Makna Filosofi Jawa “Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama”

Ilustrasi suku Jawa

Makna Filosofi Jawa “Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama”

Daerah Istimewa Yogyakarta sangat kental dengan filosofi Jawa yang ditujukan untuk membumikan pemaknaan nilai–nilai normatif, agar memiliki nilai guna dan menjadi penuntun perilaku warga Yogyakarta. Duta Damai Yogyakarta menggunakan salah satu filsafat jawa sebagai tuntunan untuk menjalankan misi perdamaian di wilayah Yogyakarta yaitu “Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama”  yang secara ringkas diartikan “Berbuat untuk Menyenangkan Hati Sesama Manusia”. Filosofi tersebut juga menjadi dasar logo Duta Damai Yogyakarta. Komunitas perdamaian anak muda dibawah BNPT RI (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Demi perubahan yang masif Jogja Istimewa membutuhkan kelompok minoritas kreatif yang oleh Bung Karno disebut sebagai Bewust, komunitas pelopor yang sadar akan visi dan implementasi. Karena sesungguhnya Peradaban Besar tidak pernah bisa dibangun oleh kerumunan orang yang saling menyalahkan dan bertempur sendiri. Maka dari itu Duta Damai Yogyakarta hadir di tengah masyarakat, menerbarkan pesan perdamaian yang selaras dengan nilai–nilai luhur demi mendukung hidupnya pitutur jawa sebagai penuntun peradaban masyarakat. Implementasi nilai dengan aksi sekolompok anak muda dalam pembuatan konten perdamaian di dunia maya hingga kegiatan positif yang mengadvokasi ketentraman diharapkan dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta khususnya.

BACA JUGA: Edukasi Cinta Perdamaian melalui Sosial Media

Makna Filosofis Berdasarkan Berbagai Sumber Terpercaya 

Ilustrasi suku Jawa
Ilustrasi Suku Jawa

Filsafat “Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama” diambil dari kalimat Panembahan Senopati yang berbunyi:

(Sinom)

Wong Agung ing Ngeksi Ganda Panembahan Senopati

Kapati amarsudi, Sudane Hawa lan nepsu

Tanapi ing siang Ratri

Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama

Artinya:

Panembahan Senopati selalu berusaha untuk membangun diri bagi kemaslahatan orang banyak atau membangun diri agar tidak menyakiti hati orang lain.

Sultan Agung Hanyakrakusumo  (1613 – 1645), adalah Raja yang berpandangan luas dan cerdas dalam berbagai hal. Sebagai seorang panglima tertinggi dibangunlah Angkatan Perang yang kuat yang diberi nama “Narendra Mataram” atau “Pramana”.

“Nulada laku utama, Tumaraping wong tanah jawi, Wong agung ing Ngeksi Ganda Panembahan Senopati,”

Sultan Agung memerintahkan agar rakyat Mataram memiliki “sifat kandel”, antara lain berupa “ Keris” atau “Tosan Aji”, juga harus mempunyai kemampuan bela diri yaitu “Pencak Silat”, dengan maksud agar setiap rakyat Mataram agar selalu siap menghadapi musuh terutama Belanda.

Referensi:

Buku Ilmu Kaweruh Pawiyatan Pamong Jogja Untuk Indonesia, diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan DIY dan Pawiyatan Pamong Yogyakarta. Tahun 2019. Ditulis oleh KPH. Yudahadiningrat, KRT. Rintaiswara, Drs. P.Y. Sumino, MM, OFS, dkk.  

Editor: Bennartho Denys

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *