kita

Dalam persahabatan, Hubungan atau relasi antara Pimpinan dan bawahan, antara pejabat dan anak buah, yang berjarak dan mengandung kesenjangan, dirubah menjadi relasi dua arah yang pasti mengangkat martabat dan harkat manusia. Ketika hubungan atau relasi semacam ini terjadi, maka akan terbuka ruang-ruang penerimaan baru pada masing-masing pribadi, bagi tumbuh dan berkembangnya kerukunan, nilai-nilai luhur perdamaian, serta pengertian.

Persahabatan yang dilandaskan pada cinta kasih, adalah solusi dan harapan bagi kita semua bangsa Indonesia untuk keluar dari sekat-sekat suku, budaya, agama, dan lain sebagainya. Bagi sahabat-sahabat generasi muda, mari gaungkan pesan persahabatan yang pasti akan mengarahkan dan membawa kita kembali kepada sejarah bersama bangsa Indonesia, cita-cita bersamanya, dan perjuangan bersama bagi kemanusiaan, untuk terwujudnya sebuah peradaban penuh kasih dan damai, bagi Indonesia yang bermartabat.

“Saat simbah kakung masih hidup, malam satu suro menjadi malam yang ditunggu-tunggu. Biasanya simbah akan puasa pati geni (puasa tidak berbicara) sebelum malamnya menjalani ritual ngumbah gaman (mencuci pusaka)”

Orang Jawa menyambut Suro dan Muharram dengan berbagai perayaan dan pensakralan. Hal ini tidak terlepas dari penanggalan Jawa dan kalender Hijriah yang memiliki korelasi dekat. Menurut Muhammad Sholikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa; pengaruh kontrol kraton yang kuat melatarbelakangi tindakan revolusioner Sultan Agung dalam upayanya mengubah sistem kalender Saka (perpaduan kalender Jawa asli dengan Hindu) menjadi penanggalan Jawa yang merupakan perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriah.

Revolusioner ini membuat bulan Suro atau Muharram dianggap istimewa.
Berbagai tempat mengadakan perayaan untuk memperingatinya, bukan sekedar untuk kegiatan keagamaan namun perayaan kultur budaya dengan mengangkat berbagai tradisi masyarakat.

Di Kota Yogyakarta, Suro atau Muharram dirayakan dengan prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng. Seperti namanya, Lampah Budaya Mubeng Beteng adalah ritual berjalan kaki mengelilingi benteng yang memagari keseluruhan wilayah Kraton Yogyakarta.

Tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram di Kotagede ratusan tahun silam yang dilakukan oleh Prajurit Kraton untuk menjaga keamanan wilayah Kraton. Dalam tradisi ada pantangan yang harus ditaati oleh yaitu tidak boleh bersuara apalagi berbicara dengan yang lainnya. Pantangan berbicara inilah yang sering dikatakan sebagai Topo Bisu alias tidak berbicara. Selain itu dilarang makan dan minum selama prosesi.

Walau melelahkan, tentu saja kegiatan ini bukan tanpa makna. Lampah Budaya Mubeng Beteng bertujuan untuk bersyukur, mendoakan keselamatan lahir dan batin bagi bangsa, negara, keluarga, hingga diri sendiri. Melakukan instropeksi diri atas perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir, serta berjanji untuk memperbaiki di tahun-tahun mendatang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

Prosesi berjalan dilakukan dengan rute ke arah barat kemudian ke selatan, ke timur, baru ke utara, dan kembali ke tempat dimulainya prosesi ini. Dimulai dari Ndalem Ponconiti, kemudian berjalan melalui jalan Rotowijayan, jalan Agus Salim, jalan KH Wahid Hasyim, pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, pojok Beteng Wetan, jalan Brigjen Katamso, jalan Ibu Ruswo, Alun-alun Utara, dan baru kembali ke Ndalem Ponconiti. Totalnya sekitar empat kilometer atau dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk menyelesaikannya.

Lampah Budaya Mubeng Beteng menjadi bukti kebersamaan rakyat yang terjalin di Yogyakarta. Melalui prosesi ini kita diingatkan meskipun diam, sebenarnya rakyat bukan pasif tapi juga tetap bersuara. Adanya hoax, ujaran kebencian, dan teror merupakan ancaman bagi persatuan bangsa. Melalui filosofi Lampah Budaya Mubeng Beteng, semoga kita dapat merevitalisasi kembali semangat gotong-royong bersama melawan hal-hal yang memecah kesatuan Negara Indonesia dengan membentenginya dari Kota Yogyakarta.

Ditulis oleh : @catherine.cece

Hari Lahir Pancasila Saatnya Damai Dan Toleran

Hari lahir Pancasila mengingatkan kita kembali akan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam dasar negara Indonesia ini. Pancasila sebagai pandangan hidup tentu saja bukan hanya sebatas teori tanpa dasar dan tujuan. Walaupun bangsa Indonesia hidup dalam perbedaan, namun Keutuhan NKRI adalah yang utama. Berbeda kepribadian, kebiasaan, suku, budaya dan agama bukan alasan untuk tidak saling menghormati dan bertoleransi.

Hari lahir Pancasila
image : Instagram Duta Damai Yogyakarta https://www.instagram.com/p/ByJ4-sbArG0/

Pancasila adalah jaminan dan harapan bangsa Indonesia untuk dapat hidup damai berdampingan. Pancasila mengajarkan kepada kita semangat untuk mengakui dan memperlakukan setiap orang sederajad, yang mempunyai martabat mulia sebagaimana dia adalah sesama makhluk Tuhan Yang maha Esa.

Pancasila juga menjamin kesamaan hak dan kewajiban masing-masing pribadi untuk dapat hidup damai sesuai dengan pilihan hidupnya tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, status sosial, dari suku dan keturunan mana dia berasal, termasuk juga dalam hal keyakinan.

Pancasila adalah anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia yang dilantarkan oleh para pendahulu dan pendiri negara ini. Selain Pancasila adalah panduan hidup berbangsa dan bernegara, Pancasila adalah juga benteng yang kokoh untuk masukknya ideologi lain yang berusaha mencerai beraikan bangsa.

Berikut adalah sebuah tembang jawa karya seorang putra bangsa yang dipersembahkan khusus dalam rangka peringatan hari Pancasila :

KIDUNG PANCASILA

SINOM

1.Wiwit mudha Nusantara/
Ngugemi dhasar negari/
Mung sawiji Pancasila/
Angesuhi N.K.R.I./
Wis dadi rega mati/
Kukuh bakuh tan amingkuh/
Putra bangsa negara/
Mbélani saéka kapti/
Kanggo mangun mrih Nusantara sentosa//

2.Manembah Gusti sajuga/
Silané kang angka siji/
Ngayomi wong Nusantara/
Merdika milih agami/
Laku ngimani Gusti/
Tan bisa ingarubiru/
Kapindho kamanungsan/
Tresna sesami dumadi/
Ora nganggo emban cindhé mban siladan//

3.Saéka sa Nusantara/
Silané ingkang kaping tri/
Manéka suku budaya/
Indonesia nyawiji/
Nggènira olah nagri/
Sareng lan kawulanipun/
Musyawarah kang wicak/
D.P.R. wakilirèki/
Lah punika kaping pat lan candhakira//

4.Pungkasan kang kaping lima/
Adil kanggo sanegari/
Merauke nganti Sabang/
Aja kongsi éwa ati/
Mangun nagri waradin/
Dadiné ora tumpangsuh/
Punika Pancasila/
Dhadhagana praptèng lalis/
Dimèn tentrem Nusantara salaminya//

5.ANtepé ngluri budaya/
TONto saking jaman nguni/
SUpaya ora kélangan/
PARandéné tan kadugi/
NYObi sagaduk mami/
BOdho tur karoban cubluk/
CAHyanira tan ana/
DÉ seratané tan aji/
SAged kula namung nyuwun pangaksama//

Sorblimbing,Tumpak Jenar 18112017
28 Sapar 1951 Dal, Wuku Langkir,
Ki Sandinama.

Ketikan bahasa Indonesia (terjemahan) :

1.Sejak semula Nusantara usia muda,
Sudah menetapkannya,
Satu dasar Pancasila,
Sebagai pemersatu NKRI,
Yang sudah harga mati,
Tetap setia tidak akan berkhianat,
Semua anak bangsa,
Bersatu membela dan mempertahankan,
Untuk membangun Nusantara yang kuat.

2.Ketuhanan Yang Maha Esa,
Itu sila pertama,
Melindungi segenap warga negara,
Bebas memilih agama yang dianut,
Sebagai ungkapan iman kepada Tuhan,
Tidak ada yang bisa menganggu gugat,
Kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Sebagai ungkapan cinta sesama,
Tanpa pandang bulu.

3.Persatuan Indonesia,
Itu sila yang ketiga,
Bangsa yang majemuk ini,
Adalah satu Indonesia,
Bagaimana menyelenggarakan negara,
Bersama dengan rakyatnya,
Kerakyatan yang dipimpim oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusawaratan perwakilan,
Wakil rakyat ada di DPR,
Itulah sila ke empat dan berikutnya.

