free page hit counter

Maiyah: Moderasi Manusia Beragama

Maiyah: Moderasi Manusia Beragama

Contents

Mengenal Yogyakarta

Yogyakarta sebuah provinsi yang terletak di bagian selatan tengah pulau Jawa, berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian selatan dan Propinsi Jawa Tengah di bagian lainya. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan sistem pemerintahan berupa kerajaan. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Sistem otonomi daerah khusus inilah yang membedakan Yogyakarta dengan daerah lain. Yogyakarta, Cak Nun dan Maiyah kesatuan yang tidak bisa pisah.

Yogyakarta atau yang sering kita sebut dengan sebutan lain “Jogjakarta”, “Yogya”, “Jogja” menjadi salah satu kota yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Jogja sudah seperti rumah kedua bagi para pendatang. Biaya homestay terjangkau, deretan warung kopi atau tempat nongkrong, angkringan dengan nasi kucingnya khas di sepanjang jalan. 

Itulah kenapa Joko Pinurbo seorang penyair terkemuka Indonesia mengungkapkan tentang Jogja dengan indah yaitu “Jogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.”

Nilai Budaya Jawa

Selain sebagai kota pelajar dan kota wisata, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota budaya. Salah satu budaya yang sampai sekarang masih  adiluhung dalam kehidupan yaitu nilai-nilai budaya Jawa. Hamemayu Hayuning Bawana merupakan falsafah Jawa yang masyarakat junjung dalam kehidupan masyarakat.

Falsafah ini memiliki makna mengupayakan keselamatan, memelihara kehidupan dan menjaga dari kerusakan. Salah satu tokoh agama yang selalu menegakkan tiga makna falsafah jawa tersebut yaitu Cak Nun.

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa kita kenal Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun atau Cak Nun merupakan salah tokoh cendekiawan muslim yang memiliki pemikiran yang multidimensi tentang Islam. Lahir di Jombang, 27 Mei 1953, merupakan tokoh intelektual, budayawan dan ulama yang membawa pemikiran Islam di Indonesia.

Beliau sempat kuliah di UGM Yogyakarta namun tidak selesai. Pernah diusir dari Pesantren Gontor karena “mendemo” pemimpin pondok yang kala itu menyalahgunakan sistem. Beliau kemudian pindah ke SMA Munammadiyah 1 Yogyakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Kisah Hidup Cak Nun di Yogyakarta berlanjut ketika “menggelandang” di Malioboro pada tahun 1970-1975.

Seorang Pangeran Sumba, Umbu Landu Paranggi, merupakan gurunya. Gurunya inilah yang kemudian memberi pengaruh dalam perjalanan hidup Cak Nun. Umbu tidak pernah mengajari tapi mengajak untuk menikmati pengalaman dan peristiwa yang membuat Cak Nun belajar banyak tentang kehidupan.

Maiyah Sarana Diskusi

Aktivitas sosial Cak Nun di Yogyakarta melalui pendidikan masyarakat lewat Maiyah. Jamaah yang datang dari berbagai lapisan, baik dari masyarakat kota maupun desa mengikuti forum diskusi berdurasi selama 5-8 jam dari jam 20.00 WIB sampai jam 03.00 WIB dengan instrumen musik secara estetits. Selain itu, terdapat elaborasi musik Timur dan Barat dari instrumen musik yang ditampilkan.

Karakterisitik dalam setiap Maiyah adalah penggalian topik bersama. Atmosfer diskusi yang melebur mampu menghasilkan beragam pendapat untuk dibahas bersama. Kata kunci “belajar bersama” sering kita temukan dalam topik Maiyah. Hasilnya, muncul beragam pertanyaan personal yang bersifat konsultatif memposisikan Maiyah sebagai subjek pendidikan masyarakat.

Cak Nun mampu membawakan pemikiran ke-Islam-an seperti filsafat, tasawuf, Tauhid dan pemahaman keilmuwan yang ditampilkan ketika acara “Maiyahan” dikenalkan dengan bahasa yang mudah dipahami melalui suasana gembira dan meriah kepada khalayak. Pengayoman nilai universal dalam Maiyah membuat pemeluk agama selain Islam ikut diskusi tanpa khawatir dikucilkan.

Tidak seperti pengajian konvensional yang mengharuskan syarat khusus, Maiyah justru lebih terbuka. Hal demikian yang mesti dijunjung tinggi sebagai bentuk penghargaan kepada setiap perbedaan. Maiyah dalam hubungan sosial-masyarakat berupaya saling menyelamatkan menjadi pondasi budaya setiap diskusi.

Cak Nun dan Maiyah

Bagi Cak Nun, orang Maiyah adalah orang yang menghidupi kehidupannya dengan tuntas dalam menghayatinya, menjalaninya, merenunginya, juga menangisinya dan tak jarang menertawakanya. Di Maiyah tidak ada orang yang istimewa ataupun yang nomer dua. Karena Maiyah memandang semua manusia adalah sama.

Semua orang yang duduk dalam pengajian adalah murid yang menghendaki untuk belajar dan menghayati kehidupan, memperteguh posisi persaudaraan dunia akhirat dan bertekad untuk tolong menolong satu sama lain.

Orang Maiyah menolong karena tiga alasan yaitu sebagai hamba (khalifah di bumi), sesama manusia, dan sesama orang Maiyah. Posisi Cak Nun sebagai media pengantar ilmu memberi kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang Maiyah yang kemudian menemukan arti cinta, kesetiaan dan kebahagiaan.

Ketiganya menurut Cak Nun sudah cukup untuk memahami manusia agar mengubah cara berpikir, berpandangan dan berperilaku yang dapat menindas ego diri sendiri. Seperti kutipan Cak Nun, “setiap manusia kalau mau memperlakukan dirinya, mengejar dirinya, dia akan lebih besar dari itu semua.” (Orang Maiyah, hal. 51) 

Manusia Makhluk Mulia

Bagi Cak Nun, manusia pada hakikatnya lebih besar, yakni sebagai makhluk yang mulia dengan memandang kecilnya kehidupan. Dalam tingkatan mulia tersebut, seharusnya manusia mampu menenangkan hati, menjernihkan pikiran dan menyusun harmoni jiwa. Hingga kemudian tercipta perdamaian dari diri sendiri. 

Kegiatan Maiyahan sudah tersebar hampir seantero negeri dan di setiap kota memiliki nama yang berbeda yaitu Kenduri Cinta di Jakarta, Tasawwuf Cinta di Nganjuk, Gambang Syafaat di Semarang, Bangbang Wetan di Surabaya, Maneges Qudroh di Magelang. Juguran Syafaat di Banyumas, Jamparing Asih di Bandung, Waro Kaprwiran di Ponorogo, Majlis Gugurgunung di Ungaran, Maiyah Ambengan di Lampung Timur. SabaMaiya di Wonosobo, Maiyah Bahurekso di Kendal, Poci Maiyah di Tegal, Damar Kedhaton di Gresik, Paseban Majapahit di Mojokerto dan Mocopat Syafaat di Yogyakarta.

Maiyah Mocopat Syafaat (MMS) hadir secara rutin tiap bulan pada tanggal 17 berlokasi di Tamantirto, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Konsistensi Cak Nun dalam perjuangan dalam lingkungan masyarakat karena konsep pemikirannya yang relevan. Beberapa tulisan dan ceramahnya menempatkan manusia dalam satu kesatuan status manusia itu setara. Karena itu, kerangka pemikirannya meletakkan poros manusia melalui kesetaraan, tanggung jawab dan rasional tercipta dari diskusi.

Manusia, penghambaan dan Tuhan merupakan unsur yang terkandung dalam agama. Dengan demikian, perlu “moderasi” manusia melalui Maiyah Cak Nun agar tercipta keselarasan dari tiga unsur utama agama.

Penulis: Fahimatul Azizatit Tiflah & Nurendro Dani Priambodo

Editor: @minigeka

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *