Keimanan adalah modal untuk bertahan

Bangsa indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Bangsa yang yang selalu berpegang pada norma-norma agama yang dianutnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal Ini juga tercantum dalam sila pertama Pancasila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Keimanan kepada Tuhan adalah modal terbesar bagi seseorang agar mampu bertahan hidup dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam hidupnya. Terutama bagi mereka yang mengimaniNya.

Keimanan seseorang dalam keseharian mungkin bisa berubah ubah. Terkadang terlihat kuat dan kokoh hingga ia mampu mensikapi segalanya dengan bijak dan tegar. Namun tidak jarang pula ia akan terlihat begitu lemah dan terpuruk ketika hawa nafsu lebih menguasai dan dominan dalam hatinya.

Keimanan

Proses membentuk keimanan yang kuat dan stabil, tentunya tidak bisa dicapai dengan cara instan, akan tetapi terus berjalan seumur hidup. Dibutuhkan berbagai macam perkara,  supaya imannya bersemi, bertumbuh dan akhirnya berbuah manis.

Terlepas dari proses keimanan seseorang, sebagai orang Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, kita perlu melihat kembali kata-kata bung Karno Presiden pertama RI yang mangatakan “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara yang kaya raya ini”.

Hal ini kalau kita sikapi dengan positif tentu bisa jadi salah satu pegangan kita dalam bersikap dan bergaul dengan sesama manusia. Bersyukur atas keberadaan sesama di sekitar kita, yang suatu ketika mungkin harus berpegangan tangan bersama dalam menghadapi sesuatu. Hal ini justru akan bisa menjadi cerminan kedalaman keimanan seseorang. Bahwa Keimanan seseorang tidak lalu menjadikannnya eksklusif tetapi inklusif.

Terutama disaat seperti sekarang ini, ketika pandemi corona melanda negeri, setiap orang berkesempatan untuk saling membantu, berperan sebagai seorang inspirator bagi orang lain. Berguna bagi sesama, transformatif, berdaya ubah dengan tetap menyandarkan diri pada keimanan masing-masing.

Kalau ini benar-benar dimaknai sebagai implementasi dari keimanan kita, tentunya akan semakin mempererat tali silaturahmi antar anak bangsa. Dan dengan eratnya tali silaturahmi yang terjalin justru akan semakin menyempurnakan ibadah kita masing-masing sebagai manusia yang beriman.

Pluralitas masyarakat Indonesia, terutama dalam hal keyakinan bukanlah untuk dipertentangkan, tapi justru menjadi modal serta kekuatan untuk kita bisa saling mengisi dan mendukung agar senantiasa dikuatkan dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun.

Salam Perdamaian!

Didi Kempot Inspirasi Bagi Negeri

Didi Kempot serupa simbol harapan.

Bisa dikatakan kita generasi yang cukup tangguh. Sebab menjalani hari-hari di tahun terburuk seperti ini tidak pernah begitu mudah. Pun jika bisa dilatih, kupikir kita semua tidak akan mahir dalam waktu sekejap. Tapi tanpa latihan dan persiapan yang matang, kita, manusia yang pongah ini berkali-kali tetap dihantam oleh sesuatu yang memilukan.

Belum kering air mata melihat gugurnya orang-orang rumah sakit yang bertugas menangani korona. Belum selesai cerita kita mengenang Glenn Fredly yang banyak berperan untuk hak asasi manusia. Kini, kita kembali ditampar oleh kenyataan bahwa seorang maestro, Didi Kempot, telah berpulang di puncak kejayaannya.

Sebagai orang Bugis yang tidak paham bahasa Jawa—kecuali sedikit karena dua tahun berkuliah di Jogja—aku melihat sosok Didi Kempot dengan sangat takjub. Meski tidak selalu bisa menyebut kata-kata di lagunya dengan tepat, dan meski tidak pernah datang melihatnya konser secara langsung, sosok Didi Kempot akan menjadi topik yang cukup apik kudiskusikan bersama teman di kampung. Tentang betapa kekalahan dan nelangsa bisa diramu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tentang kesedihan yang kini bisa dirayakan dengan air mata dan tarian.

Indonesia adalah negara patriarki yang malu-malu mengakui dirinya sendiri. Sejak kecil, anak lelaki akan diajarkan oleh orang tuanya untuk menjadi sosok yang tangguh dan tidak boleh menangis. Anak-anak Ahmad Dhani menggambarkan itu dalam lirik lagu “Ayahku selalu, berkata padaku. Laki-laki tak boleh nangis. Harus selalu kuat, harus selalu tangguh. Harus bisa jadi tahan banting”. Laki-laki digambarkan sebagai pejuang, sosok yang tidak boleh meneteskan air matanya. Jika ada dari mereka yang melanggar itu, sudah tentu dikatakan tidak macho atau yang paling tragisnya “KAYAK CEWEK AJA SUKA NANGIS”.

