Ajaran Kebaikan Dalam Pepatah Minang

(foto by dokumentasi penulis saat di Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar-Sumatra Barat) minang

Ajaran Kebaikan Dalam Pepatah Minang

Kunci Hidup Damai Berbangsa Bernegara

Budaya Minangkabau atau budaya Minang merupakan satu kekayaan budaya dari sekian banyak kekayaan yang Indonesia punya. Minang dengan segala pesonanya sudah tersohor tidak hanya dalam negeri tapi juga manca negara. Apa yang kamu ingat jika mendengar kata Minangkabau atau Minang? Mungkin rendang, mungkin rumah gadang, Uda uni dan lain sebagainya.

(foto by dokumentasi penulis saat di Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar-Sumatra Barat) minang

Hidup berbangsa dan bernegara sudah pasti akan berdampingan dengan beragam suku, adat istiadat, serta budaya. Kunci damainya hidup berdampingan dengan orang-orang yang heterogen ialah menjunjung tinggi apa yang ada di dalamnya. Ketika kita berada dalam suatu kebudayaan yang bukan dari budaya kita, seperti hidup di perantauan maupun bukan dari tanah kesukuannya, maka penting untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di dalamnya. Serta menjaga kearifan lokal daerah yang menjadi tempat tinggal.

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung

Seperti kata pepatah Minang “Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang”, yang berarti di mana bumi dipijak, maka di situlah langit dijunjung. Pepatah yang sangat dalam makna dan pengertiannya.

Mengutip dari id.wikiquote.org bahwa pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” memiliki makna yang cukup dalam, bahwa seseorang harus mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tempat di mana ia berada dengan menghargai adat dan budaya tempatan tanpa harus kehilangan jati-dirinya (filosofi survival perantau Minangkabau).(Wikiquote, 2020)

Hal tersebut sangat sejalan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mana dalam suatu wilayah itu ada bermacam perbedaan. Baik kesukuan, kebudayaan, agama, ras, dan perbedaan lainnya. Jika dapat hidup berdampingan maka akan indah dan tentram. Supaya dapat demikian kuncinya adalah mau beradaptasi dan menerapkan nilai-nilai yang berlaku di wilayah tersebut. Jangan hanya egois oleh diri sendiri. Bahkan berbuat sewenang di wilayah orang (perantauan).

Pada hakikatnya semua kesukuan memiliki tanah kandungnya sendiri-sendiri. Seperti orang Sunda yakni di Jawa Barat, suku Lampung di Lampung, orang Minang rumahnya di Sumatra Barat, orang Batak kampungnya di Sumatra Utara, dan juga suku-suku yang lainnya memiliki wilayah asalnya sendiri. Karena kondisi dan situasi serta pekerjaan dan lain halnya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan perpindahan dan bertransmigrasi ke daerah lain yang bukan merupakan tanah kandungnya. Sehingga inilah pentingnya para perantau untuk memahami nilai-nilai yang ada di dalam suatu daerah yang menjadi tempat tinggal barunya.

Untuk PersatuaN Dari Ajaran Budaya Minang

Jika tidak mau menerapkan hal-hal di atas, maka kelak kemudian hari akan terjadi suatu ketidakharmonisan. Menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dari budaya yang berbeda bukan berarti meninggalkan budaya asalnya. Tetapi ini merupakan suatu bentuk dalam menghargai dan mencintai ragam kebudayaan yang berbeda. Sesuai dengan amalan Pancasila yang terkandung dalam sila ke-3 “Persatuan Indonesia”. Yang maknanya terdapat nilai persatuan.

Pada sila tersebut terdapat kandungan walaupun masyarakat Indonesia berasal dari bermacam suku bangsa, etnis, ras, dan lain sebagainya, harus selalu menjunjung tinggi persatuan. Jangan sampai bangsa tanah air terpecah-belah oleh perbedaan-perbedaan. Dalam nilai-nilai persatuan pun memiliki makna patriotisme dan cinta Tanah Air. Di mana setiap rakyat Indonesia mempunyai keharusan untuk melakukan kerjasama serta merelakan diri berkorban untuk kepentingan Tanah Air tercinta. (Kumparan, 2020)

Falsafah Budaya Minang

Jika mendalami lebih jauh seputar pepatah Minang tadi maka akan berhadapan pada suatu bentuk falsafah budaya “dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang”.

Hal ini biasanya lanjut dengan pepatah “elok-elok manyubarang, jan sampai titian patah, elok di rantau urang, jan sampai babuek salah” (berbuat baiklah di negeri orang jangan sampai berbuat salah). Tidak hanya sampai situ saja, terdapat banyak lagi pepatah yang mengandung nilai-nilai budaya dari Minang lainnya yang keseluruhannya bermakna sebagai etika sosial. Maka itu harus kita pegang erat-erat dan taati dalam setiap berkehidupan dan pergaulan sosial. Seperti pepatah “baso-basi, malu jo sopan” dan “tenggang raso” (Demina. 2016:8). Artinya bahwa selain mempunyai sikap tenggang rasa juga harus benar-benar menjaga sopan santun. Jangan sampai terjadi perbuatan ataupun perkataan yang menyinggung maupun menyakiti perasaan orang lain. Semua etika sosial yang ada hendaklah supaya inheren dengan nilai-nila ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis, yakni “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (Rahim, 2017:64-72). (Yolanda, 2021)

Pepatah bijak ini bukan hanya untuk orang-orang yang berasal dari ranah Minang saja, namun juga dapat berlaku untuk semua orang yang hendak merantau atau bertransformasi wilayah tempat tinggal. Supaya dapat hidup berdampingan dan rukun meski beda adat budaya.

Referensi

Kumparan. (2020). Nilai-nilai yang Terkandung dalam Pancasila dan Perlu Diterapkan. Kumparan.Com. Retrieved from https://kumparan.com/berita-hari-ini/nilai-nilai-yang-terkandung-dalam-pancasila-dan-perlu-diterapkan-1ttMk79hWqz/full

Wikiquote. (2020). Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Wikiquote. Retrieved from https://id.wikiquote.org/wiki/Dima_bumi_dipijak,_di_sinan_langik_dijunjuang/

Yolanda, Y. (2021). Makna Kearifan lokal Budaya Minang “Dima Bumi Dipijak di Situ Langit Dijunjung.” Kompasiana. Retrieved from https://www.kompasiana.com/yestyyolanda/605a0c828ede487f6c705742/makna-kearifan-lokal-budaya-minang-dima-bumi-dipijak-disitu-langit-dijunjung

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *