Musik Dunia Pemersatu Bangsa

Musik dalam KBBI berarti  (1) ini atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan keseimbangan, (2) nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian itu).

Bagi sebagian orang musik adalah satu hobi (kesenangan) yang melengkapi hidup. Musik dipakai sebagai sarana untuk menyalurkan emosi dan rasa. Rasa sedih, bertemu musik. Sedang kecewa, diluapkan dalam musik. Sedang sangat rindu, berteman dengan musik. Bahkan ketika sedang sangat berharap, musik dijadikan satu sarana untuk melengkapi peribadatan. Musik menjadi warna dan hiburan tersendiri dalam lini kehidupan.

Musik oleh sebagian kalangan tidak hanya berhenti sebagai sarana mengekspresikan diri. Musik hadir lebih dari sekedar gaya. Tidak sedikit kita tahu adanya musisi yang memang menggantung diri dari bermusik. Artinya, musik dipakai sebagai media untuk mencari nafkah. Sebut saja pencipta lagu, komposer, produser pula musisi.

Musik hadir memenuhi belahan dunia. Setiap negara bahkan punya ciri musiknya masing-masing. Bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh kultur budaya masing-masing wilayah.
Kita tahu, setiap negara merdeka bahkan punya lagu kebangsaan. Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia.

Sejarah Musik Dunia

Merunut sejarah perkembangan musik telah terjadi sejak zaman purbakala. Kala itu musik hadir sebagai pelengkap dalam menjalankan ritual-ritual atau semacam pengiring dalam upacara-upacara peribadatan. Perkembangan musik terus berlanjut ke abad pertengahan. Pada abad dimana Romawi mulai mengalami kemunduran, musik justru berkembang oleh sebab ditemukannya kemajuan dalam bidang kehidupan. Tokoh yang cukup santer pada masa ini adalah Gullanme Dufay dari Prancis dan Adam de la halle dari Jerman.

Pada abad Renaisans dimana dikenal juga dengan abad kebangkitan, musik kembali mendapatkan pengaruh dan mengalami perkembangan. Pada masa ini mulai mengenal musik dengan bercirikan nuansa percintaan dan perjuangan. Musik yang awalnya identik dengan ritual gereja justru mengalami kemunduran. Perkembangan sains dan teknologi pada masa ini cukup meningkat begitu pun dengan musik. Awal kemunculan piano dan organ dimulai pada masa ini. Inilah cikal bakal lahirnya musik instrumental. Giovanni Gabrieli (1557 – 1612) dari Italia, Galilei (1533 – 1591) dari Italia, Claudio Monteverdi (1567 – 1643) dari Venesia, Jean Baptiste Lully (1632 – 1687) dari Prancis, mereka adalah tokoh-tokoh musik pada masa renaisans.

Di abad pertengahan kembali dikenal jenis aliran musik baru yaitu Barok dan Rokoko. Setelah zaman ini berakhir maka dimulailah era musik klasik yang juga masih dikenal sampai saat ini. Musik klasik dimulai sejak tahun 1750.

Sejarah musik tidak hanya berhenti sebagai sarana hiburan. Musik juga ikut andil dalam perayaan-perayaan kenegaraan. Musik dekat dengan budaya. Musik sebagai penyemangat dalam event olahraga. Musik juga dikenal sebagai media perdamaian. Musik sebagai pemersatu bangsa.

Jangan lupa ikut lomba cover lagu.

Duta Damai Yogyakarta Berbagi Damai
Ramadan kali ini beda dengan Ramadan sebelum-sebelumnya. Adanya Corona Virus membuat sebagian aktivitas nyaris lumpuh. Imbasnya kepada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Mulai dari pengurangan karyawan, PHK, sampai gulung tikar. Sebagian yang lain banting setir ke industri lain.

Di Yogyakarta sendiri terlihat pusat perbelanjaan dan toko-toko tutup untuk sementara waktu. Aktivitas di pasa juga jalan lebih lenggang dari biasanya. Para pedagang pasar tiban Ramadan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan di beberapa titik mulai tidak ada lagi aktivitas tahunan ini. Hal ini tentu saja membuat sebagian masyarakat yang biasa menggantungkan diri dengan kegiatan ini kehilangan pendapatan.

Biasanya bulan Ramadan banyak kerjaan sambilan sekedar jualan takjil atau mendadak jadi pegawai/ kuli sementara waktu demi menambah penghasilan untuk tabungan lebaran. Sekadar uang untuk beli baju baru, beli biskuit dan bagi-bagi angpao.

Bagi-bagi takjil dan buka puasa di masjid pun sekarang dihentikan karena virus. Begitu pun bagi-bagi takjil di pinggir jalan terlihat semakin sedikit jika tidak ingin dibilang sepi. Padahal biasanya moment ini dipakai oleh saudara-saudara kita yang berlebih untuk berbagi kebaikan dan saudara-saudara yang membutuhkan memaknainya sebagai ‘perbaikan gizi’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sadar akan situasi ini, maka  Duta Damai Yogyakarta mengadakan aksi Duta Damai Yogyakarta #BerbagiDamai.
Aksi ini dilaksanakan pada hari Minggu, 10 Mei 2020 mulai pukul 15.00 hingga jelang buka puasa.
Berbagi damai merupakan aksi berbagi nasi kota untuk buka puasa yang diberikan oleh Duta Damai Yogyakarta dengan sasaran utamanya adalah para pemulung, tukang becak, tukang ojek online, penjual koran dan lainnya yang dirasa berhak mendapatkannya. Kegiatan amal ini sengaja mengambil rute Gejayan, Babarsari, Jl. Solo dan sekitaran Jl. Kusumanegara.

Aksi ini memang baru pertama kali dijalankan oleh Duta Damai Yogyakarta. Kedepan bahkan dalam waktu dekat akan diadakan lagi aksi serupa dengan sasaran sama namun lokasi yang berbeda. Harapannya agar bisa merata dan bisa memetakan seperti apa keadaan Yogyakarta hari ini.

Tidak menutup kemungkinan Duta Damai Yogyakarta akan membuka open donasi dan kerjasama dengan pihak-pihak lain. Apakah Anda tertarik untuk ikut serta?

Posting Makanan Mengurangi Pahala Puasa

Makanan

Posting makanan di bulan puasa mendadak jadi bahan obrolan yang cukup riuh di sosial media. Awal Ramadan kemarin, netizen sempat ramai mengkritisi tentang perkara posting foto makanan di sosial media. Beberapa akun menyatakan keberatan dengan akun-akun yang sering pamer postingan makanan.

‘Tidak usah pamer foto makanan di sosial media, karena banyak saudara kita yang masih kesusahan makan’.

Kurang lebih begini redaksi yang dipakai oleh akun yang kontra dengan postingan makanan selama Ramadan ini.

Terang saja postingan seperti ini langsung dibalas dengan akun-akun yang merasa posting makanan di sosial media adalah hak pribadi pemilik akun.
‘apa salahnya posting makanan? Kalau enggak suka tinggal blokir saja, kan!”

Saya cukup lama mengikuti riuh perkara posting makanan ini. Sehingga sedikit bisa mengambil kesimpulan dan yakin mau merapat ke kubu mana. Tentu saja saya termasuk orang yang ‘i don’t care’ dengan segambreng postingan orang-orang. Bagi saya selama postingan ini menarik, bagus, bukan pemicu kerusuhan dan tidak menyalahi norma, santai saja adalah yang terbaik.
Jangankan orang posting makanan sepiring steak, posting kulkas beserta isinya saja masih wajar dan sah-sah saja. Tidak langsung membuat saya merana atau merasa menjadi makhluk yang terlampau miskin.

Lagian, untuk apa sih yang seperti ini diperdebatkan?
Apa salahnya posting makanan? Sejak kapan postingan makanan bisa mengintimidasi orang lain?
Bagaimana jika posting makanan itu karena memang kerjaan si pemilik akun adalah posting makanan? Saya misalnya, lewat Instagram sering posting makanan karena memang dapat job demikian. Ini hanya kasus kecil.
Belum lagi orang-orang yang memang harus posting makanan dengan foto paling cantik dan menggiurkan karena demi kepentingan jualan. Menurut saya ini sah dan memang sudah bagian dari marketing mereka. Lalu salahnya di mana?

Dari beberapa komentar netizen, mayoritas menertawakan dan menolak pernyataan yang bilang ‘posting makanan menambah dosa’. Ngeri juga kalau apa-apa dengan mudah dilabeli dosa.

Banyak akun masih percaya bahwa postingan makanan bukanlah ancaman keimanan. Sebagian yang lain malah bilang senang dengan adanya postingan makanan apalagi  disertai keterangan nama makanan berikut bahan baku dan cara pembuatannya.

‘Saya memang enggak sanggup makan  itu makanan malah, tapi saya tidak lantas benci lihat makanan enak. Justru seneng dan berharap kapan-kapan bisa masak seperti itu.’

Nada seperti ini banyak dilontarkan oleh para netizen yang enggak keberatan dengan hadirnya poto makanan di sosial media.

Lagian sosial media itu ranah jagat maya yang sangat luas. Untuk apa sih mengurusi hal-hal remeh? Kenapa yang beginian (posting makanan) dipermasalahkan, sementara video porno atau apalah sejenisnya malah didiamkan saja?

Perkara posting gambar makanan menurut saya adalah sebuah hiburan. Tidak sedikit dari pemosting yang berniat untuk mendokumentasikan hasil karya masaknya. Alasan yang lain ingin berbagi resep dengan temannya. Ada juga yang posting makanan karena memang ingin tapi belum kesampaian. Harapannya dengan posting begituan bisa sedikit jadi bahan ‘pelampiasan’ sesaat.

Kalau alasan pelarangan posting gambar makanan hanya demi menjaga perasaan saudara yang susah makan, agaknya terlalu berlebihan. Misal orang susah makan, benar-benar susah makan, logikanya justru tidak akan buka sosial media. Kalau ada uang mending buat makan dibandingkan buat beli kuota. Itu pikir saya dan beberapa teman yang galau dengan pelarangan posting gambar makanan.

Ada banyak tujuan seseorang dalam sekedar posting sesuatu di sosial media. Mulai dari hanya sekedar hiburan, jualan, kangen-kangenan hingga pamer. Lantas siapa kita yang sebentar-sebentar mengecap saudara sendiri dengan sebutan ‘pendosa’? Kalau postingan masih sopan, wajar dan tidak menyalahi kode etik perinternetan, buat apa dipermasalahkan?

Mau posting makanan, silakan saja. Posting ya posting saja. Lebih bagus kalau makanannya enggak hanya difoto lalu di-posting. Tapi juga makanannya dibagi kepada tetangga dekat atau teman jauh, saya misalnya. Bukankah memberi makan orang puasa diganjar pahala sama dengan orang berpuasa?

Mengenal Jenis Konten


Mengenal jenis konten sebenarnya sangat mudah. Postingan kali ini akan melanjutkan kelas membuat konten beberapa waktu lalu. Kalau kemarin sudah dibahas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membuat  konten yang direncanakan maka postingan ini lebih kepada pembagian konten.

Seperti yang kita tahu bahwa sosial media akan berubah jadi ‘rumah kosong’ tanpa adanya postingan. Postingan atau konten itu juga enggak bisa sembarangan untuk kita yang ingin mencitrakan diri di sosial media. Coba bayangkan saja, kamu buka sebuah akun Instagram, mana yang akan kamu follow: akun yang isinya gak jelas apa konsepnya atau akun yang rapi dengan gambar yang tampak dipikirkan setiap detailnya?
Kalau saya tentu pilih akun yang kedua.

Begitu pun dalam membaca website. Website yang dibuat dengan konsep jelas akan lebih banyak mendatangkan traffic dibanding website abal-abal.

Yuk kita bahas konten yang bisa dibuat.
Secara umum jenis konten yang bisa kita ciptakan ada dua jenis. Yaitu:
1. Konten yang lagi trending
2. Konten yang Evergreen

Apa sih itu konten trending mau pun konten evergreen?

KONTEN TRENDING
Namanya trending ya berarti adalah konten-konten yang sedang naik daun atau viral. Maka konten kita akan mengacu pada hal tersebut.

Contohnya: kemarin lagi viral Prince Mateen maka kita nulis tentang itu atau pas sekarang ini lagi dihajar drakor World of the married. Atau masalah virus Corona sampai disinfektan yang enggak kelar-kelar. Satu tema bisa jadi lebih dari sepuluh tulisan.

Ya sudah jadikan hal-hal itu sebagai konten disesuaikan dengan citra atau niche sosial media kita.

Membuat konten trending sebenarnya tidak terlalu susah. Tinggal membahas hal yang lagi trend. Kelemahannya terletak pada waktu postingan itu di-upload. Kalau sudah lewat masa trending maka akan tampak basi.

KONTEN EVERGREEN
Atau biasa disebut konten timeless. Ciri dari konten ini adalah abadi sepanjang masa. Bisa dipublish kapan saja dan enak dibaca sewaktu-waktu bahkan untuk bacaan dua tahun lagi masih menyenangkan juga relevan.

Contohnya cerita tentang kesuksesan para difabel dalam menjalankan UMKM. Biasanya kalau dalam tulisan panjang konten jenis ini akan cocok masuk dalam jenis tulisan inspirasi atau feature.

Setelah tahu jenis konten dan persiapan membuat konten yang direncanakan, maka selanjutnya adalah menentukan judul.
Postingan selanjutnya akan membahas bagaimana kita membuat judul. Nantikan saja postingan selanjutnya.

Prince Mateen Melemahkan Iman Menguatkan Imun

Prince Mateen Melemahkan Iman Menguatkan Imun
Kehadiran Prince Mateen diantara berita-berita corona virus menjadi satu cerita babak baru.

Orang-orang, khususnya mbak-mbak penghamba kehaluan, dalam waktu sekejap mendapat hiburan dan bacaan baru. Hal ini bagus untuk tetap mempertahankan imun sekaligus bagus untuk membunuh kebosanan selama stay at home. Daripada keluyuran ke mal mending keluyuran saja di instagram Pangeran. Sudah aman, gak bakal diusir lagi, palingan cuma haus.

Masalah–lebih tepatnya konflik–mulai muncul mana kala ada sebagian akun dari warga +62… yang mulai membanjiri postingan ‘dada berkeringat’ pangeran. Banyak diantara akun itu mengelukan Sang Pangeran seolah itu sesuatu yang maha uwow. Pula akan takut dianggap ketinggalan jika tidak ikut-ikutan basah dalam gelombang yang ada. Nyaris sama persis dengan Jojo (atlit Bulutangkis) yang beberapa waktu lalu dihujani komentar ‘uwow’ dari netijen hanya gara-gara selebrasi kebablasan sampai memperlihatkan bahu dan perut sobeknya. Sebegitu lemahkah ciwik ciwik dengan perut sobek?

Berkomentar boleh-boleh saja. Memuji dan memuja itu wajar. Namun kalau kebablasan yang ada justru tampak norak dan lebay. Postingan ini tentu tidak bermaksud menghakimi siapa-siapa, karena penulis sendiri juga sempat silaturahim anget ke akun Prince Mateen. Sayangnya jangan harap meninggalkan jejak komentar. Lagian saya mampir karena sebelumnya dapat pesan WA: mantu sultan, dengar-dengar ada pangeran lagi viral, itu suami kamu bukan? Jadi kehadiran saya di akun pangeran murni demi klarifikasi saja. ehe.

Baca juga bagaimana membuat konten

Seperti dunia nyata, dunia maya sebenarnya juga punya aturan dan sopan santun. Bayangkan jika kalian berkomentar di dunia maya itu seolah kalian sedang berkomentar di dunia nyata. Sembarang kata dilontarkan di kolom komentar seolah-olah tidak akan ada pihak lain yang memerhatikan. Belum lagi pemilihan kata yang mungkin menjurus ke cabul/ murahan. Tidak malukah jika jejak digital itu nanti sampai ke mana-mana?

Perkara lainnya, ternyata banyak pihak yang menganggap ‘kegaduhan komentar’ itu serupa merendahkan Sang Pangeran. Tidak sedikit pihak yang angkat bicara menjelaskan jika komentar-komentar yang dihujankan ke postingan Prince Mateen menjurus pada harassment. Selama ini banyak yang menganggap bahwa berkomentar murahan di postingan perempuan adalah bentuk pelecahan. Namun kalau komentar murahannya ke laki-laki, kenapa dibiarkan?

Belum lagi mendadak berlanjut hadir serangan-serangan ke akun perempuan yang dikabarkan dekat dengan sang pangeran. Klepek-klepeknya pada ‘dada keringetan’ si pangeran, tapi marah-marahnya sama mbak cantik yang jadi pemilik hati pangeran.

Terlepas dari ‘rusuh’ yang ada, apa tidak malu sama diri sendiri? Bukankan berkomentar, katakanlah komentarnya: ‘rahim anget’, ‘nodai aku’dll, tampak terlalu murahan? Halu itu boleh dan gratis, tapi jangan lupa harga diri. Sudah komentar jelalatan, enggak ditanggapi juga sama pangeran.

Lagian terlepas dari itu semua, masak iya sih seumur-umur belum pernah lihat ‘dada keringetan bahu kokoh perut serupa batako’ di kehidupan nyata? Mbok sekali-kali main ke celebrity fitnes atau tempat gym. Udah yakin banyak penampakan serupa Prince Mateen bahkan lebih. Atau ke pasar, banyak juga kok mas-mas di pasar yang punya bahu kokoh kulit eksotis.

Tapi ya sudahlah, toh semua sudah terjadi (dan tidak terjadi apa-apa, alias kamu masih jomblo dan Prince Mateen tetap kaya raya). Hanya saja mbok setelah ini lebih diatur dan ditata sedikit kepribadiannya. Saya tahu kok, keringet Prince Mateen memang susah dihempaskan dari pikiran kalian, tapi yakinlah keringet pasangan halal kalian lebih dari cukup untuk membuatmu bersyukur. Belum punya pasangan halal? Ya bayangin aja keringet orang tua kalian, dengan keringet merekalah kalian akhirnya bisa memimpikan mengelap keringet pangeran.

Tenang saja, selain Prince Mateen masih banyak kok laki-laki dengan fisik uwow yang bisa kalian silaturahimin akunnya, gratis pula. Tapi ingat jangan tampak ‘murahan’ saat komentar. Karena bisa jadi diantara mereka yang tengok komentar salah satunya adalah masa depanmu.

Merencanakan Konten Sosial Media

Jika ditanya, apa yang paling identik dengan kamu (anak muda), maka saya yakin jawabannya tidak jauh-jauh dari seputar sosial media. Instagram, Facebook, Twitter, Tik Tok, YouTube, dan lain sebagainya.

Facebook adalah media sosial yang paling gampang dipelajari pula menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak kecil sampai kakek nenek, dari kaum perkampungan sampai urban. Hanya saja daya tariknya semakin hari semakin melemah sejak kehadiran Instagram. Meski begitu bukan berarti Facebook sudah tidak digemari. Indonesia masih tercatat sebagai pengguna aplikasi Facebook dengan jumlah besar.

Twitter dulu sempat booming, namun perlahan goyah dan akhirnya setelah peremajaan kini dia eksis kembali. Penggunanya berbondong ‘pulang kampung’, Twitter jadi satu media yang kembali digandrungi banyak orang. Apa yang ingin diviralkan akan lebih cepat tersiar lewat Twitter dibanding media lain.

Instagram dan tik tok, kurang begitu familiar untuk mereka yang berada di ‘pinggiran’. Dua aplikasi ini memang dikenal cukup berkelas. Bahkan tidak jarang dijuluki ‘tempat untuk pansos’. Etalase pamer. Diam-diam banyak yang kurang percaya diri untuk mengisi Instagram karena dirasa tidak menarik, tidak berkelas atau dianggap tidak menjual.
Padahal sama dengan media sosial yang lain, baik instagram mau pun tik tok adalah media untuk berekspresi dan saling sapa. Meski tidak bisa dihindari, semua media sosial juga bisa jadi alasan sebuah konflik.

Kunci dari sosial media tentu saja konten. Apa pun aplikasinya, yang kita posting di situ disebut konten. Yang perlu digaris bawahi, konten yang kita buat itu apakah konten baik, positif dan berkualitas atau justru sebaliknya?
Tidak jarang, niat kita baik menciptakan konten tapi ditanggapi berbeda oleh netizen.

Semalam di kelas online sosial media, saya mencatat beberapa hal berkaitan dengan konten. Semua anggota kelas online setuju bahwa konten baik, positif dan berkualitas sangatlah penting. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa konten menjadi salah satu gerbang untuk bertemu patner/ klien. Sebagian yang lain beranggapan konten yang dishare di media sosial adalah citra dari si pemilik akun. Konten di sosial media menjadi satu identitas bagi seseorang.

Personal branding seseorang bisa dibangun melalui unggahan konten di sosial media. Saya sepakat dengan ini.
Baik itu sosial media pribadi mau pun sosial media komunitas/ instansi. Tidak jarang sebelum berkenalan atau  memulai kerjasama, kita saling cek sosial media yang bersangkutan.

Era influencer dimulai dari semenarik dan sekuat apa media sosial seseorang. Brand tidak akan dengan ceroboh asal memilih akun untuk jadi mitranya dalam memasarkan produk.
Kadang kala akun kita tidak terpilih bukan karena postingannya yang buruk atau kurang menarik. Namun lebih kepada kita yang belum punya ciri khusus.

Ada beberapa hal yang sudah saya catat tentang bagaimana menciptakan konten yang menarik perhatian khalayak. Hal-hal dasar ini bisa dipraktikkan jika kita memang ingin menjadikan sosial media sebagai satu wadah identitas diri.
Kunci konten yang baik adalah konten yang direncanakan, begitu menurut Kak Wardah selaku social media associate  CFDS.

Berikut hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menciptakan perencanaan konten, yaitu: menentukan bahasan media sosial, menentukan tujuan dari media sosial, dan terakhir mengenal media sosial yang ingin dipakai.
Persis seperti yang tertulis di awal postingan ini, bahwa sosial media baik itu Twitter, Facebook, Instagram, tik tok dan lain sebagainya, adalah punya karakter sendiri-sendiri.

Jika kita sudah tahu media apa yang dipakai, untuk apa konten itu dibuat pula tema apa yang kita ambil, maka akan mudah untuk membuat kontennya.
Setelahnya baru kita promosikan hasil karya kita.
Bagaimana caranya? Next time akan ada postingan lanjutan di website ini.

From Jogja With Love

From Jogja With Love
Kita telah sampai pada sepertiga dari bulan April 2020. Namun ternyata pandemi covid-19 masih jadi bahasan yang santer. Tersiar tidak hanya dari corong masjid namun juga media masa yang update bahkan nyaris hampir setiap menit.


Telah berbulan-bulan corona virus mampir membawa tak hanya petaka tapi juga keresahan yang sulit untuk dilibas. Tidak sedikit imbauan juga peraturan baru ditetapkan, sebut saja lockdown lokal. Namun tetap saja seolah semua yang diupayakan itu nyaris tak tampak hasilnya. Kita serupa menumpahkan segelas air di hamparan gurun pasir. Menguap tanpa ada sisa.

Seperti halnya sebuah kejadian, covid-19 hadir juga diikuti dengan dampak-dampaknya. Baik itu dampak positif mau pun negatif. Memang ada dampak positif corona? Tentu saja ada, salah satunya adalah polusi yang semakin berkurang. Di media masa jelas kita bisa melihat berita tentang ini. Bagaimana kawasan di Eropa semakin sejuk, sungai-sungai jernis dan dari pantauan satelit NASA tampak Bumi yang lebih ‘sehat’ dibanding bulan-bulan sebelumnya. Dampak postif yang lain bisa jadi kita semakin akrab dengan anggota keluarga pula semakin sadar tentang pola dan gaya hidup sehat.

Baca juga tentang positif corona


Namun tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari corona virus ini menjadi sorotan paling banyak. Mulai dari melemahnya perekonomian negara, tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara yang terjangkir virus ini otomatis sektor ekonomi terguncang hebat. Disektor industri kita mendengar tentang pemutusan hubungan kerja, atau merumahkan karyawan karena perusahaan tidak lagi bisa beroperasi. Covid-19 juga melumpuhkan bidang pendidikan. Kampus dan sekolah tutup dan menggantinya dengan kelas online (yang ternyata memicu banyak kendala). Sektor agraria juga terguncang dengan pandemi ini. Ada barang namun tidak ada proses distribusi mengakibatkan jungkir balik harga. Pun dibidang pariwisata, corona virus telah sukses membuat industri wisata tak hanya lesu namun terancam gulung tikar.


Sejak awal Maret di Yogyakarta sediri telah banyak obyek wisata ditutup. Penerbangan terkena imbas. Pula perhotelan mulai terguncang. Banyak hotel yang terpaksa membanting harga dengan memberi penawaran promo khusus untuk menarik pengunjung. Namun tidak serta merta calon costumer datang. Sebab banyak orang memilih untuk stay at home dibanding menghabiskan waktu di hotel. Lebih-lebih kewaspadaan tinggi mengingat di hotel sering dipakai untuk kumpul para wisatawan asing.


Dalam suasana prihatin karena dampak pandemi covid-19, maka beberapa hotel berbintang di Yogyakarta (lebih dari 50 hotel) menggelar aksi kepedulian bertajuk ‘From Jogja With Love’. Yaitu sebuah aksi dengan menyalakan lampu hotel dengan membentuk logo menyerupai hati. Aksi ini dilakukan secara serentak pada tanggal 4 April 2020 mulai pukul 19.00 – 21.00.


Dengan aksi ini para penggiat dunia perhotelan ingin menyuarakan semangat bagi semua masyarakat khususnya Yogyakarta untuk tetap bahu membahu dan jangan mudah kalah dalam mengatasi pandemi corona. Selain aksi ini, beberapa hotel di Yogyakarta juga membuat aksi peduli kepada para tim kesehatan yang berada di garda depan dalam perlawanan menghadapi covid-19.

Jadi Buah Bibir, Kenapa Tidak?

buah bibir

Sejak adanya imbauan untuk social distancing atau belakangan lebih tepat disebut physical distance, saya memutuskan untuk mengikutinya. Terlebih kondisi saya yang waktu itu baru pulang dari Pulau Dewata. Sementara pandemi covid 19 baru hangat melanda tanah air.

Tidak lama kebijakan baru muncul, kampus-kampus dan sekolah memberi ‘libur’ kepada para mahasiswa dan murid. Kurang tepat jika dibilang libur, melainkan mengganti kelas tatap muka dengan kelas via online. Kampus saya termasuk kampus gelombang akhir yang menerapkan kebijakan ini. Saat kampus lain sudah mulai menggeser kelas berbekal kuota, kampus saya masih setia dengan pertamax atau pertalit.

Kehebohan sempat terjadi mana kala seorang dosen berkabar ke kolega kampus bahwa ada satu mahasiswinya yang baru pulang dari luar kota namun masuk kampus seperti jadwal biasanya. Dosen itu harusnya ada jadwal mengajar di kelas saya, namun hari itu tidak hadir.

Ada dua dosen lain yang mengontak saya, satu via WA dan satu tatap muka di ruang dosen. Keduanya sama-sama mengkonfirmasi apakah benar jika saya baru pulang dari Bali.

“Iya, kan seminggu lalu saya tidak masuk. Ada surat izinnya.” Saya mencoba menjelaskan.

“Lalu kenapa kamu tidak karantina mandiri?”

“Karantina mandiri?”

Wah saya merasa mulai ada yang tidak beres. Sebegitu parnokah dengan orang yang baru dari luar kota? Jika kejadian itu terjadi hari ini, tidak perlu harus nunggu heboh saya sudah pasti mengurung diri di rumah tanpa niat ketemu siapa pun. Tapi kejadian waktu itu semua masih aman walau sudah sedikit mulai bergejolak.

“Saya baik-baik saja. Suhu tubuh normal. Tidak ada perasaan apa pun.” Lagi-lagi saya mencoba untuk memberi keterangan.

“Saya paham. Tapi tetap ada dosen yang waspada. Ini kamu sedang dibahas di grup dosen.”

baca juga corona di perayaan Isra Mi’raj

What? Apa-apaan? Jika ditanya: siapkah kau jadi buah bibir? Siap-siap saja asal gara-gara viral senderan bahu Hyun Bin.

Saya tidak keberatan jadi sorotan atau bahan obrolan orang lain. Tidak masalah jadi buah bibir. Tapi sungguh saya menolak jika harus masuk ‘lambe turah’ hanya gara-gara settingan atau kesandung kasus. Jika jadi buah bibir karena prestasi, itu baru tujuan saya. Bagaimana jika jadi buah bibir karena virus? Sungguh saya tidak pernah mengharapkannya.

Hari ini berbeda dengan kejadian tiga minggu lalu. Hari ini pula genap sebulan saya dari Bali. Tubuh saya sehat. Pikiran saya jernih. Hanya kebosanan sedikit mulai melanda. Saya benar-benar karantina, karena biasanya juga begitu. Tidak ada interaksi dengan orang lain kecuali keluarga. Tidak ada acara main ke pasar, baca buku di perpustakaan, nonton di bioskop. Bahkan saya terpaksa cancel beberapa acara yang menghasilkan uang. Sungguh menyedihkan, memang. Padahal tidak jarang saya menggantungkan makan dari panggung ke panggung.

Tapi setelah kejadian ini, saya lebih banyak-banyak bersyukur. Beruntung saya bukan tipe orang ngeyelan meski sering protes. Ketika harus karantina dan jaga jarak, saya taat anjuran. Seperti info yang beredar, tubuh sehat belum tentu bebas corona. Orang dengan kondisi sehat bisa saja jadi inang atau carrier bagi virus. Inilah yang lebih berbahaya. Orang tanpa gejala apa pun bisa diam-diam menularkan. Itulah kenapa social distance diberlakukan.

Lantas sudah siapkah kau jadi buah bibir?

Jika kamu baca postingan ini, cobalah renungkan pertanyaan di atas. Sepertinya jaga diri kita dan keluarga adalah lebih penting dibanding pansos. Untuk sesaat tidak apa jadi buah bibir hanya karena tidak mau kemruyuk (baca: ramai-ramai). Dari pada jadi buah bibir karena corona.

Mulai pencegahan dari dirimu. Corona virus adalah musuh bersama. Kita harus bareng-bareng menghancurkannya. (min)

Duta Damai Yogyakarta Peduli

Duta Damai Yogyakarta Peduli

Kasus corona semakin hari mulai meluas dan jadi perbincangan di media masa (cetak/ online) baik dalam mau pun luar negeri. Telah sejak awal tahun banyak negara lain  mengambil langkah tegas untuk penanganan kasus ini. Salah satunya adalah penutupan wilayah, lockdown.

Sejak ditemukan kasus postif corona di Indonesia untuk pertama kalinya, pemerintah Indonesia mulai membuat imbauan dan kebijakan-kebijakan baru guna meminimalisir persebaran virus ini.

Kebijakan pemerintah baik pusat mau pun daerah antara lain imbauan untuk selalu jaga jarak, menghindari kerumunan, menunda aktifitas di luar jika tidak terlalu penting, tidak mudik, belajar di rumah, bekerja di rumah dan lain sebagainya. Kampus banyak meliburkan mahasiswanya dan menggantinya dengan belajar di rumah secara online. Semua ini dimaksudkan untuk meminimalkan penyebaran virus covid19.

baca juga dampak corona

Kasus positif corona memang belum ada vaksinnya. Namun seseorang yang dinyatakan positif tetap ada kemungkinan sembuh seperti sedia kala. Hal ini selain didukung fasilitas kesehatan yang mewadahi juga dipengaruhi oleh pola hidup sehat bersih, asupan makanan bergizi, gaya hidup sehat dan menjaga imun tubuh.

Dampak dari pergantian kelas offline ke online, banyak mahasiwa yang merasa tidak betah di kos. Sebagian memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan tak mengindahkan imbauan pemerintah untuk tidak mudik dulu. Namun ada sebagian yang lain memilih bertahan di kos karena merasa semuanya akan kembali membaik dalam waktu dekat. Sayangnya sampai bulan ke empat tahun 2020, kasus corona di Indonesia masih terbilang level waspada. Mahasiswa yang tadinya bertahan di kos akhirnya mengikuti kemauan orang tua untuk pulang ke kampung halaman.

Hal ini juga terjadi dengan anggota Duta Damai Yogyakarta yang sebagian besarnya merupakan mahasiwa/i dari luar kota. Mereka memilih pulang karena alasan keamanan pula karena semakin hari banyak warung (sebagai pusat logistik) memilih tutup (dengan alasan karena wabah dan karena semakin sedikit mahasiswa yang bertahan).

Beberapa anggota Duta Damai Yogyakarta yang bertahan di kos mulai mengeluh susah cari bahan makanan dan juga merasa tidak enak badan. Wilayah mereka mengadakan karantina wilayah. Untuk itu pengurus harian berinisiatif memberikan dukungan dan bantuan bagi anggota Duta Damai Yogyakarta yang membutuhkan karena kena dampak corona. Dukungan dan bantuan itu berupa pemberian sembako, susu, vitamin, obat-obatan dan masker. Hal ini bertujuan untuk sedikit meringankan kerepotan mereka sekaligus mendukung ketersediaaan gizi yang merupakan faktor mempertahankan imun tubuh.

Untuk saat ini memang bantuannya baru sebatas bagi anggota yang terjebak di kos. Semoga lain waktu Duta Damai Yogyakarta bisa memberi bantuan dan dukungan lebih tidak hanya ke anggotanya tapi juga masyarakat luas.

Pepatah bijak berkata, jika jauh dari keluarga inti maka keluargamu yang lain adalah tetangga dan teman-temanmu.

Semoga kasus virus corona ini segera teratasi dan semua bisa pulih semakin membaik. (min)

DUTA DAMAI BNPT REGIONAL YOGYAKARTA
Sekretariat : Jl. Solo Km 13,5 Krajan, Tirtomartani,
Kalasan, Sleman, Yogyakarta 087838287232 / 085884665899 [email protected]

Perayaan Isra Mi’raj Tahun Ini

Kisah Isra Mi’raj Tahun Ini

duta damai yogyakarta

Sepi. Tak ada kerumunan, tak ada sholawat bersahutan. Isra Mi’raj tahun ini sungguh diluar ekspektasi. Jika tahun sebelumnya masjid-masjid ramai dengan pengajian dan kajian. Hari ini begitu sunyi. Bukan karena umat tidak ingin memperingati Isra Mi’raj seperti tahun-tahun sebelumnya. Melainkan tahun ini harus ‘mengalah’ demi kebaikan bersama.

Isra Mi’raj adalah sebuah keajaiban. Hanya Nabi Muhammad SAW satu-satunya manusia pilihan yang bisa mengalami peristiwa ini. Ditemani malaikat Jibril pada 27 Rajab tahun 10 kenabian peristiwa ini terjadi.

Sebelum tahun ini, kajian-kajian di masjid selalu memceritakan tentang Nabi yang hatinya disucikan dengan air zam-zam lantas diajak pergi ke Baitul Maadis Palestin yang dikenal dengan nama Isra. Sambil menaiku Buroq, Nabi terbang ke Baitul Maqdis atau Sidratul Muntaha yang selanjutnya dikenal dengan peristiwa Mi’raj.

Isra Mi’raj dan umat muslim tidak akan pernah bisa lepas. Meski tahun ini hanya duduk di dalam rumah, namun kisah Isra Mi’raj terus membekas dalam benak saya. Portal-portal online menjadi teman untuk mencari tahu tentang kisah zaman lampau dan apa yang terjadi hari ini.

Corona biang kerok atas kesepian ini. Namun saya percaya, sholawat Nabi selalu meluncur dari bibir-bibir manis umat Nabi.

Corona memanglah pandemi yang wajib dihindari. Semua sepakat bahwa virus ini adalah musuh bersama. Maka wajib pula dihajar secara bersama. Hal yang paling mudah yaitu dengan cara isolasi diri. #dirumahaja begitu tagar yang digemborkan netizen Indonesia untuk mengajak sesamanya meminimalisir penyebaran corona.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, juga banyak wabah. Wabah di zaman itu sama mengerikannya (bahkan mungkin lebih mengerikan dari corona). Wabah menular dan mematikan pula belum diketahui obatnya. Satu perintah Nabi zaman itu adalah agar umatnya tidak dekat-dekat atau menjenguk kawannya yang sedang diserang wabah (kusta). Hal ini dengan tujuan agar wabah itu tidak menular.

Dalam hadist riwayat Bukhari dijelaskan, “Rasullah SAW bersabda: jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.”

Hal ini relevan dengan pandemi yang terjadi di kita. Jika ada pasien positif corona maka kita dilarang untuk mendekatinya bahkan menjenguknya pun dilarang. Hal ini tentu  punya tujuan. Yaitu untuk menjaga kesehatan mereka yang sehat.

Nabi Muhammad SAW pada zamannya pernah juga mengingatkan umatnya untuk tidak mendatangi wilayah yang sedang terserang wabah. Pula mengingatkan agar umatnya yang sedang berada di tempat wabah untuk tidak pergi dari tempat tersebut.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu.” (Hadits Riwayat Bukhari).

Sampai di sini sudah jelas, jika apa yang belakangan diperintahkan oleh pemerintah secara tidak langsung merujuk pada hadits-hadits Nabi. Sementara kita umat Islam tahu bahwa hadits adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran Al Karim.

Semoga wabah corona di negeri ini lekas berakhir. Kita yang punya iman dan akal sehat sudah sewajarnya ikut berkontribusi menjaga bumi pertiwi ini, salah satu caranya yang paling mudah adalah dengan berdiam diri (beraktivitas) di rumah saja.