free page hit counter

Didi Kempot: Perwakilan Patah Hati

Didi Kempot: Perwakilan Patah Hati

Lewat lagu-lagunya yang mewakili perasaan, Didi Kempot  kembali menjadi idola. Ia mengemas lagu-lagunya dengan ramah, yang mewakili perasaan patah hati pendengarnya.  Menariknya, dibelakang kembalinya sang idola, adalah dengan munculnya fenomena anak-anak muda yang mengidolakanya. Mereka sama-sama dipersatukan oleh patah hati kemudian merayakannya dengan mendegarkan lagu-lagu khas dari sang maestro .

Tiap kali Didi Kempot melangsungkan konser isinya adalah kalangan anak muda yang tengah ambyar, atau tengah bersedih. Sobat ambyar menjadi julukan khas dari fans sang maestro. Jika fansnya dijuluki demikian maka Didi Kempot dijuluki dengan sebutan “Godfather of Broken Heart”. Menariknya, saat tengah konser seakan lagu-lagunya menjadi luapan kesedihan mewakili nelangsanya hidup akibat ditinggal sang kekasih, banyak penonton ikut terbawa suasana. Mereka mengikuti lagu yang dinyanyikan sang maestro tak ketinggalan dengan air mata yang terus mengalir di pipi.

Kembalinya Didi Kempot seakan membawa angin segar bagi dunia campursari. Dunia permusikan ini kerap dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan old. Namun, lewat lagu-lagu sang maestro campursari ternyata dapat dinikmati oleh lintas generasi. Bahkan, anak tetangga saya yang masih kecil hafal dengan lirik lagu pamer bojo. Betapa luar biasanya kekuatan dari Lord Didi.

Lagu-lagu sang maestro ini memang kental dengan kehidupan percintaan anak muda. Pesan-pesan sederhana yang terlantunkan dalam lirik lagunya seakan menjadi tanda siklus kehidupan percintaan anak muda. Seperti, mereka yang mencari tambatan hati, mereka yang diombang-ambingkan sang kekasih kemudian diterjun bebaskan. Mereka yang nelangsa karena ditinggal sang kekasih. Mereka yang tak mudah merelakan. Mereka yang menunggu kepastian. Sampai mereka pada di titik mengikhlaskan Lilo aku lilo. Semuanya ada dalam lagu-lagu sang maestro.

Luar biasanya, fans Lord Didi bukan hanya sebatas anak muda ambyar dari Jawa saja. Namun, dari luar Jawa pun juga mengidolakan sang maestro. Pernah saya melihat salah satu konsernya  di youtube, Didi Kempot menyayikan salah satu lagunya bersama anak muda Papua, luar biasa bukan. Ternyata, lirik-lirik lagunya yang kental akan Bahasa Jawa tak lantas, membuat sang maestro hanya dikenal pendengarnya dari jawa saja namun lebih dari itu. Fansnya bukan hanya lintas genarasi, namun juga lintas pulau dan bahasa. Seakan lagu-lagunya menyatukan perbedaan yang ada di negeri ini.

Dikutip dari Tirto.id kembali jayanya Didi Kempot bermula awal Juni lalu, saat itu ia tengah mengadakan konser di Taman Balekambang , Surakarta. Tak disangkanya, anak muda yang berada di barisan terdepan penonton menjadi salah satu kunci namanya kembali melambung. Sejak saat itu pembicaraan mengenai “Godfather of Broken Heart” ini ramai di lini media sosial. Banyak warganet yang berbondong-bondong membagikan penggalan lirik lagu sang maestro, yang sesuai dengan isi hati mereka. Menggambarkan nggrantes nya hati mereka. Ada yang optimis bahkan pasrah menjalani nelangsanya kehidupan percintaan mereka.

Lirik-lirik lagunya seakan memiliki kedekatan emosional dengan kisah cinta anak-anak muda masa kini. Seperti, Layang Kangen yang menggambarkan perasaan penantian kepulangan sang kekasih yang tengah menjalani long distance relationship. Suket Teki, yang lirik lagunya mencoba menggambarkan keoptimisan bahwa segala kenangan indah yang pernah tejadi bakal terulang kembali. Cidro, yang menggambarkan perasaan kecewanya seseorang ketika sang kekasih tak menepati janjinya. Sampai kisah cinta yang tragis Pamer Bojo yang menggambarkan sang mantan kekasih yang telah memiliki kekasih baru dan dipamerkan dihadapannya. Betapa ambyarnya lagu-lagu dari Lord Didi ini.

Pagi ini sang maestro telah berpulang ke rahmatullah. Tentunya menjadi pukulan pedih bagi para pendengarnya. Membuat patah hati bagi pendengarnya. Tagar Didi Kempot serta SobatAmbyarBerduka menjadi trending topic di twitter. Ucapan bela sungkawa tak henti-hentiya datang dari warganet. Meskipun sang maestro telah tiada, namun lagu-lagu ambyarnya akan tetap terkenang bagi pendengarnya. Selamat jalan Didi Kempot.

Dada..dada  sayang

Da.. Selamat jalan

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *