Pesepak Bola Muslim di Eropa

Sumber:waspada.co.id

Pesebak bola Muslim di Eropa menjadi sorotan media beberapa waktu. Memasuki tanggal 1 Ramadhan dalam kalender Hijriyah, umat Islam di belahan dunia manapun diwajibkan untuk melaksanakan rukun Islam yang ketiga, yaitu ibadah puasa. Dalam ajaran islam, bagi orang muslim yang sudah cukup umur, wajib hukumnya untuk berpuasa penuh selama sehari. Kewajiban tersebut tidak lantas kemudian menjadi gugur karena suatu pekerjaan yang digeluti oleh seorang muslim.

Nah, begitu juga dalam dunia sepak bola. Ketika ada seorang muslim yang menjadi pemain sepak bola profesional, jika sudah memasuki waktunya berpuasa, maka ia wajib untuk menjalankannya. Kalau kita amati, yang menjadi kiblat dari permainan si kulit bundar adalah di tanah Eropa. Setiap pemain yang mempunyai mimpi untuk menjadi pemain sepak bola beken, maka pasti yang menjadi rujukan adalah bermain untuk klub-klub di eropa sana.

Menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah sedang menjalani kompetisi pertandingan, tentu saja membutuhkan tenaga dan semangat yang lebih dari biasanya. Sebagai pemain profesional dan seorang muslim sejati, mereka harus mematuhi dua kewajiban sekaligus dalam satu waktu yang bersamaan.

Di bawah ini ada beberapa pemain sepak bola muslim profesional yang mempunyai karir cemerlang di kancah Eropa:

  1. Paul Pogba

Paul Pogba merupakan salah satu andalan dari timnas Perancis dan juga tim Manchester United. Ia merupakan pemain kelahiran Perancis yang berposisi sebagai pemain tengah. Pogba termasuk seorang muslim sejati. Ketika kompetisi sedang libur, ia bersama keluarganya menyempatkan diri untuk umroh ke tanah suci Mekkah. Hal ini terbukti dari unggahan di akun media sosialnya. Pada ajang World Cup 2018 yang lalu, kejuaraan tertinggi dari sepak bola ini digelar pada waktu umat muslim di dunia sedang menjalani bulan puasa. Sehingga, Pogba menjalankan dua kewajiban dalam satu waktu.

Sumber: cnnindonesia.com
  • Riyad Mahrez

Saat ini, Mahrez sedang membela tim Manchester City. Ia merupakan salah satu penyerang sayap yang sangat lincah, dan biasa menyisir dari pinggir lapangan untuk kemudian mengirim umpan matang ke depan gawang. Sebelum bergabung ke tim Manchester Biru, ia terlebih dahulu membela Leicester City dan memenangkan trofi tertinggi di tanah Inggris. Mahrez merupakan pemain kebangsaan Aljazair yang dilahirkan di Perancis, dimana di negara asal kedua orang tuanya, Aljazair agama Islam termasuk agama mayoritas. Mahrez juga terkenal sebagai seorang muslim yang taat, bahkan ia juga pernah melaksanakan ibadah umroh.

Sumber: sport.detik.com
  • Mohamed Salah

Salah merupakan salah satu penyerang andalan yang dimiliki oleh Liverpool. Ia bersama Sadio Mane dan juga Roberto Firmino menjadi trio yang mematikan bagi tim lawan. Salah dilahirkan di lingkungan mayoritas beragama Islam. Setiap kali ia mencetak gol, selebrasi yang dilakukan dengan posisi sujud di di lapangan. Hal ini mengingatkan kita akan posisi sujud ketika sedang shalat. Selain menjadi pemain kunci bagi klubnya, ia juga merupakan pahlawan sepak bola bagi negaranya, Mesir. Berkat dua golnya ke gawang Kongo ketika kualifikasi Piala Dunia 2018 yang lalu, Mesir akhirnya bisa lolos ke piala dunia untuk pertama kalinya selama 28 tahun terakhir.

Sumber: cnnindonesia.com
  • Sadio Mane

Selain Mohamed Salah, salah satu penyerang terbaik yang dimiliki oleh Liverpool dan juga salah satu yang tertajam di Liga Inggris adalah Sadio Mane. Pemain berkebangsaan Senegal ini menempati posisi sayap, baik di klub maupun di timnas. Mane juga merupakan pemain terbaik Afrika pada 2019 lalu. Mengalahkan dua pemain Afrika lainnya yang juga bermain di kompetisi Liga Inggris, yaitu Mohammed Salah dan Riyad Mahrez. Selain termasuk muslim yang taat, di tempat kelahirannya di Senegal, ia merupakan anak dari pemuka agama. Sehingga sejak kecil, Mane memang terlatih untuk rajin melaksanakan kewajibannya. Bahkan baru-baru ini, ia mendirikan Masjid di kampungnya, sehingga umat Muslim di sana bisa beribadah dengan nyaman.

Sumber: sport.detik.com
  • Mesut Ozil

Mesut Ozil menjadi bagian dari kesuksesan Timnas Jerman saat memenangkan tropi World Cup 2014 yang lalu. Ia menjadi salah satu andalan lini tengah Timnas Jerman. Dalam beberapa tahun terakhir, Ozil termasuk ke dalam pemain top assist di kompetisi teratas di Eropa. Mesut Ozil bisa dikatakan seorang muslim yang taat. Cristiano Ronaldo, rekan setimnya ketika masih membela klub Real Madrid, selalu mengingatkan Ozil ketika ia lupa membaca kalimat Basmalah sebelum memulai pertandingan. Selain itu, ia juga tidak lupa berdo’a setiap kali memasuki lapangan, hal lumrah yang selalu dilakukan oleh umat Muslim dimanapun. Baru-baru ini, ia menyumbangkan sejumlah uang untuk dipergunakan kepada korban Covid-19 di Turki.

Sumber: liputan6.com
  • Franck Ribery

Nama Franck Ribery tidak bisa lepas dari salah satu klub liga teratas di Jerman, Bayern Munchen. Sebelum ia pindah ke klub Italia, Fiorentina. Ribery merupakan sayap lincah yang menjadi pemain kunci di klubnya. Ia bersama Arjen Robben, seringkali merepotkan tim lawan lewat kaki lincahnya yang menyisir di dua sisi lapangan. Selain sebagai pemain hebat nan lincah, Ribery juga termasuk muslim yang taat. Sebelum memeluk agama Islam, Ribery merupakan seorang Kristiani, yang kemudian pindah agama setelah mengettahui Islam dari kekasihnya yang kemudian menjadi istrinya. Pemain yang mendapatkan nama Bilal Yusuf Mohamed ini tidak terbiasa meminum minuman bir.

Pernah suatu ketika sedang merayakan keberhasilannya menjuarai kompetisi, dengan iseng ia disiram dengan bir oleh rekan setimnya, tentu saja hal ini membuatnya marah. Biasanya, Ribery menggantinya dengan meminum air putih. Ribery juga merupakan salah satu penggagas dibangunnya masjid di sekitar stadion milik klub tersukses di Jerman tersebut. Ia juga menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk pembangunan masjid. Ribery ingin para pengunjung dan juga suporter bisa melaksanakan kewajibannya dengan tenang, terutama shalat jum’at.

Sumber: tirto.id

Tentunya masih banyak pemain-pemain muslim lainnya, yang patut kita contoh. Ada banyak hal yang bisa kita tiru, selain profesionalitas mereka melaksanakan dua kewajibannya dalam satu waktu yang bersamaan. Total waktu mereka melaksanakan ibadah puasa dalam sehari juga pastinya berbeda dengan di Indonesia. Selamat melaksanakan ibadah puasa bagi teman-teman muslim semuanya, semoga barokah dan lancar hingga sebulan penuh.

Posting Makanan Mengurangi Pahala Puasa

Makanan

Posting makanan di bulan puasa mendadak jadi bahan obrolan yang cukup riuh di sosial media. Awal Ramadan kemarin, netizen sempat ramai mengkritisi tentang perkara posting foto makanan di sosial media. Beberapa akun menyatakan keberatan dengan akun-akun yang sering pamer postingan makanan.

‘Tidak usah pamer foto makanan di sosial media, karena banyak saudara kita yang masih kesusahan makan’.

Kurang lebih begini redaksi yang dipakai oleh akun yang kontra dengan postingan makanan selama Ramadan ini.

Terang saja postingan seperti ini langsung dibalas dengan akun-akun yang merasa posting makanan di sosial media adalah hak pribadi pemilik akun.
‘apa salahnya posting makanan? Kalau enggak suka tinggal blokir saja, kan!”

Saya cukup lama mengikuti riuh perkara posting makanan ini. Sehingga sedikit bisa mengambil kesimpulan dan yakin mau merapat ke kubu mana. Tentu saja saya termasuk orang yang ‘i don’t care’ dengan segambreng postingan orang-orang. Bagi saya selama postingan ini menarik, bagus, bukan pemicu kerusuhan dan tidak menyalahi norma, santai saja adalah yang terbaik.
Jangankan orang posting makanan sepiring steak, posting kulkas beserta isinya saja masih wajar dan sah-sah saja. Tidak langsung membuat saya merana atau merasa menjadi makhluk yang terlampau miskin.

Lagian, untuk apa sih yang seperti ini diperdebatkan?
Apa salahnya posting makanan? Sejak kapan postingan makanan bisa mengintimidasi orang lain?
Bagaimana jika posting makanan itu karena memang kerjaan si pemilik akun adalah posting makanan? Saya misalnya, lewat Instagram sering posting makanan karena memang dapat job demikian. Ini hanya kasus kecil.
Belum lagi orang-orang yang memang harus posting makanan dengan foto paling cantik dan menggiurkan karena demi kepentingan jualan. Menurut saya ini sah dan memang sudah bagian dari marketing mereka. Lalu salahnya di mana?

Dari beberapa komentar netizen, mayoritas menertawakan dan menolak pernyataan yang bilang ‘posting makanan menambah dosa’. Ngeri juga kalau apa-apa dengan mudah dilabeli dosa.

Banyak akun masih percaya bahwa postingan makanan bukanlah ancaman keimanan. Sebagian yang lain malah bilang senang dengan adanya postingan makanan apalagi  disertai keterangan nama makanan berikut bahan baku dan cara pembuatannya.

‘Saya memang enggak sanggup makan  itu makanan malah, tapi saya tidak lantas benci lihat makanan enak. Justru seneng dan berharap kapan-kapan bisa masak seperti itu.’

Nada seperti ini banyak dilontarkan oleh para netizen yang enggak keberatan dengan hadirnya poto makanan di sosial media.

Lagian sosial media itu ranah jagat maya yang sangat luas. Untuk apa sih mengurusi hal-hal remeh? Kenapa yang beginian (posting makanan) dipermasalahkan, sementara video porno atau apalah sejenisnya malah didiamkan saja?

Perkara posting gambar makanan menurut saya adalah sebuah hiburan. Tidak sedikit dari pemosting yang berniat untuk mendokumentasikan hasil karya masaknya. Alasan yang lain ingin berbagi resep dengan temannya. Ada juga yang posting makanan karena memang ingin tapi belum kesampaian. Harapannya dengan posting begituan bisa sedikit jadi bahan ‘pelampiasan’ sesaat.

Kalau alasan pelarangan posting gambar makanan hanya demi menjaga perasaan saudara yang susah makan, agaknya terlalu berlebihan. Misal orang susah makan, benar-benar susah makan, logikanya justru tidak akan buka sosial media. Kalau ada uang mending buat makan dibandingkan buat beli kuota. Itu pikir saya dan beberapa teman yang galau dengan pelarangan posting gambar makanan.

Ada banyak tujuan seseorang dalam sekedar posting sesuatu di sosial media. Mulai dari hanya sekedar hiburan, jualan, kangen-kangenan hingga pamer. Lantas siapa kita yang sebentar-sebentar mengecap saudara sendiri dengan sebutan ‘pendosa’? Kalau postingan masih sopan, wajar dan tidak menyalahi kode etik perinternetan, buat apa dipermasalahkan?

Mau posting makanan, silakan saja. Posting ya posting saja. Lebih bagus kalau makanannya enggak hanya difoto lalu di-posting. Tapi juga makanannya dibagi kepada tetangga dekat atau teman jauh, saya misalnya. Bukankah memberi makan orang puasa diganjar pahala sama dengan orang berpuasa?

Benarkah Ramadhan Tahun Ini Beda?

Sumber: batam.tribunnews.com

Banyak yang mengatakan bahwa Ramadhan kali ini akan berbeda jauh dari Ramadhan sebelumnya. Hal ini tidak salah memang apabila banyak yang memprediksi akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alasan kenapa Ramadhan tahun ini akan berbeda, penyebabnya tentu saja karena si kecil yang tak kasat mata; Covid-19.

Semenjak mewabahnya virus ini, hampir seluruh aktivitas orang-orang, terutama yang di luar lapangan, terganggu. Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh wilayah di Indonesia terkena dampak dari adanya Covid-19. Terlebih lagi di Ibukota. Banyaknya wilayah yang sudah memasuki kategori zona merah membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan seluruh kegiatan ibadah bulan puasa di rumah. Seperti misalnya, shalat tarawih, mengadakan buka bersama, dan lain sebagainya.

Fatwa tersebut dikeluarkan dengan maksud dan tujuan agar selama bulan puasa tahun ini, penyebaran Covid-19 tidak semakin menyebar luas. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Ni’am mengatakan bahwa Covid-19 bukanlah halangan untuk beribadah. Akan tetapi mnghindari penyebaran virusnya merupakan salah satu ibadah juga. Pemahaman cara beribadah di tengah merebaknya virus Corona haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Jika kita pahami secara seksama, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI semata-mata hanya untuk membatasi aktifitas orang-orang di luar ruangan selama bulan puasa. Dengan tujuan tentu saja untuk menekan dan mengurangi jumlah korban dari Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah. Bukan lantas umat Islam dilarang beribadah di tempat ibadahnya, hanya saja dianjurkan untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing.

Dalam agama islam, ada sebuah beberapa kaidah fiqh yang bisa dipakai untuk situasi dan kondisi seperti ini, terutama mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Yaitu

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

 “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengupayakan kemaslahatan.” Maka sekiranya fatwa dari MUI inilah yang harus kita patuhi dan jadikan pedoman, dengan tujuan agar cepat atau lambat wabah ini akan segera selesai, dan kita bisa melaksanakan aktifitas dengan normal kembali.

Adapaun kaidah fiqh lain mengatakan juga.

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَار

Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain.” Hal ini tentu sesuai dengan apa yang sedang kita alami sekarang. Apabila kita masih egois mementingkan diri sendiri untuk tetap melakukan aktifitas di luar ruangan, maka tentu kita tidak hanya membahayakan diri kita sendiri, tetapi juga akan berdampak kepada keluarga yang menanti di rumah.

Maka, apapun keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan juga fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, harus kita patuhi bersama. Berharap wabah Covid-19 ini akan segera berakhir, dan aktifitas kita semua akan kembali berjalan normal sebagaimana mestinya.

Ramadhan tahun ini boleh saja berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi cara kita beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa tentu harus sama dengan tahun yang telah lalu. Hanya saja ada sedikit perbedaan tempat dan cara kita melaksanakan ibadah tersebut.

Wallahua’lam.

Lebaran Dan Anomali Pakaian Baru

Lebaran adalah momen istimewa. Karenanya, sanak saudara kembali berkumpul. Momen yang menghadirkan ruang bertemu kepada siapa saja yang ditelan rindu. Sejauh apapun jarak yang ditempuh dan sepadat apapun kesibukan yang melanda, lebaran akan selalu menarik diri untuk berjumpa dengannya. Sebab di sana, ada mereka yang telah lama menunggu pulang.

Lebaran juga perayaan bagi mereka yang usai menuntaskan ego. Di dalamnya ego terkikis dengan bara ramadhan sebulan penuh. Lebaran adalah puncak perjuangan dan ruang kebahagiaan. Memfitrahkan kembali manusia ke hakekat awalnya. Tabula rasa, bersih seperti kertas putih.

lebaran
Lebaran dan pakaian baru

Di Indonesia, tradisi lebaran dirayakan dengan beragam cara. Paling umum, tradisi sungkeman kepada sesepuh di dalam keluarga, biasanya Kakek-Nenek. Lalu ada pula tradisi berkunjung. Tiap daerah punya namanya sendiri. Intinya saling berkunjung dan bermaaf-maafan kepada keluarga, kerabat, tetangga, hingga kawan sepermainan.

Satu lagi sebenarnya yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia ketika lebaran tiba, yakni membeli baju baru. Menjelang hari H, masyarakat ramai berbondong-bondong menuju toko-toko yang menawarkan diskon. Biasanya, sepuluh malam terakhir tempat perbelanjaan akan sesak dengan kerumunan masa. Pada hari-hari itu, diskon membludak dengan gila-gilanya. Momen yang tidak mungkin dilewatkan masyarakat Indonesia.

Tradisi ini sebenarnya tidak lahir tiba-tiba demi memuaskan nafsu berbelanja. Ia datang sudah sejak lama. Sejarah Indonesia mencatat bahwa tradisi ini dimulai sejak Kesultanan Banten berdiri. Pada saat itu ketika lebaran tiba, masyarakat merasa perlu mengenakan pakaian baru karena lebaran dianggap sebagai momen sakral. Bahkan petan-petani saat itu banyak yang beralih profesi menjadi tukang jahit demi pakaian baru di Hari Raya. Hingga kini, tradisi itu terus turun temurun menjamur di kalangan masyarakat Indonesia.

Esensi mengenakan pakaian baru secara tidak sadar di beberapa tempat mengalami pereduksian. Orang-orang kini hanya mengejar eksistensi semata. Yang penting punya baru dan bisa dipakai saat lebaran. Kemenangan yang seharusnya sudah diraih karena hati telah dicuci sebulan penuh kembali menuai godaan. Godaan untuk memamerkan, godaan bersuka riya di medsos, godaan untuk mencibir mereka yang tidak mengenakan pakian baru. Kemuliaan Lailatul Qadr tidak mengapa digadai dengan diskon yang menggiurkan dompet.

Padahal kebaruan pakaian di saat lebaran adalah simbol atas kebaruan diri yang sudah berjuang mengalahkan diri sendiri saat Ramadhan. Tanda atas kemenangan bukan kesombongan. Bukti bersama orang-orang sekitar pula yang suka cita merayakan kebahagiaan saat berkumpul. Karena yang terpenting sebenarnya bukan seberapa baru apalagi mahal pakaiaan yang melekat di badan, melainkan seberapa pantas kita melekatkan makna baru (fitrah) pada diri kita saat lebaran. Sebab kebahagiaan tidak melulu berbicara tentang hal-hal baru yang materialistik, ia bersumber jauh dari dalam lubuk sanubari.

Reduksi atas makna kebaruan diri tidak lepas dari roda zaman yang terus berputar. Ranah materialistik yang semakin menjamur bisa jadi menjadi salah satu sebabnya. Simbol-simbol yang dianggap mampu merepresentasikan keimanan seseorang dipercayai sebagai manifestasi atas kecintaan kepada Tuhan. Padahal hidup bukanlah perkara simbol semata. Hidup adalah pemaknaan atas perintah-Nya yang diwujudkan bukan sebatas simbol tetapi juga pada perkara tindakan dan ucapan.

Filosofi kebaruan ini apabila diresapi secara mendalam, maka niscaya akan melahirkan kedamaian. Terlebih lagi di Indonesiayang baru-baru ini melewati fase-fase kritis. Bencana yang datang berturut-turut, tensi politik yang kian memanas, hingga aksi kekerasan dan teror yang melanda negri.

Oleh karenanya, sangat disayangkan di hari kemenangan nanti kita masih berpikiran sempit dan hanya terkungkung pada pikiran harus punya pakaian baru. Tindakan yang harus kita lakukan ialah bagaimana sebisa mungkin meresapi proses Ramadhan yang telah dilalui. Menghadirkan kedamaian dan menghilangkan kebencian di dalam dada. Sebagaimana Nabi dan Para Sahabat yang dahulu melakukan perayaan Lebaran ketika ahun Kedua Hijriah sesaat setelah menang di Perang Badar. Mereka begitu suka cita, bukan hanya karena menang kala perang tetapi juga karena telah menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Maka, lebaran sesungguhnya adalah membarukan niat dan diri. Melepaskan benci yang tersimpan di dada. Merelakan masa lalu yang menghantui di benak pikiran. Bukan terjebak pada anomali pakaian baru. Sebab lebaran adalah tempat bagi orang-orang yang berbahagia.

Imaduddin Fr – Duta Damai BNPT

Memaknai Kebaikan dalam Semangkok Kolak

semangkok Kolak
Kolak Pisang, sumber: resepkoki.id

Ramadan selalu diidentikan dengan yang manis. Sering kali, masyarakat dibodohi dengan perkataan tentang “Berbukalah dengan yang manis,”  padahal sebenarnya tidak ada hadist yang membahas tentang hal tersebut. Meskipun begitu, memang pada zaman Rasulullah, beliau selalu berbuka dengan kurma muda (ruthab) jika tidak ada maka akan diganti dengan kurma matang (tamr) sehingga, hal ini membuat masyarakat berkesimpulan bahwa, berbuka memang dengan menikmati yang manis-manis. Jika di Timur Tengah berbuka identik dengan kurma, maka di  Indonesia memiliki tradisi berbeda, yaitu berbuka dengan semangkok kolak.

Banyak diantara kita, hanya menikmati saja kolak yang telah terhidang, tanpa mencari tahu makna di dalamnya, sebatas mengetahuhi isiannya saja, tanpa mengetahuhi makna isian di dalamnya. Itulah yang terjadi saat ini, banyak masyarakat yang abai terhadap makna pesan yang terkandung dalam semangkok kolak. Ternyata, kolak yang sering kita nikmati tersebut, memiliki makna yang mendalam mengenai kehidupan. Makna yang mengajarkan tentang kebaikan, tentunya kebaikan kepada Nya serta mahklukNya.

Tentu saja, dalam hidup kita diwajibkan memiliki prinsip. Salah satu, prinsip kita pastilah berhubungan dengan kebaikan, kebaikan yang kita buat dengan Nya maupun kepada makhlukNya, terlebih di bulan ramadan seperti saat ini. Orang-orang, akan berlomba-lomba menegakan kebaikan, dengan tujuan agar dapat memberatkan timbangan kebaikan  di hari akhir kelak.

Ironisnya, beberapa waktu yang lalu di negeri ini, Bulan Ramadan yang sarat akan pencarian kebaikan tercoreng dengan kericuhan yang terjadi di kawasan Thamrin dan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bulan Ramadan, yang seharusnya dihabiskan dengan duduk di masjid mendengarkan kajian ilmu atau bertilawah Al Qur’an diganti dengan tindakan tidak terpuji yang dilakukan beberapa oknum, dengan cara melakukan penyerangan kepada petugas, merusak asrama Polri di Petamburan, membakar sejumlah kendaraan, serta aksi brutal lainnya.

Akibat dari kericuhan ini, membuat enam orang meninggal serta 200 orang lainnya terluka, selain itu kericuhan ini, secara tidak langsung telah menanamkan rasa kebencian antar sesama, antipati pada pemerintah, bahkan menanamkan kebencian kepada pemerintah yang tengah menegakan kesejahteraan. Seperti contoh, beberapa waktu yang lalu terdapat keluhan salah satu netizen, terkait dengan kericuhan tersebut. Menurutnya akibat kericuhan tersebut membuat teman-temannya berubah. Hal ini menjadi cerminan bahwa, jika menyerang kepada banyak pihak, maka dapat menimbulkan perpecahan dimana-mana. Bhineka Tunggal Ika hanya tinggal semboyan tanpa pengamalan, makna manis kehidupan dalam semangkok kolak hanya sebatas mitos tanpa penerapan.

Memaknai kembali Semangkok Kolak

Menurut glosarium.org, kolak memiliki arti sebagai makanan yang dibuat dari pisang, ubi, yang kemudian direbus dengan menggunakan gula dan santan. Dari pengertian tersebut mencerminkan bahwa, kolak memiliki rasa yang manis. Selain, adanya penambahan gula yang menciptakan rasa manis, terdapat bahan-bahan yang memang memiliki rasa manis alami, sepert pisang dan ubi

Begitulah kehidupan, sejatinya kehidupan memang diciptakan dengan manis, adanya perbedaan di dalam kehidupan, maka akan menambah rasa manis tersebut. Perbedaan bukan menjadi hal yang harus diperangi, karena dengan perbedaan inilah  manis alami kehidupan tercipta. Salah satunya, perbedaan pandangan politik, setiap orang memang memiliki pandangan yang berbeda-beda, hal ini lantaran tiap orang memiliki pemikiran-pemikiran yang berbeda dan ini merupakan kuasaNya. Tentu saja, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Adanya kericuhan 21-22 Mei 2019, menyadarkan kepada kita tentang masih buramnya makna perbedaan di tengah kehidupan bermasyarakat, perbedaan yang mengantarkan kita kepada kebaikan perlahan terkikis dengan nafsu yang ingin menciptakan persamaan. Dari sinilah, makna filosofi kolak dapat tercipta.

Kolak memiliki makna filosofi yang jarang kita ketahuhi, menurut salah satu artikel dari Idn times mengungkapkan bahwa kata “kolak” berasal dari kata “khalik” yang  berarti sang pencipta alam beserta isinya, yang kemudian diartikan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, kericuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu menjadi sarana kita untuk semakin mendekatkan diri padaNya, hal ini lantaran mudahnya seseorang terprovokasi terhadap perbedaan, sehingga semakin kita mendekat pada Nya, maka mencegah hal buruk terjadi.

Isian dalam kolak pun memiliki makna tersendiri, seperti pisang kepok yang diartikan “kapok” atau bentuk penyesalan terhadap perilaku, yang telah diperbuat kemudian melakukan bertubatan. Dalam hidup, kita tidak akan selalu melakukan kebenaran yang lurus, namun adakalanya terdapat sikap atau perbuatan kita yang melenceng, bertaubat dan menyesali perbuatan adalah cara yang tepat untuk kembali lagi pada jalan yang lurus, begitu juga dengan kericuhan 21 -22 Mei, memang manusia tempatnya salah, namun alangkah baiknya jika kesalahan tersebut dapat segera disadari, disesali dan tentunya tidak diulangi kembali.

Selain itu, isian ubi juga memiliki makna tersendiri di Jawa ubi disebut dengan “telo,”yang tertanam di tanah hal ini bermaksud bahwa, adanya upaya untuk memendam dan mengubur kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan tidak akan mengulanginya lagi di masa depan.  Pengertian ini memiliki cerminan untuk mengajak kita tidak lagi melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang,  begitu juga dengan kericuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu, yang harus dikubur dalam-dalam dan tidak boleh terulang kembali di negeri ini.

Kemudian, santan yang diartikan sebagai pangapunten, atau wujud permintaan maaf terhadap kesalahan yang lalu, oknum-oknum kericuhan 21-22 Mei seharusnya melakukan permintaan maaf mengenai kesalahan yang mereka perbuat, namun adakalanya melakukan permintaan maaf pada diri sendiri adalah yang paling utama, hal ini berguna sebagai wujud pengakuan kesalahan pada diri dan tidak mengulanginya dikemudian hari.

Makna filosofis dalam semangkok kolak, memang sarat akan arti seperti, memaknai kebaikan, memaknai perbedaan yang menciptakan manisnya kehidupan serta penyesalan terhadap kesalahan di masa lalu. Betapa indahnya kehidupan, jika setiap penghuninya dapat menerima perbedaan, yang mengantarkan pada kebaikannya, layaknya semangkok kolak yang kaya akan perbedaan namun dapat menciptakan rasa kesatuan yang manis.

Antika Damayanti

Memaknai Kembali Arti Kasih Sayang di Bulan Ramadan

Ramadan Kasih Sayang

Ramadan hampir berakhir, sementara kita masih bergegas mengumpulkan pundi-pundi amal sebagai bekal di akhirat. Kita mulai memperbanyak membaca al-Qur’an, sholat wajib dan sunnah dengan khusyuk, menyisihkan uang untuk bersedekah, mendengar ceramah ustad-ustad di masjid, dan lain sebagainya. Ibadah yang kita lakukan di mata agama sepertinya memang sudah sangat baik. Namun sudahkah kita membagikan kasih sayang kita kepada sesama manusia, bukan hanya sesama kaum Muslim semata?

            Kasih sayang sebenarnya bersifat plural. Seharusnya pula tidak memandang suku, agama, atau latar belakang sosial. Akan tetapi banyak orang yang merasa sudah cukup ketika membagikan kasih sayangnya hanya kepada orang yang memiliki kepercayaan sama dengannya. Apalagi mengingat situasi Indonesia yang semakin hari masyarakatnya menjadi semakin mengotak-ngotakkan diri berdasarkan agama yang mereka anut. Tetapi, apakah Allah memang menyuruh kita untuk seperti itu?

Media Sosial

            Media sosial adalah tempat orang-orang menuliskan keluh kesahnya. Setiap orang bebas berpendapat di akun pribadi mereka masing-masing. Ada yang pernah berpendapat entah dari al-Qur’an atau dari hadis, bahwa barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. Pendapat seperti inilah yang banyak diikuti oleh orang-orang, hingga mereka akhirnya lupa bahwa di atas semua perbedaan, mereka semua adalah manusia yang setara dan memiliki kesempatan yang sama.

            Umat Islam meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Lalu apakah pengasih dan penyayangnya Allah lantas hanya untuk sekelompok manusia yang meyakiniNya? Saya pribadi agak sangsi dengan pernyataan ini. Meski di bangku sekolah dulu, guru agama saya sering berkata bahwa Allah mengasihi semua manusia, namun hanya menyayangi umat manusia yang meyakininya.

(https://geotimes.co.id/kolom/56215-2/)

            Hingga detik ini, saya masih percaya bahwa Allah sebenarnya menyuruh kita menyayangi semua manusia tanpa pandang perbedaan, apalagi dari agama. Karena selain kita adalah manusia yang memiliki kepercayaan, kita juga makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan manusia lain untuk bisa bertahan hidup.

Makhluk Sosial

Senang sekali rasanya ketika melihat gereja memasang spanduk ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Selamat Memasuki Bulan Ramadan’ sebagai bentuk toleransi mereka kepada kita yang tidak seagama dengan mereka. Namun sudahkah kita melihat masjid yang memasang tulisan ‘Selamat Merayakan Natal atau Selamat Paskah’ dan sebagainya?

Mungkin ada, tapi jarang. Mengapa ini terjadi? Karena ya mungkin saja kita sebagai umat Islam masih menganut kepercayaan “kita adalah bagian dari kaum mereka ketika mengucapkan itu”. Kepercayaan seperti itu sebenarnya tidak salah, toh salah dan benar adalah relatif.

Yang mau saya tekankan di sini adalah hakikat kita sebagai manusia sosial menjadi semakin abu-abu dengan berbagai prasangka dan penerjemahan dangkal akan suatu ayat dalam kitab suci. Perlunya penggalian makna yang dalam tentu akan sangat diperlukan.

            Kasih sayang bisa ditebarkan di mana saja, kapan saja—tidak harus menunggu bulan Ramadan tiba, dan untuk siapa saja. Karena sejatinya Allah menginginkan kita untuk hidup rukun untuk tetap menjaga perdamaian. Membela Allah tidak sedangkal kita berteriak kafir kepada orang yang tidak beragama Islam, tidak sedangkal kita berteriak jihad kepada mereka yang mau membangun rumah ibadah selain masjid, tidak sedangkal kita teriak Allahu Akbar dalam demo yang berbau politik. Allah akan selalu ada di hati orang-orang yang meyakininya.

Nurul Fadhillah S.

Duta Damai BNPT.

Menemukan Ramadan

ramadan
Ramadan Vector Template Design Illustration

Ramadan telah dan masih akan kita lalui. Sementara itu, silakan direnungkan kembali–apakah Anda sekalian ini sudah mengenali betul bagaimana bentuk hakiki dari Ramadan? Atau jangan-jangan, Ramadan hanya Anda jadikan sebagai alat untuk ajang insaf sesaat, tanpa pernah Anda ciptakan pertanyaan dan Anda susun jawaban mengenai apa itu insaf dan apa hubungannya dengan waktu yang ‘sesaat’.

Padahal, insaf tidak bisa diketemukan dengan dimensi waktu yang sangat relatif. Ia abadi. Jika seseorang telah insaf, berarti dia telah mengumumkan janji kepada Pemiliknya dan juga kepada dirinya untuk benar-benar progresif dan konsisten dalam melakoni kebaikan, serta dia tanamkan juga pada dirinya sebuah paku yang menahan apa yang telah diinsafinya: sikap semena-mena. Kalau-kalau dia kembali ke jalan yang salah lagi, berarti dia masih tak punya kedewasaan berpikir dalam meletakkan posisi insaf tersebut.

Di seantero Yogya, banyak dapat kita temui berbagai macam ekspresi masyarakat dalam “merayakan” Ramadan. Maksud merayakan di sini bukan mengarah kepada pesta yang selama ini telah jamak dimafhumi, melainkan sebuah upaya membentuk suatu budaya baru guna menghiasi Ramadan dengan warna-warni kreativitas masyarakat.

Misal di kampus-kampus, pada bulan ini, selalu mengadakan kegiatan full-day yang berkaitan dengan perayaan Ramadan: bisa dengan takjilan, buka bersama, ngaji kebangsaan yang dibungkus dalam salat tarawih berjamaah, serta berbagai kegiatan lainnya yang–kalau dilihat-lihat–sangat Ramadan-able.

Atau di kampung-kampung, pada bulan ini, kegiatan TPA-nya tampak lebih variatif bentuk pengajarannya: dari yang menjadikan murid sebagai obyek pembelajaran, kemudian “insaf” dengan menaruh posisi murid-muridnya sebagai subyek yang memungkinkan pengajar juga belajar darinya.

Media sosial kalau kita lihat juga tampak lebih adem ayem. Terbukti dengan isu-isu yang terpampang di permukaan adalah mengenai toleransi antar umat beragama, kerukunan masyarakat, atau bahkan saling geguyonan di dalam menghadapi perbedaan.

Inilah efek Ramadan.

Lantas kemudian timbul pertanyaan, mengapa hanya di bulan Ramadan saja? Tidak bisakah perilaku insaf yang juntrungannya sangat menentramkan ini berlanjut di bulan-bulan berikutnya?

Jangan-jangan ini merupakan akibat dari salah pemaknaan, bahwa Ramadan yang selama ini dipahami hanyalah sebagai momentum sesaat, bukan sebagai tonggak keabadian? Atau sebenarnya kita tidak menyadari kalau puasa yang sesungguhnya justru ada di bulan-bulan selain Ramadan.

Ah, agaknya pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan masuk di kuping kanan dan keluar di kuping kiri saja. Sebab kita terlampau malas untuk menyelami kedalaman makna hakiki Ramadan.

Bulan yang disebut-sebut suci ini nyatanya tidak bisa menjadi pacuan bagi manusia untuk berupaya terus tambah baik. Toh kita puasa sekarang hanya untuk supaya setelah bulan puasa ini kita bisa lampiaskan seluruh nafsu yang kita tahan-tahan di bulan ini (biar dapat pahala, thok, kan? Jujur saja), bukan?   

***

Oleh sebab itu, memasuki bulan Ramadan, sungguh-sungguh merupakan ajal atau momentum yang pas untuk merenung: menghadap cermin kesejatian diri, menyelam dan melintasi dimensi bawah sadar di lubuk hati, sampai kemudian dapat kita elaborasi dan kita pantulkan ke dalam kehidupan keseharian.

Mekanisme dan penghayatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang suci merupakan bentuk upaya paling efektif untuk mengusir kuman-kuman kotor di lintasan akal pikiran kita, noda-noda negatif di pakaian mentalitas kita, serta hama-hama wereng di batin kita.

Dengan pengetahuan kita atas kuman dan virus di dalam kasunyatan diri itu, otomatis akan kita temukan unsur-unsur yang menjadi hulunya–segala penyebabnya. Yang eksternal seperti bujuk rayu duniawi maupun yang internal berupa bentuk asli nafsu-nafsu itu sendiri.

Ramadan mempertemukan manusia dengan sejatinya ketiadaan. Ramadan mempertemukan manusia dengan dimensi suci dan jernih. Dalam pertemuan itu, dia bukan saja bisa menghayati keadaan dunia yang penuh kebobrokan dan kehancuran, melainkan juga membuat para pelaku Ramadan menemukan “kebaikan sejati”. Sebagaimana para penghayat puasa menemukan “makanan sejati”. []

Puasa dan Pengendalian Diri

Segala sesuatu yang menjadi respon diri terhadap dunia luar selalu bermuara pada diri sendiri. Kebahagiaan, kesedihan, rasa sakit, amarah, dimulai dari diri sendiri. Bukan hubungan pekerjaan, bukan uang, bukan kekuasaan yang membangun itu semua. Tapi diri sendiri yang mencipatakn semua sensasi itu.

Yang tetap bisa menjalani hidup dengan penuh suka cita di tengah keterbatasannya. Ada pula yang hidupnya begitu tersiksa dikejar-kejar rasa bersalah meski memiliki segalanya. Maka, semua yang berasal dari luar diri kita hanyalah perantara untuk menjadikan hidup kita menjadi ‘hidup’. Bermakna dan meninggalkan kesan terbaik bagi diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.

Adalah bagaimana kita bisa mengelola diri kita dengan arif dan bijaksana. Menjadikan dunia hanya sebagai wadah, kehidupan yang sementara sebagai substansinya, usia sepanjang hayat menjadi metodanya, dan targetnya adalah jangkauan transenden yang disebut akhirat.

Pointnya adalah bagaimana kita mampu untuk mendamaikan pikiran dan hati agar berjalan beriringan. Sehingga kita bisa mengendalikan akal untuk berpikir secara sehat dan hati dapat menjadi tempat bersemayanya intuisi (akhlak) yang memunculkan tindakan-tindakan sukarela, tindakan benar atau salah. Jika diri tidak dibina dengan pembinaan yang proposional, maka kita hanya akan tenggelam dalam kesenangan semu dan keinginan tak terbatas. Kehadiran kita hanya akan menjadi benalu di setiap tempat.

Yang terkelola dengan benar adalah representasi dari lingkungan dia berada. Maka, jadikan keluarga sebagai lingkungan yang nyaman, bergaullah dengan teman-teman yang menghadirkan kebaikan di dalamnya, bergurulah dengan mentor (guru) yang tepat, pelajari hal-hal yang sesuai passion. Dengan demikian akan melahirkan informasi-informasi yang kemudian direspon oleh pikiran dan disampaikan kepada tubuh sebagai eksekutornya.

Itu mengapa manusia diperintahkan untuk berpuasa wajib sebulan penuh. Bukan untuk Tuhan, karena Tuhan sudah terlalu Maha Besar untuk urusan sepele seperti manusia, melainkan keberadaan puasa justru untuk manusia itu sendiri. Puasa adalah seni mengelola rasa untuk mengasa asa nurani pada manusia. Pekerjaan menahan tumpah ruahnya keinginan, atau usaha mengendalikan kebiasaan melampiaskan. Pada tesis yang lebih jauh, puasa adalah usaha konstruktif untuk membangun relasi sosial.

Mengajarkan kita untuk pandai dalam memilah. Seperti halnya dalam berbuka, tidak semua makanan yang terhidang disantap habis. Dan, tidak semua makanan layak menjadi teman berbuka. Ada skala prioritas, menyeusaikan kondisi finansial, kesehatan, dan juga kondisi perut. Puasa melatih manusia untuk menaklukkan kesenangannya. Dengan begitu, kita sebagai manusia akan memilah segala infromasi yang hadir disekitar.

Puasa adalah sebuah metode untuk memelihara asupan yang baik bagi pikiran dengan informasi positif dan tindakan bermanfaat. Sebab hidup adalah apa yang dibuat oleh pikiran. Kala seseorang merasa malas mengerjakan tugasnya, maka hidupnya tidak akan jauh-jauh dari kemalasaan. Jodoh akan malas menghampirinya, rejeki akan malas mendatanginya, pekerjaan akan malas memilihnya, hingga orang-orang akan malas bertemu dengannya lagi. Seseorang adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari. Jika mampu merekonstruksi pikirannya dengan siifat rajin mislanya, maka tubuhnya akan ikut merespon untuk melawan rasa malas.

Puasa melatih menjauhi sifat-sifat semacam itu. Membangun mental baja, dimulai dari bangun sahur di sepertiga malam. Karena kita pada dasarnya menyenangi nyenyak, atau kenyang, tapi kita tidak diperkanankan melakukan itu sepuasanya. Puasa mengerem keinginan-keinginan tadi dari subuh hingga magrib.

Pepatah bijak pernah mengatakan bahwa kita bukan apa yang kita pikir diri kita, melainkan apa yang kita pikir, itu diri kita. Sebuah pernyataan filososif yang mengandung makna mendalam. Yang memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya kitalah yang menjadi raja atas diri kita sendiri. Pikiran kita yang memegang kendali mau dibawa ke mana hidup kita. Lalu, puasa datang untuk mengosongkon pikiran dari kotoran yang terhimpun selama sebelas bulan terakhir. Untuk kembali menjadikan pikiran kita raja atas diri kita, bukan raja atas nafsu.

Pikiran agar menghasilkan kerangka yang jernih dalam mengelola informasi yang masuk harus didukung dengan hati yang bersih. Dan lagi-lagi, puasa akan menghadirkan hati yang terawat. Hati yang akan melahirkan sifat-sifat terpuji yang menjadi trade mark-nya perbuatan-perbuatan yang muncul.

Sehingga diri yang dapat mencapai titik tersebut akan memiliki kekuasaan sejati. Kekuasaan atas diri sendiri – kekuasaan atas pikiran, kekuasaan atas ketakutan, dan kekuasaan atas akal dan jiwa. Sebab tidak ada yang dapat mebuat kita dami, kecuali diri kita sendiri.

Dengan begitu, meski ditimpa kondisi apapun diri dapat merespon dengan tepat. Walau dilanda musibah, maka seseorang yang mampu mengelola diri dengan baik tidak akan berlarut dalam kesedihan terlalu lama. Ia akan bangkit dan bergerak kembali melanjutkan hidupnya. Karena pikiran dan hatinya telah menuntunnya untuk memaknai hidup dengan lebih berarti.

Imaduddin Fr – Duta Damai BNPT

Menyoal Perbedaan dan Perang Melawan Diri Sendiri

(matthewtak.artstation.com)

            Manusia diciptakan dengan segala kompleksitas yang ada dalam diri mereka. Seorang manusia akan berbeda dengan manusia yang lain, meski mereka adalah saudara kembar identik sekalipun. Mereka akan memiliki ketertarikan yang berbeda, bentuk fisik yang berbeda, bahkan keyakinan yang berbeda akan sesuatu. Dan itu tentu saja tidak menjadi masalah, sampai ketika manusia mulai merasa penting untuk membenci karena ada begitu banyak perbedaan yang menurutnya sulit disatukan.

            Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dari Tuhan, maka dari itu sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari pada yang lainnya. Menemukan perbedaan kita dengan orang lain tentu saja akan begitu mudah. Misalnya, bagaimana tanggapan kita ketika melihat seorang gadis berkerudung yang berbicara dengan lembut dan melihat seorang perempuan yang tak berkerudung, bertato, dan merokok di saat yang bersamaan? Mungkin secara otomatis kita akan membandingkan mereka, menganggap perempuan yang berkerudung itu lebih baik dari yang bertato dan menganggap yang bertato itu adalah perempuan nakal—sebuah istilah yang secara kultural hadir di masyarakat yang menjunjung norma ketimuran. Bisa juga perempuan bertato itu akan dianggap terlalu memuja Barat dengan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan agama dan adat kita di Indonesia. Lihat, mudah sekali kita menemukan perbedaan antara kedua perempuan tersebut, bukan? Semudah itulah menilai orang lain berdasarkan apa yang kita miliki dan apa yang tidak mereka miliki. Persoalannya, bisakah kita berhenti mencari perbedaan dan mulai memerhatikan persamaannya saja?

            Jawabannya adalah bisa, tapi tidak mudah dan tidak semua orang mau melakukan itu. Sebagian masyarakat di Indonesia yang merasa dirinya agamis cenderung memiliki pakem yang tidak boleh ditawar lagi. Mereka yang dianggap kawan adalah yang sepemikiran sedang yang dianggap lawan adalah yang melenceng dari apa yang sudah dimapankan sebelumnya. Dengan dasar seperti itu, maka tidak heran di Indonesia ada begitu banyak kejadian yang hanya bermula dari adanya perbedaan yang ditemukan dari dua orang atau dua kelompok. Permasalahan seperti agama apa yang lebih baik, wajah siapa yang lebih cantik, otak siapa yang lebih pintar, atau pandangan siapa yang lebih bagus, akan selalu berkelindan tanpa akhir.

            Saat ini di seluruh dunia sedang memasuki bulan Ramadan, begitu juga di Indonesia. Bagi mereka yang percaya, bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan, setan-setan dipenjara, dan ibadah manusia dilipatgandakan pahalanya. Semua orang berlomba-lomba dalam menabung amal, berharap dijauhkan dari api neraka, dan memimpikan surga sebagai tempatnya kelak. Namun siapa sangka, datangnya bulan Ramadan juga belum mampu membuat manusia mulai mencari persamaan di antara mereka, hingga berujung pada terciptanya kedamaian.

Masih ingatkah kita dengan viralnya sebuah video yang memperlihatkan seorang bapak berbaju putih memaki seorang pegawai toko? Kira-kira mengapa bapak tersebut melakukan itu? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, bisa jadi bapak itu merasa memiliki pengetahuan agama yang luas dibanding pegawai toko itu, maka dari itu dia memaki dan merasa kurang bila pegawai toko hanya menyedekahkan seribu rupiah padanya. Kedua, bapak itu merasa tersinggung karena seribu rupiah yang disedekahkan oleh pegawai toko tidak seimbang dengan penampilannya yang begitu agamis. Ketiga, bapak itu memang memandang rendah pegawai toko setelah membandingkannya dengan penjual ikan yang bersedekah seratus ribu rupiah.

Apabila kasus tersebut tidak viral, bisa jadi si bapak tidak hanya memaki pegawai toko, tetapi juga akan menceritakan permasalahan tersebut dengan keluarganya. Beliau bisa saja melarang keluarganya untuk berbelanja di toko tersebut karena toko yang menggurita di Indonesia itu, bisa jadi dianggap terlalu bergaya kebarat-baratan. Bayangkan bila bapak tersebut adalah pemuka agama, beliau juga bisa jadi memberitahu seluruh jamaahnya bahwa baiknya bersedekah itu dengan uang yang sesuai. Jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa terjadi selain tumbuhnya kebencian?

Maka dari itu, kebencian yang timbul dari fokusnya seseorang melihat perbedaannya dengan orang lain tidak akan menghasilkan apa-apa selain perpecahan. Dalam serial film The 100, Lincoln—seorang pejuang yang sedang diobati berkata, di dalam diri setiap manusia terdapat monster dan bila monster itu keluar maka kita harus bertanggung jawab karenanya. Perang sesungguhnya di bulan Ramadan atau di bulan-bulan lain adalah berperang melawan nafsu, yang berarti itu berperang melawan diri sendiri. Ketika genderang perang ditabuh, maka manusia diberi pilihan apakah akan membunuh atau malah terbunuh dengan konyol. Tidak ada penawar yang bisa diberikan ketika manusia terluka dalam perang tersebut. Manusia hanya bisa menyembuhkan dirinya sendiri, dan untuk itu terkadang bukan hanya otot yang diperlukan, tetapi juga otak. Jadi, sudahkah kita memenangkan peperangan tersebut?