Didi Kempot hadir dengan mewajarkan tangisan pada kaum lelaki. Gayung bersambut, entah jengah mengakui diri sendiri kuat padahal tidak kuat-kuat amat, para lelaki ini kemudian berbalik arah menggandrungi Didi Kempot. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan menangis bersama di tengah kerumunan orang dalam konser Didi Kempot. Mereka kini tidak lagi menangis di kamar mandi, di balik pintu, dan di mana saja yang jauh dari jangkauan orang banyak. Mereka kini mulai membuka diri dan mengakui bahwa mereka juga manusia.

Begitu banyak hal baik yang telah ditinggalkan oleh sosok Didi Kempot. Kepergiannya patut menjadi sesuatu yang membahagiakan. Sebab urusannya di dunia telah selesai dan kini dia bisa beristirahat dengan tenang. Didi Kempot meninggalkan kita, manusia-manusia malang yang masih harus bergelut dengan hidup yang brengsek. Tapi kupikir itu tidak terlalu menjadi masalah. Toh Didi Kempot berpesan “Patah hati tidak usah dibuat sedih, ayo kita jogetin!”

Selamat jalan, Didi Kempot. Sampai jumpa.

Mengenal Jenis Konten


Mengenal jenis konten sebenarnya sangat mudah. Postingan kali ini akan melanjutkan kelas membuat konten beberapa waktu lalu. Kalau kemarin sudah dibahas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membuat  konten yang direncanakan maka postingan ini lebih kepada pembagian konten.

Seperti yang kita tahu bahwa sosial media akan berubah jadi ‘rumah kosong’ tanpa adanya postingan. Postingan atau konten itu juga enggak bisa sembarangan untuk kita yang ingin mencitrakan diri di sosial media. Coba bayangkan saja, kamu buka sebuah akun Instagram, mana yang akan kamu follow: akun yang isinya gak jelas apa konsepnya atau akun yang rapi dengan gambar yang tampak dipikirkan setiap detailnya?
Kalau saya tentu pilih akun yang kedua.

Begitu pun dalam membaca website. Website yang dibuat dengan konsep jelas akan lebih banyak mendatangkan traffic dibanding website abal-abal.

Yuk kita bahas konten yang bisa dibuat.
Secara umum jenis konten yang bisa kita ciptakan ada dua jenis. Yaitu:
1. Konten yang lagi trending
2. Konten yang Evergreen

Apa sih itu konten trending mau pun konten evergreen?

KONTEN TRENDING
Namanya trending ya berarti adalah konten-konten yang sedang naik daun atau viral. Maka konten kita akan mengacu pada hal tersebut.

Contohnya: kemarin lagi viral Prince Mateen maka kita nulis tentang itu atau pas sekarang ini lagi dihajar drakor World of the married. Atau masalah virus Corona sampai disinfektan yang enggak kelar-kelar. Satu tema bisa jadi lebih dari sepuluh tulisan.

Ya sudah jadikan hal-hal itu sebagai konten disesuaikan dengan citra atau niche sosial media kita.

Membuat konten trending sebenarnya tidak terlalu susah. Tinggal membahas hal yang lagi trend. Kelemahannya terletak pada waktu postingan itu di-upload. Kalau sudah lewat masa trending maka akan tampak basi.

KONTEN EVERGREEN
Atau biasa disebut konten timeless. Ciri dari konten ini adalah abadi sepanjang masa. Bisa dipublish kapan saja dan enak dibaca sewaktu-waktu bahkan untuk bacaan dua tahun lagi masih menyenangkan juga relevan.

Contohnya cerita tentang kesuksesan para difabel dalam menjalankan UMKM. Biasanya kalau dalam tulisan panjang konten jenis ini akan cocok masuk dalam jenis tulisan inspirasi atau feature.

Setelah tahu jenis konten dan persiapan membuat konten yang direncanakan, maka selanjutnya adalah menentukan judul.
Postingan selanjutnya akan membahas bagaimana kita membuat judul. Nantikan saja postingan selanjutnya.

Dahsyatnya Sosial Media di Tangan Selebgram

Baru-baru ini seorang selebgram menolak apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang diberikan pada dirinya. Apresiasi diberikan lantaran selebgram tersebut berhasil menggalang dana sebesar 7 miliar dalam waktu satu minggu. Jika ditotal hingga saat ini telah terkumpul 9 miliar dari target pengumpulan yaitu 10 miliar.

Melalui Platform Kitabisa.com, Rachelvennya yang merupakan selebgram dan sering juga disebut-sebut sebagai influencer melakukan penggalangan dana tersebut. Berangkat dari kekhawatirannya mengenai covid-19 ini, terutama pada pekerja medis dan pekerja sektor informal.

“Aku sedikit lega pas pemerintah bilang bisa kerja dari rumah, tapi pasti masih ada pekerja medis dan informal seperti ibu-ibu yang tetap harus bekerja untuk anaknya. “  Tulisan Rachel di halaman Kitabisa.com.

Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk :

  • Menyediakan masker, hand sanitizer, sarung tangan plastik, dan alat perlindungan diri lainnya untuk tenaga kesehatan di Rumah Sakit rujukan covid-19.
  • Menyediakan alat perlindungan diri untuk keluarga petugas kesehatan di RS rujukan covid-19.
  • Memberikan bantuan keseharian untuk pekerja sektor informal seperti ibu-ibu pedagang agar untuk sementara bisa beristirahat di rumah. Bentuk bantuan bisa berupa kebutuhan sehari-hari, alat sanitasi, masker dan hand sanitizer.

Orang-orang yang ikut berdonasi kebanyakan berasal dari followers Instagram Rachelvennya sendiri. Para pengikut ini tahu informasi galang dana hanya dari Instastory atau feeds Instagram. Nah dari situ dapat kita tahu, dengan kekuatan sosial media sesuatu yang tujuannya baik akan berjalan dengan lancar dan dapat banyak dukungan dari ribuan bahkan jutaan orang baik lainnya. Setuju kan? Kecuali kamu salah satu pengguna media sosial untuk hal negatif (baca: suka nyinyir pakai fake account)

            Ngomong-ngomong tentang nyinyir dan fake account, ‘tugas’ para pengguna sosial media yang bijak (termasuk kamu) sebenarnya masih belum tuntas juga. Kamu tahu banyak sekali konten hate speech, anti damai, berita hoax serta artikel-artikel yang dipelintir di media sosial? Efek dari itu semua bisa menimbulkan keresahan sehingga menggiring opini negatif.

Dengan kekuatan sosial media, selebgram, influencer, konten kreator dan lainnya, kenapa pemerintah tidak melakukan endorse kepada mereka yang punya followers beratus ribu dan berjuta-juta untuk mengkampanyekan hal baik dan mempengaruhi followers mereka untuk berkomentar positif? Kan followers mudah sekali diperdaya, ya.. tentu saja dalam hal baik.

Solidaritas Kunci Sukses Kebudayaan

Pada tulisan ini saya terinspirasi dari pemikiran salah satu filosof muslim bernama Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai ilmuwan kebudayaan sekitar abad 14. Konteks zaman ketika Ibnu Khaldun ini mengembara tidak terlalu sesuai dengan isi kepalanya. Pandangan umum yang cenderung memahami kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap dan tertutup cukup populer ketika itu. Kemudian hadirlah sosok Ibnu Khaldun dengan pemikiran alternatifnya memandang kebudayaaan sebagai sesuatu yang dinamis, artinya suatu kebudayaan bukan begitu saja merupakan warisan nenek moyang yang bersifat dogmatis namun sesuatu yang lebih mengalir dan fleksibel.

            Tentu saja pemikiran semacam ini menimbulkan keresahan di kalangan pemikir kebudayaan lainnya ketika suatu hegemoni berpikir kala itu dinegasikan dengan alternatif yang diberikan oleh Ibnu Khaldun. Masyarakat yang berubah dan dinamis seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun sekaligus  menimbulkan tantangan baru terhadap diskursus kebudayaan yang pada saat itu cenderung singular. Memang sejauh ini paradigma kebudayaan yang berkembang seperti itu―kebudayaan yang statis―maka ketika muncul wacana baru tentu sangat mengelisahkan para pemikir.

            Corak berpikir yang kaku selalu menganggap suatu persoalan selalu memiliki jawaban yang identik dengan sebelumnya tanpa memikirkan keterlibatan proses mewaktu. Ibnu Khaldun menjawab kegelisahannya ini dengan menawarkan perspektif baru yaitu dengan melihat sejarah sebagai catatan perubahan-perubahan watak masyarakat. Bahkan dalam pandangannya, Ibnu Khaldun juga menemukan bahwa manusia dapat bersikap jahat dan baik pada saat yang sama. Perluasan cakrawala ini tampaknya juga menimbulkan semangat baru dalam perbincangan kebudayaan yang tidak begitu populer ketika itu.

Baca juga tulisan lain di sini

            Wacana kebudayaan yang dinamis yang dipopulerkan oleh Ibnu Khaldun ini pun membawanya juga untuk merumuskan suatu teori siklus. Teori ini bermula ketika Ibnu Khaldun meyakini bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan politik. Manusia dalam hal ini selalu membutuhkan eksistensi manusia yang lain. Kegiatan bercengkrama ini atau dapat dikatakan sebagai aktivitas sosial kemudian memicu munculnya suatu organisasi sosial. Dengan bentuk sosial yang konsisten inilah maka peradaban manusia dapat diciptakan. Pertemuan manusia yang bersekutu dalam kehidupan sosial inilah yang meniscayakan suatu konflik dapat terjadi. Ibnu Khaldun beranggapan bahwa konflik merupakan suatu yang justru mengharmonisasi ikatan sosial daripada apatisme. Konflik dalam pengertian ini bukan berkonotasi negatif jika dapat dikelola dengan baik. Ibnu Khaldun juga mengharapkan seorang pemimpin yang ideal yang dapat mengelola konflik ini dengan baik, maka tidak heran jika kehidupan saat ini kita selalu membutuhkan sosok pemimpin.

            Pemimpin dalam pengertian ini saya pikir bukanlah suatu jabatan formal namun merupakan suatu tanggung jawab sosial yang diperlukan bagi setiap individu. Dengan demikian kondisi ketiadaan sosok pemimpin yang ideal dapat menimbulkan permasalahan yang serius karena hilangnya tanggung jawab sosial dalam mengelola konflik. Ibnu Khaldun juga dengan perspektif dinamisnya tidak menafikan adanya kemungkinan suatu kemunduran peradaban dalam keadaan buruk tersebut.

Hal ini disebabkan juga karena hilangnya harmonisasi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga kreativitas kebudayaan tidak akan dapat berkembang dengan baik begitupun peradaban juga akan mengalami kemunduran. Ketika tantangan zaman terus-menerus memberikan pertanyaan sedangkan kohesi sosial justru mengendur maka kemunduran peradaban suatu bangsa pun menjadi mungkin. Misalnya jika kita melihat sejarah beberapa kerajaan besar di Nusantara yang pernah mengalami masa kejayaan justru pada akhirnya akan mengalami keruntuhan karena lunturnya semangat solidaritas yang sebelumnya menjadi kunci sukses masyarakat tersebut dalam membangun kebudayaan dan peradabannya.

            Sikap apatisme disini menjadi sangat berbahaya bagi kebudayaan dan peradaban suatu bangsa sebab dapat menjadi faktor rasional bagi kemundurannya. Upaya  memegang teguh kebudayaan tentunya juga harus selaras dengan semangat solidaritas ini yang perlu terus dipupuk di dalam akal budi manusia sebab modal inilah yang memungkinkan suatu kebudayaan dapat menjawab tantangan zaman yang begitu dinamis dan kontingensi.

            Dalam konteks bangsa Indonesia saya pikir perlu untuk menyadari peran pemimpin yang dapat mengelola konflik sosial secara tepat dan adil sehingga dapat ditanggapi dengan baik. Soal pemimpin seperti apa yang ideal itu kita tidak perlu khawatir untuk mencarinya pada setiap pemilihan umum namun harus kita tanamkan keyakinan bahwa pemimpin itu ada dalam diri kita sendiri. Jika kesadaran ini muncul maka secara aksi dapat meng-influence individu-individu lainnya sehingga kita tidak perlu khawatir soal kemunduran dalam kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia, sebab faktor-faktor kemunduran tadi telah dijawab dengan banyaknya pemimpin yang ideal serta solidaritas sosial yang kita miliki.  

Ibnu Khaldun
Kebencian Tidak Akan Membawa Kebaikan

Pernah sakit hati ? wajar bagi setiap orang yang punya perasaan. Bolehlah kalau anda merasa kecewa bahkan marah. Namun jangan sampai membenci.

Dengan Membenci justru memberikan dorongan energi kepada “musuh” untuk menghancurkan diri anda sendiri. Anda akan sangat terganggu sampai tidur pun tidak nyenyak, nafsu makan berkurang, tekanan darah tidak stabil, dan yang pasti akan menjauhkan anda dari kebahagiaan.

Kebencian

Musuh anda atau siapapun yang anda benci pasti akan bergembira. terlebih bila mereka mengetahui kalau mereka dapat membuat anda kacau balau, sedih dan rasa dendam menguasai anda.

Kebencian yang menguasai anda, tidak akan berakibat apapun pada mereka, tetapi justru efek dari kebencian anda akan berbalik mengenai anda sendiri.  Kebahagian anda akan tertutupi dan bahkan dapat menimbulkan pertengkaran.

Kebencian adalah racun mematikan yang tanpa disadari, pelan tetapi pasti akan menghancurkan anda. Menumpuk kepahitan terus menerus akan menggerus hati, pikiran dan pasti mengancam kesehatan.

Sebaliknya, jika hati penuh cinta kasih dan mudah untuk memaafkan, yang terjadi adalah aura positif yang tentu juga menyebar ke sekitar. Dunia terasa indah dan bersemangat dalam menjalani hidup. mengembalikan lagi tawa ceria  dalam keseharian.

Hati yang gembira adalah obat paling mujarab untuk membangun relasi. Menyusun kembali keping-keping perselisihan.

Menebar kegembiraan dan persahabatan akan lebih bermakna dalam hidup, daripada memelihara bibit kebencian yang ada.

Kebahagiaan adalah jalan untuk membuka diri kepada penerimaan akan perbedaan. Akan membuka pikiran positif dan energy luar biasa untuk berkembang menuju kesuksesan.

Dalam kehidupan bersama, energi positif yang ditimbulkan karenanya akan mampu menerobos segala tantangan dan meninggikan semangat solidaritas, kebersamaan serta toleransi.

