Gagal Menjadi Solusi, Kini Aku Terancam Mati

Gagal Menjadi Solusi, Kini Aku Terancam Mati

            Jika kau berasal dari Sulawesi Selatan dan pernah tinggal lama di Makassar setidaknya dari tahun 2014 hingga 2018, kau tentu tidak  asing lagi denganku. Dahulu aku adalah primadona bagi semua orang yang mendambakan bepergian dengan aman dan tidak disengat oleh panas matahari. Aku bahkan masih ingat, kala itu ada sepasang muda mudi yang sengaja menaikiku untuk berkeliling Kota Makassar. Mereka tidak mau mengeluarkan uang lebih dengan memesan taksi hanya untuk melakukan perjalanan konyol itu. Selain taksi, mereka pun enggan menaiki pete’-pete’ yang panas dan menghirup banyak bau lucu-lucu di dalamnya. Jadi akhirnya aku adalah solusi akhir yang mereka pilih.

            Cerita lain datang dari sekelompok mahasiswa yang menjadikanku sebagai bahan tugas kuliah mereka. Seingatku mereka membuat video. Jadi ada teman perempuannya yang direkam keluar dari sebuah pusat perbelanjaan, berjalan ke halte, dan begitu aku datang dia dengan sigap menaikiku. Anak muda seperti mereka ceria sekali hari itu. Mungkin karena untuk pertama kalinya mereka bisa merasakan naik bus seperti di ibu kota. Ya walau tanpa jalur sendiri dan tanpa menggunakan kartu.

Sebelumnya tentang DDY

            Jangan bayangkan aku dinaiki oleh pekerja di pagi hari. Sungguh aku tidak bisa beroperasi sepagi itu di tengah kota yang dipadati oleh kendaraan roda empat. Tetapi jika kau penasaran, aku bisa menceritakanmu beberapa hal yang pernah kulihat di sini. Pertama, aku pernah melihat seorang perempuan menangis di halte. Kupikir dia sedih karena aku terlambat datang sore itu. Padahal sungguh, aku sudah secepat mungkin melewati kerumuman kendaraan. Kalau menurutnya aku lambat karena tubuhku besar, suatu saat aku akan minta maaf. Namun ternyata bukan, sayangku. Dia menangis di halte itu karena seorang dosen telah melecehkannya di toilet kampus.

            Aku mengetahuinya ketika dia menaikiku. Saat itu bus sedang kosong dan aku bahkan bisa mendengar napasnya yang tersengal-sengal. Saat itu dia berinisiatif menegur supirku, mungkin saja dia kasihan melihat supir ini—supir yang selalu merasa sendirian.

            “Pak, kok sepi?”

            “Oh iya, mungkin karena ini tidak melewati pusat perbelanjaan..”

            “Oh.. Pak, bapak keberatan kalau saya cerita?”

            “Silakan saja. Tidak ada yang akan menguping selain bus ini jika ia punya telinga.”

            “Saya baru saja dilecehkan sama dosen saya, Pak. Dosen pembimbing skripsi saya..”

            Aku mendengar suaranya parau. Seperti menahan tangis. Kau tahu, suara tangis yang berusaha ditelan oleh seorang perempuan itu rasanya menyakitkan sekali. Andai aku manusia, sudah kupeluk dia sedari tadi. Oh tapi tak apa, toh aku cukup nyaman buatnya.

            “Siapa namanya? Kenapa kamu tidak melapor?”

            “Bagaimana saya harus melapor, Pak. Dia adalah seorang guru besar. Gelarnya sudah setinggi langit. Saya yakin muka orang-orang ketika saya cerita tidak kalah sengitnya dengan muka dosen itu ketika dia bilang tidak akan ada yang percaya sama saya. Sudahlah, Pak. Masa depan saya sudah hancur. Benar-benar hancur..”

            Kini dia menangis. Tumpah ruah sudah air mata yang berusaha ditahannya. Makassar sedang terik-teriknya. Tidak ada guntur atau pun gerimis. Tapi ada hujan lain di sini, di dalamku. Hujan yang sangat deras dari seorang perempuan, rentan, dan tidak berdaya menghadapi permasalahannya sendiri.

            “Kamu harus melapor. Kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Dia tidak boleh menginjakmu begitu saja. Kamu masih muda, Nak. Hidupmu masih panjang.”

            “Tapi tidak akan ada lagi laki-laki yang akan mau menikahiku, Pak. Aku sudah tidak suci lagi. Aku pendosa..”

            “Di mana letaknya dosamu, Nak? Kau tidak menginginkannya. Kau dipaksa atau jika bisa bapak bilang, kau diperkosa. Percaya sama bapak. Hidupmu itu berharga. Hanya gara-gara kau tidak lagi perawan, bukan berarti duniamu runtuh seketika. Temukan lelaki baik yang memahami kondisimu. Bapak do’akan semoga dia adalah lelaki brengsek terakhir yang pernah kau temui seumur hidup..”

            Perempuan itu mengeringkan matanya sembari memeluk erat totebag isi laptop di dadanya. Kulihat matanya mengawang, entah dia sedang mengamati peganganku atau berpikir lebih jauh dari itu. Setidaknya dia sudah tenang sekarang. Oke juga supirku ini. Meski sekolah SMA saja tidak tamat, dia berhasil menenangkan seseorang yang mungkin saja setelah turun dari sini akan mengakhiri hidupnya. Kita tidak pernah tahu, bukan?

            Aku baru menceritakanmu satu kisah yang terjadi selama aku berjalan. Tetapi rasanya aku sudah lelah sekali. Bukan, bukan usia yang membuatku seperti ini. Perasaan tidak bergunalah penyebabnya. Kau tahu, kau sebagai manusia bisa berguna. Membantu orang miskin, melawan sistem seperti yang dilakukan oleh profesor di La Casa De Papel, atau sekadar tidak merugikan dan menyusahkan orang lain. Lain halnya denganku. Awalnya dipuji karena dianggap dapat menjadi salah satu solusi yang masuk akal dalam mengatasi kemacetan Makassar, kini aku terancam mati akibat pemerintah dan perusahaan yang digandengnya bekerja sama telah kehabisan dana. Sebentar lagi kau mungkin hanya mengenangku sebagai yang pernah ada. Miris, sebab aku mengatakannya hari ini. Hari di mana aku seharusnya dihargai sebagai angkutan umum terbaik yang pernah ada.           

Jadi kucukupkan ceritaku sampai di sini. Maafkan aku jika belum bisa menceritakanmu kisah lain. Padahal aku sudah berjanji untuk itu. Tetaplah jaga dirimu, kudengar sekarang ada virus baru di beberapa kota besar Indonesia. Semoga kau sehat selalu, semoga kau sempat menaikiku untuk berjalan-jalan di Makassar. Semoga kau sempat berbicara dengan supirku yang nampaknya sudah mau gila karena harus menyusuri jalan dengan aku yang kosong melompong ini. Sampai jumpa, dariku, Bus Mamminasata’

Share this post

Comment (1)

  • Ben Reply

    Belum pernah ke Sulawesi nih

    24 April 2020 at 1:54 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.