Klepon: Indonesia Dalam Balutan Makanan Tradisional

Sumber: Duta Damai Yogyakarta

Beberapa hari ke belakang, jagat sosial media sedang ramai dengan adanya selentingan foto yang mengatakan bahwa klepon merupakan makanan yang tidak islami. Hal ini bermula ketika terdapat sebuah akun yang mengunggah foto tersebut, lalu kemudian foto tersebut mendapatkan banyak reaksi dari netizen, sehingga kemudian viral. Dan menjadi trending topik di Twitter.

Sudah jamak diketahui, bahwa klepon merupakan salah satu dari sekian banyak macam jajanan nusantara, yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam bahan makanan ketika diolah menjadi sebuah makanan ciri khas negeri ini.

Bahan utama untuk membuat jajanan klepon sendiri terdiri dari berbagai macam, yaitu seperti: kelapa, pandang wangi, gula aren, dan tepung beras ketan. Dari beberapa macam bahan tersebut kemudian diolah, dan menghasilkan sebuah makanan yang mempunyai cita rasa khasnya sendiri.

Jika bisa dianalogikan, jajanan klepon tersebut –juga jajanan tradisional lainnya—merupakan sebuah perumpamaan dari Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai berbagai macam jenis suku, budaya, dan agama yang terkumpul dalam satu kesatuan Republik Indonesia. Begitulah juga dengan Indonesia, ragam budaya dan segala macam kehidupan bersosial hidup dengan rukun.

Indonesia dikenal dengan negara yang majemuk, karena semua agama bisa hidup rukun berdampingan di dalamnya tanpa menimbulkan gesekan sosial dan perpecahan. Begitu juga dengan isi klepon, semua bahan yang tersedia kemudian melebur menjadi satu makanan yang mempunyai ciri khas dan berbeda dengan makanan lainnya.

Ciri khas dan rasa seperti ini tidak bisa diubah dan diotak atik, oleh siapapun. Karena semua bahan diolah sedemikian rupa, sehinggal menghasilkan bentuk dan rupa yang begitu khas dan tidak menyerupai yang lainnya. Jika bahan dari jajanan klepon ini kemudian ada yang ditambah atau dikurangi, maka kemudian hasil makanannya bisa saja nantinya tidak diberi nama klepon lagi. Begitu juga dengan Indonesia, jika kerukunan dan kebersamaan ini nantinya diusik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka kemudian setelah terjadi perpecahan bisa saja tidak disebut lagi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa jadi setiap pulau yang terlepas dari pangkuan ibu pertiwi kemudian menjadi negara masing-masing. Seperti Kalimantan, Sumatera, dan kepulauan lainnya menjadi negara yang berdiri sendiri.

Indonesia tidak akan lagi menjadi negera yang indah dengan perbedaan, jika beberapa kepulauan pecah dan menjadi negara sendiri-sendiri. Maka kemudian, ini menjadi tugas kita bersama untuk selalu menjaga keutuhan dan kerukunan negeri ini. Jangan sampai terpecah belah hanya karena perkara kecil yang bisa diselesaikan lewat ngopi bareng, misalnya.

Selamat menikmati klepon.

jangan lupa ikut lomba cover lagu

Tips Bersepeda di Era New Normal

Sumber: klikdokter.com

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu dibarengi dengan dua hal, yaitu positif dan negatif. Entah itu berkaitan dengan peristiwa yang buruk sekalipun, dibalik peristiwa tersebut pasti akan diselipi dengan sisi positif. Meskipun harus kita akui bahwa ketika terjadi peristiwa yang buruk, akan terasa sulit untuk menerima sisi positifnya.

Saat ini, seluruh penjuru dunia sedang mengalami paceklik kesehatan. Seperti yang sudah kita alami beberapa bulan terakhir, hampir setiap hari terdapat korban yang terjangkit virus corona, atau biasa disebut covid-19. Tak dapat dipungkiri bahwa virus ini menjadi sesuatu hal yang harus selalu kita waspadai keberadaannya.  Daya jangkitnya yang tergolong cepat untuk membunuh induknya yang terinfeksi, hanya dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar 14 hari untuk menimbulkan korban baru.

Maka dari itu, menjaga kesehatan di tengah kondisi yang tidak menentu seperti sekarang menjadi suatu kewajiban yang harus kita patuhi, hal ini bukan hanya demi diri kita sendiri, akan tetapi juga sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran dari covid-19 tersebut.

Salah satu usaha menjaga kondisi badan agar tetap sehat, adalah berolahraga sepeda. Akhir-akhir ini, di era yang kita sebut dengan new normal, bersepeda menjadi olahraga yang digandrungi oleh masyarakat demi menjaga tubuhnya tetap sehat dan prima. Banyak yang rela meluangkan waktunya demi sekedar keliling-keliling lingkungan sekitar, dengan tujuan selain berolahraga juga sebagai ajang untuk refreshing agar fikiran dan jiwa kembali fresh.

Akan tetapi, dari sekian banyak orang-orang yang bersepeda untuk berolahraga, ada pula beberapa yang bersepeda hanya untuk mengikuti tren yang sedang berkembang. Mereka hanya sekedar ikut-ikutan demi terlihat eksis. Ada juga yang bersepeda dengan berkelompok, tetapi mereka tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Sehinga menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun, ada beberapa tips yang bisa kita ikuti, agar rutinitas bersepeda kita selain menyehatkan, juga aman dan nyaman.

  • Pastikan kondisi tubuh sehat

Hal yang pertama apabila kita ingin bersepeda, kita harus bisa memastikan bahwa tubuh kita benar-benar sehat dan kuat untuk diajak mengayuh sepeda. Kita juga harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri, sampai sejauh mana kita bisa bersepeda. Jangan sampai kemampuan kita hanya sekian kilometer, tetapi kita memaksakan melebihi batas. Ujung-ujungnya yang awalnya ingin sehat, justru malah kecapekan karena melebihi batas maksimal. Lebih baik dimulai dengan rute pendek, bertahap kemudian dilanjutkan dengan rute yang panjang.

  • Gunakan perlengkapan keselamatan

Dalam hal olahraga apapun, sudah pasti hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu adalah perlengkapan yang digunakan. Perlengkapan yang biasa dipakai untuk bersepeda adalah menggunakan helm, bersepatu, dan menggunakan pakaian yang sekiranya nyaman digunakan. Peralatan di atas tentu saja menjadi perlatan standart yang harus selalu kita patuhi demi menjaga-jaga apabila terjadi hal yang tidak kita inginkan.

  • Gunakan masker

Di tengah situasi dan kondisi pandemi sedang merebak seperti sekarang ini, mengenakan masker setiap beraktifitas merupakan salah satu kewajiban agar bisa mengurangi penyebaran dari covid-19. Begitu juga apabila ingin bersepeda, maka dianjurkan untuk tidak lupa mengenakan masker.

  • Perhatikan rambu lalu lintas

Memperhatikan rambu lalu lintas juga merupakan salah satu yang harus selalu kita perhatikan, agar tidak menimbulkan keributan di jalan raya. Sudah banyak kita lihat di media sosial ataupun di berita-berita online ada pesepeda yang terkena insiden dengan pengguna jalan raya lainnya, bahkan sampai menimbulkan korban luka. Jika kita bisa mematuhi rambu lalu lintas, maka insiden semacam itu bisa kita hindari. Selain berguna untuk diri sendiri, juga berguna bagi pengguna jalan raya lainnya.

  • Patuhi protokol kesehatan

Mematuhi protokol kesehatan yang dimaksud adalah selain menggunakan peralatan yang dianjurkan seperti masker, kita juga harus tetap mengurangi interaksi sosial dengan orang lain, harus menjaga jarak dengan pesepeda lainnya. Berolah raga tetap jalan, tetapi social distancing juga tetap kita patuhi.

Nah, tips di atas bisa kita aplikasikan bareng-bareng dengan teman-teman pesepeda lainnya. Jangan sampai kita berniat menyehatkan dan menyegarkan badan, justru malah terkena sebaran covid-19 dari pesepeda lainnya yang belum tentu sehat wal afiat seperti biasanya. Maka dari itu, waspada dan berjaga-jaga itu penting daripada bersikap acuh dan meremehkan dari wabah ini. Tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan. Semoga kondisi ini lekas pulih seperti sedia kala.

Generasi Milenial: Generasi Smartphone?

Generasi Milenial Generasi Smartphone

Di zaman yang serba instan ini, jarak bukanlah sebuah alasan untuk tidak terhubung dan menyambung tali silaturrahmi dengan teman ataupun keluarga dimanapun mereka berada. Tidak bisa dipungkiri, dengan adanya sosial media, kita bisa mengetahui kabar di belahan dunia manapun dengan cepat dan akurat.  Kita juga bisa mencari informasi dan data yang diperlukan tanpa ribet harus ke sana kemari.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya tidak akan bisa lepas dari interaksi sosial. Baik itu dengan lingkungan sekitar atau dengan famili yang jauh. Jika di dunia nyata kita bisa secara langsung berkomunikasi dengan orang-orang terdekat, maka untuk menyambung tali silaturrahmi dengan saudara yang jauh tentu kita akan memanfaatkan keberadaan sosial media agar tetap terhubung dengan mereka yang jauh.

Teknologi berkembang semakin cepat, 10 tahun yang lalu keberadaan handphone dengan segala macam fiturnya hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dan mobilitas tinggi. Tidak sembarang orang bisa memiliki alat komunikasi seperti sekarang ini. Hal ini tidak lepas karena pada masa tersebut keberadaan handphone masih dianggap sebagai barang yang mewah dan canggih. Tidak seperti sekarang ini, dimana setiap orang baik yang sudah dewasa, tua, ataupun yang belum cukup umur sudah fasih dan lancar dalam mengoperasikan gawainya.

Hingga saat ini, memiliki handphone –yang kemudian berubah menjadi smartphone karena fiturnya- sangat penting bagi generasi milenial. Disela-sela aktifitas kesehariannya, selalu mereka sempatkan untuk mengecek ataupun sekedar scroll linimasa dari sosmed yang dimiliki.

Salah satu fungsi yang sangat digandrungi oleh generasi milenial adalah adanya sosial media. Sosmed, sebuah ruang yang menjadi ajang untuk bebas mengekspresikan diri kita masing-masing tanpa perlu menunjukkan identitas yang sebenarnya. Dengan adanya fasilitas ini, tentunya semakin memudahkan kita untuk selalu up to date terhadap perubahan ataupun kejadian yang terjadi di belahan dunia manapun. Cukup dengan beberapa langkah pertama sebelum memulai interaksi lewat beberapa aplikasi chatting, para penggunanya akan semakin leluasa untuk mulai mengobrol dengan koleganya.

Akan tetapi, keberadan sosial media ini tidak hanya dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat positif saja. Tak sedikit juga yang memanfaatkan adanya sosial media ini untuk menyebarkan berita bohong (Hoax), ujaran kebencian, dan juga dijadikan tempat untuk menimbulkan perpecahan antar sesama masyarakat Indonesia.Seringkali kita temukan akun-akun tanpa identitas jelas yang dengan mudahnya menebar berita ataupun isu-isu yang belum tentu jelas kebenarannya.

banyak sekali oknum yang memanfaatkan keberadaan sosial media hanya sebagai alat untuk memecah kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan sosial sehari-hari. Mereka, yang sering menggunakan sosmed untuk menebar ketakutan di masyarakat harus diedukasi secara pelan-pelan. Langkah-langkah frontal tidak bisa digunakan untuk memusnahkan akun-akun palsu yang sering menyebar isu-isu hoax, kita harus menggunakan cara-cara yang lembut dan mengayomi, sehingga lambat laun mereka akan berhenti menyebar berita palsu. Langkah seperti ini pernah diterapkan oleh Rasulullah pada zaman dahulu ketika mengajak kaum Quraisy untuk masuk Islam. Beliau tidak pernah menggunakan jalan kekerasan dalam upaya mengajak kaumnya masuk Islam.

Tentu saja, kita sebagai penikmat dan pengguna dari canggihnya teknologi, harus bisa memfilter mana yang mengarahkan kita sebagai pengguna ke sisi positif atau malah sebaliknya. Dengan adanya sosial media seharusnya bisa menjadikan kita lebih terbuka dalam menerima perbedaan. Kita bisa berinteraksi dengan saudara sebangsa dan setanah air yang berada di pulau seberang misalnya. Tentu kita paham, apa saja sisi positif yang bisa diambil dari kemajuan teknologi seperti sekarang ini, dan juga sisi negatifnya yang bisa kita hindari.

Pesepak Bola Muslim di Eropa

Sumber:waspada.co.id

Pesebak bola Muslim di Eropa menjadi sorotan media beberapa waktu. Memasuki tanggal 1 Ramadhan dalam kalender Hijriyah, umat Islam di belahan dunia manapun diwajibkan untuk melaksanakan rukun Islam yang ketiga, yaitu ibadah puasa. Dalam ajaran islam, bagi orang muslim yang sudah cukup umur, wajib hukumnya untuk berpuasa penuh selama sehari. Kewajiban tersebut tidak lantas kemudian menjadi gugur karena suatu pekerjaan yang digeluti oleh seorang muslim.

Nah, begitu juga dalam dunia sepak bola. Ketika ada seorang muslim yang menjadi pemain sepak bola profesional, jika sudah memasuki waktunya berpuasa, maka ia wajib untuk menjalankannya. Kalau kita amati, yang menjadi kiblat dari permainan si kulit bundar adalah di tanah Eropa. Setiap pemain yang mempunyai mimpi untuk menjadi pemain sepak bola beken, maka pasti yang menjadi rujukan adalah bermain untuk klub-klub di eropa sana.

Menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah sedang menjalani kompetisi pertandingan, tentu saja membutuhkan tenaga dan semangat yang lebih dari biasanya. Sebagai pemain profesional dan seorang muslim sejati, mereka harus mematuhi dua kewajiban sekaligus dalam satu waktu yang bersamaan.

Di bawah ini ada beberapa pemain sepak bola muslim profesional yang mempunyai karir cemerlang di kancah Eropa:

  1. Paul Pogba

Paul Pogba merupakan salah satu andalan dari timnas Perancis dan juga tim Manchester United. Ia merupakan pemain kelahiran Perancis yang berposisi sebagai pemain tengah. Pogba termasuk seorang muslim sejati. Ketika kompetisi sedang libur, ia bersama keluarganya menyempatkan diri untuk umroh ke tanah suci Mekkah. Hal ini terbukti dari unggahan di akun media sosialnya. Pada ajang World Cup 2018 yang lalu, kejuaraan tertinggi dari sepak bola ini digelar pada waktu umat muslim di dunia sedang menjalani bulan puasa. Sehingga, Pogba menjalankan dua kewajiban dalam satu waktu.

Sumber: cnnindonesia.com
  • Riyad Mahrez

Saat ini, Mahrez sedang membela tim Manchester City. Ia merupakan salah satu penyerang sayap yang sangat lincah, dan biasa menyisir dari pinggir lapangan untuk kemudian mengirim umpan matang ke depan gawang. Sebelum bergabung ke tim Manchester Biru, ia terlebih dahulu membela Leicester City dan memenangkan trofi tertinggi di tanah Inggris. Mahrez merupakan pemain kebangsaan Aljazair yang dilahirkan di Perancis, dimana di negara asal kedua orang tuanya, Aljazair agama Islam termasuk agama mayoritas. Mahrez juga terkenal sebagai seorang muslim yang taat, bahkan ia juga pernah melaksanakan ibadah umroh.

Sumber: sport.detik.com
  • Mohamed Salah

Salah merupakan salah satu penyerang andalan yang dimiliki oleh Liverpool. Ia bersama Sadio Mane dan juga Roberto Firmino menjadi trio yang mematikan bagi tim lawan. Salah dilahirkan di lingkungan mayoritas beragama Islam. Setiap kali ia mencetak gol, selebrasi yang dilakukan dengan posisi sujud di di lapangan. Hal ini mengingatkan kita akan posisi sujud ketika sedang shalat. Selain menjadi pemain kunci bagi klubnya, ia juga merupakan pahlawan sepak bola bagi negaranya, Mesir. Berkat dua golnya ke gawang Kongo ketika kualifikasi Piala Dunia 2018 yang lalu, Mesir akhirnya bisa lolos ke piala dunia untuk pertama kalinya selama 28 tahun terakhir.

Sumber: cnnindonesia.com
  • Sadio Mane

Selain Mohamed Salah, salah satu penyerang terbaik yang dimiliki oleh Liverpool dan juga salah satu yang tertajam di Liga Inggris adalah Sadio Mane. Pemain berkebangsaan Senegal ini menempati posisi sayap, baik di klub maupun di timnas. Mane juga merupakan pemain terbaik Afrika pada 2019 lalu. Mengalahkan dua pemain Afrika lainnya yang juga bermain di kompetisi Liga Inggris, yaitu Mohammed Salah dan Riyad Mahrez. Selain termasuk muslim yang taat, di tempat kelahirannya di Senegal, ia merupakan anak dari pemuka agama. Sehingga sejak kecil, Mane memang terlatih untuk rajin melaksanakan kewajibannya. Bahkan baru-baru ini, ia mendirikan Masjid di kampungnya, sehingga umat Muslim di sana bisa beribadah dengan nyaman.

Sumber: sport.detik.com
  • Mesut Ozil

Mesut Ozil menjadi bagian dari kesuksesan Timnas Jerman saat memenangkan tropi World Cup 2014 yang lalu. Ia menjadi salah satu andalan lini tengah Timnas Jerman. Dalam beberapa tahun terakhir, Ozil termasuk ke dalam pemain top assist di kompetisi teratas di Eropa. Mesut Ozil bisa dikatakan seorang muslim yang taat. Cristiano Ronaldo, rekan setimnya ketika masih membela klub Real Madrid, selalu mengingatkan Ozil ketika ia lupa membaca kalimat Basmalah sebelum memulai pertandingan. Selain itu, ia juga tidak lupa berdo’a setiap kali memasuki lapangan, hal lumrah yang selalu dilakukan oleh umat Muslim dimanapun. Baru-baru ini, ia menyumbangkan sejumlah uang untuk dipergunakan kepada korban Covid-19 di Turki.

Sumber: liputan6.com
  • Franck Ribery

Nama Franck Ribery tidak bisa lepas dari salah satu klub liga teratas di Jerman, Bayern Munchen. Sebelum ia pindah ke klub Italia, Fiorentina. Ribery merupakan sayap lincah yang menjadi pemain kunci di klubnya. Ia bersama Arjen Robben, seringkali merepotkan tim lawan lewat kaki lincahnya yang menyisir di dua sisi lapangan. Selain sebagai pemain hebat nan lincah, Ribery juga termasuk muslim yang taat. Sebelum memeluk agama Islam, Ribery merupakan seorang Kristiani, yang kemudian pindah agama setelah mengettahui Islam dari kekasihnya yang kemudian menjadi istrinya. Pemain yang mendapatkan nama Bilal Yusuf Mohamed ini tidak terbiasa meminum minuman bir.

Pernah suatu ketika sedang merayakan keberhasilannya menjuarai kompetisi, dengan iseng ia disiram dengan bir oleh rekan setimnya, tentu saja hal ini membuatnya marah. Biasanya, Ribery menggantinya dengan meminum air putih. Ribery juga merupakan salah satu penggagas dibangunnya masjid di sekitar stadion milik klub tersukses di Jerman tersebut. Ia juga menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk pembangunan masjid. Ribery ingin para pengunjung dan juga suporter bisa melaksanakan kewajibannya dengan tenang, terutama shalat jum’at.

Sumber: tirto.id

Tentunya masih banyak pemain-pemain muslim lainnya, yang patut kita contoh. Ada banyak hal yang bisa kita tiru, selain profesionalitas mereka melaksanakan dua kewajibannya dalam satu waktu yang bersamaan. Total waktu mereka melaksanakan ibadah puasa dalam sehari juga pastinya berbeda dengan di Indonesia. Selamat melaksanakan ibadah puasa bagi teman-teman muslim semuanya, semoga barokah dan lancar hingga sebulan penuh.

Chairil Anwar, Pelopor Puisi Modern  Indonesia

Sumber: liputan6.com

Chairil Anwar, siapa tidak kenal dengan nama tersebut? Chairil Anwar atau sering juga dijuluki bapak puisi Indonesia. Tepat setiap tanggal 28 April dalam setahun terakhir diperingati sebagai hari puisi nasional. Hari Puisi merupakan perayaan atau peringatan yang ditetapkan oleh beberapa pakar dalam dunia kesusastraan sebagai bentuk apresiasi kecintaan mereka terhadap dunia sastra.

Dalam sejarah penetapan tanggal 28 April sebagai hari puisi berdasarkan pada hari dimana Chairil Anwar meninggal dunia. Chairil Anwar merupakan sosok pelopor puisi modern di Indonesia. Tak heran jika kemudian di hari wafatnya beliau, ditetapkan sebagai hari puisi nasional. Hal tersebut karena kontribusinya yang cukup besar dalam dunia puisi.

Tetapi, hari puisi tidak hanya diperingati setiap tanggal 28 april. Selain tanggal tersebut, hari puisi juga diperingati setiap tanggal 26 Juli. Lagi-lagi, hal ini tidak terlepas dari sastrawan yang dijuluki dengan “si Binatang Jalang” ini. Tepat pada tanggal 26 Juli 1922, Chairil Anwar dilahirkan di Medan. Kemudian pada tahun 1940, ia bersama ibunya pindah ke Jakarta. Dan setelah pindah, si Binatang Jalang tersebut menghasilkan puisi-puisi dari berbagai tema.

Baca sebelumnya tentang konten

Puisi sendiri biasanya digunakan untuk mengungkapkan suatu hal. Tidak jarang para pemuda mengungkapkan perasaannya terhadap pemudi yang disukainya lewat jalan menciptakan puisi yang ditujukan padanya. Ini tentu saja membuat si pemudi tersebut akan merasa berharga dan tersanjung karena sudah diciptakan dan dibacakan puisi yang khusus untuknya.

Terkadang pula, puisi digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap rezim yang dzalim. Juga dipergunakan untuk menyindir elit politik yang semena-mena terhadap rakyat jelata.

Sumber: tim DKV Duta Damai Yogyakarta

Selain beberapa penggunaan puisi di atas. Kita tentunya juga sering menemukan puisi untuk menggambarkan sesuatu yang penting dalam hidup si pencipta puisi tersebut. Contoh, puisi dengan judul Ibu karya D. Zawawi Imron. Atau puisi Gus Mus yang berjudul Kau ini Bagaimana? Atau Aku harus Bagaimana? Dan masih banyak puisi-puisi lainnya yang mempunyai arti atau bahkan mempunyai representasi dari penulis puisi itu sendiri.

Setiap kata yang tertuang dalam bait-bait puisi, biasanya mengandung maksud dan tujuan yang hanya dipahami oleh si pengarang puisi tersebut. Tetapi, kita sebagai pembaca tentu saja mempunyai kebebasan untuk menafsirkan seperti apakah arti dari puisi tersebut. Seperti contoh puisi dengan judul Zikir karya D. Zawawi Imron di bawah ini.

ZIKIR

alif, alif, alif

alifmu pedang di tanganku

susuk di dagingku, kompas di hatiku

alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut

hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang

hingga aku berkesiur

pada angin kecil akdir-mu

hompimpah hidupku, hompimpah matiku,

hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,

hompimpah!

kugali hatiku dengan linggis alifmu

hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,

jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang

mengerang menyebut alifmu

alif, alif, alif!

alifmu yang satu

tegak di mana-mana

1983

Dari puisi di atas, saya dapat mengartikan bahwa dalam puisi tersebut mengandung makna kalau pencipta puisi tersebut memasrahkan hidupnya, jiwa raganya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, seperti yang saya sebutkan tadi bahwa penafsiran ini belum tentu benar adanya. Maka, pembaca puisi yang lain bisa saja mempunyai arti dan penafsiran yang berbeda terhadap satu puisi yang sama.

Bermacam-macamnya penafsiran terhadap satu puisi, tidak lepas dari luasnya pengetahuan dari si pembaca itu sendiri. Sehingga dari satu puisi bisa menghasilkan berbagai macam tafsiran. Dan setiap tafsiran yang didapat oleh seseorang, tidak bisa langsung disalahkan, bahkan oleh pencipta puisi itu sendiri. Karena setiap karya yang sudah dilempar ke ranah umum, maka setiap pembaca tentu saja bebas untuk menafsirkan apa makna yang terkandung di dalamnya.

Selamat Hari Puisi.

Barisan Kartini Era Milenial

Sumber: Tim DKV Duta Damai Yogyakarta

Seperti yang kita ketahui bersama, setiap memasuki tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Raden Adjeng Kartini merupakan salah satu putri Nusantara yang namanya termasuk ke dalam jajaran pahlawan Nasional. Beliau dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Dari sinilah kemudian asal usul ditetapkannya hari Kartini tepat pada tanggal 21 April.

R. A Kartini merupakan keturunan dari kalangan bangsawan Jawa. Jika ditelisik lebih jauh lagi, dari sisi ayahnya dalam silsilah keluarganya, masih termasuk keluarga dari Hamengkubuwono VI.

Ia juga dikenal dengan pelopor kebangkitan perempuan pribumi pada zaman dahulu. Kartini dengan gigih terus memperjuangkan kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Sejarah telah mencatat bagaimana R.A Kartini tanpa merasa lelah terus mengupayakan agar posisi perempuan dan laki-laki setara dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita tentang perjuangan Kartini pada zaman dahulu tersebut harus kita ingat baik-baik. Selain merawat bukti sejarah, juga sebagai bukti bahwa kaum perempuan berhak dan pantas untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. tetapi, ingatan akan sejarah tersebut bukan lantas hanya sebagai ingatan belaka. Melainkan harus dijadikan cambukan untuk terus mempertahankan kesetaraan antara kaum Adam dengan kaum Hawa.

Di zaman modern seperti sekarang ini, tidak susah bagi kita untuk menemukan perempuan-perempuan yang terus menyuarakan pendapatnya ataupun menduduki posisi setara dengan kaum laki-laki. Banyak perempuan-perempuan hebat yang juga menduduki jabatan strategis, baik itu di tingkat nasional ataupun di tingkat wilayah.

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan sederet nama beken yang sering menghiasi kita, baik di media sosial ataupun di media cetak. Sebutlah Sri Mulyani, Menteri Keuangan. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur. Atau dari bidang yang lain, ada Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia lewat cabang bulutangkis, dengan menjadi juara All England selama empat kali. Kemudian kita juga mengenal sosok Merry Riana, yang sempat menjadi idola pemuda pemudi Indonesia karena kesuksesannya menjadi pengusaha dan motivator, dan juga keberhasilannya mendapatkan sejuta dollar.

Selain nama-nama yang disebut di atas, masih banyak nama-nama lain yang tidak kalah keren dan beken. Lalu kemudian, apa yang bisa kita dapat dari kesuksesan Kartini-Kartini milenial tersebut? Tidak lain adalah kegigihan dan semangatnya dalam mengejar impiannya. Mereka tidak mudah menyerah dan putus asa untuk terus mengejar apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya. Hingga kemudian, pelan namun pasti apa yang mereka inginkan datang dengan sendirinya.

Di zaman yang semuanya serba mudah ini, pastinya juga ada banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk memperjuangkan dan meraih impian yang kita cita-citakan.

Banyak jalan menuju Roma

Selama kita masih mempunyai keinginan dan impian, sepanjang itu pula kita akan selalu menemukan jalan untuk menggapainya. Tinggal kembali kepada diri kita sendiri, apakah akan terus mengejar impian tersebut, atau hanya diam dan menyaksikan kawan-kawan kita berlalu meninggakan kita di belakang. Kesempatan tidak hanya datang satu kali, tetapi akan banyak kesempatan yang akan kita dapatkan selagi kita mau memanfaatkan kesempatan tersebut.

Selama kita berusaha sungguh-sungguh dalam mengupayakan dan mengejar apa yang kita inginkan, bukan tidak mungkin hal tersebut akan kita dapatkan. Tidak ada bedanya antara laki-laki ataupun perempuan, yang membedakan adalah seberapa besar usaha  dan tekad yang kita perjuangkan untuk mencapai impian dan cita-cita yang diharapkan. Laki-laki dan perempuan merupakan takdir dan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita terima dan syukuri. Bukan lantas membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya.

Selamat hari Kartini untuk kalian Perempuan hebat Indonesia. Ys.

Benarkah Ramadhan Tahun Ini Beda?

Sumber: batam.tribunnews.com

Banyak yang mengatakan bahwa Ramadhan kali ini akan berbeda jauh dari Ramadhan sebelumnya. Hal ini tidak salah memang apabila banyak yang memprediksi akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alasan kenapa Ramadhan tahun ini akan berbeda, penyebabnya tentu saja karena si kecil yang tak kasat mata; Covid-19.

Semenjak mewabahnya virus ini, hampir seluruh aktivitas orang-orang, terutama yang di luar lapangan, terganggu. Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh wilayah di Indonesia terkena dampak dari adanya Covid-19. Terlebih lagi di Ibukota. Banyaknya wilayah yang sudah memasuki kategori zona merah membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan seluruh kegiatan ibadah bulan puasa di rumah. Seperti misalnya, shalat tarawih, mengadakan buka bersama, dan lain sebagainya.

Fatwa tersebut dikeluarkan dengan maksud dan tujuan agar selama bulan puasa tahun ini, penyebaran Covid-19 tidak semakin menyebar luas. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Ni’am mengatakan bahwa Covid-19 bukanlah halangan untuk beribadah. Akan tetapi mnghindari penyebaran virusnya merupakan salah satu ibadah juga. Pemahaman cara beribadah di tengah merebaknya virus Corona haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Jika kita pahami secara seksama, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI semata-mata hanya untuk membatasi aktifitas orang-orang di luar ruangan selama bulan puasa. Dengan tujuan tentu saja untuk menekan dan mengurangi jumlah korban dari Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah. Bukan lantas umat Islam dilarang beribadah di tempat ibadahnya, hanya saja dianjurkan untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing.

Dalam agama islam, ada sebuah beberapa kaidah fiqh yang bisa dipakai untuk situasi dan kondisi seperti ini, terutama mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Yaitu

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

 “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengupayakan kemaslahatan.” Maka sekiranya fatwa dari MUI inilah yang harus kita patuhi dan jadikan pedoman, dengan tujuan agar cepat atau lambat wabah ini akan segera selesai, dan kita bisa melaksanakan aktifitas dengan normal kembali.

Adapaun kaidah fiqh lain mengatakan juga.

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَار

Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain.” Hal ini tentu sesuai dengan apa yang sedang kita alami sekarang. Apabila kita masih egois mementingkan diri sendiri untuk tetap melakukan aktifitas di luar ruangan, maka tentu kita tidak hanya membahayakan diri kita sendiri, tetapi juga akan berdampak kepada keluarga yang menanti di rumah.

Maka, apapun keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan juga fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, harus kita patuhi bersama. Berharap wabah Covid-19 ini akan segera berakhir, dan aktifitas kita semua akan kembali berjalan normal sebagaimana mestinya.

Ramadhan tahun ini boleh saja berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi cara kita beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa tentu harus sama dengan tahun yang telah lalu. Hanya saja ada sedikit perbedaan tempat dan cara kita melaksanakan ibadah tersebut.

Wallahua’lam.

Hoax Covid-19; Makan Telur Rebus bisa Menangkal Virus Corona

Sumber: brito.id

Memasuki era digital, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dulu, handphone hanya digunakan untuk sekedar menelepon sanak famili, atau untuk mengirim pesan singkat (short massage service/SMS). Tetapi saat ini, hampir semua aktifitas sehari-hari bisa kita kerjakan lewat genggaman satu tangan.

Dari perkembangan teknologi yang berkembang pesat ini, terdapat sisi positif dan juga negatif yang bisa diambil oleh penggunanya. Sisi positifnya, kita bisa terhubung dengan kolega dimanapun kita berada. Sedangkan dari sisi negatifnya, akan dengan sangat mudah bagi pengunanya untuk mengakses situs yang mengandung pornografi misalnya.

Sosial media,  sebuah aplikasi yang sangat digandrungi oleh pemuda-pemudi, dan juga bisa dipergunakan untuk hal apa saja. Akan tetapi, keberadaan sosial media yang bermacam-macam bentuk dan kegunaannya mempunyai dua sisi akibat. Tidak semua menggunakan sosmed untuk hal-hal yang bermanfaat. Banyak sekali berita-berita hoax dan isu-isu yang belum tentu benar disebar melalui sosial media.

Baru-baru ini misalnya, ketika seluruh belahan dunia sedang heboh dengan mewabahnya Covid-19, ada oknum yang menyebarkan bayi bisa berbicara dan menganjurkan untuk memakan telur rebus dini hari sampai sebelum adzan shubuh. Padahal, jika dilogikan, tidak mungkin hanya dengan memakan sebutir telur rebus, kemudian bisa menangkal virus corona. Terlepas dari memang memakan telur rebus bisa menambah energi bagi tubuh kita, tentunya harus dibarengi dengan olahraga teratur dan juga menjaga pola hidup.

Penyebaran berita palsu tersebut terjadi karena oknum (penyebar hoax) memanfaarkan sosial media agar beritanya cepat meyebar. Ketika isu itu beredar dan kemudian sampai membuat heboh masyarakat (khususnya pedesaan) akan sulit untuk meluruskan bahwa itu berita palsu. Banyak orang lebih percaya dengan berita viral dibanding kebenaran suatu berita. Masyarakat dengan tingkat literasi rendah akan lebih mudah percaya bahwa hal tersebut memang mempunyai khasiat menangkal Covid-19. Masyarakat akan semakin percaya apabila berita itu kemudian dibumbui (mencatut) pernyataan dari tokoh agama atau tokoh masyarakat.

Selain itu, sosmed juga banyak digunakan sebagai alat untuk menyebar ujaran kebencian lainnya. Juga dijadikan tempat untuk saling memfitnah dan menghujat tanpa perlu menampilkan identitas asli dari para pelakunya. Seringkali kita temukan akun-akun tanpa identitas jelas yang dengan mudahnya menebar berita ataupun isu-isu yang belum tentu jelas kebenarannya.

Keberadaan sosial media yang sejatinya bisa dipergunakan untuk mempererat silturrahmi dengan saudara ataupun teman yang jauh justru digunakan sebagai ajang untuk menyebar kebencian. Maka, sudah jelas sosial media tersebut sudah dipergunakan melenceng jauh dari fungsi utamanya.

Seharusnya dengan adanya teknologi sosial media ini kita bisa menebar kebaikan dengan orang lain yang belum dikenal, dan juga bisa menambah pertemanan.

Tetapi,  banyak juga yang memanfaatkan sosial media sebagai alat untuk memecah kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti ini hendaknya harus kita berantas bersama demi menjaga keutuhan NKRI.

Menjaga kerukunan dan kedamaian negeri tidaklah harus menjadi anggota militer. Cukup dengan bijak menggunakan sosmed agar tidak menimbulkan perpecahan juga termasuk salah satu caranya.

Saat ini, pemerintah sudah menetapkan satu undang-undang yang bisa menjerat seseorang jika terbukti melakukan tindakan yang merugikan. Contohnya memfitnah orang lain, menyebarkan isu-isu yang belum tentu benar, ataupun mengajak untuk bertindak kriminal. Harapannya, dengan diterapkannya UU ITE Nomor 11 tahun 2008, orang-orang yang biasa menggunakan sosial media bisa lebih berhati-hati dalam menyebar ataupun menerima informasi yang bisa memicu perselisihan.

