Didi Kempot Inspirasi Bagi Negeri

Didi Kempot serupa simbol harapan.

Bisa dikatakan kita generasi yang cukup tangguh. Sebab menjalani hari-hari di tahun terburuk seperti ini tidak pernah begitu mudah. Pun jika bisa dilatih, kupikir kita semua tidak akan mahir dalam waktu sekejap. Tapi tanpa latihan dan persiapan yang matang, kita, manusia yang pongah ini berkali-kali tetap dihantam oleh sesuatu yang memilukan.

Belum kering air mata melihat gugurnya orang-orang rumah sakit yang bertugas menangani korona. Belum selesai cerita kita mengenang Glenn Fredly yang banyak berperan untuk hak asasi manusia. Kini, kita kembali ditampar oleh kenyataan bahwa seorang maestro, Didi Kempot, telah berpulang di puncak kejayaannya.

Sebagai orang Bugis yang tidak paham bahasa Jawa—kecuali sedikit karena dua tahun berkuliah di Jogja—aku melihat sosok Didi Kempot dengan sangat takjub. Meski tidak selalu bisa menyebut kata-kata di lagunya dengan tepat, dan meski tidak pernah datang melihatnya konser secara langsung, sosok Didi Kempot akan menjadi topik yang cukup apik kudiskusikan bersama teman di kampung. Tentang betapa kekalahan dan nelangsa bisa diramu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tentang kesedihan yang kini bisa dirayakan dengan air mata dan tarian.

Indonesia adalah negara patriarki yang malu-malu mengakui dirinya sendiri. Sejak kecil, anak lelaki akan diajarkan oleh orang tuanya untuk menjadi sosok yang tangguh dan tidak boleh menangis. Anak-anak Ahmad Dhani menggambarkan itu dalam lirik lagu “Ayahku selalu, berkata padaku. Laki-laki tak boleh nangis. Harus selalu kuat, harus selalu tangguh. Harus bisa jadi tahan banting”. Laki-laki digambarkan sebagai pejuang, sosok yang tidak boleh meneteskan air matanya. Jika ada dari mereka yang melanggar itu, sudah tentu dikatakan tidak macho atau yang paling tragisnya “KAYAK CEWEK AJA SUKA NANGIS”.

Didi Kempot hadir dengan mewajarkan tangisan pada kaum lelaki. Gayung bersambut, entah jengah mengakui diri sendiri kuat padahal tidak kuat-kuat amat, para lelaki ini kemudian berbalik arah menggandrungi Didi Kempot. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan menangis bersama di tengah kerumunan orang dalam konser Didi Kempot. Mereka kini tidak lagi menangis di kamar mandi, di balik pintu, dan di mana saja yang jauh dari jangkauan orang banyak. Mereka kini mulai membuka diri dan mengakui bahwa mereka juga manusia.

Begitu banyak hal baik yang telah ditinggalkan oleh sosok Didi Kempot. Kepergiannya patut menjadi sesuatu yang membahagiakan. Sebab urusannya di dunia telah selesai dan kini dia bisa beristirahat dengan tenang. Didi Kempot meninggalkan kita, manusia-manusia malang yang masih harus bergelut dengan hidup yang brengsek. Tapi kupikir itu tidak terlalu menjadi masalah. Toh Didi Kempot berpesan “Patah hati tidak usah dibuat sedih, ayo kita jogetin!”

Selamat jalan, Didi Kempot. Sampai jumpa.

Related Post

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *