Ragam Budaya di Sekolah Amerika

Ragam budaya juga hadir di Amerika. Amerika atau yang biasa terkenal dengan sebutan “Negeri Paman Sam” terkenal dengan pendidikannya. Pendidikan menjadi perhatian besar karena percaya mampu menjauhkan dari kemiskinan. Juga sebagai sarana kisah sukses transformasional.

Ragam Budaya Tak Terhindarkan

Menurut sejarah singkat, tahun 1600 Eropa datang membawa bangsa Afrika ke Amerika. Pada pertengahan tahun 1800 bangsa China mulai imigrasi ke Amerika. Tahun 1900 sampai tahun 1920 banyak imigran berdatangan dari Eropa Tengah dan Eropa Selatan.

Dengan begitu ada banyak bahasa di Amerika. Di California sendiri ada lebih dari 70 bahasa yang dituturkan di sekolah. Untuk menunjukkan rasa hormat terhadap bahasa dan budaya utama para siswa, League of United Latin American Citizens mengembangkan program “English Plus”. Hal ini sebagai pengganti dari English as a Second Language programs (ESL).

Ragam budaya lahir di sekolah. Hal ini dipandang sebagai sumber daya yang kaya dan berharga. Menjadi nilai tambah dimensi yang menarik dalam pengalaman pendidikan. Komunikasi menjadi tak terbatas. Para siswa boleh menuturkan “mother tongue” masing-masing.

Baca juga Keimanan Adalah Modal Untuk Bertahan

Perbedaan kultural tidak mengganggu perkembangan karakter para siswa. Justru sebaliknya sebagai sarana meningkatkan values dalam pola pikir keberagaman. Perbedaan budaya bisa mempengaruhi gaya belajar kinerja kelas.

Perbedaan Budaya

Pernah ada sebuah kisah menarik tentang keluarga imigran yang baru pindah ke Amerika. Sang ayah memukul dan memaksa putrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebanyak dua kali setiap malam. Hal ini dilakukan karena sang putri membawa pulang rapor dengan tiga huruf “S”. Sang ayah terbiasa dengan sistem penilaian yang dimulai dari “A” dan seterusnya. Sang ayah mengira putrinya memiliki prestasi yang sangat buruk. Akan tetapi sistem penilaian di Amerika sedikit berbeda dari pemikiran sang ayah. Sebenarnya S ini artinya “Satisfactory” atau dapat diartikan sebagai predikat yang memuaskan.

Lantas bagaimana peran seorang guru di Amerika terhadap ragam budaya para siswanya? Harapannya guru mampu mempelajari segala sesuatu tentang setiap budaya muridnya, mereka tetap harus peka. Guru memandang ragam budaya sebagai faktor positif. Seorang guru harus memiliki motivasi untuk meneliti norma budaya murid-muridnya. Hal ini agar dapat berkomunikasi efektif dan menjauhkan diri dari mendiskriminasi.

Sekolah di Amerika

Begitulah kehidupan sekolah di Amerika. Sekolah bisa menjadi tempat penemuan, tempat belajar, dan tempat memuaskan rasa ingin tahu. Belajar tentang sejarah, gaya hidup, suku, ras, bahasa, dan bahkan agama. Para murid bisa dengan gembira saling berdiskusi. Tentang hal-hal baru, ide-ide baru. Sekolah menjadi tempat mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikiran mereka.

Guru wajib menjadi tauladan dan cerminan tentang pentingnya kepedulian, menghormati dan membantu. Sehingga para merasa berharga dan diterima di lingkungannya.

Sekolah di Indonesia


Lantas apa yang bisa kita lakukan terhadap sistem pendidikan sekolah di Indonesia? Kita bisa mengadopsi pendidikan multikultural. Mendidik dengan cara mempromosikan persamaan, persatuan, penerimaan, dan pemahaman masing-masing individu. Hal ini bertujuan agar mampu mengembangkan citra diri positif.

Multikultural mencakup semua orang. Baik itu Papua, Jawa, kaya, miskin, difabel, pria, wanita, Islam, Kristen dan lain-lain. Semua orang multikultural. Artinya semuanya memiliki perbedaan. Kehadiran siswa yang beragam adalah tugas guru untuk memberikan kesempatan yang sama untuk kebaikan pendidikan. Guru memiliki kesempatan yang besar membantu mencapai keselarasan dalam perbedaan ini.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *