Didi Kempot: Perwakilan Patah Hati

Lewat lagu-lagunya yang mewakili perasaan, Didi Kempot  kembali menjadi idola. Ia mengemas lagu-lagunya dengan ramah, yang mewakili perasaan patah hati pendengarnya.  Menariknya, dibelakang kembalinya sang idola, adalah dengan munculnya fenomena anak-anak muda yang mengidolakanya. Mereka sama-sama dipersatukan oleh patah hati kemudian merayakannya dengan mendegarkan lagu-lagu khas dari sang maestro .

Tiap kali Didi Kempot melangsungkan konser isinya adalah kalangan anak muda yang tengah ambyar, atau tengah bersedih. Sobat ambyar menjadi julukan khas dari fans sang maestro. Jika fansnya dijuluki demikian maka Didi Kempot dijuluki dengan sebutan “Godfather of Broken Heart”. Menariknya, saat tengah konser seakan lagu-lagunya menjadi luapan kesedihan mewakili nelangsanya hidup akibat ditinggal sang kekasih, banyak penonton ikut terbawa suasana. Mereka mengikuti lagu yang dinyanyikan sang maestro tak ketinggalan dengan air mata yang terus mengalir di pipi.

Kembalinya Didi Kempot seakan membawa angin segar bagi dunia campursari. Dunia permusikan ini kerap dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan old. Namun, lewat lagu-lagu sang maestro campursari ternyata dapat dinikmati oleh lintas generasi. Bahkan, anak tetangga saya yang masih kecil hafal dengan lirik lagu pamer bojo. Betapa luar biasanya kekuatan dari Lord Didi.

Lagu-lagu sang maestro ini memang kental dengan kehidupan percintaan anak muda. Pesan-pesan sederhana yang terlantunkan dalam lirik lagunya seakan menjadi tanda siklus kehidupan percintaan anak muda. Seperti, mereka yang mencari tambatan hati, mereka yang diombang-ambingkan sang kekasih kemudian diterjun bebaskan. Mereka yang nelangsa karena ditinggal sang kekasih. Mereka yang tak mudah merelakan. Mereka yang menunggu kepastian. Sampai mereka pada di titik mengikhlaskan Lilo aku lilo. Semuanya ada dalam lagu-lagu sang maestro.

Luar biasanya, fans Lord Didi bukan hanya sebatas anak muda ambyar dari Jawa saja. Namun, dari luar Jawa pun juga mengidolakan sang maestro. Pernah saya melihat salah satu konsernya  di youtube, Didi Kempot menyayikan salah satu lagunya bersama anak muda Papua, luar biasa bukan. Ternyata, lirik-lirik lagunya yang kental akan Bahasa Jawa tak lantas, membuat sang maestro hanya dikenal pendengarnya dari jawa saja namun lebih dari itu. Fansnya bukan hanya lintas genarasi, namun juga lintas pulau dan bahasa. Seakan lagu-lagunya menyatukan perbedaan yang ada di negeri ini.

Dikutip dari Tirto.id kembali jayanya Didi Kempot bermula awal Juni lalu, saat itu ia tengah mengadakan konser di Taman Balekambang , Surakarta. Tak disangkanya, anak muda yang berada di barisan terdepan penonton menjadi salah satu kunci namanya kembali melambung. Sejak saat itu pembicaraan mengenai “Godfather of Broken Heart” ini ramai di lini media sosial. Banyak warganet yang berbondong-bondong membagikan penggalan lirik lagu sang maestro, yang sesuai dengan isi hati mereka. Menggambarkan nggrantes nya hati mereka. Ada yang optimis bahkan pasrah menjalani nelangsanya kehidupan percintaan mereka.

Lirik-lirik lagunya seakan memiliki kedekatan emosional dengan kisah cinta anak-anak muda masa kini. Seperti, Layang Kangen yang menggambarkan perasaan penantian kepulangan sang kekasih yang tengah menjalani long distance relationship. Suket Teki, yang lirik lagunya mencoba menggambarkan keoptimisan bahwa segala kenangan indah yang pernah tejadi bakal terulang kembali. Cidro, yang menggambarkan perasaan kecewanya seseorang ketika sang kekasih tak menepati janjinya. Sampai kisah cinta yang tragis Pamer Bojo yang menggambarkan sang mantan kekasih yang telah memiliki kekasih baru dan dipamerkan dihadapannya. Betapa ambyarnya lagu-lagu dari Lord Didi ini.

Pagi ini sang maestro telah berpulang ke rahmatullah. Tentunya menjadi pukulan pedih bagi para pendengarnya. Membuat patah hati bagi pendengarnya. Tagar Didi Kempot serta SobatAmbyarBerduka menjadi trending topic di twitter. Ucapan bela sungkawa tak henti-hentiya datang dari warganet. Meskipun sang maestro telah tiada, namun lagu-lagu ambyarnya akan tetap terkenang bagi pendengarnya. Selamat jalan Didi Kempot.

Dada..dada  sayang

Da.. Selamat jalan

Hari Bumi, Covid-19 dan Introspeksi Diri

Di saat masyarakat tengah diliputi pilu, duka dan ancaman lantaran Covid-19, terdapat kabar baik yang datang dari planet kita. Bumi yang kita tempati menunjukkan perbaikan. Beberapa perbaikan, seperti kualitas udara yang semakin membaik, penurunan penggunaan energi, penurunan volume sampah, dan lain sebagainya.

 Covid-19 yang tengah melanda dunia saat ini, barangkali menjadi cara bumi menyadarkan  kita bahwa,  selama ini kita telah banyak melakukan kerusakan di muka bumi. Barangkali juga lewat wabah ini kita dapat tersentil untuk lebih peduli terhadap planet ini. Serta menjadi sarana intropeksi diri  untuk lebih bijak berperilaku di atas planet ini.

Merebaknya wabah ini bertepatan dengan Hari Bumi 2020. Hari bumi kali ini memang berbeda dengan biasanya, tidak ada perayaan untuk melakukan aksi turun ke jalan secara langsung,  untuk menyadarkan masyarakat tentang kondisi bumi saat ini. Lebih dari itu, perayaan hari bumi kali ini dilakukan secara digital dan 24 jam penuh. Perayaan akan diisi dengan pesan-pesan pertunjukkan serta ajakan untuk mengatasi perubahan iklim di situs resmi Earth Day Network dan Twitter.

Meskipun dengan perayaan yang berbeda, namun kali ini bumi menunjukkan kondisi terbaiknya. Dikutip dari  Theran Times, untuk pertama kalinya secara berangsur-angsur emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis mengalami penurunan. Penurunan ini berdampak pada emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama dengan 1990-an atau sekitar 30 tahun yang lalu.  Data ini menyadarkan  bahwa wabah ini berdampak baik pada perbaikan kondisi bumi saat ini.

Berdiam diri di rumah dan  melakukan segala sesuatu dari rumah seakan mengajak kita untuk kembali merenungkan perilaku apa saja yang telah merugikan bumi. Perkembangan zaman, pesatnya kemajuan tekhnologi memang memudahkan kita, namun disisi lain membuat lingkungan kita semakin rusak dan tentunya merugikan bumi. Adanya, wabah ini membuat aktifitas kita di luar ruangan menjadi terhenti, interaksi kita terhadap lingkungan pun semakin berkurang, namun ternyata hal ini berdampak positif bagi bumi. Bumi seakan bernapas kembali.

Keberadaan manusia di planet ini memang sangat berdampak, terlebih di daerah yang menyimpan habitat alami. Mungkin, kita sering mendengar banyak pemburuan pada satwa-satwa liar. Satwa-satwa yang harusnya kita lindungi malah sebaliknya dijadikan bahan yang diperjual belikan. Namun, adanya wabah ini seakan menjadi cara semesta memberikan ruang gerak bagi satwa-satwa liar. Populasi satwa liar mengalami peningkatan dan perbaikan. Hal ini lantaran berkurangnya aktifitas manusia di daerah-daerah tersebut.

Kebijakan pemerintah terkait tidak melakukan kegiatan di luar ruangan menjadi momentum yang tepat untuk bumi dapat pernapas lebih dalam. Berkurangnya kendaraan di jalan raya membawa angin segar bagi bumi. Sebelum wabah ini merebak di perkotaan besar yang padat akan penduduk serta kurangnya tumbuhan hijau, kita mungkin jarang menemui awan biru yang cerah. Namun saat wabah ini merebak dan masyarakat diminta untuk berdiam  diri di rumah, kita dapat dengan mudah menemui awan yang cerah serta polusi yang berkurang.

Kelak saat covid-19 ini telah berakhir, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita, untuk lebih bijak pada bumi.  Agar bumi terus merayakan kondisi terbaiknya. Wabah ini memang harus kita musnahkan. Namun,  perilaku sederhana kita saat ini  yang tidak kita sadari dapat mengurangi kerusakan bumi harus tetap kita lestarikan.

Glenn Fredly Si Pembawa Misi Kebaikan

Sumber gambar: Bisnis.com

Save Lokananta menjadi salah satu kampanye yang pernah digaungkan oleh Glenn Fredly. Penyanyi bersuara emas ini memang telah meninggalkan kita, namun kebaikannya akan terus hidup di tengah kita. Semasa hidup, ia aktif menyuarakan kebaikan dalam aksi sosial, kemanusian bahkan lingkungan.

Studio rekaman Lokananta di Kota Solo, Jawa Tengah menjadi salah satu saksi kebaikannya. Studio ini telah lama tidak digunakan, berkat kepedulian Glenn Fredly terhadap dunia permusikan membuat studio ini kembali dikenal masyarakat Indonesia. Ia mencoba mengajak masyarakat, untuk peduli serta menjaga studio ini agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman.

Pada 2012, ia membuat rekaman DVD di studio tersebut yang berjudul “Glenn Fredly and Bacucakar Live From Lokananta”. Aksinya kemudian diikuti oleh musisi lain seperti Efek Rumah Kaca, Slank, Senyawa dan White Shoes and The Couples Company (WSATCC). Bukan hanya melakukan rekaman saja, namun Glenn juga membawa peralatan musik dari Jakarta, guna mengembalikan lagi kehidupan permusikan di studio tersebut.

Aksinya ini seakan membawa angin segar bagi studio tersebut. Studio yang telah lama diabaikan oleh masyarakat, mulai dikenal kembali. Perusahaan Glenn diberi mandat untuk mengelola konten Lokananta selama 10 tahun. Berbagai rencana untuk menghidupkan kembali studio ini telah disiapkan.

Misi kebaikan Glenn Fredly bukan hanya berhenti di dunia permusikan, namun juga di bidang lingkungan. Ia pernah mengadakan konser amal untuk pemanasan global. Konser ini juga menjadi awal mulanya tertarik menjadi aktivis lingkungan. Selain itu, dikutip dari National Geographic film dokumenter yang berjudul An Inconvenient Truth (2006) juga menjadi alasannya mengapa ia tertarik menjadi aktivis lingkungan.

Baginya pemanasan global bukan hanya menjadi isu namun realita yang harus dihadapi setiap hari, sehingga ia harus melakukan sesuatu yang berguna bagi bumi. Sesuai dengan bidang yang ia tekuni, dunia permusikan menurutnya dapat menjadi alat yang efektif untuk menyuarakan isu ini. Ia mengajak musisi lain serta masyarakat untuk lebih peduli terhadap pemanasan global.

Bukan hanya itu saja, Glenn juga membentuk sebuah yayasan yang peduli terhadap isu lingkungan. Ia memberi nama yayasannya Green Music Foundation. Yayasan tersebut banyak melakukan aksi lingkungan seperti, di Mentawai dan permasalahan sumber air bersih di Nusa Tenggara Timur.

Lahir di Jakarta, memiliki darah Indonesia Timur. Membuatnya membawa visi untuk selalu menempatkan Indonesia Timur dalam aktivitasnya. Ia selalu menggaungkan kampanye kemanusian bahwa “Indonesia bukan hanya Jakarta dan Jawa” “Indonesia tidak akan menjadi Indonesia kalau tidak ada Indonesia Timur” serta kampanye lainnya. Aksinya bukan hanya dilatar belakangi karena ia memiliki darah dari Indonesia Timur, melainkan karena kepeduliannya terhadap masyarakat di Indonesia Timur.

Ketidakadilan menjadi kunci utama mengapa ia gigih menyuarakan aksi untuk Indonesia Timur. Ia ikut aksi dalam membantu pembebasan tahanan politik, keadilan masyarakat Papua, membawa musisi-musisi Maluku ke Jakarta, serta membuat film Beta Maluku. Aksinya ini mencerminkan bahwa Indonesia itu satu, tidak ada perbedaan suku dan ras sehingga, setiap masyarakat Indonesia harus memiliki keadilan yang sama.

Lahir dan besar di lingkungan yang menganut ajaran Nasrani, tak lantas membuatnya menjadi pribadi yang intoleren terhadap ajaran agama lain. Glenn menjadi sosok yang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Di media sosialnya, ia kerap memberikan ucapan menjalankan ibadah kepada agama lain.

Bukan hanya itu saja, Ia juga pernah ikut mendengarkan ceramah Quraish Shihab bersama Najwa Shihab lengkap dengan busana koko serta peci. Baginya perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk bersama-sama mengejar kebaikan dalam kemanusian. Glenn juga pernah melantunkan sholawat badar, yang seperti kita ketahui menjadi pujian bagi umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW.

Glenn Fredly bukan hanya dikenal karena lagunya yang menharu biru. Melainkan, kebaikannya semasa hidup. Raganya memang telah tiada, namun misi kebaikannya akan tetap hidup di tengah kita.

Kampung Naga : Bentuk Hidup Selaras dengan Alam

Melupakan sejenak hiruk pikuknya kota menjadi cita-cita banyak orang, terlebih di era saat ini. Seakan kota menjadi pusat modernitas. Mobil dan motor penuhi lalu lintas. Gedung-gedung tinggi seakan menjulang tanpa batas. Udara segar menjadi hal yang dirindukan. Kembali ke alam, melihat hamparan hijau khas perdesaan menjadi hal yang diimpikan.

Salah satu perkampungan adat di Jawa Barat dapat membayar segala macam problematika khas perkotaan, tentang rinduhnya hidup selaras dengan alam. Nama kampung ini Kampung Naga. Berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pertama kali menginjakan kaki di kampung ini, perasaan tenang dan segar seakan penuhi jiwa dan pikiran.

Hamparan hijau sawah khas perdesaan serta suara gemricik air sungai dan binatang, seakan menjadi obat relaksasi dari riuhnya kehidupan perkotaan. Sebelum sampai di perkampungan ini, kaki kita akan dimanjakan dengan menuruni 440 anak tangga. Kata pepatah, untuk mencapai yang diinginkan perlu perjuangan terlebih dahulu, nah begitu juga untuk mencapai kampung ini, perlu perjuangan dahulu.

Masyarakat di kampung ini sangat memegang prinsip hidup selaras dengan alam serta mempertahankan adat istiadat turun temurun dari nenek moyang. Jangan kaget saat berada di kampung ini, kita tidak akan menemukan listrik untuk sekadar mengisi daya ponsel kita saat tengah habis atau untuk aktivitas lainnya. Mereka percaya bahwa saat modernitas masuk di tengah mereka, maka akan menciptakan kesenjangan dan hilangnya kebersamaan antar warga. Lebih-lebih dapat membuat hidup mereka menjadi tidak tenang.

Tatanan bangunan yang rapi dan arsitektur khas menjadi daya tarik tersendiri perkampungan ini. Semua bentuk bangunannya seragam, berbentuk panggung dengan atap ijuk kayu serta berdinding anyaman bambu. Ukuran rumahnya sama yakni, 5 meter x 8 meter, menghadap dua arah, ke selatan dan utara. Bentuk atapnya dua arah yang mengandung arti tentang menjauhi perlombaan antar sesama. Penggunaan anyaman dari bambu tersebut bukan tanpa alasan selain sebagai ventilasi agar udara di dalam rumah tetap segar, juga sebagai sarana silahturahmi antar warga sekitar.

Di dalam rumah tidak ada kamar mandi, semua kamar mandi terletak di luar rumah. Uniknya, bagian dalam kamar mandi hanya terdapat pancuran air mengalir dan lubang untuk buang air. Di bawah kamar mandi ini terdapat kolam yang berisikan ikan-ikan, yang siap memakan limbah-limbah hasil produksi tubuh. Menurut masyarakat setempat tatanan rumah seperti itu, membuat mereka seakan hidup tenang, jauh dari gangguan alam seperti gempa dan banjir yang menghantui manusia pada umumnya.

Hal ini lantaran, cara mereka hidup yang selaras dengan alam, mencintai alam serta bersahabat dengan alam. Pola rancangan bangunan rumah panggung yang dibangun masyarakat terbilang aman dari gemba, dengan pola rumah panggung yang disimpan di atas pondasi batu alam, kondisi ini relatif aman saat gempa menerjang.

Keunikan lainnya perkampungan ini adalah ketika menjelang sholat. Jika di perkotaan saat menjelang sholat maka dikumandangkan adzan kemudian untuk menunggu jamaah akan diperdengarkan puji-pujian kepada Allah, maka di Kampung Naga hanya ada suara bedug yang dipukul sebagai penanda sholat akan dimulai. Hal ini dikarenakan masyarakat disana tidak menggunakan listrik.

Saat malam tiba, terlihat rumah-rumah menyalakan api sebagai pengganti lampu. Bukan kegelapan dan ketakutan yang dirasakan, melainkan ketenangan batin yang tidak ditemukan di perkotaan. Ditambah lagi dengan kelap-kelip dari binatang kecil kunang-kunang, menambah indah kampung ini. Perjalanan setengah hari di Kampung Naga memang tidak terasa, lantaran tenangnya suasana alam dari kampung ini.

Bagi pencinta traveling ke alam, Kampung Naga dapat menjadi list kunjungan setelah virus Covid-19 nanti berakhir, yang terpenting saat ini nikmati dahulu segala macam kegiatan yang terpaksa dilakukan di dalam rumah. Nanti, ada saatnya kembali lagi beraktivitas di luar rumah dan traveling ria ke alam. Stay safe and healthy everyone.

Pentingnya Kendali Pikiran

Sumber: Hipwee

Belakangan ini pemberitaan mengenai Covid-19 memang menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat Indonesia. Baik bersama teman, keluarga bahkan mungkin pacar, perbincangan yang dibicarakan tidak jauh dengan Covid-19. Semakin banyak informasi yang kita peroleh mengenai pemberitaan ini, menjadikan diri kita semakin panik, khawatir, cemas bahkan ketakutan. Menurut Henry Manampiring, too much information will kill you. Mungkin hal ini sesuai dengan banyaknya informasi menganai Covid-19 yang belum tentu kebenaranya, jika kita tidak pandai menyaring informasi maka dapat merugikan diri kita sendiri. Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan tadi dibutuhkan kendali pada pikiran kita.

Pada bukunya yang berjudul Filosofi Teras, Henry Manampiring menuliskan bahwa dalam hidup terdapat hal-hal yang dapat kita kendalikan dan tidak dapat kita kendalikan. Hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan misalnya, opini orang lain, popularitas, bahkan kekayaan. Sedangkan, hal-hal yang dapat kita kendalikan seperti persepsi, keinginan, tujuan, dan segala sesuatu yang bersumber dari pemikiran kita. Hal ini sesuai dengan yang terjadi akhir-akhir ini banyaknya pemberitaan mengenai Covid-19 yang seringkali membuat diri was-was, ternyata dapat dikendalikan menggunakan pemikiran kita sehingga secara tidak langsung dapat mengatasi kekhawatiran mengenai pemberitaan tersebut.

Nah, mengapa kita harus menjaga pikiran agar tetap terkendali sehingga terhindar dari rasa khawatir yang berlebihan ? pasalnya, menurut penelitian terbaru menyebutkan bahwa, rasa cemas, khawatir yang berlebihan mampu menurunkan sistem imun dan menyebabkan penyakit. Sedangkan, Covid-19 sangat mudah menyerang tubuh manusia yang memiliki sistem imun rendah, sehingga dibutuhkan sistem imun yang kuat agar dapat menangkal Covid-19. Meningkatkan sistem imun dapat dilakukan dengan cara seperti, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi dan makanan penunjang sistem imun, istirahat cukup serta kita juga harus dapat mengelola pikiran kita agar tetap terkendali dari rasa khawatir dan cemas yang berlebihan.

Lebih lanjut lagi, dalam buku Filosofi Teras juga menjelaskan bahwa, menurut Marcus Aurelius rasa cemas, khawatir dan emosi negatif dapat dikendalikan jika kita bisa mengendalikan interpretasi secara aktif. Dengan demikian, kita dapat menginterpretasi atau memaknai sebuah peristiwa secara rasional. Hal ini sesuai dengan banyaknya pemberitaan mengenai Covid-19 yang belum tentu kebenarannya karena banyaknya sumber yang kita terima. Kita dapat mengendalikan pemikiran kita, dengan cara memaknai secara rasional setiap informasi maupun pemberitaan yang diterima, menyaring pemberitaan dan informasi serta mencari sumber lain yang dirasa lebih kredibel.

Selain itu dalam buku ini terdapat langkah-langkah yang dapat kita terapkan ketika kita berada dipuncak rasa khawatir, cemas, sedih serta putus asa terlebih dalam menghadapi berbagai terpaan pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19. Langkah-langkahnya disingkat S-T-A-R (Stop, Think & Asses, Respond).

  1. Stop (Berhenti), begitu merasakan khawatir, cemas yang berlebihan terhadap pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19 dan kita menyadari bahwa hal tersebut telah menciptakan energi negatif pada tubuh maka secara sadar kita harus berhenti.
  2. Think & Asses (dipikirkan dan dinilai), setelah menghentingkan proses emosi sejenak, kita ajak pikiran kita untuk aktif berpikir kembali. Kita paksa pikiran kita untuk berpikir secara rasional sehingga dapat mengalihkan perasaan khawatir dan cemas yang berlebihan tadi. Kemudian melakukan penilian, dengan cara mempertanyakan pada diri apakah dalam melakukan pemaknaan pada pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19 telalu memisahkan fakta objektif dari diri kita sendiri ?
  3. Respond (Respon), langkah terakhir adalah memikirkan respon atau tindakan yang tepat. Dalam pengambilan tindakan harus didasarkan pada pemikiran yang rasional sehingga tercipta tindakan yang bijak, baik serta tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.

Selain pencegahan penularan Covid-19 melalui tindakan preventif, terdapat juga cara pencegahan melalui pengendalian pikiran terhadap banyak pemberitaan dan informasi mengenai Covid-19, sehingga pikiran kita dapat terkendali tetap waras di tengah pemberitaan dan informasi tersebut. Singkatnya Stay Safe and Healthy Everyone.

Memaknai Kebaikan dalam Semangkok Kolak

semangkok Kolak
Kolak Pisang, sumber: resepkoki.id

Ramadan selalu diidentikan dengan yang manis. Sering kali, masyarakat dibodohi dengan perkataan tentang “Berbukalah dengan yang manis,”  padahal sebenarnya tidak ada hadist yang membahas tentang hal tersebut. Meskipun begitu, memang pada zaman Rasulullah, beliau selalu berbuka dengan kurma muda (ruthab) jika tidak ada maka akan diganti dengan kurma matang (tamr) sehingga, hal ini membuat masyarakat berkesimpulan bahwa, berbuka memang dengan menikmati yang manis-manis. Jika di Timur Tengah berbuka identik dengan kurma, maka di  Indonesia memiliki tradisi berbeda, yaitu berbuka dengan semangkok kolak.

Banyak diantara kita, hanya menikmati saja kolak yang telah terhidang, tanpa mencari tahu makna di dalamnya, sebatas mengetahuhi isiannya saja, tanpa mengetahuhi makna isian di dalamnya. Itulah yang terjadi saat ini, banyak masyarakat yang abai terhadap makna pesan yang terkandung dalam semangkok kolak. Ternyata, kolak yang sering kita nikmati tersebut, memiliki makna yang mendalam mengenai kehidupan. Makna yang mengajarkan tentang kebaikan, tentunya kebaikan kepada Nya serta mahklukNya.

Tentu saja, dalam hidup kita diwajibkan memiliki prinsip. Salah satu, prinsip kita pastilah berhubungan dengan kebaikan, kebaikan yang kita buat dengan Nya maupun kepada makhlukNya, terlebih di bulan ramadan seperti saat ini. Orang-orang, akan berlomba-lomba menegakan kebaikan, dengan tujuan agar dapat memberatkan timbangan kebaikan  di hari akhir kelak.

Ironisnya, beberapa waktu yang lalu di negeri ini, Bulan Ramadan yang sarat akan pencarian kebaikan tercoreng dengan kericuhan yang terjadi di kawasan Thamrin dan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bulan Ramadan, yang seharusnya dihabiskan dengan duduk di masjid mendengarkan kajian ilmu atau bertilawah Al Qur’an diganti dengan tindakan tidak terpuji yang dilakukan beberapa oknum, dengan cara melakukan penyerangan kepada petugas, merusak asrama Polri di Petamburan, membakar sejumlah kendaraan, serta aksi brutal lainnya.

Akibat dari kericuhan ini, membuat enam orang meninggal serta 200 orang lainnya terluka, selain itu kericuhan ini, secara tidak langsung telah menanamkan rasa kebencian antar sesama, antipati pada pemerintah, bahkan menanamkan kebencian kepada pemerintah yang tengah menegakan kesejahteraan. Seperti contoh, beberapa waktu yang lalu terdapat keluhan salah satu netizen, terkait dengan kericuhan tersebut. Menurutnya akibat kericuhan tersebut membuat teman-temannya berubah. Hal ini menjadi cerminan bahwa, jika menyerang kepada banyak pihak, maka dapat menimbulkan perpecahan dimana-mana. Bhineka Tunggal Ika hanya tinggal semboyan tanpa pengamalan, makna manis kehidupan dalam semangkok kolak hanya sebatas mitos tanpa penerapan.

Memaknai kembali Semangkok Kolak

Menurut glosarium.org, kolak memiliki arti sebagai makanan yang dibuat dari pisang, ubi, yang kemudian direbus dengan menggunakan gula dan santan. Dari pengertian tersebut mencerminkan bahwa, kolak memiliki rasa yang manis. Selain, adanya penambahan gula yang menciptakan rasa manis, terdapat bahan-bahan yang memang memiliki rasa manis alami, sepert pisang dan ubi

Begitulah kehidupan, sejatinya kehidupan memang diciptakan dengan manis, adanya perbedaan di dalam kehidupan, maka akan menambah rasa manis tersebut. Perbedaan bukan menjadi hal yang harus diperangi, karena dengan perbedaan inilah  manis alami kehidupan tercipta. Salah satunya, perbedaan pandangan politik, setiap orang memang memiliki pandangan yang berbeda-beda, hal ini lantaran tiap orang memiliki pemikiran-pemikiran yang berbeda dan ini merupakan kuasaNya. Tentu saja, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Adanya kericuhan 21-22 Mei 2019, menyadarkan kepada kita tentang masih buramnya makna perbedaan di tengah kehidupan bermasyarakat, perbedaan yang mengantarkan kita kepada kebaikan perlahan terkikis dengan nafsu yang ingin menciptakan persamaan. Dari sinilah, makna filosofi kolak dapat tercipta.

Kolak memiliki makna filosofi yang jarang kita ketahuhi, menurut salah satu artikel dari Idn times mengungkapkan bahwa kata “kolak” berasal dari kata “khalik” yang  berarti sang pencipta alam beserta isinya, yang kemudian diartikan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, kericuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu menjadi sarana kita untuk semakin mendekatkan diri padaNya, hal ini lantaran mudahnya seseorang terprovokasi terhadap perbedaan, sehingga semakin kita mendekat pada Nya, maka mencegah hal buruk terjadi.

Isian dalam kolak pun memiliki makna tersendiri, seperti pisang kepok yang diartikan “kapok” atau bentuk penyesalan terhadap perilaku, yang telah diperbuat kemudian melakukan bertubatan. Dalam hidup, kita tidak akan selalu melakukan kebenaran yang lurus, namun adakalanya terdapat sikap atau perbuatan kita yang melenceng, bertaubat dan menyesali perbuatan adalah cara yang tepat untuk kembali lagi pada jalan yang lurus, begitu juga dengan kericuhan 21 -22 Mei, memang manusia tempatnya salah, namun alangkah baiknya jika kesalahan tersebut dapat segera disadari, disesali dan tentunya tidak diulangi kembali.

Selain itu, isian ubi juga memiliki makna tersendiri di Jawa ubi disebut dengan “telo,”yang tertanam di tanah hal ini bermaksud bahwa, adanya upaya untuk memendam dan mengubur kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan tidak akan mengulanginya lagi di masa depan.  Pengertian ini memiliki cerminan untuk mengajak kita tidak lagi melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang,  begitu juga dengan kericuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu, yang harus dikubur dalam-dalam dan tidak boleh terulang kembali di negeri ini.

Kemudian, santan yang diartikan sebagai pangapunten, atau wujud permintaan maaf terhadap kesalahan yang lalu, oknum-oknum kericuhan 21-22 Mei seharusnya melakukan permintaan maaf mengenai kesalahan yang mereka perbuat, namun adakalanya melakukan permintaan maaf pada diri sendiri adalah yang paling utama, hal ini berguna sebagai wujud pengakuan kesalahan pada diri dan tidak mengulanginya dikemudian hari.

Makna filosofis dalam semangkok kolak, memang sarat akan arti seperti, memaknai kebaikan, memaknai perbedaan yang menciptakan manisnya kehidupan serta penyesalan terhadap kesalahan di masa lalu. Betapa indahnya kehidupan, jika setiap penghuninya dapat menerima perbedaan, yang mengantarkan pada kebaikannya, layaknya semangkok kolak yang kaya akan perbedaan namun dapat menciptakan rasa kesatuan yang manis.

Antika Damayanti