ADA APA DENGAN 2020?

Pagi ini dengan ditemani hot chocolate, saya ingin coba membedah tahun 2020 ini menurut kacamata awam saya. Terinspirasi dari video youtube Fiersa Besari yang berjudul “Diantara 2020”. Baiklah mari kita mulai pembahasan tahun 2020 ini.


Detik dimana tulisan ini dibuat, saya sudah memasuki bulan ke empat di tahun 2020 ini. Masih terekam jelas di memori bagaimana saya sangat bersemangat memasuki tahun 2020. Saya yakin kalian juga sama bersemangatnya dengan saya saat itu. 2020, tahun baru, harapan baru, mimpi baru, usaha baru, pekerjan baru, dan banyak hal lain yang baru, kecuali perasaan mu masih tertinggal dihati mantan. Hehe


Namun di awal tahun 2020, ternyata badai mulai datang. Pandemi virus Covid-19 menjadi badai yang paling menakutkan saat ini. Banyak kasus kematian akibat virus ini. Sehingga di keluarkanlah kebijakan stay at home, work from home, sering cuci tangan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Lockdown/Karantina Wilayah, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Awal tahun 2020 merenggut banyak mimpi, harapan, usaha, pekerjan, orang-orang yang kita cintai, bahkan sisi kemanusiaan sebagian orang.


Saya tertarik membahas merenggut sisi kemanusian sebagian orang. Bagaimana tidak ditengah pandemi seperti ini ternyata tidak sedikit akun-akun yang masih menyebarkan benih-benih kebencian, hoax, fitnah, dan hujatan. Suasana yang mencekam seperti ini seharusnya kita semua bangsa Indonesia saling bahu-membahu, tolong-menolong, menguatkan dan menopang bukan saling menyalahkan pemerintah dan menyebarkan kebencian atau hoax.


Sangat miris saat saya mendengar berita bahwa di beberapa wilayah masyarakatnya menolak untuk menerima jenazah positif Covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman masyarakat bahkan sampai petugas dan mobil ambulans di lempari batu oleh sebagian masyarakat setempat. Apa yang terjadi dengan sisi kemanusiaan bangsa Indonesia? Saya sangat paham mungkin masyarakat setempat takut bahwa jenazah Covid-19 akan menyebarkan virus. Ketakutan lain yang timbul di tengah masyarakat adalah tercemarnya air tanah oleh virus dari jenazah pasien Covid-19.


Guru besar Fakultas kedokteran, kesehatan Masyarakat, Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D, SP.MK mengatakan, bahwa risiko penularan jenazah positif Covid-19 ke manusia akan minimal apabila seluruh langkah pemulasaran jenazah dilakukan sesuai dengan pedoman penanganan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).


Ketika jenazah telah dibungkus dan dikubur, maka virus akan ikut mati. Saat orang meninggal, selnya mati sehingga virus di dalamnya juga tidak akan berkembang. Jadi sepenggal penjelasan diatas saya rasa cukup mampu membungkam persepsi masyarakat yang saat ini masih keliru. Mereka yang menjadi korban Covid-19 juga adalah manusia, terlebih lagi mereka juga keluarga kita, saudara kita, bangsa kita, Indonesia.


Sisi lain yang saya mau bahas adalah para oknum penimbun masker dan hand sanitizer. Masih banyak orang-orang diluar sana yang tidak seberuntung kita, jadi untuk membeli masker dengan harga puluhan ribu sampai ratusan itu akan sangat membebani mereka. Sudahlah, berhenti. Uang bisa dicari kembali, uang juga tidak dibawa mati. Saya heran masih ada saja oknum seperti ini di tengah pandemi yang mencekam bahkan bisa jadi juga mengancam oknum tersebut sendiri.

Lewat tulisan diatas, saya ingin mengajak kita semua untuk saling membantu saudara kita tanpa pandang suku, agama, ras, saling menopang, saling menghargai kinerja pemerintah, saling mendoakan agar semua badai ini segera berlalu. Buat kalian yang work from home harus tetap produktif, harus rajin berolahraga dan beribadah. Lalu buat kalian yang masih dan harus work from office atau dilapangan harus tetap jaga kesehatan dan pola hidup yang sehat dan bersih. Jangan lupa juga untuk menggunakan akun sosial media kita untuk hal-hal yang positif. Stop menyebarkan hoax, kebencian, fitnah dan sebagainya.


Saya juga mau mengingatkan untuk selalu kuat dan bersabar. If you not strong, how to you survive. Ini baru empat bulan kita semua menjalani tahun 2020. Masih ada delapan bulan lagi yang harus kita jalani. Jangan padamkan harapan, mimpi, usaha dan karya. Percayalah badai ini pasti berlalu, semesta akan bekerja dengan caranya yang indah dan segala sesuatu yang indah akan tiba tepat pada waktunya.

Benarkah Ramadhan Tahun Ini Beda?

Sumber: batam.tribunnews.com

Banyak yang mengatakan bahwa Ramadhan kali ini akan berbeda jauh dari Ramadhan sebelumnya. Hal ini tidak salah memang apabila banyak yang memprediksi akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alasan kenapa Ramadhan tahun ini akan berbeda, penyebabnya tentu saja karena si kecil yang tak kasat mata; Covid-19.

Semenjak mewabahnya virus ini, hampir seluruh aktivitas orang-orang, terutama yang di luar lapangan, terganggu. Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh wilayah di Indonesia terkena dampak dari adanya Covid-19. Terlebih lagi di Ibukota. Banyaknya wilayah yang sudah memasuki kategori zona merah membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan seluruh kegiatan ibadah bulan puasa di rumah. Seperti misalnya, shalat tarawih, mengadakan buka bersama, dan lain sebagainya.

Fatwa tersebut dikeluarkan dengan maksud dan tujuan agar selama bulan puasa tahun ini, penyebaran Covid-19 tidak semakin menyebar luas. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Ni’am mengatakan bahwa Covid-19 bukanlah halangan untuk beribadah. Akan tetapi mnghindari penyebaran virusnya merupakan salah satu ibadah juga. Pemahaman cara beribadah di tengah merebaknya virus Corona haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Jika kita pahami secara seksama, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI semata-mata hanya untuk membatasi aktifitas orang-orang di luar ruangan selama bulan puasa. Dengan tujuan tentu saja untuk menekan dan mengurangi jumlah korban dari Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah. Bukan lantas umat Islam dilarang beribadah di tempat ibadahnya, hanya saja dianjurkan untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing.

Dalam agama islam, ada sebuah beberapa kaidah fiqh yang bisa dipakai untuk situasi dan kondisi seperti ini, terutama mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Yaitu

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

 “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengupayakan kemaslahatan.” Maka sekiranya fatwa dari MUI inilah yang harus kita patuhi dan jadikan pedoman, dengan tujuan agar cepat atau lambat wabah ini akan segera selesai, dan kita bisa melaksanakan aktifitas dengan normal kembali.

Adapaun kaidah fiqh lain mengatakan juga.

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَار

Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain.” Hal ini tentu sesuai dengan apa yang sedang kita alami sekarang. Apabila kita masih egois mementingkan diri sendiri untuk tetap melakukan aktifitas di luar ruangan, maka tentu kita tidak hanya membahayakan diri kita sendiri, tetapi juga akan berdampak kepada keluarga yang menanti di rumah.

Maka, apapun keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan juga fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, harus kita patuhi bersama. Berharap wabah Covid-19 ini akan segera berakhir, dan aktifitas kita semua akan kembali berjalan normal sebagaimana mestinya.

Ramadhan tahun ini boleh saja berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi cara kita beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa tentu harus sama dengan tahun yang telah lalu. Hanya saja ada sedikit perbedaan tempat dan cara kita melaksanakan ibadah tersebut.

Wallahua’lam.

MIRA ADALAH KORBAN KEBRUTALAN HASRAT MANUSIA

Kasus pembunuhan terhadap seorang transpuan di Cilincing memenuhi beberapa media belakangan ini. Tidak hanya pada kolom berita saja, kolom opini pun ramai oleh orang-orang yang mencoba membagikan perspektifnya. Biasanya untuk mendukung hal ini mereka menggunakan data dari organisasi-organisasi yang fokus terhadap kelompok minoritas, Arus Pelangi misalnya.

Persoalan kekerasan terhadap transpuan memang tidak pernah sepi di Indonesia. Namun bukan itu yang akan dibahas kali ini. Sebab transpuan atau bukan, aksi kekerasan seperti main hakim sendiri tidak bisa ditolerir. Aksi ini menjadi bukti bahwa di dalam jiwa tiap manusia terselip monster yang tinggal menunggu kapan dia akan keluar dan memperlihatkan wujud aslinya.

Masih ingat dengan kasus seorang pemuda yang mencuri kotak amal di masjid dan dibakar oleh warga setempat? Pemuda itu bertubuh sehat, seorang lelaki tulen yang membutuhkan uang dan mencuri di masjid adalah solusi yang terlintas dalam kepalanya. Mungkin dia merasa Tuhan tidak keberatan jika uang itu diambil di rumah-Nya. Toh bukankah Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya susah? Tapi itu persoalan lain. Intinya, dia yang berperawakan sebagai lelaki dewasa saja bisa dibakar oleh orang lain, apalagi transpuan.

Transpuan adalah target kekerasan tertinggi berbasis orientasi seksual dan gender di Indonesia. Menurut penelitian dari Arus Pelangi yang dikutip oleh Tirto (Briantika, 2020) selama kurun waktu 2006 hingga 2018, transpuan menempati urutan tertinggi dengan persentase 88% sebagai korban tindak pidana kelompok LGBT. Namun sekali lagi, penelitian ini melihat dari kekerasan yang berbasis orientasi seksual. Sementara kasus Mira, seperti yang disebarkan oleh banyak media, tidak ada ungkapan bahwa terduga pelaku menghabisi nyawa Mira karena dia homofobia pada Mira yang seorang transpuan. Tidak ada. Maka poin pentingnya di sini adalah mereka membakar (atau tidak sengaja membakar) Mira karena Mira tidak mengaku dia mencuri ponsel dan dompet seorang sopir. Meskipun tentu belum diketahui apakah saat kejadian ada kata-kata diskriminatif yang terlintas, semisal “Bakar aja bencong ini” atau “Bunuh aja waria ini”. Jadi kembali lagi, sebaiknya kita tidak menyimpulkan sesuatu yang belum kita ketahui pasti dan mari berfokus melihat hal yang memang sudah terbukti.

Hidup Mira direnggut oleh sekelompok pria jagoan yang melihat Mira lemah dan tidak berdaya. Mira hanyalah transpuan tanpa KTP dan orang tua. Ketika Mira mati, tidak akan ada yang mencarinya di kota metropolitan. Hal ini bisa memberikan kita gambaran bahwa manusia memang lebih mudah mencari perbedaannya dengan orang lain dibanding mencari persamaannya. Sekelompok pria itu melihat seorang transpuan tua, terjongkok, dan tidak memiliki kekuatan. Berbeda jauh darinya yang kuat, lelaki tulen, dan bernyali besar.

Banyak orang tidak mengerti rasanya menjadi Mira. Sebab mereka bukan transpuan yang berhijrah ke ibu kota setelah ditolak oleh keluarganya di Makassar karena orientasi dan identitas gendernya. Mereka bukan transpuan yang hanya bersekolah sampai SD dan terpaksa menjadi PSK untuk menyambung hidup. Mereka bukan Mira. Namun mereka suatu saat bisa menjadi Mira jika budaya menjijikkan seperti ini tidak segera dihentikan.

Aksi kekerasan dengan cara main hakim sendiri telah mendarah daging di Indonesia. Ketika ini terjadi, tidak ada lagi yang melihat korban sebagai manusia seutuhnya, manusia yang berhak hidup. Semua pelaku merasa harus mengadilinya, semua pelaku merasa sudah sepantasnya korban diperlakukan seperti ini. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa manusia itu monster, bukan? Sebenarnya apa yang membuat manusia seperti ini? Hasrat? Bisa jadi. Kalau kata Lacan, hasrat ini ada untuk mempersepsikan sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak dipenuhi oleh kebutuhan lewat instrumental logis. Maka bisa kamu bayangkan, jika di dalam jiwa kita ada monster yang mendesak untuk dipenuhi kesenangannya dengan menganiaya orang lain?

Hasrat ini tidak akan pernah hilang selama manusia masih hidup. Sebab seperti kata Lacan, manusia dilahirkan dalam kondisi serba kurang atau lack. Sepanjang usianya akan dihabiskan dengan mengatasi kondisi ini. Jika itu tidak pernah habis, setidaknya itu dipuaskan lewat apapun. Apa yang cukup menyeramkan dari ini adalah kekurangan yang dirasakan oleh hasrat manusia selalu hadir dalam bentuk yang berbeda. Hasilnya, manusia hanya mewujudkan imajinasi yang mereka bayangkan. Hasrat, adalah sesuatu yang berada jauh di luar jangkauan manusia. Maka mustahil itu dapat terpenuhi.

Bisa dibayangkan jika siapapun yang menyiram Mira, siapapun yang menyalakan korek, dan siapapun yang menyenggol si pemegang korek hingga api membakar tubuh Mira memiliki hasrat untuk menjadi jagoan, menjadi yang paling gagah karena mematikan seseorang, mematikan transpuan tua yang tidak berdaya. Apa kamu bisa menebak akhirnya seperti apa? Ya, jika orang semacam ini tidak dihukum maka dia akan terus menerus ada, berkeliaran, dan menyalurkan hasratnya pada siapa saja. Tapi tunggu dulu. Bukannya setiap manusia memiliki hasrat? Kamu dan aku juga bisa menjadi korban, kita juga bisa menjadi Mira. Jika kamu bertanya padaku apa yang bisa kita lakukan, maka jawabanku adalah tidak ada. Kita bisa menjadi Mira, kita pun bisa mejadi pria itu. Kita bisa menjadi siapa saja. Maka mulai sekarang sebaiknya perhatikan dirimu! 🙂

Protokol Kebencanaan Menghadapi Corona

Sudah satu bulan semenjak WHO mengumumkan virus korona sebagai pandemi, sebuah kejadian luar biasa yang mengguncang seluruh dunia tak terkecuali Indonesia ini. Sejak tulisan ini ditulis, sudah ada 1.703.216 kasus diseluruh dunia dengan total kematian sebanyak 102.867 orang dan 377.843 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan kasus di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 3.512 orang positif dengan 306 orang meninggal dunia dan 282 orang dinyatakan senbuh.


Angka tersebut masih belum menunjukan adanya penurunan untuk sementara ini. Berbagai upaya pun telah banyak dilakukan pemerintah agar wabah ini dapat ditekan penyebarannya ke daerah-daerah. Diantaranya adalah dengan penerbitan Pedoman Peraturan Menteri Kesehatan No 09 Thn 2020 tentang Pembatasan Sosial Bersekala Besar. Pembatasan yang dimaksud meliputi; peliburan sekolah, peliburan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan giat di tempat/fasilitas umum, pembuatan giat sosbud, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan giat lainnya khusus aspek pertahanan keamanan.


Adanya penerbitan PMK ini selain untuk merespon PP No 21 Tahun 2020 dan Keppres No 11 Tahun 2020 bertujuan agar menjadi pedoman dimasing-masing daerah dalam menanggulangi penyebaran pandemi Covid-19. Namun, alih-alih masyarakat sadar akan pentingnya menjaga jarak dan kesehatan, hal yang terjadi dalam masyarakat justru sebaliknya, yaitu kepanikan dan ketakutan akan tertular Covid-19. Buktinya masih adanya penolakan jenazah korban Covid-19 dibeberapa daerah bahkan jenazah petugas kesehatan sekalipun.


Hal tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia khususnya tidak mendapat edukasi yang benar dalam kondisi saat ini. Menurut pengamatan penulis, pemerintah terkesan terlalu condong dengan pendekatan ekonomi dalam mengatasi kejadian luar biasa ini. Sedangkan dalam pendekatan kebencanaan hanya sedikit dan terkesan tidak sampai dalam masyarakat. Padahal yang lebih dibutuhkan masyarakat saat ini adalah protikol dalam menghadapi sebuah bencana.


Mengapa penulis lebih cenderung mendukung penekanan penanganan Covid -19 ini dengan pendekatan kebencanaan adalah karena pandemic ini sudah merenggut berbagai sumber penghidupan masyarakat. Seperti lumpuhnya ekonomi, ancaman kesehatan yang tak kasat mata, serta ancaman kelaparan akibat berhentinya roda perekonomian. Dari pada hanya terus menerus mengandalkan PSBB pemerintah harusnya juga menyosialisasikan protokol kebencanaan secara masif ke masyarakat.
Mengapa protokol kebencanaan kali ini sangat penting untuk disosialisasikan secara masif bersandingan dengan PSBB, diantaranya adalah mencegah adanya bencana baru yang lebih mengerikan dari pandemi Covid-19 ini yaitu bencana social. Harus diakui, rakyat Indonesia tidak semuanya siap menghadapi Covid-19 ini, banyak diantaranya sudah menjadikan adanya Covid 19 ini sebagai bencana dalam hidupnya, dan mereka akhirnya bertahan hidup dengan mengguankan hokum alam dimana yang kuat akan menang dan mampu menghadapi bencana ini. Terkesan sangat terlalu dilebih-lebihkan, mungkin saja. Namun kenyataa demikian adanya. Akan lebih mengerikan, justru jika rakyat tidak tau resiko terburuknya.


Sejauh pembacaan penulis, protikol yang sering muncul dimedia akhir-akhir ini masih seputar pencegahan secara fisik, yaitu; pembatasan kontak fisik, isolasi mandiri, penyemprotan desinfektan di tempat umum bahkan ke tubuh yang justru berbahaya untuk kesehatan. Hal tersebut menyebabkan adanya ketidaknyamanan dalam masyarakat diakibatkan karena panic dan kecurigaan yang berlebihan. Jika hal tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin bencana trauma akan melanda masyarakat, baik secara individu maupun berjamaah.


Pada akhir kalimat yang ingin disampaikan penulis kali jni adalah, perlunya penerbitan protokol kebencnaan secara penuh untuk meanggulangi bencana covid-19 ini, yang tidak hanya penanganan fisik namun juga dengan edukasi dan penanganan psikis. Di masa modern saat ini kita harusnya mampu belajar dari berbagai bencana yang terjadi secara global seperti perang dunia, atau wabah pandemic yang terjadi rutin dalam satu abad. Segala pengetahuan yang dimiliki manusia harusnya menjadikan keputusan yang bijak visioner, tidak malah terus terbelakang tenggelam dalam ego dan kepentingan individu semata. Pemerintah wajib melindungi segenap rakyatnya yang sedang mengalami kesusahan, namun ketika pemerintah yang ditunggu untuk menyelamatkan mereka tak kunjung muncul, bagaimana caranya untuk tetap memiliki keinginan bertahan hidup dalam bencana? Jawabanya tentu dengan memberikan edukasi secara masif pada masyarakat tentang protokol kebencanaan.

Hoax Covid-19; Makan Telur Rebus bisa Menangkal Virus Corona

Sumber: brito.id

Memasuki era digital, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dulu, handphone hanya digunakan untuk sekedar menelepon sanak famili, atau untuk mengirim pesan singkat (short massage service/SMS). Tetapi saat ini, hampir semua aktifitas sehari-hari bisa kita kerjakan lewat genggaman satu tangan.

Dari perkembangan teknologi yang berkembang pesat ini, terdapat sisi positif dan juga negatif yang bisa diambil oleh penggunanya. Sisi positifnya, kita bisa terhubung dengan kolega dimanapun kita berada. Sedangkan dari sisi negatifnya, akan dengan sangat mudah bagi pengunanya untuk mengakses situs yang mengandung pornografi misalnya.

Sosial media,  sebuah aplikasi yang sangat digandrungi oleh pemuda-pemudi, dan juga bisa dipergunakan untuk hal apa saja. Akan tetapi, keberadaan sosial media yang bermacam-macam bentuk dan kegunaannya mempunyai dua sisi akibat. Tidak semua menggunakan sosmed untuk hal-hal yang bermanfaat. Banyak sekali berita-berita hoax dan isu-isu yang belum tentu benar disebar melalui sosial media.

Baru-baru ini misalnya, ketika seluruh belahan dunia sedang heboh dengan mewabahnya Covid-19, ada oknum yang menyebarkan bayi bisa berbicara dan menganjurkan untuk memakan telur rebus dini hari sampai sebelum adzan shubuh. Padahal, jika dilogikan, tidak mungkin hanya dengan memakan sebutir telur rebus, kemudian bisa menangkal virus corona. Terlepas dari memang memakan telur rebus bisa menambah energi bagi tubuh kita, tentunya harus dibarengi dengan olahraga teratur dan juga menjaga pola hidup.

Penyebaran berita palsu tersebut terjadi karena oknum (penyebar hoax) memanfaarkan sosial media agar beritanya cepat meyebar. Ketika isu itu beredar dan kemudian sampai membuat heboh masyarakat (khususnya pedesaan) akan sulit untuk meluruskan bahwa itu berita palsu. Banyak orang lebih percaya dengan berita viral dibanding kebenaran suatu berita. Masyarakat dengan tingkat literasi rendah akan lebih mudah percaya bahwa hal tersebut memang mempunyai khasiat menangkal Covid-19. Masyarakat akan semakin percaya apabila berita itu kemudian dibumbui (mencatut) pernyataan dari tokoh agama atau tokoh masyarakat.

Selain itu, sosmed juga banyak digunakan sebagai alat untuk menyebar ujaran kebencian lainnya. Juga dijadikan tempat untuk saling memfitnah dan menghujat tanpa perlu menampilkan identitas asli dari para pelakunya. Seringkali kita temukan akun-akun tanpa identitas jelas yang dengan mudahnya menebar berita ataupun isu-isu yang belum tentu jelas kebenarannya.

Keberadaan sosial media yang sejatinya bisa dipergunakan untuk mempererat silturrahmi dengan saudara ataupun teman yang jauh justru digunakan sebagai ajang untuk menyebar kebencian. Maka, sudah jelas sosial media tersebut sudah dipergunakan melenceng jauh dari fungsi utamanya.

Seharusnya dengan adanya teknologi sosial media ini kita bisa menebar kebaikan dengan orang lain yang belum dikenal, dan juga bisa menambah pertemanan.

Tetapi,  banyak juga yang memanfaatkan sosial media sebagai alat untuk memecah kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti ini hendaknya harus kita berantas bersama demi menjaga keutuhan NKRI.

Menjaga kerukunan dan kedamaian negeri tidaklah harus menjadi anggota militer. Cukup dengan bijak menggunakan sosmed agar tidak menimbulkan perpecahan juga termasuk salah satu caranya.

Saat ini, pemerintah sudah menetapkan satu undang-undang yang bisa menjerat seseorang jika terbukti melakukan tindakan yang merugikan. Contohnya memfitnah orang lain, menyebarkan isu-isu yang belum tentu benar, ataupun mengajak untuk bertindak kriminal. Harapannya, dengan diterapkannya UU ITE Nomor 11 tahun 2008, orang-orang yang biasa menggunakan sosial media bisa lebih berhati-hati dalam menyebar ataupun menerima informasi yang bisa memicu perselisihan.

Langkah Pemerintah ini perlu kita apresiasi demi mewujudkan Indonesia damai, yang aman dari oknum penyebab perpecahan. Tentunya banyak sekali harapan yang muncul seiring dengan ditetapkannya undang-undang tersebut. Menggunakan akun sosial media sebanyak-banyaknya tentu tidak ada larangan. Asalkan fungsi dari akun yang kita miliki tidak digunakan untuk hal-hal yang sekiranya menimbulkan perselisihan.

Maka dari itu, marilah kita bersama-sama mengawal aktifitas dalam sosial media agar tidak melulu diisi dengan hal-hal yang bisa merusak persatuan bangsa.

Stay at Limbo

Kalau bisa mudah kenapa harus pilih susah?

Sekarang apa-apa serba online. Kuliah mulai online. Rapat sudah online. Olahraga juga online. Bahagia apalagi, harus online. Pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pencapaian kebutuhan dan pemenuhan keinginan manusia, sudah bisa di-online-kan. Memang di dalam sosio-kultur manusia berlaku suatu hukum bahwa manusia akan menampakkan ‘identitas’ aslinya saat sedang dihadapkan oleh bencana atau mara bahaya. Namun tak bisa disimpulkan juga kalau ‘identitas’ asli manusia adalah online.

Salah satu episode di serial Black Mirror juga bercerita semacam itu. Bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan pemenuhan hasrat kepuasan dirinya: harta, eksistensi, dan kekuasaan. Kebetulan saja ketiganya bisa dicapai dengan mudah melalui cara online.

Tanpa capek-capek keluar rumah, uang secara instan dapat langsung masuk ke kantong. Tanpa harus mengerahkan tenaga menggandakan wajah, kita bisa masuk dalam relasi kekuasaan. Meski juga tanpa memperlihatkan rupa asli kita, hanya bermodal satu-dua kata manis yang kita gelontorkan di Twitter, ribuan retweet dan follower bisa bertengger di dalam etalase hidup kita.

Kalau ada yang mudah, kenapa harus pilih yang susah bukan?

Di masa karantina ini, kita harus waspada. Sebab tanpa kewaspadaan bisa saja kita masuk ke dalam limbo. Suatu wadah di mana kesadaran kita hilang dalam kegelapan. Kalau menurut Christoper Nolan dalam Inception (2010), Limbo merupakan sebuah kawasan impian, sebuah kawasan alam bawah sadar tak terhingga, dimana seorang pemimpi bisa memanifestasikan hasratnya yang terdalam, tetapi kalau sampai tidak waspada, bisa-bisa kesadaran kita larut sehingga menjadi bias antara kenyataan dan mimpi. Antara online dan offline. Antara identitas dan personalitas.

Limbo, dalam kaitannya dengan situasi akhir-akhir ini, sangat menjadi ancaman bagi kita. Selama kita tidak punya kontrol atas sehatnya pikiran dan warasnya rasionalitas. Selama kita melepas pengendalian diri terhadap gejolak emosi dan kita terus ragu-ragu mengambil langkah-langkah, kita adalah target empuk bagi Limbo, kita ayam panggang kecap dengan sambal terasi dan nasi kebuli yang dihidangkan kepada monster rakus bernama stress dan kelimpungan.

Bahkan sang Taufik Ismail mengabarkan: Selama ini kita selalu ragu-ragu // dan berkata: // dua tambah dua // mudah-mudahan sama dengan empat. Betapa manusia selalu bersikap ragu-ragu terhadap kemantapan. Betapa keragu-raguan ialah induk dari sifat teledor. Dari titik ini // Sedang kita tarik garis lurus // Ke titik berikutnya // Segala komponen // Telah jelas. Dalam soal // Yang sederhana.

Keragu-raguan memang wajar, tapi wajar bukanlah sesuatu yang kudu dimaklumi. Contohlah Dzun Nun alias Nabi Yunus. Beliau sempat juga menjadi korban lockdown-nya Allah Swt.

Baginda Yunus saat karantina di dalam perut ikan paus dipenuhi banyak pertanyaan tentang dirinya, tentang tugas kenabiannya, tentang umatnya yang mbalelo, tentang nasibnya berada di perut paus.

Beliau memanfaatkan waktunya untuk muhasabah dan tafakkur. Tidak lantas main TikTok, mengumpulkan stock Meme, atau bikin story WhatsApp sedang rapat Zoom bersama teman-temannya di darat. Tidak. Beliau terus meningkatkan kewaspadaannya sampai tingkatan di mana Allah sebagai the one and only kawan ngobrolnya.

Yunus bertapa dan mencari-cari jalan keluar di pikirannya. Tetapi semakin dicari semakin tidak ketemu. Semakin ingin keluar semakin buntu jalan. Memang wajar sebagai nabi yang kabur dari tugasnya pantas masuk ke dalam goa perut ikan paus, tapi beliau tidak memaklumi itu. Beliau menghitung kesalahan-kesalahan hidupnya sebagai manusia, sebagai nabi, sebagai makhluk yang diutus Allah. Sehingga tiba-tiba cahaya merekah di lubuk kesadarannya. Allah menjadi satu-satunya pihak yang hadir di hadapannya. Sehingga mulutnya tanpa sengaja keluar pernyataan: “Laa Ilaaha Illa Anta subhanaka Inni kuntu min adh-dhalimin.” Pernyataan yang mengandung dua unsur pengakuan. Pertama pengakuan bahwa satu-satunya sesembahan, Tuhan, Ilah, hanyalah Allah. Dan kedua, pengakuan bersalah atas kelalaiannya.

Syahdan, dari kewaspadaan atas limbo dan ketenangan Nabi Yunus saat stay at whale’s stomach, dapat kita simpulkan: yang terpenting akhirnya bukanlah apakah online atau offline. Tapi apakah di dalam offline atau pun online itu dapat kita temukan porsi yang pas untuk tidak masuk ke dalam Limbo. Apakah dengan offline atau pun online ini kita dapat memahami bahwa kita hamparan kerikil di alam semesta sehingga amat tidak layak dan tidak patut kita sombong berjalan membusungkan dada di bumi. Sebab baik-buruk online sepenuhnya tergantung kepada sistem pengelolaan tangan manusia. Bisakah kita meletakkan online dan offline tepat pada posisinya masing-masing? Atau… Limbo.

Dunia Terlahir Kembali  Pasca Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 tengah melanda dunia

Umat manusia saat ini tengah merasakan krisis global melalui salah satu elemen dunia yaitu Covid-19. Berbagai macam persoalan hidup seakan timbul secara serentak tidak hanya melulu perihal kesehatan. Angka kasus positif Covid-19 yang terus meningkat setiap harinya juga semakin membuat kita gelisah bahkan tanpa disadari. Berbagai inisiatif manusia yang spontan pun muncul ke berbagai permukaan media. Seruan untuk #dirumahaja #workfromhome dan sebagainya merupakan upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19 sekaligus reaksi kemanusiaan kita terhadap krisis yang tengah dialami.

            Selama menjalani karantina mandiri, kita semakin lama pun akan merasakan kejenuhan.  Adanya gempuran informasi yang semakin mengkhawatirkan setiap harinya seakan dunia hendak mencapai batasnya. Sehari tanpa obrolan senja dengan secangkir kopi bersama kawan-kawan tampaknya semakin menambah rasa rindu terhadap kebebasan yang selama ini kita keluhkan. Beberapa kawan pun mulai mengeluhkan kondisi kejenuhannya, bahkan mereka mengakui bahwa keadaan tanpa kepastian ini mulai menganggu kesehatan mentalnya.

            Jalanan tiba-tiba sepi tak seramai biasanya. Kemanakah manusia yang selama ini telah menguasai bumi? Mungkin mereka sedang bosan berdiam diri di rumahnya. Mereka mulai menganggap setiap hari rasanya monoton, tidak berwarna. Tetapi setidaknya beberapa dari kita masih bisa berkumpul bersama keluarga di tengah kondisi ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang terjebak disana? Tanpa sepeser pun uang untuk dibelikan makanan.

            Covid-19  meskipun  tidak ada satupun yang mengharapkan kehadirannya namun kemunculannya sudah cukup untuk melahirkan beberapa pertanyaan menarik. “Bagaimana rasanya hidup di karantina? Hidup di tengah ancaman yang mengintai setiap saat? Apakah nikmat? Tentu saja tidak. Manusia butuh teman, tampaknya sangat sulit menjalani hari tanpa berjumpa dengan teman. Beberapa kawanku sudah kau renggut nyawanya, sesungguhnya makhluk apa kau ini?”.

            Masih perlukah kita mengkambing hitamkan entitas bernama Covid-19 ini? meskipun kehadirannya tidak diharapkan tapi dia tidak rasis apalagi intoleran. Covid-19 tidak pernah mengenal identitas-identitas tersebut, bahkan dia secara adil menghampiri kita tanpa pandang bulu. Kehadirannya juga justru disambut baik oleh kicauan burung-burung gereja yang selama ini sesak nafas akibat polusi udara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Beberapa ubur-ubur bahkan lumba-lumba juga mulai nyaman bermain di tepi pantai. Bahkan di Jepang beberapa rusa hutan pun leluasa menjelajahi kota Tokyo yang biasanya penuh sesak oleh jutaan manusia. Masih pantaskah kita salahkan Covid-19 atas semua kejadian ini? sementara itu dunia justru telah menyambutnya dengan suka cita?

            Kesibukan, ketakutan, kecemasan manusia telah mengevolusi manusia menjadi lebih buas daripada hewan buas. Bahkan lebih rakus daripada seekor babi. Manusia tidak pernah puas mengisi perutnya dengan penderitaan makhluk hidup lainnya. Manusia selama ini telah menari-nari di atas bumi yang terinjak-injak olehnya, tanpa mereka sadari penderitaannya.

              Lalu sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Sampai manusia sadar akan kemanusiaannya. Esensi dirinya ada sebagai bagian dari dunia ini. Keadaan dimana manusia ada sebagai dunia itu sendiri. Maka akan muncul hari dimana tidak ada satupun konflik yang tidak dapat diselesaikan secara damai. Hari dimana manusia, hewan, tumbuhan, dan alam hidup secara berdampingan, setara, terlepas dari berbagai ancaman tanpa menghilangkan segala identitas keberagaman yang ada. Aku sebagai manusia, kamu sebagai tumbuhan, kamu sebagai hewan, kamu sebagai alam, dan kamu sebagai manusia yang lain kita putuskan mulai hari ini bahwa kita adalah sama-sama keluarga dalam rumah yang kita sebut sebagai dunia.

Rumah Ibadah yang Berdampingan di Indonesia

Source : Freepik

Idul Fitri, 2019.

Bapak Satpam Gereja di kotaku terlihat sedang membantu masyarakat muslim memarkirkan kendaraannya dengan penuh semangat. Seperti saat Idul Fitri datang, Masjid Agung akan ramai oleh masyarakat setempat yang ingin menjalankan ibadah shalat eid. Kali ini sebagian kendaraan beroda empat diparkir pada halaman depan gereja.


“Selamat pagi, Pak. Silakan parkir bagian pojok sana ya, Pak,” sapa pak satpam dengan senyum sumringah sambil mengarahkan mobil.

“Pagi, Pak. Baik terima kasih,” balas bapak.

Samar-samar kuingat percakapan mereka waktu itu. Tapi untuk senyuman mereka, masih kuingat dengan jelas.  

Hal tersebut adalah salah satu contoh nyata yang bisa membuktikan, bahwa keberagaman yang kita miliki sebenarnya menjadi warna-warni kehidupan, bila kita punya sudut pandang yang positif.

Sejak lama, setiap agama telah menghargai keragaman dan memahaminya sebagai anugerah terindah dari Tuhan. Sejak lama pula, kita sudah terbiasa hidup berdampingan. Salah satu buktinya adalah tempat ibadah yang dibangun secara berdampingan.

Bedasarkan buku yang berjudul merayakan keragaman, terdapat 16 daerah yang memiliki tempat ibadah berdampingan. Itupun yang sudah teridentifikasi, mungkin saja masih banyak daerah lain seperti halnya daerahku.

Sangat disayangkan rasanya, bila informasi menarik tentang banyaknya tempat ibadah yang dibangun secara berdampingan ini, hanya aku yang tahu. Maka, untuk bekal kalian jika suatu saat bepergian coba simak rangkuman beberapa wilayah berikut:

  1. Kompleks Puja Mandala Bali, uniknya komplek ini ialah terdapat 5 tempat ibadah yang berbeda, yaitu Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua, dan Pura Jagatnatha. Dan ternyata komplek ini disahkan sejak tahun  1997 loh oleh Menteri Agama.
  2. Bangka Barat Kampung Tanjung Kecamatan Muntok, di daerah ini terdapat 2 rumah ibadah yaitu Klenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami. Klenteng Kong Fuk Miau lebih awal berdiri yaitu pada tahun 1800an lalu kemudian dibangunlah Masjid Jami. Pembangunan Masjid Jami dilakukan secara bergotong royong oleh warga Tionghoa dan Melayu. Pihak kuil memberikan sumbangan berupa tiang penyangga untuk masjid. (Wikipedia)
  3. Bogor, Jawa Barat, Kampung Bulak Cibinong, terdapat masjid yang arsitekturnya mirip dengan klenteng, yakni Masjid Tan Kok Liong. Apabila melihat sekilas, bangunan ini bisa saja dikira klenteng padahal sebuah masjid. Uniknya arsitektur yang ada menjadikan para wisatawan sering berkunjung ke masjid ini loh, sekaligus beribadah.
  4. Boyolali, cukup banyak nih rumah ibadah yang berdampingan di Boyolali yaitu Masjid Agung, Gereja Katolik Kristus Raja Damai, Gereja Sola Gracia, Pura Bhawana Tata, dan Wiraha Abhayagiri Samudra Bakti. Ternyata kelima rumah ibadah diatas berada dalam satu komplek.
  5. Garut, bukan hanya dodol Garutnya yang terkenal, terdapat bangunan bersejarah ialah Candi Cangkuang dan Makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Kedua bangunan tersebut berada dalam satu wilayah dan memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran agama islam.
  6. Jakarta, banyak juga nih diantaranya Masjid Istiqlal dan Katedral, Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil, Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Manahaim, Vihara Satrya Dharma dan Masjid Jami Nurul Falah, Pura Aditya Jaya dan Masjid Al Taqwa, Vihara Satya Dharma dan Kuil Shiva Mandir, dan Pluit.
  7. Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), nah kalau ini dibagian Taman Mini Indonesia Indah yang terdapat 8 rumah ibadah diantaranya Masjid Pangeran Diponegoro, Gereja Katolik Santa Catharina, Gereja Protestan Haleluya, Pura Penataran Agung, Kertabhumi, Vihara Ary Dwipa Arama, Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa, dan Kuil Khonghucu Kong Miao (Klenteng Lintang Kong Miao).
  8. Lombok, terdapat rumah ibadah yaitu Pura Lingsar dan Tempat Ibadah Pemeluk Islam Wektu Telu. Meski berbeda keyakinan, kedua pemeluk agama tersebut hidup dengan rukun, bahkan memiliki tradisi yang dilaksanakan bersama-sama, yaitu Perang Topat.
  9. Magelang, Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara. Di Magelang sendiri terdapat Masjid yang mirip Klenteng yaitu Masjid Al-Mahdi. Masjid ini dibangun oleh muslim keturunan Tionghoa.
  10. Malang, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel dan Masjid Agung Jami’. Dilansir dari suarajatim.id ternyata pada tahun 2019 shalat eid saat idul adha bertepatan dengan ibadah atau misa. Hanya selisih 2 jam saja, mereka tetap beribadah sesuai jadwal, namun bila shalat belum selesai pihak GPIB bersedia mengundurkan waktu ibadah mereka. Dan mereka merasa itu hal yang biasa karena sudah sering menerapkan toleransi, apalagi dengan Masjid Agung Jami, yang bersebelahan langsung dengan Gereja.

Nah, banyaknya rumah ibadah yang telah dijelaskan diatas merupakan bukti kuat bahwa kita sebenarnya telah terbiasa dengan keragaman, maka jauhkanlah pikiran negatif tentang keragaman yang kita miliki. Bukankah indah bila kita saling bergandengan?

Source: ANTARAFOTO/Indrianto Eko Suwarso
source: Mandrapahlawa.blogspot.com
Ada Apa Dengan Corona?

Virus pek*k!! dan masih banyak lagi umpatan yang muncul ketika usaha saya mulai terhambat, banyak tender yang lepas dengan kehadiran corona virus 19.

Begitu mudahnya suatu tatanan kehidupan terseok, runtuh dan melemah karena hadirnya sekumpulan virus baru yang melekat dari satu tubuh ke tubuh manusia lainnya ini.

Melemah nya imun tubuh, membuat kesehatan menurun, begitupun dengan kondisi perekonomian yang mulai lesu juga terkena imbasnya.

Penerapan kebijakan darurat sipil, lock down, work from home, social distancing, diberlakukan nya jam malam, dilarang berkumpul turut andil dalam menambah kacau balaunya suasana.

Bahkan hanya sekedar salaman pun menjadi begitu menakutkan bagi kita semua. Dan masih banyak hal sepele lain yang biasa dilakukan sehari-hari, menjadi satu hal yang tidak boleh dilakukan akhir-akhir ini.

Begitu banyak nya informasi, himbauan-himbauan yang beredar liar di medsos, semakin membuat bingung, takut dan cemas. Terpikirkan hal-hal buruk yang bakal terjadi, dan semua campur aduk di pikiran saya. Apalagi saat ini, virus ini sudah singgah di kota saya “Yogyakarta”.

Cukup lelah juga saat membaca dan mendengar berita-berita yg beredar. Ditengah rasa takut dengan masuknya si kecil tengil corona atau sering disebut juga covid-19 ini, saya mencoba melihat sisi lain kehadirannya. Ada apa dengan “maksud” virus ini sebenarnya?

mencoba mencari sisi positif dari keadaan ini, sayapun kembali membuka sosial media, youtube, berita-berita yang pernah terbaca sebelumnya.

Satu hal pada akhirnya yang saya temukan setelah berselancar sana-sini. Hal positif yang mungkin luput dari pandangan saya, karena begitu terlena dengan jutaan hal negatif akan hadirnya virus corona ini.

ya! saya melihat virus ini juga turut menebarkan kembali semangat toleransi, dibalik semua ke “chaosan” yang muncul karena keberadaan nya di sekitar kita.

Dalam menyerang, virus ini tidak pandang bulu. Tidak melihat kaya atau miskin, tidak melihat dia muslim, kristen, katolik, hindu, budha atau konghucu, tidak juga melihat ras. Oleh karena itu, amat banyak korban umat manusia berjatuhan, bahkan sampai meregang nyawa karena nya.

Kejadian ini tidak serta merta membuat manusia menyerah. Tetapi justru membuat berjuta-juta jiwa bersatu, berjuang bersama untuk melawan nya.

Banyak dokter yang mati-matian memperjuangkan nyawa seseorang tanpa memperdulikan kesehatan bahkan nyawa nya sendiri.

Banyak orang yg ikut berdonasi membeli APD untuk membantu tenaga medis yang kekurangan Alat Medis, karena saking banyaknya pasien yang terjangkit virus corona atau covid-19.

Banyak orang berinisiatif dan bersatu dengan kesadarannya sendiri untuk memberi donasi semampunya, sampai bahu membahu membuat masker yang di produksi di rumah, membuat disinfektan di setiap gang masuk, membagi-bagikan hand saintaizer, tanpa melihat untuk siapa di lakukan? untuk agama apa semua berbuat? untuk ras apa mereka melakukan?

Begitu banyak orang-orang yang membagikan ide dan informasi untuk bisa tetap bertahan menghadapi tragedi kemanusiaan ini.

Hal-hal inilah yang menyentuh dan mengobati banyaknya kerinduaan akan semangat, toleransi, solidaritas kebersamaan sebagai sesama manusia, yang akhir-akhir ini menjadi momen yang mahal dan sulit untuk diwujudkan di Negeri ini. Sungguh suatu pelajaran yang begitu berharga menurut saya dengan kehadiran Covid 19,

Saya yakin tragedi yang terjadi di tengah-tengah kita ini bukan lah suatu kebetulan, ini adalah gambaran kongkrit, dimana semesta ini ingin mengingatkan kita belajar untuk hidup rukun, bergotong royong, toleransi, saling berempati tanpa melihat golongan, ras, suku, budaya dan agama.

Semoga Virus ini dapat segera bersahabat dengan umat manusia ataupun sebalik nya.

Terimakasih Tuhan sudah ijinkan Covid 19 ini menjangkau seluruh penjuru dunia ini. sehingga seluruh umat manusia bisa kembali melihat dan belajar rasa kemanusiaan yang besar di seluruh dunia.

Semoga setelah semua keadaan ini bersahabat kembali, saya bisa menjadi sosok manusia yang lebih bersahabat dengan lingkungan yang saya tinggali.

Doa untuk saudara-saudara yang gugur dalam tragedi ini, semoga Tuhan memberikan tempat yang layak untuknya, dan keluarga yang ditinggalkan dapat memperjuangkan hidupnya di kemudian hari.

Terimakasih dan apresiasi yang besar saya sampaikan kepada tenaga medis, yang tak pernah berhenti dan menyerah dalam memperjuangkan kehidupan manusia, dari sejak virus ini mampir di Indonesia, sampai saat ini. Terutama nya di kota Jogja tercinta.

Tetap semangat dan jangan berhenti melakukan kebaikan juga untuk saudara-saudaraku yang dengan sukarela bergotong royong membuat segalanya tercukupi, aman, nyaman di lingkungan yang ditinggali.

Tetep sehat semua sedulurku!
Salam!!

Kenapa harus 14 hari dirumah? Baiknya ngapain ya selama dirumah?

source: miranda marquit due.com

Beberapa Sekolah, Universitas dan tempat kerja telah banyak yang dihimbau untuk melakukan social distancing, dan mengurangi kegiatan serta melakukan beberapa tugas/pekerjaan via online. Beberapa Universitas, pun tempat kerja memang telah banyak menerapkan sistem kuliah/kerja dan rapat online, sehingga tidak begitu pusing dengan adanya himbauan ini. Hanya saja, untuk kegiatan yang mengharuskan tatap muka, benar-benar harus dikurangi, kecuali bersifat sangat penting.

Kebanyakan himbauan yang diedarkan adalah siswa, mahasiswa, juga pekerja di liburkan selama 14 hari. Namun, dengan adanya libur tersebut, beberapa orang malah menjadikannya kesempatan untuk pergi piknik, bahkan mudik. Memang, supaya tetap sehat kita pun butuh refreshing seperti piknik atau bertemu orang tersayang, tetapi ini bukan saatnya. Loh kok gitu? Kenapa harus ada libur dong?

            Kenapa harus 14 hari dirumah, mengisolasi diri? Kenapa sepenting itu dan haruskah dilakukan? Jawabannya, YA, Sebisa mungkin dilakukan, karena….

            Dengan dirumah selama 14 hari ternyata dapat menghentikan laju penularan COVID-19. 14 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk mengetahui aman atau tidaknya seseorang dari infeksi virus corona. Dalam kasus begini, saat seseorang tidak sengaja dan tanpa sadar melakukan kontak fisik terhadap apapun yang bisa menginfeksi dirinya dari virus corona, maka dibutuhkan waktu 14 hari untuk menunggu (dirumah), jika tidak terjadi apa-apa maka orang tersebut aman. Namun, jika ternyata orang tersebut terinfeksi dan tetap kesana-kesini padahal sudah dihimbau untuk mengurangi kegiatan, bisa saja dia menularkan kepada orang lain, dan rantai penularan semakin meluas.

            14 hari libur dilakukan untuk memotong rantai penularan, hal ini dilakukan dengan harapan dapat meminimalisir laju bahkan menghentikan serta menyelamatkan ribuan orang. Tetapi, hanya akan berhasil apabila semua orang tetap tinggal dirumah masing-masing selama 14 hari libur itu. (dr. Reisa Broto Asmoro)

            Nah, agar 14 hari dirumah tidak bosan nih beberapa tips yang baik dilakukan :

  1. Membersihkan rumah, waktu yang cukup lama berada dirumah sebaiknya dilakukan dengan membersihkan rumah agar diri kita juga lebih sehat.
  2. Merawat diri, nih bagi yang biasanya sibuk bepergian untuk kegiatan diluar, waktu libur ini adalah waktu yang tepat untuk merawat diri kalian.
  3. Belajar memasak makanan sendiri, karena setiap hari beli makanan diluar atau bahkan go-food/grab food, dengan adanya libur ini kalian bisa loh mengkreasikan makanan sehat ala kalian.
  4. Berkarya/melakukan hobi, yang suka membuat komik, melukis, bermain alat musik dan lain-lain, saat inilah waktu yang pas untuk kalian melakukan menggali potensi atau hobi kalian.
  5. Bekerja atau doing homework, selain melakukan me-time ala kalian masing-masing, pekerjaan ataupun tugas tetap dikerjakan ya, karena libur bukan berarti bermalas-malasan.

Singkatnya, marilah kita semua mendoakan dunia agar segera pulih, stay safe, stay healthy!