Klepon: Indonesia Dalam Balutan Makanan Tradisional

Sumber: Duta Damai Yogyakarta

Beberapa hari ke belakang, jagat sosial media sedang ramai dengan adanya selentingan foto yang mengatakan bahwa klepon merupakan makanan yang tidak islami. Hal ini bermula ketika terdapat sebuah akun yang mengunggah foto tersebut, lalu kemudian foto tersebut mendapatkan banyak reaksi dari netizen, sehingga kemudian viral. Dan menjadi trending topik di Twitter.

Sudah jamak diketahui, bahwa klepon merupakan salah satu dari sekian banyak macam jajanan nusantara, yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam bahan makanan ketika diolah menjadi sebuah makanan ciri khas negeri ini.

Bahan utama untuk membuat jajanan klepon sendiri terdiri dari berbagai macam, yaitu seperti: kelapa, pandang wangi, gula aren, dan tepung beras ketan. Dari beberapa macam bahan tersebut kemudian diolah, dan menghasilkan sebuah makanan yang mempunyai cita rasa khasnya sendiri.

Jika bisa dianalogikan, jajanan klepon tersebut –juga jajanan tradisional lainnya—merupakan sebuah perumpamaan dari Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai berbagai macam jenis suku, budaya, dan agama yang terkumpul dalam satu kesatuan Republik Indonesia. Begitulah juga dengan Indonesia, ragam budaya dan segala macam kehidupan bersosial hidup dengan rukun.

Indonesia dikenal dengan negara yang majemuk, karena semua agama bisa hidup rukun berdampingan di dalamnya tanpa menimbulkan gesekan sosial dan perpecahan. Begitu juga dengan isi klepon, semua bahan yang tersedia kemudian melebur menjadi satu makanan yang mempunyai ciri khas dan berbeda dengan makanan lainnya.

Ciri khas dan rasa seperti ini tidak bisa diubah dan diotak atik, oleh siapapun. Karena semua bahan diolah sedemikian rupa, sehinggal menghasilkan bentuk dan rupa yang begitu khas dan tidak menyerupai yang lainnya. Jika bahan dari jajanan klepon ini kemudian ada yang ditambah atau dikurangi, maka kemudian hasil makanannya bisa saja nantinya tidak diberi nama klepon lagi. Begitu juga dengan Indonesia, jika kerukunan dan kebersamaan ini nantinya diusik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka kemudian setelah terjadi perpecahan bisa saja tidak disebut lagi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa jadi setiap pulau yang terlepas dari pangkuan ibu pertiwi kemudian menjadi negara masing-masing. Seperti Kalimantan, Sumatera, dan kepulauan lainnya menjadi negara yang berdiri sendiri.

Indonesia tidak akan lagi menjadi negera yang indah dengan perbedaan, jika beberapa kepulauan pecah dan menjadi negara sendiri-sendiri. Maka kemudian, ini menjadi tugas kita bersama untuk selalu menjaga keutuhan dan kerukunan negeri ini. Jangan sampai terpecah belah hanya karena perkara kecil yang bisa diselesaikan lewat ngopi bareng, misalnya.

Selamat menikmati klepon.

jangan lupa ikut lomba cover lagu

Mengenal Salam Yang Berlaku di Indonesia

Mengenal salam yang berlaku di Indonesia. Berbalas salam menjadi satu tradisi dalam masyarakat Indonesia. Kebiasaan tegur sapa dalam masyarakat Indonesia  sudah menjadi sesuatu yang bermakna dalam. Tegur sapa juga telah menjadi bagian dari budaya adat dan sopan santun yang diberlakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Aktivitas ini biasanya menjadi awalan dari suatu interaksi sosial. Misalnya jika kita bertamu ke kediaman seseorang maka kita secara etiket sudah pasti mengucapkan salam atau tegur sapa.  Istilah Salam mungkin lebih dikenal daripada tegur sapa pada konotasi masyarakat Indonesia.

Salam secara etimologi berasal dari kata “Islam” yang berarti perdamaian. Namun secara pengertian umum salam adalah pernyataan hormat kepada seseorang (subjek). Terlepas dari penyelidikan asal kata ‘Salam’ dalam berbagai sumber, namun tidak dipungkiri bahwa salam telah menjadi suatu ciri kemanusiaan. Salam juga memiliki fungsi sebagai penegas bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memaknai hubungan sosialnya juga secara transenden. Kemampuan kognitif manusia untuk memaknai nilai membuat salam tidak hanya sekedar sinyal atau tanda naruliah namun juga sebagai simbol harapan atau cita-cita.

Melihat berbagai fenomena yang terjadi melalui pengalaman pribadi, kita tentu saja telah menyaksikan berbagai macam bentuk salam yang diucapkan oleh manusia. Baik melalui pemahaman budaya maupun agama secara lebih spesifik, kita dapat melihat berbagai keberagaman yang terjadi di dunia ini.

Pengalaman saya ketika tinggal di kota besar seperti Yogyakarta. Kota yang dikenal dengan keberagaman penduduknya itu, telah memberikan saya sebuah kesempatan untuk melihat berbagai sudut pandang semenjak dari ucapan salam. Suatu hal yang belum pernah saya jumpai semasa tinggal di kampung halaman.  

Menurut saya ucapan salam yang beragam itu sangat menarik. Tepatnya pada hari ini, sebelum saya menulis, saya juga sempat berbincang dengan salah satu teman yang mengerti tentang makna dan arti dari salah satu ucapan salam. Mengingat saya juga memiliki pengetahuan mengenai makna salam dari salah satu agama saya pun berpikir. Perbincangan tersebut kemudian menemui suatu kesamaan dari dua ucapan salam yang berbeda. Kata tersebut yaitu “damai”. Ucapan salam itu juga memiliki kesamaan berikutnya yaitu sebagai simbol harapan.

Perbincangan yang menarik itu pun membuat saya penasaran terhadap makna dan arti dari berbagai ucapan salam lainnya. Ketertarikan itu pun membuat saya melakukan riset sederhana terhadap beberapa ucapan salam yang sering kita dengar. Ucapan salam tersebut diantaranya Salam Sejahtera bagi Kita Semua (salam umat Kristiani), Om Swastyastu (salam umat Hindu), Namo Buddhaya (salam umat Buddha), Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu (salam umat Islam), dan Salam kebajikan (salam umat Konghucu).

Salam Sejahtera bagi Kita Semua

Salam yang sering diucapkan oleh pemeluk agama Kristen ini pernah disampaikan oleh Yesus Kristus. Selain itu Alif Danya Munsyi mencatat bahwa istilah ‘sejahtera’ yang digunakan pada ucapan salam ini juga muncul dalam beberapa kitab injil.

Om Swastyastu

Dalam buku ’Mutiara dalam Budaya Hindu Bali’ yang ditulis oleh IB Putu Bangli, kata ‘Om Swastyastu’ memiliki makna semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi.  

Namo Buddhaya

Mahmud Manan pernah menulis dalam bukunya yang berjudul “Transformasi Budaya Unsur-unsur Hinduisme dan Islam pada Akhir Majapahit” bahwa ‘Namo Buddhaya’ awalnya sering diucapkan dengan ‘om namas siwaya namo buddhaya’, yang memiliki makna hormat kepada Siwa dan Buddha.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu’ merupakan salam yang diucapkan oleh pemeluk agama Islam. Ucapan salam tersebut memiliki makna semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian. Ketika seseorang mengucapkan ‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu’ maka yang mendengarnya harus menjawab  ‘Walalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu’ yang berarti semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada kalian. Dalam buku karya Dr. Abdurrahman Misno BP berjudul “The Secrets of Salam: Rahasia Ucapan Salam Dalam Islam” disebutkan makna Assalamualaikum sebagai doa atau harapan.

Salam Kebajikan    

‘Salam Kebajikan’ merupakan salam yang sering diucapkan oleh para pemeluk agama Konghucu. Dalam buku karya Hendrik Agus Winarso yang berjudul  “Keimanan dalam Agama Konghucu: Suatu Tinjauan Teologi dan Peribadahannya” menyebutkan bahwa kebajikan merupakan prinsip keimanan dalam ajaran Konghucu.

Setelah mencoba memahami berbagai istilah ucapan salam dari berbagai keyakinan tersebut. Saya meyakini bahwa ‘salam’ bukan hanya sekedar etiket atau sopan santun dalam kehidupan. Namun juga bermakna simbol harapan, penghormatan, dan terima kasih. Dengan kata lain melalui tiga kata tersebut saya menemukan suatu hubungan yang erat dari ucapan salam. Khususnya terhadap kepekaan manusiawi dan rohani. Selain itu, aspek ketuhanan dan kemanusiaan tampaknya menjadi esensi dari berbagai pengucapan salam.

Bagi kita yang telah terbiasa mengucapkan salam. Bahkan ucapan salam sudah menjadi bagian dari budaya dan diri kita. Maka bukan suatu hal yang benar jika kita tidak mengamalkan makna filosofis yang ada pada kata yang sering kita ucapkan. Antara nafsu dan kerendahan hati seolah menjadi tantangan untuk mencapai keseimbangan hidup yang mana kita dapat mengamalkan dua nilai ketuhanan dan kemanusiaan secara bersamaan.  

Lalu sudahkah kita menyadarinya?