Taufik Ismail: Berpuisi dalam Keyakinan

Selama ini kita selalu
ragu-ragu
 
dan berkata:
dua tambah dua
mudah-mudahan sama dengan empat.

Taufik Ismail (Sajak “Aritmatika Sederhana”, 1966)

Puisi merupakan sesuatu yang lahir dari rahim penyair melalui olah batin dengan mata cakrawala; diri penyair bercengkrama dengan dirinya di dalam dirinya sendiri. Puisi tidak menjelaskan peristiwa melalui deskripsi ilmiah yang berisi muatan informasi, melainkan puisi memberi umpan minat kepada manusia untuk menggali informasi. Dan penyairlah yang menjadi hero dalam tambang ilmu tersebut.

Kalau dalam dunia perpuisian, kita mengenal ada dua jenis penyair. Pertama, penyair yang menulis puisi-puisi hanya untuk kongkow dengan dirinya sendiri, curhat kepada isi kepalanya sendiri, dan menumpahkan segala masalah kepada jiwanya sendiri. Ada pula penyair yang menulis puisi-puisi cenderung untuk mengajak pembaca untuk mengobrol, atau mungkin nongkrong satu malam membicarakan kehidupan yang diangkat melalui puisi itu.

Kita kenal penyair di Indonesia yang dilihat dari puisi-puisinya. Ia merupakan penyair yang masuk dalam dua jenis penyair tersebut. Tidak lain tidak bukan adalah Taufik Ismail. Ada satu puisi Taufik yang menggambarkan posisinya dalam kepenyairan:

Aku ingin menulis puisi yang tidak semata-mata berurusan dengan cuaca, warna, cahaya, suara, dan mega.

Aku ingin menulis puisi tentang merosotnya pendidikan, tentang Nabi Adam, keluarga berencana, sepuir Hirarki, lembah Anai, Amirmachmud, Piccadily Circus, taman kanak-kanak, Opsus, Raja Idrus, nasi gudeg, kota Samarkand, Raymond Westerling, Laos, Emil Salim, Roxas, Boulevard, Jafar Nur Aidit, modal asing, Chekpoint, Charlie, Zaenal Zakse, utang $3 milyard, pelabuhan Rotterdam, Champs Elysses dan bayi ajaib, semuanya disusun kembali menurut urutan abjad

Barangkali aku tidak sempat menuliskan semuanya
Tapi aku ingin menulis puisi-puisi demikian
Aku ingin

(Sajak “Aku Ingin Menulis Puisi, Yang”, 1971)

Dalam puisi tersebut, kita dapat melihat keteguhan Taufik sekaligus peranannya sebagai umpan minat kepada pembaca untuk menggali informasi. Proses kepenyairan Taufik juga mengajarkan bahwa ia memang benar-benar berusaha mewujudkan tekad tersebut. Tekad tersebut terkumpul dalam buku-buku kumpulan sajaknya seperti Tirani (1966), Sajak Ladang Jagung (1974), sampai Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998), dll.

Seperti dalam kutipan sajak Aritmatika Sederhana di bawah judul, kita selama ini selalu ragu-ragu di depan kebenaran. Kita sengaja pura-pura tidak mendengar daripada harus bertanggungjawab atas kebenaran itu. Bahkan kita melarikan diri. Karena bagi kita, kebenaran adalah singa yang siap mencabik, tanduk lancip banteng yang hendak menyeruduk. Kebenaran kita posisikan sebagai musuh, bukan kawan. Sehingga kita merasa tidak perlu berurusan dengannya.

Taufik Ismail menyelami dalamnya jiwa manusia yang melarikan diri itu. Ia tidak ragu-ragu menyebut kalau dia ogah terus-terusan berkutat dengan keindahan prasangka, warna-warni kebodohan, atau mega kesalahpahaman. Taufik dengan tegas ingin menulis semuanya, meskipun hanya ingin. Ia tetap tegak di hadapan auman macan, meskipun takut dan merinding. Tapi itulah Taufik. Itulah sejatinya manusia.

Manusia dapat belajar tentang sesuatu. Dan manusia dapat menentukan apa sesuatu itu. Manusia mempunyai pilihan untuk memilih atau tidak memilih. Tetapi bisa jadi dalam proses belajar tersebut manusia menemui apa yang tidak ia pilih. Siap tidak siap, manusia dituntut untuk melewatinya, itu pun lagi-lagi dengan kebebasan: mau menghadapi atau lari darinya.

Tentu saja untuk memilih sesuatu itu kita perlu barang ajaib bernama keyakinan. Yakin itu penting. Ia adalah iman yang membimbing manusia menuju jalur hidup di masa depan. Ketika kita hilang keyakinan, kita hanya menjadi sampah yang terombang-ambing di atas laut; bergerak terbawa arus tanpa kedaulatan.


Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika keadaan yang tidak bisa dijualbelikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kautumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kedzaliman

(Sajak “Nasehat-nasehat Kecil Orang Tua pada Anaknya Berangkat Dewasa”, 1965)

Kita hendaknya terus menggali dan menggali. Sebab di dalam dawai batin kita yang paling sublim, ada yang harus tergali. Penyair dengan puisi-puisinya memang berperan dalam menyentuh keintiman itu, tetapi subjek utamanya ialah diri kita masing-masing. Yang bertugas sebagai mandor kehidupan — tidak lain tidak bukan — adalah diri kita sendiri.

Stay at Limbo

Kalau bisa mudah kenapa harus pilih susah?

Sekarang apa-apa serba online. Kuliah mulai online. Rapat sudah online. Olahraga juga online. Bahagia apalagi, harus online. Pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pencapaian kebutuhan dan pemenuhan keinginan manusia, sudah bisa di-online-kan. Memang di dalam sosio-kultur manusia berlaku suatu hukum bahwa manusia akan menampakkan ‘identitas’ aslinya saat sedang dihadapkan oleh bencana atau mara bahaya. Namun tak bisa disimpulkan juga kalau ‘identitas’ asli manusia adalah online.

Salah satu episode di serial Black Mirror juga bercerita semacam itu. Bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan pemenuhan hasrat kepuasan dirinya: harta, eksistensi, dan kekuasaan. Kebetulan saja ketiganya bisa dicapai dengan mudah melalui cara online.

Tanpa capek-capek keluar rumah, uang secara instan dapat langsung masuk ke kantong. Tanpa harus mengerahkan tenaga menggandakan wajah, kita bisa masuk dalam relasi kekuasaan. Meski juga tanpa memperlihatkan rupa asli kita, hanya bermodal satu-dua kata manis yang kita gelontorkan di Twitter, ribuan retweet dan follower bisa bertengger di dalam etalase hidup kita.

Kalau ada yang mudah, kenapa harus pilih yang susah bukan?

Di masa karantina ini, kita harus waspada. Sebab tanpa kewaspadaan bisa saja kita masuk ke dalam limbo. Suatu wadah di mana kesadaran kita hilang dalam kegelapan. Kalau menurut Christoper Nolan dalam Inception (2010), Limbo merupakan sebuah kawasan impian, sebuah kawasan alam bawah sadar tak terhingga, dimana seorang pemimpi bisa memanifestasikan hasratnya yang terdalam, tetapi kalau sampai tidak waspada, bisa-bisa kesadaran kita larut sehingga menjadi bias antara kenyataan dan mimpi. Antara online dan offline. Antara identitas dan personalitas.

Limbo, dalam kaitannya dengan situasi akhir-akhir ini, sangat menjadi ancaman bagi kita. Selama kita tidak punya kontrol atas sehatnya pikiran dan warasnya rasionalitas. Selama kita melepas pengendalian diri terhadap gejolak emosi dan kita terus ragu-ragu mengambil langkah-langkah, kita adalah target empuk bagi Limbo, kita ayam panggang kecap dengan sambal terasi dan nasi kebuli yang dihidangkan kepada monster rakus bernama stress dan kelimpungan.

Bahkan sang Taufik Ismail mengabarkan: Selama ini kita selalu ragu-ragu // dan berkata: // dua tambah dua // mudah-mudahan sama dengan empat. Betapa manusia selalu bersikap ragu-ragu terhadap kemantapan. Betapa keragu-raguan ialah induk dari sifat teledor. Dari titik ini // Sedang kita tarik garis lurus // Ke titik berikutnya // Segala komponen // Telah jelas. Dalam soal // Yang sederhana.

Keragu-raguan memang wajar, tapi wajar bukanlah sesuatu yang kudu dimaklumi. Contohlah Dzun Nun alias Nabi Yunus. Beliau sempat juga menjadi korban lockdown-nya Allah Swt.

Baginda Yunus saat karantina di dalam perut ikan paus dipenuhi banyak pertanyaan tentang dirinya, tentang tugas kenabiannya, tentang umatnya yang mbalelo, tentang nasibnya berada di perut paus.

Beliau memanfaatkan waktunya untuk muhasabah dan tafakkur. Tidak lantas main TikTok, mengumpulkan stock Meme, atau bikin story WhatsApp sedang rapat Zoom bersama teman-temannya di darat. Tidak. Beliau terus meningkatkan kewaspadaannya sampai tingkatan di mana Allah sebagai the one and only kawan ngobrolnya.

Yunus bertapa dan mencari-cari jalan keluar di pikirannya. Tetapi semakin dicari semakin tidak ketemu. Semakin ingin keluar semakin buntu jalan. Memang wajar sebagai nabi yang kabur dari tugasnya pantas masuk ke dalam goa perut ikan paus, tapi beliau tidak memaklumi itu. Beliau menghitung kesalahan-kesalahan hidupnya sebagai manusia, sebagai nabi, sebagai makhluk yang diutus Allah. Sehingga tiba-tiba cahaya merekah di lubuk kesadarannya. Allah menjadi satu-satunya pihak yang hadir di hadapannya. Sehingga mulutnya tanpa sengaja keluar pernyataan: “Laa Ilaaha Illa Anta subhanaka Inni kuntu min adh-dhalimin.” Pernyataan yang mengandung dua unsur pengakuan. Pertama pengakuan bahwa satu-satunya sesembahan, Tuhan, Ilah, hanyalah Allah. Dan kedua, pengakuan bersalah atas kelalaiannya.

Syahdan, dari kewaspadaan atas limbo dan ketenangan Nabi Yunus saat stay at whale’s stomach, dapat kita simpulkan: yang terpenting akhirnya bukanlah apakah online atau offline. Tapi apakah di dalam offline atau pun online itu dapat kita temukan porsi yang pas untuk tidak masuk ke dalam Limbo. Apakah dengan offline atau pun online ini kita dapat memahami bahwa kita hamparan kerikil di alam semesta sehingga amat tidak layak dan tidak patut kita sombong berjalan membusungkan dada di bumi. Sebab baik-buruk online sepenuhnya tergantung kepada sistem pengelolaan tangan manusia. Bisakah kita meletakkan online dan offline tepat pada posisinya masing-masing? Atau… Limbo.

Menemukan Ramadan

ramadan
Ramadan Vector Template Design Illustration

Ramadan telah dan masih akan kita lalui. Sementara itu, silakan direnungkan kembali–apakah Anda sekalian ini sudah mengenali betul bagaimana bentuk hakiki dari Ramadan? Atau jangan-jangan, Ramadan hanya Anda jadikan sebagai alat untuk ajang insaf sesaat, tanpa pernah Anda ciptakan pertanyaan dan Anda susun jawaban mengenai apa itu insaf dan apa hubungannya dengan waktu yang ‘sesaat’.

Padahal, insaf tidak bisa diketemukan dengan dimensi waktu yang sangat relatif. Ia abadi. Jika seseorang telah insaf, berarti dia telah mengumumkan janji kepada Pemiliknya dan juga kepada dirinya untuk benar-benar progresif dan konsisten dalam melakoni kebaikan, serta dia tanamkan juga pada dirinya sebuah paku yang menahan apa yang telah diinsafinya: sikap semena-mena. Kalau-kalau dia kembali ke jalan yang salah lagi, berarti dia masih tak punya kedewasaan berpikir dalam meletakkan posisi insaf tersebut.

Di seantero Yogya, banyak dapat kita temui berbagai macam ekspresi masyarakat dalam “merayakan” Ramadan. Maksud merayakan di sini bukan mengarah kepada pesta yang selama ini telah jamak dimafhumi, melainkan sebuah upaya membentuk suatu budaya baru guna menghiasi Ramadan dengan warna-warni kreativitas masyarakat.

Misal di kampus-kampus, pada bulan ini, selalu mengadakan kegiatan full-day yang berkaitan dengan perayaan Ramadan: bisa dengan takjilan, buka bersama, ngaji kebangsaan yang dibungkus dalam salat tarawih berjamaah, serta berbagai kegiatan lainnya yang–kalau dilihat-lihat–sangat Ramadan-able.

Atau di kampung-kampung, pada bulan ini, kegiatan TPA-nya tampak lebih variatif bentuk pengajarannya: dari yang menjadikan murid sebagai obyek pembelajaran, kemudian “insaf” dengan menaruh posisi murid-muridnya sebagai subyek yang memungkinkan pengajar juga belajar darinya.

Media sosial kalau kita lihat juga tampak lebih adem ayem. Terbukti dengan isu-isu yang terpampang di permukaan adalah mengenai toleransi antar umat beragama, kerukunan masyarakat, atau bahkan saling geguyonan di dalam menghadapi perbedaan.

Inilah efek Ramadan.

Lantas kemudian timbul pertanyaan, mengapa hanya di bulan Ramadan saja? Tidak bisakah perilaku insaf yang juntrungannya sangat menentramkan ini berlanjut di bulan-bulan berikutnya?

Jangan-jangan ini merupakan akibat dari salah pemaknaan, bahwa Ramadan yang selama ini dipahami hanyalah sebagai momentum sesaat, bukan sebagai tonggak keabadian? Atau sebenarnya kita tidak menyadari kalau puasa yang sesungguhnya justru ada di bulan-bulan selain Ramadan.

Ah, agaknya pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan masuk di kuping kanan dan keluar di kuping kiri saja. Sebab kita terlampau malas untuk menyelami kedalaman makna hakiki Ramadan.

Bulan yang disebut-sebut suci ini nyatanya tidak bisa menjadi pacuan bagi manusia untuk berupaya terus tambah baik. Toh kita puasa sekarang hanya untuk supaya setelah bulan puasa ini kita bisa lampiaskan seluruh nafsu yang kita tahan-tahan di bulan ini (biar dapat pahala, thok, kan? Jujur saja), bukan?   

***

Oleh sebab itu, memasuki bulan Ramadan, sungguh-sungguh merupakan ajal atau momentum yang pas untuk merenung: menghadap cermin kesejatian diri, menyelam dan melintasi dimensi bawah sadar di lubuk hati, sampai kemudian dapat kita elaborasi dan kita pantulkan ke dalam kehidupan keseharian.

Mekanisme dan penghayatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang suci merupakan bentuk upaya paling efektif untuk mengusir kuman-kuman kotor di lintasan akal pikiran kita, noda-noda negatif di pakaian mentalitas kita, serta hama-hama wereng di batin kita.

Dengan pengetahuan kita atas kuman dan virus di dalam kasunyatan diri itu, otomatis akan kita temukan unsur-unsur yang menjadi hulunya–segala penyebabnya. Yang eksternal seperti bujuk rayu duniawi maupun yang internal berupa bentuk asli nafsu-nafsu itu sendiri.

Ramadan mempertemukan manusia dengan sejatinya ketiadaan. Ramadan mempertemukan manusia dengan dimensi suci dan jernih. Dalam pertemuan itu, dia bukan saja bisa menghayati keadaan dunia yang penuh kebobrokan dan kehancuran, melainkan juga membuat para pelaku Ramadan menemukan “kebaikan sejati”. Sebagaimana para penghayat puasa menemukan “makanan sejati”. []

Puasa Total

Sampai kapan kita akan berpijak pada pengertian bahwa puasa ialah hanya sebatas menahan makan dan minum–dan tidak pernah sedikit pun beranjak pada pengertian yang lebih luas, bahwa puasa ialah upaya kita untuk terus membentengi diri dari segala hal yang menjerumuskan ke dalam jurang mudlarat.

Puasa selama ini dipahami oleh sebagian kaum Muslim hanya dalam lingkup pemahaman fiqh, yaitu menahan nafsu dari subuh sampai magrib. Sehingga budaya “puasa” yang timbul juga tak jauh dari soal makan dan minum. Tak pernah kita jumpai iklan di media sosial, di koran, di teve, atau di mana pun saja yang tidak menawarkan produk makanan dan minumannya lebih masif dibanding bulan-bulan di lain Ramadhan.

Peradaban kita sebagai kaum Muslim hanya memasrahkan sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata. Dan mungkin, kita enggan untuk melihat lebih dalam mengenai cakrawala puasa.

Misal di bulan Ramadhan ini selalu digaung-gaungkan fenomena bahwa ongkos saat puasa lebih mahal daripada di bulan-bulan biasa. Perut seolah kita jadikan “dewa” yang senantiasa memecuti nafsu kita untuk terus tergiur oleh konsumerisme. Yang diutamakan selalu kepuasan lahir, bukan peningkatan kualitas kemanusiaan. Yang dikejar selalu keunggulan materi, bukan kekayaan rasa kemanusiaan.

Hal tersebut sebenarnya cukup untuk menyenggol kita, mengusik logika akal pikiran kita, bahwa puasa yang sejati bukan sekadar menahan nafsu makan, minum, dan amarah. Lebih dari itu, letak puasa ialah pada ghayah (tujuan)-nya, yaitu menjadikan rasa kemanusiaan sebagai hilir sikap keberagamaan kita.

Soal menahan nafsu ‘kan hanya sebagai jalan, thariqah, atau minimal syariat untuk mencapai cakrawala puasa: menjadikan kita sebagai “manusia”. Dan sebisa mungkin, kalau hendak menjalani sesuatu jangan setengah-setengah, tapi juga musti penuh pertimbangan dan harus total. Soal puasa: jangan menjalani puasa pada level thariqah saja, tapi juga tetap fokus pada ghayah-nya.

Mari coba kita lihat pada wilayah kasunyatan, di media sosial, belakangan ini, atau mungkin sudah jauh-jauh hari yang lalu, pasti selalu saja banyak orang bertengkar satu sama lain. Mereka bertengkar bukan sebab martabat atau harga diri mereka diinjak, itu soal lain, melainkan hanya soal yang remeh-temeh: hal-hal yang bahkan tak berpengaruh apa-apa pada hidup mereka.

Kalau diterjemahkan ke bahasa budaya puasa, mereka itu sejenis orang yang mokel atau dalam bahasa Indonesia “membatalkan puasa sebelum waktunya”. Orang mokel biasanya disebabkan oleh tak kuatnya diri mereka membentengi serbuan nafsu mereka sendiri. Melihat es teh sedikit, tergiur. Menonton iklan makanan di teve, tergiur. Pokoknya mereka mudah dibujuk rayu oleh hal-hal kecil macam itu.

Perlu dicatat bahwa yang seharusnya kita musuhi bukan orangnya, tetapi perilakunya. Sebab kita tak tahu apa yang mendasari orang tersebut untuk mokel. Bisa jadi mereka termasuk orang yang diberi privilige langsung dari Allah untuk tidak puasa: wanita haid, orang yang terkena sakit berat, orang yang sedang bekerja sangat berat, dlsb.

Kita ambil hikmahnya saja bahwa perilaku mokel berarti menunjukkan inkonsistensi dalam melakoni sesuatu. Ia, yang terjerumus ke dalamnya, tidak benar-benar mengetahui dan mendalami tentang sesuatu yang sedang ia jalani. Sehingga ia sangat mudah memutus kontrak yang telah ia buat dengan dirinya sendiri.

Dan jika kita telisik perilaku orang-orang di media sosial tadi, mungkin dapat kita simpulkan kalau mereka ini sebenarnya tidak tahu hakikat bermedsos. Tidak benar-benar mendalami apa tujuan bermedsos. Jadi hanya dengan sedikit percikan api, mereka langsung terbakar. Hanya dengan sedikit rayuan, mereka langsung terlena.

***

Maka mari, di bulan yang suci ini, kita temukan kesejatian puasa. Kita dalami dan terapkan betul-betul dalam keseharian. Supaya kita tidak mokel, tidak mudah tersulut oleh api. Dan intinya, kita terus terhindar dari wabah kebencian, dan selalu bergerak progresif menuju ujung cakrawala puasa: menjadi sebenar-benarnya manusia.

Azka El Faatih