Dahsyatnya Sosial Media di Tangan Selebgram

Baru-baru ini seorang selebgram menolak apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang diberikan pada dirinya. Apresiasi diberikan lantaran selebgram tersebut berhasil menggalang dana sebesar 7 miliar dalam waktu satu minggu. Jika ditotal hingga saat ini telah terkumpul 9 miliar dari target pengumpulan yaitu 10 miliar.

Melalui Platform Kitabisa.com, Rachelvennya yang merupakan selebgram dan sering juga disebut-sebut sebagai influencer melakukan penggalangan dana tersebut. Berangkat dari kekhawatirannya mengenai covid-19 ini, terutama pada pekerja medis dan pekerja sektor informal.

“Aku sedikit lega pas pemerintah bilang bisa kerja dari rumah, tapi pasti masih ada pekerja medis dan informal seperti ibu-ibu yang tetap harus bekerja untuk anaknya. “  Tulisan Rachel di halaman Kitabisa.com.

Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk :

  • Menyediakan masker, hand sanitizer, sarung tangan plastik, dan alat perlindungan diri lainnya untuk tenaga kesehatan di Rumah Sakit rujukan covid-19.
  • Menyediakan alat perlindungan diri untuk keluarga petugas kesehatan di RS rujukan covid-19.
  • Memberikan bantuan keseharian untuk pekerja sektor informal seperti ibu-ibu pedagang agar untuk sementara bisa beristirahat di rumah. Bentuk bantuan bisa berupa kebutuhan sehari-hari, alat sanitasi, masker dan hand sanitizer.

Orang-orang yang ikut berdonasi kebanyakan berasal dari followers Instagram Rachelvennya sendiri. Para pengikut ini tahu informasi galang dana hanya dari Instastory atau feeds Instagram. Nah dari situ dapat kita tahu, dengan kekuatan sosial media sesuatu yang tujuannya baik akan berjalan dengan lancar dan dapat banyak dukungan dari ribuan bahkan jutaan orang baik lainnya. Setuju kan? Kecuali kamu salah satu pengguna media sosial untuk hal negatif (baca: suka nyinyir pakai fake account)

            Ngomong-ngomong tentang nyinyir dan fake account, ‘tugas’ para pengguna sosial media yang bijak (termasuk kamu) sebenarnya masih belum tuntas juga. Kamu tahu banyak sekali konten hate speech, anti damai, berita hoax serta artikel-artikel yang dipelintir di media sosial? Efek dari itu semua bisa menimbulkan keresahan sehingga menggiring opini negatif.

Dengan kekuatan sosial media, selebgram, influencer, konten kreator dan lainnya, kenapa pemerintah tidak melakukan endorse kepada mereka yang punya followers beratus ribu dan berjuta-juta untuk mengkampanyekan hal baik dan mempengaruhi followers mereka untuk berkomentar positif? Kan followers mudah sekali diperdaya, ya.. tentu saja dalam hal baik.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *