Puasa Total

Puasa Total

Sampai kapan kita akan berpijak pada pengertian bahwa puasa ialah hanya sebatas menahan makan dan minum–dan tidak pernah sedikit pun beranjak pada pengertian yang lebih luas, bahwa puasa ialah upaya kita untuk terus membentengi diri dari segala hal yang menjerumuskan ke dalam jurang mudlarat.

Puasa selama ini dipahami oleh sebagian kaum Muslim hanya dalam lingkup pemahaman fiqh, yaitu menahan nafsu dari subuh sampai magrib. Sehingga budaya “puasa” yang timbul juga tak jauh dari soal makan dan minum. Tak pernah kita jumpai iklan di media sosial, di koran, di teve, atau di mana pun saja yang tidak menawarkan produk makanan dan minumannya lebih masif dibanding bulan-bulan di lain Ramadhan.

Peradaban kita sebagai kaum Muslim hanya memasrahkan sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata. Dan mungkin, kita enggan untuk melihat lebih dalam mengenai cakrawala puasa.

Misal di bulan Ramadhan ini selalu digaung-gaungkan fenomena bahwa ongkos saat puasa lebih mahal daripada di bulan-bulan biasa. Perut seolah kita jadikan “dewa” yang senantiasa memecuti nafsu kita untuk terus tergiur oleh konsumerisme. Yang diutamakan selalu kepuasan lahir, bukan peningkatan kualitas kemanusiaan. Yang dikejar selalu keunggulan materi, bukan kekayaan rasa kemanusiaan.

Hal tersebut sebenarnya cukup untuk menyenggol kita, mengusik logika akal pikiran kita, bahwa puasa yang sejati bukan sekadar menahan nafsu makan, minum, dan amarah. Lebih dari itu, letak puasa ialah pada ghayah (tujuan)-nya, yaitu menjadikan rasa kemanusiaan sebagai hilir sikap keberagamaan kita.

Soal menahan nafsu ‘kan hanya sebagai jalan, thariqah, atau minimal syariat untuk mencapai cakrawala puasa: menjadikan kita sebagai “manusia”. Dan sebisa mungkin, kalau hendak menjalani sesuatu jangan setengah-setengah, tapi juga musti penuh pertimbangan dan harus total. Soal puasa: jangan menjalani puasa pada level thariqah saja, tapi juga tetap fokus pada ghayah-nya.

Mari coba kita lihat pada wilayah kasunyatan, di media sosial, belakangan ini, atau mungkin sudah jauh-jauh hari yang lalu, pasti selalu saja banyak orang bertengkar satu sama lain. Mereka bertengkar bukan sebab martabat atau harga diri mereka diinjak, itu soal lain, melainkan hanya soal yang remeh-temeh: hal-hal yang bahkan tak berpengaruh apa-apa pada hidup mereka.

Kalau diterjemahkan ke bahasa budaya puasa, mereka itu sejenis orang yang mokel atau dalam bahasa Indonesia “membatalkan puasa sebelum waktunya”. Orang mokel biasanya disebabkan oleh tak kuatnya diri mereka membentengi serbuan nafsu mereka sendiri. Melihat es teh sedikit, tergiur. Menonton iklan makanan di teve, tergiur. Pokoknya mereka mudah dibujuk rayu oleh hal-hal kecil macam itu.

Perlu dicatat bahwa yang seharusnya kita musuhi bukan orangnya, tetapi perilakunya. Sebab kita tak tahu apa yang mendasari orang tersebut untuk mokel. Bisa jadi mereka termasuk orang yang diberi privilige langsung dari Allah untuk tidak puasa: wanita haid, orang yang terkena sakit berat, orang yang sedang bekerja sangat berat, dlsb.

Kita ambil hikmahnya saja bahwa perilaku mokel berarti menunjukkan inkonsistensi dalam melakoni sesuatu. Ia, yang terjerumus ke dalamnya, tidak benar-benar mengetahui dan mendalami tentang sesuatu yang sedang ia jalani. Sehingga ia sangat mudah memutus kontrak yang telah ia buat dengan dirinya sendiri.

Dan jika kita telisik perilaku orang-orang di media sosial tadi, mungkin dapat kita simpulkan kalau mereka ini sebenarnya tidak tahu hakikat bermedsos. Tidak benar-benar mendalami apa tujuan bermedsos. Jadi hanya dengan sedikit percikan api, mereka langsung terbakar. Hanya dengan sedikit rayuan, mereka langsung terlena.

***

Maka mari, di bulan yang suci ini, kita temukan kesejatian puasa. Kita dalami dan terapkan betul-betul dalam keseharian. Supaya kita tidak mokel, tidak mudah tersulut oleh api. Dan intinya, kita terus terhindar dari wabah kebencian, dan selalu bergerak progresif menuju ujung cakrawala puasa: menjadi sebenar-benarnya manusia.

Azka El Faatih

Share this post

Comments (6)

  • risang damar Reply

    Tulisan yang menyejukkan. Menyadarkan kita tentang hakikat manusia. Thx mas azka…

    16 Mei 2019 at 9:58 am
  • risang damar Reply

    Tulisan yang menyejukkan. Menyadarkan kita tentang hakikat manusia. Thx mas azka…

    16 Mei 2019 at 9:58 am
  • Puasa dan Pengendalian Diri - Duta Damai Yogyakarta Reply

    […] Puasa adalah sebuah metode untuk memelihara asupan yang baik bagi pikiran dengan informasi positif dan tindakan bermanfaat. Sebab hidup adalah apa yang dibuat oleh pikiran. Kala seseorang merasa malas mengerjakan tugasnya, maka hidupnya tidak akan jauh-jauh dari kemalasaan. Jodoh akan malas menghampirinya, rejeki akan malas mendatanginya, pekerjaan akan malas memilihnya, hingga orang-orang akan malas bertemu dengannya lagi. Seseorang adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari. Jika mampu merekonstruksi pikirannya dengan siifat rajin mislanya, maka tubuhnya akan ikut merespon untuk melawan rasa malas. […]

    17 Mei 2019 at 7:11 am
  • Puasa dan Pengendalian Diri - Duta Damai Yogyakarta Reply

    […] Puasa adalah sebuah metode untuk memelihara asupan yang baik bagi pikiran dengan informasi positif dan tindakan bermanfaat. Sebab hidup adalah apa yang dibuat oleh pikiran. Kala seseorang merasa malas mengerjakan tugasnya, maka hidupnya tidak akan jauh-jauh dari kemalasaan. Jodoh akan malas menghampirinya, rejeki akan malas mendatanginya, pekerjaan akan malas memilihnya, hingga orang-orang akan malas bertemu dengannya lagi. Seseorang adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari. Jika mampu merekonstruksi pikirannya dengan siifat rajin mislanya, maka tubuhnya akan ikut merespon untuk melawan rasa malas. […]

    17 Mei 2019 at 7:11 am
  • Menemukan Ramadan - Duta Damai Yogyakarta Reply

    […] seantero Yogya, banyak dapat kita temui berbagai macam ekspresi masyarakat dalam “merayakan” Ramadan. Maksud merayakan di sini bukan mengarah kepada pesta yang selama ini telah jamak dimafhumi, […]

    23 Mei 2019 at 12:37 pm
  • Menemukan Ramadan - Duta Damai Yogyakarta Reply

    […] seantero Yogya, banyak dapat kita temui berbagai macam ekspresi masyarakat dalam “merayakan” Ramadan. Maksud merayakan di sini bukan mengarah kepada pesta yang selama ini telah jamak dimafhumi, […]

    23 Mei 2019 at 12:37 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.