Salam Perdamaian !

Merencanakan Konten Sosial Media

Jika ditanya, apa yang paling identik dengan kamu (anak muda), maka saya yakin jawabannya tidak jauh-jauh dari seputar sosial media. Instagram, Facebook, Twitter, Tik Tok, YouTube, dan lain sebagainya.

Facebook adalah media sosial yang paling gampang dipelajari pula menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak kecil sampai kakek nenek, dari kaum perkampungan sampai urban. Hanya saja daya tariknya semakin hari semakin melemah sejak kehadiran Instagram. Meski begitu bukan berarti Facebook sudah tidak digemari. Indonesia masih tercatat sebagai pengguna aplikasi Facebook dengan jumlah besar.

Twitter dulu sempat booming, namun perlahan goyah dan akhirnya setelah peremajaan kini dia eksis kembali. Penggunanya berbondong ‘pulang kampung’, Twitter jadi satu media yang kembali digandrungi banyak orang. Apa yang ingin diviralkan akan lebih cepat tersiar lewat Twitter dibanding media lain.

Instagram dan tik tok, kurang begitu familiar untuk mereka yang berada di ‘pinggiran’. Dua aplikasi ini memang dikenal cukup berkelas. Bahkan tidak jarang dijuluki ‘tempat untuk pansos’. Etalase pamer. Diam-diam banyak yang kurang percaya diri untuk mengisi Instagram karena dirasa tidak menarik, tidak berkelas atau dianggap tidak menjual.
Padahal sama dengan media sosial yang lain, baik instagram mau pun tik tok adalah media untuk berekspresi dan saling sapa. Meski tidak bisa dihindari, semua media sosial juga bisa jadi alasan sebuah konflik.

Kunci dari sosial media tentu saja konten. Apa pun aplikasinya, yang kita posting di situ disebut konten. Yang perlu digaris bawahi, konten yang kita buat itu apakah konten baik, positif dan berkualitas atau justru sebaliknya?
Tidak jarang, niat kita baik menciptakan konten tapi ditanggapi berbeda oleh netizen.

Semalam di kelas online sosial media, saya mencatat beberapa hal berkaitan dengan konten. Semua anggota kelas online setuju bahwa konten baik, positif dan berkualitas sangatlah penting. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa konten menjadi salah satu gerbang untuk bertemu patner/ klien. Sebagian yang lain beranggapan konten yang dishare di media sosial adalah citra dari si pemilik akun. Konten di sosial media menjadi satu identitas bagi seseorang.

Personal branding seseorang bisa dibangun melalui unggahan konten di sosial media. Saya sepakat dengan ini.
Baik itu sosial media pribadi mau pun sosial media komunitas/ instansi. Tidak jarang sebelum berkenalan atau  memulai kerjasama, kita saling cek sosial media yang bersangkutan.

Era influencer dimulai dari semenarik dan sekuat apa media sosial seseorang. Brand tidak akan dengan ceroboh asal memilih akun untuk jadi mitranya dalam memasarkan produk.
Kadang kala akun kita tidak terpilih bukan karena postingannya yang buruk atau kurang menarik. Namun lebih kepada kita yang belum punya ciri khusus.

Ada beberapa hal yang sudah saya catat tentang bagaimana menciptakan konten yang menarik perhatian khalayak. Hal-hal dasar ini bisa dipraktikkan jika kita memang ingin menjadikan sosial media sebagai satu wadah identitas diri.
Kunci konten yang baik adalah konten yang direncanakan, begitu menurut Kak Wardah selaku social media associate  CFDS.

Berikut hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menciptakan perencanaan konten, yaitu: menentukan bahasan media sosial, menentukan tujuan dari media sosial, dan terakhir mengenal media sosial yang ingin dipakai.
Persis seperti yang tertulis di awal postingan ini, bahwa sosial media baik itu Twitter, Facebook, Instagram, tik tok dan lain sebagainya, adalah punya karakter sendiri-sendiri.

Jika kita sudah tahu media apa yang dipakai, untuk apa konten itu dibuat pula tema apa yang kita ambil, maka akan mudah untuk membuat kontennya.
Setelahnya baru kita promosikan hasil karya kita.
Bagaimana caranya? Next time akan ada postingan lanjutan di website ini.

Glenn Fredly Si Pembawa Misi Kebaikan

Sumber gambar: Bisnis.com

Save Lokananta menjadi salah satu kampanye yang pernah digaungkan oleh Glenn Fredly. Penyanyi bersuara emas ini memang telah meninggalkan kita, namun kebaikannya akan terus hidup di tengah kita. Semasa hidup, ia aktif menyuarakan kebaikan dalam aksi sosial, kemanusian bahkan lingkungan.

Studio rekaman Lokananta di Kota Solo, Jawa Tengah menjadi salah satu saksi kebaikannya. Studio ini telah lama tidak digunakan, berkat kepedulian Glenn Fredly terhadap dunia permusikan membuat studio ini kembali dikenal masyarakat Indonesia. Ia mencoba mengajak masyarakat, untuk peduli serta menjaga studio ini agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman.

Pada 2012, ia membuat rekaman DVD di studio tersebut yang berjudul “Glenn Fredly and Bacucakar Live From Lokananta”. Aksinya kemudian diikuti oleh musisi lain seperti Efek Rumah Kaca, Slank, Senyawa dan White Shoes and The Couples Company (WSATCC). Bukan hanya melakukan rekaman saja, namun Glenn juga membawa peralatan musik dari Jakarta, guna mengembalikan lagi kehidupan permusikan di studio tersebut.

Aksinya ini seakan membawa angin segar bagi studio tersebut. Studio yang telah lama diabaikan oleh masyarakat, mulai dikenal kembali. Perusahaan Glenn diberi mandat untuk mengelola konten Lokananta selama 10 tahun. Berbagai rencana untuk menghidupkan kembali studio ini telah disiapkan.

Misi kebaikan Glenn Fredly bukan hanya berhenti di dunia permusikan, namun juga di bidang lingkungan. Ia pernah mengadakan konser amal untuk pemanasan global. Konser ini juga menjadi awal mulanya tertarik menjadi aktivis lingkungan. Selain itu, dikutip dari National Geographic film dokumenter yang berjudul An Inconvenient Truth (2006) juga menjadi alasannya mengapa ia tertarik menjadi aktivis lingkungan.

Baginya pemanasan global bukan hanya menjadi isu namun realita yang harus dihadapi setiap hari, sehingga ia harus melakukan sesuatu yang berguna bagi bumi. Sesuai dengan bidang yang ia tekuni, dunia permusikan menurutnya dapat menjadi alat yang efektif untuk menyuarakan isu ini. Ia mengajak musisi lain serta masyarakat untuk lebih peduli terhadap pemanasan global.

Bukan hanya itu saja, Glenn juga membentuk sebuah yayasan yang peduli terhadap isu lingkungan. Ia memberi nama yayasannya Green Music Foundation. Yayasan tersebut banyak melakukan aksi lingkungan seperti, di Mentawai dan permasalahan sumber air bersih di Nusa Tenggara Timur.

Lahir di Jakarta, memiliki darah Indonesia Timur. Membuatnya membawa visi untuk selalu menempatkan Indonesia Timur dalam aktivitasnya. Ia selalu menggaungkan kampanye kemanusian bahwa “Indonesia bukan hanya Jakarta dan Jawa” “Indonesia tidak akan menjadi Indonesia kalau tidak ada Indonesia Timur” serta kampanye lainnya. Aksinya bukan hanya dilatar belakangi karena ia memiliki darah dari Indonesia Timur, melainkan karena kepeduliannya terhadap masyarakat di Indonesia Timur.

Ketidakadilan menjadi kunci utama mengapa ia gigih menyuarakan aksi untuk Indonesia Timur. Ia ikut aksi dalam membantu pembebasan tahanan politik, keadilan masyarakat Papua, membawa musisi-musisi Maluku ke Jakarta, serta membuat film Beta Maluku. Aksinya ini mencerminkan bahwa Indonesia itu satu, tidak ada perbedaan suku dan ras sehingga, setiap masyarakat Indonesia harus memiliki keadilan yang sama.

Lahir dan besar di lingkungan yang menganut ajaran Nasrani, tak lantas membuatnya menjadi pribadi yang intoleren terhadap ajaran agama lain. Glenn menjadi sosok yang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Di media sosialnya, ia kerap memberikan ucapan menjalankan ibadah kepada agama lain.

Bukan hanya itu saja, Ia juga pernah ikut mendengarkan ceramah Quraish Shihab bersama Najwa Shihab lengkap dengan busana koko serta peci. Baginya perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk bersama-sama mengejar kebaikan dalam kemanusian. Glenn juga pernah melantunkan sholawat badar, yang seperti kita ketahui menjadi pujian bagi umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW.

Glenn Fredly bukan hanya dikenal karena lagunya yang menharu biru. Melainkan, kebaikannya semasa hidup. Raganya memang telah tiada, namun misi kebaikannya akan tetap hidup di tengah kita.

Adakah Sisi Positif Dibalik Wabah Corona?

Kecemasan dan kepanikan terjadi di seluruh penjuru dunia, setelah wabah Corona (Covid-19) mulai menyebar ke negara-negara lain semenjak kejadian pertama di Wuhan.

Virus ini menyebar bak air bah yang menerjang semua tanpa pandang bulu. Bagi yang terkena, jika tidak diambil tindakan yang tepat, bisa berujung kematian. Terlebih lagi bahwa virus ini belum ada vaksin nya.  

Dampak Jelas yang ditimbulkan corona tidak hanya dari aspek psikologis semua orang, tetapi juga telah meruntuhkan ekonomi di banyak negara. Ekonomi global terancam dan mengalami perlambatan. Bahkan ada beberapa negara yang terancam akan terjadi resesi karenanya.

Dari sekian efek luar biasa negatif yang ditimbulkan virus covid-19, masih adakah dampak baik atau sisi positifnya?

Samuel Paul Veissière Ph.D, seorang ilmuwan kognitif dan antropolog interdisipliner mengatakan bahwa ketakutan yang berlebihan dalam kondisi wabah corona justru akan sangat merugikan. Ketakutan ini bisa menimbulkan kerawanan ekonomi, sosial serta psikologis tanpa disadari.

Ketakutan yang berlebihan akan mengakibatkan situasi menjadi sulit, terutama ketika informasi valid tentang kondisi sebenarnya akibat dampak virus corona, bersanding dengan berita-berta hoax yang ramai bertebaran di media sosial. Jika filter yang dimiliki seseorang tidak bekerja dengan baik akibat kepanikan, maka situasi yang terjadi dapat menempatkan orang dalam kondisi rentan.

Walaupun demikian, Veissière menegaskan juga bahwa wabah covid-19 ternyata juga membawa banyak sisi positif. Salah satunya, adalah berita baik bahwa ada sangat banyak pasien yang mampu sembuh.

Ternyata, dari sekian hal buruk yang terjadi, selalu saja muncul serangkaian peristiwa positif yang menyertai dan muncul secara tidak terduga.

Seseorang terkadang terlalu menganggap remeh sesuatu. kita biasanya acuh atau tidak menaruh perhatian, mengingat bahkan menghargai sesuatu sampai hal yang tidak kita perhatikan tersebut hilang bahkan hancur dari hadapan.

Sebagai contoh, seorang yang mengidap penyakit pernafasan seperti asma yang tahu sulitnya bernapas, pasti akan sangat menghargai udara serta memperhatikan kesehatan paru-paru. Hal lain, misalnya dengan saudara-saudara kita yang tidak memiliki anggota tubuh lengkap. Mereka akan juga sangat menghargai hal-hal yang berhubungan dengan kebebasan bergerak.

Dari sebuah kecelakaan kecil, kita jadi teringat orang yang kita cintai. Keadaan ketidakmampuan yang terjadi akibat virus Corona ini pun dapat dengan mudah memicu solidaritas banyak teman serta kerabat untuk yang menawarkan bantuan.

Wabah, bencana, penyakit ataupun kecelakaan, bisa menjadi berkah karena kejadian ini menyatukan keluarga, sahabat maupun komunitas.

Virus covid-19, telah mengingatkan dan mengajarkan umat manusia untuk lebih memperhatikan kesehatan. Lebih banyak bersyukur pada apa yang sudah Tuhan berikan atas kesehatan dan kesempurnaan tubuh.

Bersyukur Bahwa kita adalah bagian dari rantai kompleks setiap kegiatan kehidupan yang terjadi sehari-hari di masyarakat, yang tanpa orang lain kita tidak bisa hidup sendiri. Menjaga satu sama lain adalah sesuatu yang paling mungkin dilakukan spesies yang disebut “manusia” ini, untuk dapat bertahan hidup dan melawan setiap rintangan. Wabah Corona (covid-19) ini juga mengingatkan kita kembali akan betapa berharganya setiap pribadi.

Dari berita yang hadir dari seluruh belahan dunia, banyak negara yang mulai saling membantu, ber gotong-royong, bekerja sama dengan negara lain tanpa lagi melihat sekat dan batas negaranya. Ini menjadi kejadian kemanusiaan luar biasa yang akan dicatat sepanjang sejarah.

Banyak orang dengan suka rela membantu orang lain, gegas dan tanggap dalam melindungi yang lemah, orang asing, bahkan terhadap orang yang diangap  musuh sekalipun. Inilah sekarang yang juga terjadi dengan Israel dan Palestina.

Ternyata pandemi pun bisa menawarkan peluang untuk menyatukan umat manusia untuk bersama-sama melawan ancaman, tanpa lagi memperhatikan suku agama dan ras.

Dari sini, Kita semua manusia akan belajar pentingnya untuk tetap terhubung dengan orang lain dengan tetap memperhatikan keselamatan diri sendiri.

Selain itu, ada juga hal baik lain sebagai akibat hadirnya wabah corona atau covid-19 yang bisa kita rasakan. Selama ini, kita disibukkan dengan aktifitas sehari-hari yang terkadang terasa “over dosis”, menyita waktu dan tenaga.

Wabah ini membantu kita untuk sedikit rehat, jeda dari kerja keras dan produktivitas berlebih. Sebab kita terpaksa harus mengkarantina diri.

Walaupun dalam situasi terpaksa, namun banyak orang mulai merasakan, bahwa mereka memiliki waktu lebih untuk beristirahat, menjalankan hobi dan menikmati quality time bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Ada juga peningkatan tajam perbaikan kualitas udara dengan emisi karbon yang mencapai titik terendah setiap hari. Hal ini pasti juga mengingatkan kita akan kerusakan yang sudah manusia lakukan, dan sekaligus menunjukkan pada kita cara untuk memperbaikinya.

sisi positif wabah corona

Ada waktunya segala sesuatu dapat kita lakukan sesuka hati, berlarian bebas dibawah mentari. Ada kalanya juga saat-saat kita harus menahan diri, bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Terasa sulit memang, menerima bahwa saat ini, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tetap di rumah. Semua ini dilakukan untuk menyelamatkan hidup dan saling menjaga satu dengan yang lain. Bersyukur, akan lebih terasa mendamaikan dalam masa-masa sulit. Yakin akan terbit pelangi indah dan mentari hangat yang menyapa setiap pribadi.

Film For Sama: Melihat Kehidupan dalam Perang

Film For Sama ini menceritakan mengenai kehidupan sepasang suami-istri yang hidup ditengah peperangan. Dalam film ini diceritakan bagaimana seorang istri, sebagai jurnalis mengabadikan kehidupan selama peperangan. Sedangkan suaminya adalah seorang dokter yang harus merawat dan menangani masyarakat dalam peperangan.

Film ini merupakan kisah nyata, yang diambil di Aleppo, Suriah. Film dokumenter yang diambil sendiri tokoh utama, Waad Al Khateab, dan mengabadikan kehidupan suaminya sebagai dokter, Hamza Al Khateab. Keduanya dipertemukan dalam situasi perangan dan menikah. Kemudian mereka melahirkan anak, yang diberi nama Sama. Sama menjadi anak yang dibesarkan dalam kekacauan negara yang mengerikan.

Film for sama

Sebagian besar film mengambil setting rumah sakit, di mana Hamza Al Khateab sebagai salah satu pendiri rumah sakit tersebut. Karena situsai yang diambil di rumah sakit, maka film ini memperlihatkan ceceran darah di mana-mana. Kita bisa menyaksikan bagaimana mengerikannya situasi kehidupan masyarakat yang berubah dan nyawa hilang dengan begitu saja.

Bagi Hamza dan Wardah, rumah sakit menjadi “rumah sendiri”. Kehidupan sehari-hari mereka habiskan di sana. Mereka harus siap menerima para korban peperangan kapan saja. Film ini tidak hanya bercerita tentang momen bagaimana kehidupan mereka berdua, tetapi memperlihatkan momen kehangatan dengan para tenaga medis lainnya.

Karena rumah sakit juga sebagai tempat tinggal para medis, maka di dalamnya dibuatlah perlindungan dari serangan peluru dan bom. Seluruh dindingnya dilapisi dengan karung dan disediakan banker untuk berlindung saat peperangan sedang berlangsung.

Bagaimana menyedihkanya kehidupan dalam peperangan sangat terlihat. Saat para korban berlumuran darah, anak kecil yang meninggal bahkan ada sepasang saudara yang mengantar adiknya sendiri yang sudah tidak bernyawa karena bom. Terlebih peperangan yang terjadi saat malam, tidak hanya menyulitkan pencarian korban, tetapi listrik padam yang menyulitkan para tenaga medis untuk memberi pertolongan.

 Film ini memperlihatkan peperangan tidak hanya mengubur dan meruntuhkan bangunan yang ada. Tetapi juga mengubur dan meruntuhkan masa depan masyarakat yang ada. Anak-anak banyak yang tidak makan dan tidak mendapatkan asupan gizi yang baik. Bahkan mereka banyak yang ditinggal mati keluarganya sehingga menjadi anak yatim dan piatu.

Tragisnya, rumah sakit yang harusnya menjadi salah satu area bebas dari zona perang, kemudian di bom. Banyak tenaga medis meninggal karena serangan bom yang meruntuhkan gedung rumah sakit. Hingga akhirnya memaksa orang-orang Suriah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Melihat situsai yang semakin buruk, Hamza dan Wardah akhirnya ikut mengungsi. Meski dengan berat hati mereka harus meninggalkan kenangan-kenangan di kampung. Dalam perjalanan untuk mengungsi, mereka harus menghindari zona-zona perang dan harus hati-hati dengan ranjau bom. Dalam perjalannya mengungsi mereka juga harus menempuh puluhan kilo meter dengan jalan kaki. Tidak hanya padang pasir tetapi juga salju mereka harus tempuh. Akhirnya mereka bisa melalui itu dan sekarang mereka tiba di Jerman.

Melihat film ini memberikan pelajaran kepada masyarakat dunia, terutama Indonesia untuk menjaga kehidupan damai. Damai agar tidak terjadi perang saudara seperti yang terjadi di Suriah. Peperangan tidak hanya membawa kerugian secara materi, tetapi juga memberikan dampak kehidupan dalam masyarakat.

Apa yang ada di Indonesia harus kita jaga dan rawat, bahwa negeri ini adalah negeri cinta damai, negeri yang penuh persahabat. Lantas menjadi pertanyaan, bagaimana kita menjaga Indonesia?