free page hit counter

Trauma Pada Anak Merusak Mental

Trauma Pada Anak

Trauma Pada Anak Merusak Mental

Contents

Belajar Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua bukan tugas yang mudah. Maka perlu belajar bahkan sejak dari saat proses mencari pasangan. Menjadi orangtua bukan hal instan. Tapi tidak mustahil untuk mempelajarinya sedini mungkin. Dengan belajar sejak awal harapannya akan mengerti berbagai hal yang bisa menyebabkan trauma pada anak. Sehingga sebagai seorang orangtua bisa lebih bijak dalam mendidik dan mengasuh buah hati.

Belakangan ini banyak kasus trauma pada anak yang baru bisa terdeteksi setelah si anak sedikit lebih dewasa. Padahal sebenarnya anak-anak ini sudah sejak kecil terpapar trauma oleh akibat ketidak pekaan orang dewasa atau orangtua.

Bercanda Boleh Tapi Jangan Menyakiti

Sering kita bercanda berlebihan atau menganggap anak-anak bisa kita recoki sesuka hati. Padahal siapa sangka jika kelakuan kita orang dewasa ini kadang kala justru memberikan trauma pada anak.

Trauma pada anak bukan hal sepele. Jika seorang anak punya pola pengasuhan yang salah dan cenderung menyakitkan maka akan mempengaruhi kehidupannya selanjutnya. Hal ini akan berakibat fatal kelak saat anak dewasa. Karena adanya trauma ini bisa jadi anak akan tumbuh dengan tekanan atau malah merasa tidak percaya diri.

Penyebab Trauma Pada Anak

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan trauma pada anak. Berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan trauma pada anak dan hendaknya kita orang dewasa menghindarinya.

1. Sering Menakuti Anak

Kita pasti sering menyaksikan ada orang dewasa yang suka bercanda dengan cara menakuti si anak. Misal si anak lagi aktif jalan ke sana kemari lalu orangtua atau orang dewasa di sekitarnya bilang, “awas di sana ada setan.”
Atau ketika anak lagi asyik bermain tidak nurut saat dipanggil, lalu orangtuanya menakuti dengan berkata, “ya udah ibu pergi jauh, adik gak ditinggal sendiri biar diculik.”

Kita sebagai orang dewasa kadang merasa ini lucu, tapi bagi anak-anak hal ini akan terekam dalam memori dan bisa menimbulkan trauma.

2. Selalu Membandingkan Dengan Lain

Jangankan anak-anak, orang dewasa yang sudah mampu berpikir logis saja merasa selalu tidak terima jika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Pun begitu pada anak-anak, mereka juga tidak suka jika orangtuanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Akan menyakitkan lagi jika membandingkannya dengan saudaranya sendiri.

“Adik kok item ya, kakak putih.” Stop. Jangan membiasakan membandingkan jika tidak ingin anak-anak kita mewarisi trauma kesakitan.

3. Memarahi Anak Saat Anak Sedang Mengeluarkan Emosi

Emosi dan lelah juga menyerang anak-anak. Hanya saja kontrol anak beda dengan orang dewasa. Respon yang anak berikan saat sedang emosi juga beda. Kadang anak belum bisa menunjukkan bahwa dia sedang emosi atau tidak terima. Yang ada kadang anak merajuk, menangis atau tantrum.

Saat seperti itu bisa jadi anak sedang mengolah emosinya. Dia mungkin sedang kesal. Maka jika kita dapati anak sedang menjerit kesal atau tantrum jangan buru-buru untuk memaksanya diam. Coba sejenak untuk memperhatikan, diam saja. Baru setelahnya tanyakan sebenarnya ada apa.

Memaksa anak untuk diam atau memarahinya saat anak sedang mengeluarkan emosi justru hanya akan membuat si anak semakin kalut dan kelak saat dewasa akan susah menyalurkan perasaannya. Karena merasa tidak ada penerimaan.

4. Memaksa Anak Berhenti Saat Nangis

Jangan memaksa anak berhenti menangis dengan cara memarahinya. Menangis juga merupakan salah satu respon anak dalam mengungkapkan perasaan.

Jika orang dewasa nangis, kita masih bisa tanya kenapa. Setelahnya bisa mencarikan solusi. Tapi jika anak-anak yang nangis, kita akan susah mendapatkan jawaban kenapa. Maka penting untuk membiarkannya sejenak. Bisa jadi memang si anak sedang tidak enak badan atau ada yang mengganjal.

Jika anak-anak nangis, tugas orangtua adalah mendampingi bukan menghakimi.  Pelan-pelan menenangkan dengan mengajak berdoa.

5. Tidak Menghargai Usaha si Anak

Menghargai usaha anak adalah kunci membuat anak bijak. Jika kita sering menghargai hal baik apa yang sudah anak-anak lakukan maka hal ini akan membuat anak bahagia. Dengan rasa bahagia ini maka anak akan tumbuh dengan percaya diri dan kelak bisa pula menghargai orang lain.

Menghargai usaha anak tidak melulu harus dalam bentuk perayaan atau kado. Bisa dengan ucapan terima kasih. Atau dengan pujian. Bisa juga dengan pelukan dan kecupan.

Itu tadi hal-hal yang bisa memicu trauma pada anak dan sebaiknya kita hindari. Jika anak-anak tumbuh dengan bahagia dan penuh sayang maka kita sudah menciptakan generasi hangat yang kelak akan menjadi orang bijak.

Share this post

Comments (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *