Makna Solidaritas Biopolitik Menuju Kosmopolitik

Solidaritas, biopolitik dan kosmopolitik

Evelyn Fox Keller seorang ahli epigenetik sudah lama menentang pemisahan antara nature dan nurture. Pernyataan ini dianggapnya sebagai masalah logis yang berakar pada kebingungan terminologis dalam ilmu. Pembagian antara nature dan nurture awalnya dilakukan untuk politik solidaritas yang kemudian menjadi imputasi biopolitik. Biopolitik sebagai salah satu upaya untuk melindungi hak asasi makhluk hidup yang dalam konteks ini masih terfokus pada agen moral yaitu manusia (Keller, 2010).

Pemisahan antara nature dan nurture mengindikasi suatu keterpisahan makhluk hidup dengan lingkungannya. Namun lagi-lagi  makhluk hidup yang dimaksud adalah manusia yang menjadi agen moral.

Evelyn Fox Keller

Dalam kajian epigenetika, seperti yang pernah diobservasi oleh Keller bahwa pemisahan antara nature-nurture hanya merupakan fatamorgana. Keller berpendapat bahwa DNA dan sel tetap adalah yang sangat penting dalam membuktikan keterkaitannya dengan lingkungan melalui ‘plastisitas’.

Pada abad kesembilan belas ketika batas spasial tubuh manusia dibagi menjadi dua yaitu luar dan dalam, alam disamakan dengan faktor genetik yang merupakan bagian dalam tubuh. Sedangkan pengaruh lain seperti kebersihan, pendidikan dan sebagainya merupakan bagian luar tubuh. Alam sebagai faktor genetik sudah diberikan otoritas moral tersendiri. Hal ini setidaknya membawa angin segar meskipun belum sepenuhnya demikian sebab masih adanya bias antara alam dan genetik.

Kondisi Ekstrem Eugenika

Dalam persamaan ‘alam’ dengan genetika juga pernah memiliki sejarah politik yang menemukan ekspresi paling dramatis dalam skema eugenika. Kondisi ini terjadi ketika Adolf Hitler merencanakan pemurnian manusia dengan upaya pengikisan segala macam hal yang dianggap menyimpang dalam genetik manusia. Peristiwa ini adalah salah satu yang paling memilukan dalam sejarah. Respon pertemuan antara nature dan nurture yang keliru dapat menyebabkan konsekuensi yang tragis. Tampaknya otoritas moral yang dilekatkan sejak awal pada persamaan alam dan genetik tidak egitu diperhatikan dengan baik.

Neoliberalisme dan Biopolitik 

Gagasan ‘gaya hidup’ dan persamaannya dengan tanggung jawab pribadi sesungguhnya berakar pada neoliberalisme dan tata kelola biopolitik. Kecenderungan kepada upaya nurture daripada nature sesungguhnya tidak sepenuhnya keliru. Namun implikasi yang membentuk kondisi sosial masyarakat modern kemungkinan akan menjadi individualis dan pragmatis. Namun Biopolitik solidaritas  ini datang dengan efek menyoroti logika ‘kontrol versus tanpa kendali’, mengartikulasikan agensi gaya hidup sebagai urusan individu yang terisolasi dengan lingkungan.

Ranah solidaritas dengan demikian berbeda dari apa yang semakin dilihat sebagai ‘tanggung jawab pribadi. Dalam kedua kasus – genetika atau gaya hidup – lingkungan tidak masuk dalam pertimbangan.

Dalam kebijakan imigrasi, misalnya, keputusan untuk memberikan izin tempat tinggal sementara didasarkan pada penilaian motif pengungsi, dalam arti literal dari ‘apa yang menggerakkannya’. Perbedaan antara korban pengungsi PBB dengan  ‘migran’ ekonomi dan ‘pengungsi’ politik sudah merupakan konsekuensi dari klasifikasi ini, meskipun perbedaan antara keduanya tidak secara langsung jelas.

Mengacu pada penerapan aturan imigrasi yang lebih ketat di Prancis selama tahun 1990-an, Didier Fassin (2009) mencatat bahwa perbedaan antara ‘pengungsi politik’ dan ‘migran ekonomi’ semakin membuat perbedaan selama dekade yang sama. Perbedaan baru didasarkan pada aturan pengecualian kemanusiaan bahwa pemerintah Prancis mulai menerapkan untuk melegalkan imigran tidak berdokumen yang menderita penyakit parah yang tidak dapat diobati di negara asal mereka juga karena alasan finansial. Didier Fassin (2009) menyebut tindakan ini sebagai contoh dari apa yang disebut sebagai ‘biolegitimasi’.

Ahli epigenetik telah menganalisis  faktor lingkungan dapat memengaruhi cara DNA beroperasi. Perhatian bergeser ke proses biokimia yang mengatur gen dan banyak faktor yang memengaruhi proses ini. Oleh Karena itu, epigenetik memunculkan bentuk hereditas lain selain genetika tradisional, misalnya, paparan jangka panjang terhadap zat beracun dapat mengubah regulasi kimiawi DNA dan perubahan ini dapat diteruskan ke keturunannya. Sedangkan dalam hal ini ‘lingkungan’ belum tentu merupakan entitas spasial. Nutrisi juga dapat dianggap sebagai lingkungan bagi tubuh kita (Landecker, 2011).

Klasifikasi antara Nature dan Nurture

Mengapa Kosmopolitik?

Kosmopolitik adalah konsep untuk membuka kemungkinan makna dan praktik politik dan mengundang untuk mempertimbangkan apa jadinya politik jika kita menganggap dunia kita bukan sebagai ‘masyarakat’ tetapi sebagai ‘kosmos’. Di mana konsep masyarakat secara tradisional disediakan untuk manusia, ‘kosmos’ membawa serta aktor non-manusia, bentuk agensi, dan cara-cara eksistensi seperti binatang, roh, tumbuhan, dan objek teknologi. Memang imputasi biopolitik membatasi pertanyaan pada agensi manusia individu sementara manusia selalu menjadi bagian dari ekologi yang lebih luas. Namun Kosmopolitik tidak mengandaikan intervensi arbiter untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dunia, tetapi mempertaruhkan pertanyaan ‘apa yang perlu dibangun dunia’. Sebaliknya, imputasi biopolitik menuntut pemisahan politik dan kosmos.

Dengan kata lain, biopolitik masih mengistimewakan jenis tertentu yang diarahkan untuk mendefinisikan dan membatasi subjek manusia yang berhak atas manfaat kebijakan khusus masyarakat. Imputasi biopolitik melakukan logika yang secara diametris bertentangan dengan kosmopolitik yang lebih memandang skema alam sebagai bentuk yang komprehensif atau sederhananya seperti prinsip ekologi (Hendrickx & Voyweghen, 2020).

Hubungan kosmos inilah yang menjadi signifikan dalam kosmopolitik bahwa kebijakan yang dihasilkan perlu dikaji ulang jika belum sesuai dengan prinsip ini. Walaupun seandainya imputasi biopolitik masih diterapkan setidaknya perlu diperhatikan kecenderungan kosmos menjadi yang utama daripada hanya terfokus pada salah satu agen yaitu manusia.

Poin penting yang dapat kita pahami melalui adanya kosmopolitik yaitu kecenderungan untuk memahami alam lebih sebagai suatu kesatuan daripada entitas-entitas yang tidak saling berhubungan. Meskipun terdapat perbedaan biner dalam alam semesta namun bukan berarti kehadirannya mengeliminasi kehadiran lainnya. Konsep harmoni yang diajarkan oleh alam ini menurut saya adalah simbol yang sesungguhnya telah diciptakan oleh manusia sendiri, meskipun saya juga berpikir bahwa mungkin saja makna itu telah ada sebelumnya.

Referensi:

Hendrickx, Kim, Voyweghen, 2020, Solifarity After Nature: From Biopolitics to Cosmopolitics, Sagepub Journal, Leuven.

Fassin D, 2009, Another politics of life is possible, Theory, Culture & Society 26(5): 44–60.

Landecker H, 2011, Food as exposure: Nutritional epigenetics and the new metabolism, Biosocieties 6(2): 167–194.

Keller EF, 2010, The Mirage of a Space between Nature and Nurture, Duke University Press, Durham and London.

Solidaritas Kunci Sukses Kebudayaan

Pada tulisan ini saya terinspirasi dari pemikiran salah satu filosof muslim bernama Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai ilmuwan kebudayaan sekitar abad 14. Konteks zaman ketika Ibnu Khaldun ini mengembara tidak terlalu sesuai dengan isi kepalanya. Pandangan umum yang cenderung memahami kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap dan tertutup cukup populer ketika itu. Kemudian hadirlah sosok Ibnu Khaldun dengan pemikiran alternatifnya memandang kebudayaaan sebagai sesuatu yang dinamis, artinya suatu kebudayaan bukan begitu saja merupakan warisan nenek moyang yang bersifat dogmatis namun sesuatu yang lebih mengalir dan fleksibel.

            Tentu saja pemikiran semacam ini menimbulkan keresahan di kalangan pemikir kebudayaan lainnya ketika suatu hegemoni berpikir kala itu dinegasikan dengan alternatif yang diberikan oleh Ibnu Khaldun. Masyarakat yang berubah dan dinamis seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun sekaligus  menimbulkan tantangan baru terhadap diskursus kebudayaan yang pada saat itu cenderung singular. Memang sejauh ini paradigma kebudayaan yang berkembang seperti itu―kebudayaan yang statis―maka ketika muncul wacana baru tentu sangat mengelisahkan para pemikir.

            Corak berpikir yang kaku selalu menganggap suatu persoalan selalu memiliki jawaban yang identik dengan sebelumnya tanpa memikirkan keterlibatan proses mewaktu. Ibnu Khaldun menjawab kegelisahannya ini dengan menawarkan perspektif baru yaitu dengan melihat sejarah sebagai catatan perubahan-perubahan watak masyarakat. Bahkan dalam pandangannya, Ibnu Khaldun juga menemukan bahwa manusia dapat bersikap jahat dan baik pada saat yang sama. Perluasan cakrawala ini tampaknya juga menimbulkan semangat baru dalam perbincangan kebudayaan yang tidak begitu populer ketika itu.

Baca juga tulisan lain di sini

            Wacana kebudayaan yang dinamis yang dipopulerkan oleh Ibnu Khaldun ini pun membawanya juga untuk merumuskan suatu teori siklus. Teori ini bermula ketika Ibnu Khaldun meyakini bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan politik. Manusia dalam hal ini selalu membutuhkan eksistensi manusia yang lain. Kegiatan bercengkrama ini atau dapat dikatakan sebagai aktivitas sosial kemudian memicu munculnya suatu organisasi sosial. Dengan bentuk sosial yang konsisten inilah maka peradaban manusia dapat diciptakan. Pertemuan manusia yang bersekutu dalam kehidupan sosial inilah yang meniscayakan suatu konflik dapat terjadi. Ibnu Khaldun beranggapan bahwa konflik merupakan suatu yang justru mengharmonisasi ikatan sosial daripada apatisme. Konflik dalam pengertian ini bukan berkonotasi negatif jika dapat dikelola dengan baik. Ibnu Khaldun juga mengharapkan seorang pemimpin yang ideal yang dapat mengelola konflik ini dengan baik, maka tidak heran jika kehidupan saat ini kita selalu membutuhkan sosok pemimpin.

            Pemimpin dalam pengertian ini saya pikir bukanlah suatu jabatan formal namun merupakan suatu tanggung jawab sosial yang diperlukan bagi setiap individu. Dengan demikian kondisi ketiadaan sosok pemimpin yang ideal dapat menimbulkan permasalahan yang serius karena hilangnya tanggung jawab sosial dalam mengelola konflik. Ibnu Khaldun juga dengan perspektif dinamisnya tidak menafikan adanya kemungkinan suatu kemunduran peradaban dalam keadaan buruk tersebut.

Hal ini disebabkan juga karena hilangnya harmonisasi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga kreativitas kebudayaan tidak akan dapat berkembang dengan baik begitupun peradaban juga akan mengalami kemunduran. Ketika tantangan zaman terus-menerus memberikan pertanyaan sedangkan kohesi sosial justru mengendur maka kemunduran peradaban suatu bangsa pun menjadi mungkin. Misalnya jika kita melihat sejarah beberapa kerajaan besar di Nusantara yang pernah mengalami masa kejayaan justru pada akhirnya akan mengalami keruntuhan karena lunturnya semangat solidaritas yang sebelumnya menjadi kunci sukses masyarakat tersebut dalam membangun kebudayaan dan peradabannya.

            Sikap apatisme disini menjadi sangat berbahaya bagi kebudayaan dan peradaban suatu bangsa sebab dapat menjadi faktor rasional bagi kemundurannya. Upaya  memegang teguh kebudayaan tentunya juga harus selaras dengan semangat solidaritas ini yang perlu terus dipupuk di dalam akal budi manusia sebab modal inilah yang memungkinkan suatu kebudayaan dapat menjawab tantangan zaman yang begitu dinamis dan kontingensi.

            Dalam konteks bangsa Indonesia saya pikir perlu untuk menyadari peran pemimpin yang dapat mengelola konflik sosial secara tepat dan adil sehingga dapat ditanggapi dengan baik. Soal pemimpin seperti apa yang ideal itu kita tidak perlu khawatir untuk mencarinya pada setiap pemilihan umum namun harus kita tanamkan keyakinan bahwa pemimpin itu ada dalam diri kita sendiri. Jika kesadaran ini muncul maka secara aksi dapat meng-influence individu-individu lainnya sehingga kita tidak perlu khawatir soal kemunduran dalam kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia, sebab faktor-faktor kemunduran tadi telah dijawab dengan banyaknya pemimpin yang ideal serta solidaritas sosial yang kita miliki.  

Ibnu Khaldun
Dunia Terlahir Kembali  Pasca Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 tengah melanda dunia

Umat manusia saat ini tengah merasakan krisis global melalui salah satu elemen dunia yaitu Covid-19. Berbagai macam persoalan hidup seakan timbul secara serentak tidak hanya melulu perihal kesehatan. Angka kasus positif Covid-19 yang terus meningkat setiap harinya juga semakin membuat kita gelisah bahkan tanpa disadari. Berbagai inisiatif manusia yang spontan pun muncul ke berbagai permukaan media. Seruan untuk #dirumahaja #workfromhome dan sebagainya merupakan upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19 sekaligus reaksi kemanusiaan kita terhadap krisis yang tengah dialami.

            Selama menjalani karantina mandiri, kita semakin lama pun akan merasakan kejenuhan.  Adanya gempuran informasi yang semakin mengkhawatirkan setiap harinya seakan dunia hendak mencapai batasnya. Sehari tanpa obrolan senja dengan secangkir kopi bersama kawan-kawan tampaknya semakin menambah rasa rindu terhadap kebebasan yang selama ini kita keluhkan. Beberapa kawan pun mulai mengeluhkan kondisi kejenuhannya, bahkan mereka mengakui bahwa keadaan tanpa kepastian ini mulai menganggu kesehatan mentalnya.

            Jalanan tiba-tiba sepi tak seramai biasanya. Kemanakah manusia yang selama ini telah menguasai bumi? Mungkin mereka sedang bosan berdiam diri di rumahnya. Mereka mulai menganggap setiap hari rasanya monoton, tidak berwarna. Tetapi setidaknya beberapa dari kita masih bisa berkumpul bersama keluarga di tengah kondisi ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang terjebak disana? Tanpa sepeser pun uang untuk dibelikan makanan.

            Covid-19  meskipun  tidak ada satupun yang mengharapkan kehadirannya namun kemunculannya sudah cukup untuk melahirkan beberapa pertanyaan menarik. “Bagaimana rasanya hidup di karantina? Hidup di tengah ancaman yang mengintai setiap saat? Apakah nikmat? Tentu saja tidak. Manusia butuh teman, tampaknya sangat sulit menjalani hari tanpa berjumpa dengan teman. Beberapa kawanku sudah kau renggut nyawanya, sesungguhnya makhluk apa kau ini?”.

            Masih perlukah kita mengkambing hitamkan entitas bernama Covid-19 ini? meskipun kehadirannya tidak diharapkan tapi dia tidak rasis apalagi intoleran. Covid-19 tidak pernah mengenal identitas-identitas tersebut, bahkan dia secara adil menghampiri kita tanpa pandang bulu. Kehadirannya juga justru disambut baik oleh kicauan burung-burung gereja yang selama ini sesak nafas akibat polusi udara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Beberapa ubur-ubur bahkan lumba-lumba juga mulai nyaman bermain di tepi pantai. Bahkan di Jepang beberapa rusa hutan pun leluasa menjelajahi kota Tokyo yang biasanya penuh sesak oleh jutaan manusia. Masih pantaskah kita salahkan Covid-19 atas semua kejadian ini? sementara itu dunia justru telah menyambutnya dengan suka cita?

            Kesibukan, ketakutan, kecemasan manusia telah mengevolusi manusia menjadi lebih buas daripada hewan buas. Bahkan lebih rakus daripada seekor babi. Manusia tidak pernah puas mengisi perutnya dengan penderitaan makhluk hidup lainnya. Manusia selama ini telah menari-nari di atas bumi yang terinjak-injak olehnya, tanpa mereka sadari penderitaannya.

              Lalu sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Sampai manusia sadar akan kemanusiaannya. Esensi dirinya ada sebagai bagian dari dunia ini. Keadaan dimana manusia ada sebagai dunia itu sendiri. Maka akan muncul hari dimana tidak ada satupun konflik yang tidak dapat diselesaikan secara damai. Hari dimana manusia, hewan, tumbuhan, dan alam hidup secara berdampingan, setara, terlepas dari berbagai ancaman tanpa menghilangkan segala identitas keberagaman yang ada. Aku sebagai manusia, kamu sebagai tumbuhan, kamu sebagai hewan, kamu sebagai alam, dan kamu sebagai manusia yang lain kita putuskan mulai hari ini bahwa kita adalah sama-sama keluarga dalam rumah yang kita sebut sebagai dunia.

Nilai Toleransi dalam Kearifan Permainan Tradisional

Permainan tradisional. Pernahkah kamu mengingat masa ketika kita masih kanak-kanak? Bagaimana dulu kamu menghabiskan waktumu? Apakah kalian juga sering bermain ketika itu?

Ya, bermain merupakan salah satu kegiatan paling menarik juga sangat berkesan dalam ingatan semua orang yang pernah melewati masa kecilnya. Ketika bermain tidak hanya sekedar mencari kesenangan semata tetapi dari sanalah kita sesungguhnya juga sedang belajar. Ungkapan yang mengatakan bahwa belajar itu tidak menyenangkan adalah tidak tepat.

Mengapa selama ini kita justru memisahkan antara  kegiatan belajar dan bermain? Belajar seolah menjadi semacam konvensional dan tidak mengasyikkan sedangkan bermain justru terkesan lebih fleksibel dan menyenangkan.

Nilai-Nilai Toleransi dalam Kearifan Permainan Tradisional Nusantara
Nglarak blarak salah satu permainan tradisional asal kulonprogo yang dimainkan bahkan oleh remaja dan dewasa

Bagi kalian yang merupakan generasi tahun 90-an pasti sangat mengingat bagaimana permainan tradisional seperti petak umpet, bentengan, dan engklekan yang hampir dimainkan setiap harinya. Sebelum memasuki era digitalisasi memang permainan tradisional merupakan salah satu primadona bagi kalangan muda.

Hal ini bukan hanya sekedar permainan belaka tetapi sudah menjadi kearifan lokal sejak dahulu. Entah bagaimana permainan ini dapat diwariskan secara turun-temurun.

Tetapi sejak zaman era-kolonial dahulu memang beberapa permainan tradisional sudah dikenali. Perlu kita ketahui bahwa permainan tradisional justru memiliki banyak manfaat daripada permainan digital saat ini. Mengapa? Karena pada permainan tradisional kita tidak hanya sekedar bermain untuk bersenang-senang saja tetapi sekaligus juga belajar.

Malpelani Satriya (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “permainan tradisional berbasis budaya sunda sebagai sarana stimulasi perkembangan anak usia dini” menjelaskan bahwa permainan anak-anak tradisional dapat menjadi sarana perkembangan fisik-motor, kognitif, bahasa, social-emosional, dan seni pada anak sejak dini.

Permainan tradisional yang selama ini kita kenal juga merupakan salah satu wujud kearifan lokal. Hal tersebut dapat tercipta karena adanya perbedaan kondisi alam sehingga ditemukan berbagai perbedaan corak permainan tradisional pada masing-masing daerah sesuai dengan keadaan lingkungannya. Permainan tradisional juga merupakan salah satu produk kebudayaan daerah yang sejatinya perlu kita lestarikan sebagai warisan nilai luhur.

Randang Kusnandar (Jurnal penelitian, balai kajian sejarah dan nilai-nilai tradisi, 2004: 17) menyatakan bahwa awal perwujudan tradisi yang diterapkan pada masyarakat selalu berkaitan dengan keadaan lingkungan sekitar.

Dengan kata lain pada permainan tradisional pun demikian adanya. Terciptanya permainan tradisional sebagai kearifan lokal yang telah turun-temurun diwariskan sebagai tradisi juga menunjukkan adanya keakraban masyarakat di dalamnya.

Melalui permainan tradisional kita sesungguhnya juga mendapatkan transfer value and knowledge dari para pendahulu kita khususnya terkait nilai-nilai kebaikan dalam sosial.

Menariknya, pada permainan tradisional juga tidak ada aturan yang melarang pemain untuk terlibat karena adanya perbedaan agama, ras, suku, gender dsb.  Sehingga dalam hal ini sesungguhnya pada  permainan tradisional juga terdapat “nilai-nilai toleransi” yang diajarkan.

Selain itu, adanya interaksi sosial secara langsung juga dapat melatih kepekaan sosial dalam kepribadian setiap individu yang terlibat. Permainan tradisional juga merupakan sarana pembelajaran yang baik dalam melatih pikiran kita untuk lebih terbuka (open minded)  terhadap perbedaan karena adanya kebebasan berekspresi dan menerima dari masing-masing individu secara otomatis.

Sedangkan kita ketahui selama ini dalam pengajaran di sekolah pada umumnya justru siswa terikat dengan justifikasi kebenaran sepihak oleh kurikulum atau otoritas tertentu yang diberikan sehingga kekurangan perspektif dalam memandang suatu persoalan dapat membentuk pikiran yang sempit dan kaku sejak dini. Maka corak pemikiran yang demikian membawa kita kepada sikap kesukaran dalam menerima perbedaan di sekeliling kita.

Maka dari itu bukan tidak mungkin jika pembelajaran konvensional siswa di sekolah selama ini dapat imbuhkan bahkan digantikan oleh sistem pengajaran tradisional ala permainan jadul ini. Meskipun pengajaran ini tidak bersifat verbal tetapi esensi dari nilai-nilai toleransi tersebut dapat tertanam dengan mudah bahkan pada saat yang sama juga dilatih untuk diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari secara langsung.

Berdasarkan paparan tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa permainan tradisional merupakan salah satu wujud kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai toleransi dan pedagogi dalam bermasayarakat.

Sehingga kita perlu sadari bahwa permainan yang selama ini pernah kita mainkan ternyata memiliki nilai-nilai toleransi yang membentuk kepribadian individu sesuai dengan jati diri bangsa ini yang sangat menghargai perbedaan sejak dalam niat, rasa, pikiran maupun tindakan. Maka dalam hal ini kita wajib untuk melestarikan warisan luhur ini kepada anak dan cucu kita sebagai media pembelajaran bangsa ini terhadap pentingnya menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai baik dari masa lampau sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Sehingga dalam perkembangan zaman ini kita tidak kehilangan nilai-nilai kearifan lokal yang telah membentuk bangsa Indonesia hingga sekarang. Begitupun kita dapat terhindar dari tindakan-tindakan disintegrasi yang akhir-akhir ini sering melanda Bangsa ini.

Belajar Toleransi Dari Masyarakat Cigugur Kuningan

Toleransi bukan hanya sebuah kata. Lebih dari itu toleransi merupakan suatu perwujudan dari adanya suatu kesadaran manusia terhadap pluralitas yang niscaya ada.

Indonesia dengan 1.340 suku bangsa, 742 bahasa daerah, dan 187 kepercayaan lokal yang tersebar di 17.504 pulau dari Sabang sampai Merauke (Badan Pusat Statistik, 2010), bukan hanya sebuah statistik belaka. Hal tersebut merupakan bukti kekayaan budaya kita yang sangat beragam dan dapat bersatu dalam tonggak NKRI.

Akan tetapi mengapa kasus intoleransi beragama terus mengalami peningkatan setiap tahunnya? Menurut data Komnas HAM terdapat peningkatan signifikan angka kasus intoleransi beragama di Indonesia dan puncaknya terjadi pada tahun 2018 lalu yaitu mencapai 108 kasus pelanggaran kebebasan beragama.

Sebuah anomali terjadi pada Bangsa ini yang memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” pada pita yang dicengkeram oleh sang “Garuda Pancasila” yang seharusnya toleransi merupakan budaya luhur Bangsa Indonesia.

Kearifan Lokal Nusantara juga dapat membuktikan budaya toleransi sebagai jati diri Bangsa ini sejak lama. Salah satu contohnya pada Masyarakat Cigugur Kuningan yang terkenal dengan pluralitas keberagamaannya. Masyarakat Cigugur Kuningan yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan keyakinan seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan bahkan Sunda Wiwitan dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai. Hal ini tidak terlepas dari ajaran atau leluhur Cigugur kuningan yang mengajarkan tentang Pikukuh Tilu sebagai ajaran kesejatian manusia yang sekaligus mengandung makna toleransi sebagai sikap hidup dalam menghadapi segala perbedaan yang ada.

Masyarakat Cigugur kuningan dan toleransi
Budaya toleransi di Cigugur Kuningan

Ajaran Pikukuh Tilu merupakan salah satu kearifan lokal Nusantara yang mengajarkan tentang nilai-nilai toleransi yang perlu kita lestarikan dengan cara mulai kembali membudayakan kehidupan yang tenggang rasa, saling pemahaman dan pengertian antara satu sama lain, melihat perbedaan sebagai suatu yang indah sehingga dapat menciptakan suatu persatuan Bangsa ini.

Jangan sampai kekayaan kearifan lokal Bangsa ini tenggelam begitu saja atau hanya menjadi sekedar teks sejarah yang tidak kembali dihidupi oleh kita sekalian. Sebagai bentuk kecintaan kita terhadap Bangsa Indonesia, kita perlu untuk melestarikan budaya Bangsa ini dengan menyatakannya dalam sikap dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari hal yang kecil seperti berhenti untuk menyebarkan berita-berita hoax atau memberikan ujaran kebencian kepada kelompok warga tertentu yang dapat berakibat menimbulkan konflik persaudaraan di antara kita sendiri.

Seharusnya sikap toleransi harus diutamakan dalam suatu keberagaman masyarakat daripada intoleransi. Sebagai umat beragama seharusnya Bangsa Indonesia dapat saling membangun pengertian dan pemahaman satu sama lain karena sejatinya tidak ada satupun agama yang mengajarkan keburukan.