Musik Dunia Pemersatu Bangsa

Musik dalam KBBI berarti  (1) ini atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan keseimbangan, (2) nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian itu).

Bagi sebagian orang musik adalah satu hobi (kesenangan) yang melengkapi hidup. Musik dipakai sebagai sarana untuk menyalurkan emosi dan rasa. Rasa sedih, bertemu musik. Sedang kecewa, diluapkan dalam musik. Sedang sangat rindu, berteman dengan musik. Bahkan ketika sedang sangat berharap, musik dijadikan satu sarana untuk melengkapi peribadatan. Musik menjadi warna dan hiburan tersendiri dalam lini kehidupan.

Musik oleh sebagian kalangan tidak hanya berhenti sebagai sarana mengekspresikan diri. Musik hadir lebih dari sekedar gaya. Tidak sedikit kita tahu adanya musisi yang memang menggantung diri dari bermusik. Artinya, musik dipakai sebagai media untuk mencari nafkah. Sebut saja pencipta lagu, komposer, produser pula musisi.

Musik hadir memenuhi belahan dunia. Setiap negara bahkan punya ciri musiknya masing-masing. Bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh kultur budaya masing-masing wilayah.
Kita tahu, setiap negara merdeka bahkan punya lagu kebangsaan. Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia.

Sejarah Musik Dunia

Merunut sejarah perkembangan musik telah terjadi sejak zaman purbakala. Kala itu musik hadir sebagai pelengkap dalam menjalankan ritual-ritual atau semacam pengiring dalam upacara-upacara peribadatan. Perkembangan musik terus berlanjut ke abad pertengahan. Pada abad dimana Romawi mulai mengalami kemunduran, musik justru berkembang oleh sebab ditemukannya kemajuan dalam bidang kehidupan. Tokoh yang cukup santer pada masa ini adalah Gullanme Dufay dari Prancis dan Adam de la halle dari Jerman.

Pada abad Renaisans dimana dikenal juga dengan abad kebangkitan, musik kembali mendapatkan pengaruh dan mengalami perkembangan. Pada masa ini mulai mengenal musik dengan bercirikan nuansa percintaan dan perjuangan. Musik yang awalnya identik dengan ritual gereja justru mengalami kemunduran. Perkembangan sains dan teknologi pada masa ini cukup meningkat begitu pun dengan musik. Awal kemunculan piano dan organ dimulai pada masa ini. Inilah cikal bakal lahirnya musik instrumental. Giovanni Gabrieli (1557 – 1612) dari Italia, Galilei (1533 – 1591) dari Italia, Claudio Monteverdi (1567 – 1643) dari Venesia, Jean Baptiste Lully (1632 – 1687) dari Prancis, mereka adalah tokoh-tokoh musik pada masa renaisans.

Di abad pertengahan kembali dikenal jenis aliran musik baru yaitu Barok dan Rokoko. Setelah zaman ini berakhir maka dimulailah era musik klasik yang juga masih dikenal sampai saat ini. Musik klasik dimulai sejak tahun 1750.

Sejarah musik tidak hanya berhenti sebagai sarana hiburan. Musik juga ikut andil dalam perayaan-perayaan kenegaraan. Musik dekat dengan budaya. Musik sebagai penyemangat dalam event olahraga. Musik juga dikenal sebagai media perdamaian. Musik sebagai pemersatu bangsa.

Jangan lupa ikut lomba cover lagu.

Didi Kempot Inspirasi Bagi Negeri

Didi Kempot serupa simbol harapan.

Bisa dikatakan kita generasi yang cukup tangguh. Sebab menjalani hari-hari di tahun terburuk seperti ini tidak pernah begitu mudah. Pun jika bisa dilatih, kupikir kita semua tidak akan mahir dalam waktu sekejap. Tapi tanpa latihan dan persiapan yang matang, kita, manusia yang pongah ini berkali-kali tetap dihantam oleh sesuatu yang memilukan.

Belum kering air mata melihat gugurnya orang-orang rumah sakit yang bertugas menangani korona. Belum selesai cerita kita mengenang Glenn Fredly yang banyak berperan untuk hak asasi manusia. Kini, kita kembali ditampar oleh kenyataan bahwa seorang maestro, Didi Kempot, telah berpulang di puncak kejayaannya.

Sebagai orang Bugis yang tidak paham bahasa Jawa—kecuali sedikit karena dua tahun berkuliah di Jogja—aku melihat sosok Didi Kempot dengan sangat takjub. Meski tidak selalu bisa menyebut kata-kata di lagunya dengan tepat, dan meski tidak pernah datang melihatnya konser secara langsung, sosok Didi Kempot akan menjadi topik yang cukup apik kudiskusikan bersama teman di kampung. Tentang betapa kekalahan dan nelangsa bisa diramu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tentang kesedihan yang kini bisa dirayakan dengan air mata dan tarian.

Indonesia adalah negara patriarki yang malu-malu mengakui dirinya sendiri. Sejak kecil, anak lelaki akan diajarkan oleh orang tuanya untuk menjadi sosok yang tangguh dan tidak boleh menangis. Anak-anak Ahmad Dhani menggambarkan itu dalam lirik lagu “Ayahku selalu, berkata padaku. Laki-laki tak boleh nangis. Harus selalu kuat, harus selalu tangguh. Harus bisa jadi tahan banting”. Laki-laki digambarkan sebagai pejuang, sosok yang tidak boleh meneteskan air matanya. Jika ada dari mereka yang melanggar itu, sudah tentu dikatakan tidak macho atau yang paling tragisnya “KAYAK CEWEK AJA SUKA NANGIS”.

Didi Kempot hadir dengan mewajarkan tangisan pada kaum lelaki. Gayung bersambut, entah jengah mengakui diri sendiri kuat padahal tidak kuat-kuat amat, para lelaki ini kemudian berbalik arah menggandrungi Didi Kempot. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan menangis bersama di tengah kerumunan orang dalam konser Didi Kempot. Mereka kini tidak lagi menangis di kamar mandi, di balik pintu, dan di mana saja yang jauh dari jangkauan orang banyak. Mereka kini mulai membuka diri dan mengakui bahwa mereka juga manusia.

Begitu banyak hal baik yang telah ditinggalkan oleh sosok Didi Kempot. Kepergiannya patut menjadi sesuatu yang membahagiakan. Sebab urusannya di dunia telah selesai dan kini dia bisa beristirahat dengan tenang. Didi Kempot meninggalkan kita, manusia-manusia malang yang masih harus bergelut dengan hidup yang brengsek. Tapi kupikir itu tidak terlalu menjadi masalah. Toh Didi Kempot berpesan “Patah hati tidak usah dibuat sedih, ayo kita jogetin!”

Selamat jalan, Didi Kempot. Sampai jumpa.

Hari Musik Nasional di Yogyakarta



Hari Musik Nasional diperingati pada tanggal 9 Maret 2020. Sejarah penentuan hari musik nasional disamakan dengan hari lahir pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman (WR. Soepratman). Damai Indonesia

Yogyakarta pada 1 Maret 2020 digebrak oleh Scorpion dan Whitesnake dalam JogjaROCKarta Festival #4 2020. Kurang lebih 17.500 penonton memadati Stadion Kridosono. Dua band asal Eropa yang telah dinanti-nati sejak tahun lalu itu telah berhasil menghipnotis para penonton dengan penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang mereka bawakan.

Whitesnake dijadwalkan untuk tampil terlebih dahulu sebelum Scorpions. Personil dari Whitesnake diataranya David Coverdale (vokal), Bernie Marsden (gitar), Micky Moody (gitar), Neil Murray (bass) dan David “Duck” Dowle (drum). Mereka membawakan 14 lagu, antara lain, Hey You, Slow And Easy, Shut Up And Kiss Me, dan Still Of The Night, etc.

David Coverdale menyapa para penonton “Akhirnya bertemu lagi setelah 1975” dengan membuka penampilan mereka dengan lagu Bad Boys. Duck sang drummer juga telah berhasil memukau para penonton dengan pamer skill bersolo drum selama kurang lebih 2 menit. Pria berumur 66 tahun ini tidak terlihat letih dan langsung melanjutkan ke lagu berikutnya.

Selanjutnya, band yang telah ditunggu-tunggu para penonton Scorpions tampil untuk menghibur para penonton. Band yang beranggotakan Klaus Meine sebagai vokalis, Rudolf Schenker & Matthias Jabs sebagai gitaris, Paweł Mąciwoda sebagai basis, dan Mikkey Dee sebagai drummer. Mereka membawakan 15 lagu termasuk hits Wind Of Change dan Still Loving You.

“Selamat malam Yogyakarta, apa kabar?” ujar Klaus menyapa para penonton dan membuka pertunjukan mereka dengan lagu Going Out With A Bang yang langsung di sambut tepuk riuh para penonton.

Scorpions dan Whitesnake yang rata-rata anggotanya telah berumur lebih dari 50 tahun telah menginspirasi generasi muda dengan memberikan penampilan yang memukau melebihi band-band muda yang telah tampil terlebih dahulu sebelum mereka. Kedua band legend ini memperlihatkan semangatnya dalam berkarya dan tampil dengan maksimal tanpa melihat usia mereka.(hd)