Ngabuburit Online : “Yuk Ekspresikan Dirimu”

Ngabuburit Online : “Yuk Ekspresikan Dirimu”

Pada hari Minggu sore tanggal 2 Mei 2021 bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Pada hari itu juga, Muslimah Reformis Yogyakarta mengadakan acara asyik dan seru yang menambah wawasan kita. Acara tersebut dibuka untuk semua orang yang memiliki minat dan dimana pun teman-teman berada dapat mengikuti ngabuburit itu lho! Acara ini diadakan di Pendopo Sapto Darmo Yogyakarta dan juga melalui Zoom Meeting bagi teman-teman yang mengikuti secara online.

Ngabuburit Milenial tersebut memiliki tujuan baik, di antaranya untuk memberikan ruang pada milenial untuk mengekspresikan dirinya secara aman dan nyaman terhadap keberagaman yang dimiliki. Selain itu, untuk memberikan ruang pada generasi milenial untuk mengikis prasangka terhadap perbedaan agama, kepercayaan, ekspresei gender, dan juga pemahaman terhadap kondisi lingkungan kita saat ini.

Dalam acara tersebut, ada tiga narasumber yang turut membersamai kita dalam jalannya acara. Kak Baskoro, seorang penghayat kepercayaan Sapto Darmo. Ada Kak Bagas, seorang yang memiliki minat dan tertarik pada isu lingkungan. Ada Kak Olla, seorang santri yang aktif di Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta. Yuk, baca tulisan ini sampai selesai karena akan ada wawasan menarik dan pelajaran berharga bagi kita lho!

Ada beberapa komunitas dari berbagai agama dan instansi yang ikut serta dan mengikuti acara ngabuburit ini secara langsung di Pendopo Sapto Darmo Yogyakarta.Panitia memulai acara pada pukul 16.00 WIB ketika Ibu Musdah memberikan sambutan mengenai acara ini. Ibu Musdah juga memberikan penjelasan bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur yaitu unsur lahut dan nasut. Nasut adalah sisi manusia yang sering mendiskriminasi manusia dan Lahut adalah sifat dimana sisi yang memiliki kekuatan agar sifat jelek seperti mendiskriminasi dan membeda-bedakan manusia tidak mendominasi dalam hidup kita.

Beliau juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, terutama pada generasi milenial untuk hidup sebagai manusia yang mau menerima perbedaan yang ada.

Ngabuburit Online

MATERI PEMBICARA NGABUBURIT ONLINE

Pertama, Kak Olla menyampaikan ceritanya dan bagaimana dia menjadi transpuan di pondok pesantrennya, yaitu Pondok Pesantren Waria Al Fatah. Kak Olla bercerita bahwa teman-teman transpuan di sana boleh melakukan ibadah sesuai yang nyaman di hati. Di pondok tempat Kak Olla terdapat kurang lebih enam puluh santri. Kak Olla menceritakan di pondok sering mengadakan kegiatan sosial contohnya adalah membuat dapur umum.

Kedua, Kak Bagas dari KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Yogyakarta) di sini berbagi cerita tentang kegiatan yang ada di komunitas KOPHI. Kak Bagas dan teman-teman komunitas mengedukasi masyarakat luas dengan isu-isu tentang lingkungan kepada masyarakat luas. Alasan Kak Bagas mau bergabung di Komunitas KOPHI adalah karena merasa bahwa lingkungan membutuhkan orang-orang yang merasa mau dan aware dengan isu lingkungan. KOPHI Yogyakarta kemarin baru saja mengadakan kegiatan menanam bakau di beberapa pantai.

Ketiga, Kak Baskoro yang adalah Ketua Remaja Penganut Kepercayaan Sapto Darmo wilayah Yogyakarta. Kak Baskoro bercerita juga bahwa dahulu yang terkenal dari Sapto Darmo adalah pengobatannya. Kak Baskoro juga mengatakan sekarang KTP-nya sudah menjadi “Penganut Kepercayaan terhadap Tuhan YME” pada kolom agama. Di Sapto Darmo yang merupakan aliran kebatinan ini memiliki 3 ajaran utama yaitu sujud, Wewarah Tujuh, dan sesanti. Penganut Sapto Darmo dapat melakukan kegiatan ibadahnya baik di rumah secara pribadi atau bersama-sama di sanggar.

MORAL VALUE YANG DIDAPAT

Setelah para pembicara selesai memaparkan materi, panitia memberikan kesempatan untuk para peserta yang ingin bertanya. Terlihat sekali antusias para peserta yang bertanya. Karena jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 17.30 akhirnya teman-teman yang menghadiri secara offline bersiap untuk buka puasa.

Beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama adalah bahwa setiap manusia hendaknya saling menghargai. Walaupun terdapat perbedaan latar belakang, agama, kepercayaan, ketertarikan, dan gender. Apabila kita bisa menghargai sesama, hidup akan terasa lebih indah dengan ketenteraman di jiwa.

Baca Juga : (Cerpen) Pak Sabat, Angkringan, dan Aktivis Gereja

Selain itu, kita hidup di alam ini harus ikut serta berupaya menjaga kelestariannya. Tidak melulu memulai dengan hal besar. Hal kecil yang konsisten kita lakukan dengan sepenuh hati akan tetap berdampak. Byeee! sampai jumpa di tulisan-tulisan lainnya di blog Duta Damai Yogyakarta.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.