4.Terakhir sila kelima,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
Dari Sabang sampai Merauke,
Jangan ada yang iri hati,
Pembangunan negara merata,
Tidak ada yang dianaktirikan,
Itulah Pancasila,
Pertahankan sampai titik darah terakhir,
Agar Nusantara tentram dan sentosa.

5.Maksud hati memelihara budaya,
Meneladani moyang tempo dulu,
Agar tidak kehilangan,
Namun kemampuan penulis terbatas,
Mencoba sesuai kemampuan,
Bodoh kurang pengetahuan,
Hasilnya kurang bermutu,
Tulisan tidak indah,
Penulis mohon maaf.

Selamat Hari Lahir PANCASILA !

Naik Level di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa yang sungguh dinantikan umat muslim, karena di bulan ini pahala ibadah kita dilipatgandakan. Diampuni semua dosa-dosa dan khilaf yang sudah dilakukan. Di bulan ini pula kesempatan bagi setiap orang untuk lebih meningkatkan ketaqwaan

Umat muslim di seluruh dunia sekarang ini sedang menjalani training dan ujian menahan rasa haus dan lapar, dengan berpuasa tidak makan dan minum dari sejak dini hari sampai dengan matahari terbenam.

Setiap hari kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi. Terkadang lupa bahwa kita ini ada di dunia karena ijinNya. Lupa untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Bahkan Tuhan sampai saat ini pun tidak pernah sedetikpun meninggalkan kita.

Puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Kita bisa menemukan kembali momentum, merekatkan kembali semua hal yang membuat kita menjauh untuk kembali mendekat kepadaNya. 

bulan ramadhan

Manusia sebagai makhluk paling sempurna memiliki dua aspek yaitu jasmani dan rohani. Maka, kedua aspek ini harus bisa dipenuhi agar hidup manusia itu seimbang.

Level paling bawah kebutuhan manusia adalah tentang makan. Kebutuhan untuk terus menghidupi sel-sel di dalam tubuhnya. Apabila kebutuhan biologis sudah terpenuhi maka level berikutnya adalah kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, ketentraman dan kenyamanan.

Level diatasnya lagi lebih tinggi dari yang hanya urusan perut yaitu kebutuhan akan eksistensi, perhatian dan pengakuan. Kebutuhan bersosialisasi dengan orang lain di lingkungan tempatnya beraktifitas.

Level tertinggi dari semua itu adalah kebutuhan sepiritual atau rohaniah. Pada tingkat ini seseorang akan merasakan ketenteraman dan kedamaian. Setiap langkahnya pasti juga akan mencerminkan apa yang dia rasakan. Siapa saja pasti merasa nyaman berada di dekat orang yang sudah mencapai level ini.

Di bulan Ramadhan ini umat Islam tidak hanya dilatih untuk tahan godaan secara fisikal, namun mampu level up dalam hal kepribadian. Mampu introspeksi atas semua yang sudah dilakukan. Memilah dan memilih dengan sudut pandang positif. Mampu memandang segala sesuatu dan semua yang terjadi dalam hidup dan orang-orang di lingkungan sekitar hanya terselenggara atas kehendakNya.  

Pengembangkan diri ini penting, hijrah dari sekedar pemenuhan jasmaniah. Kita semua diajak untuk beranjak dari tingkat jasmaniah ke tingkat yang paling tinggi, yaitu mencapai kedamaian dan ketentraman.

Tujuan diwajibkannya puasa di bulan suci ini tiada lain supaya umat muslim menjadi bertaqwa. Dengan bertambahnya ketaqwaan seseorang, pasti akan berimbas pada kehidupan sosialnya. Terutama dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih saat ini bangsa Indonesia sedang dihadang dengan upaya provokasi oleh segelintir orang dengan cara menyebarkan berita bohong atau hoax.

Kebiasaan menahan diri dalam kegiatan berpuasa pastilah juga mengasah kemampuan untuk lebih bijak dan cerdas dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak mudah menyakiti umat lain, tidak gampang mendiskriminasi seseorang hanya karena beda suku, ras dan agama. Itulah sejatinya makna takwa sebagai hasil dari pembersihan jiwa selama berpuasa.

Semoga ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini Allah memberkati, mengampuni dosa dan semua kekhilafan, Menghantar kita menjadi pribadi pribadi utama dan akhirnya menjadikan diri kita sebagai golongan muttaqien. Amin

Sutanto Prabowo

Duta Damai BNPT