Langkah Pemerintah ini perlu kita apresiasi demi mewujudkan Indonesia damai, yang aman dari oknum penyebab perpecahan. Tentunya banyak sekali harapan yang muncul seiring dengan ditetapkannya undang-undang tersebut. Menggunakan akun sosial media sebanyak-banyaknya tentu tidak ada larangan. Asalkan fungsi dari akun yang kita miliki tidak digunakan untuk hal-hal yang sekiranya menimbulkan perselisihan.

Maka dari itu, marilah kita bersama-sama mengawal aktifitas dalam sosial media agar tidak melulu diisi dengan hal-hal yang bisa merusak persatuan bangsa.

Virus Corona; Waspada Wajib, Panik Jangan

Akhir-akhir ini dunia dibikin heboh dengan munculnya virus corona yang penyebarannya sangat cepat. Penyakit corona sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus baru yang sebelumnya tidak teridentifikasi terhadap manusia. Virus corona atau biasa disebut dengan Covid-19 bisa menyerang siapa saja, baik itu bayi, anak-anak, dewasa, lansia, bahkan ibu menyusui sekalipun. penyebarannya yang begitu cepat, wajib untuk diwaspadai, tetapi jangan sampai panik.

Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini biasanya menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, bahkan menyebabkan kematian terhadap korbannya. Virus ini pada mulanya hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Tetapi seiring berjalannya waktu, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti Middle East Respiratory Syndrom (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Penyebaran covid-19 sangat masif, dalam jangka waktu yang relatif singkat, mengutip dari CNN Indonesia, hingga kamis 12 Maret 2020 yang terinfeksi sudah tercatat sebanyak 126.061 yang tersebar di 118 negara. Melalui situs penghitungan Worldodometers , sekitar 67.064 orang dinyatakan sembuh dan 4.616 meninggal dunia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status covid-19 ini menjadi pandemi, karena penyebarannya yang sangat cepat.  Di Indonesia sendiri, dilansir dari infeksiemerging.kemenkes.go.id jumlah yang diperiksa mencapai 1.198 dengan yang positif sejumlah 69 orang, dan yang meninggal berjumlah 4 orang.

Secara keseluruhan, ada 3 gejala umum yang menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona, yaitu:

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak nafas

Pada awal kemunculannya, covid-19 diduga disebarkan melalui hewan ke manusia, tetapi seiring berjalannya waktu berubah menjadi manusia ke manusia. Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang terkena virus ini, yaitu:

  • Menghirup atau terkena percikan ludah bersin dari seseorang yang terkena covid-19
  • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah bersentuhan dengan korban covid-19
  • Melakukan kontak fisik dengan korban covid-19

Hingga saat ini, penangkal dari covid-19 ini masih belum ditemukan. Akan tetapi, ada beberapa pencegahan yang dapat kita lakukan setidaknya untuk meminimalisir penyebarannya. Sama dengan virus-virus sebelumnya yang pernah merebak, covid-19 ini dapat kita cegah penyebarannya dengan melakukan beberapa langkah. Pencegahan ini dapat kita lakukan dan dimulai dari diri kita sendiri, yaitu:

  1. Hindari bepergian ke negara yang terinfeksi covid-19
  2. Gunakan masker atau semacamnya jika sedang beraktifitas di tempat umum
  3. Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun ataupun hand sanitizer setelah melakukan aktifitas di tempat umum
  4. Tidak menyentuh mulut atau hidung, sebelum mencuci tangan dengan bersih
  5. Mengkonsumsi buah-buahan atau makanan bergizi untuk menjaga kesehatan

Langkah utama dari yang pertama adalah kita tidak boleh panik dengan merebaknya virus covid-19 ini. Waspada wajib, panik jangan. Selalu sediakan persediaan yang diperlukan secukupnya, jaga pola tidur dan pola makan, dan juga jaga kesehatan. Setiap persoalan yang ada, tentunya akan disertai dengan solusi. Cepat atau lambat, penangkal dari covid-19 akan segera ditemukan. Kita hanya perlu selalu waspada terhadap berita apapun yang berkaitan dengan virus ini, jangan sampai terdoktrin oleh berita yang belum tentu benar adanya. Selalu cek dan kroscek melalui portal-portal yang telah disediakan oleh Pemerintah untuk mengupdate berita dari covid-19 ini.https://dutadamaiyogyakarta.id/

Rasialisme dan Sepakbola

Source: fifa.com

Sepakbola merupakan salah satu olahraga yang sangat populer, baik itu bagi kalangan laki-laki maupun perempuan. Tidak jarang setiap kali terdapat kejuaraan mayor, selalu dihadiri oleh orang banyak. Selain digunakan sebagai ajang adu taktik dan kejelian pemain serta pelatih dalam menyusun strategi, sepak bola juga akhir-akhir ini dugunakan sebagai ajang untuk mengkampanyekan suatu hal.

Seperti yang tertera dalam Wikipedia, memasuki abad ke-21 olahraga sepakbola telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di 200 negara, yang menjadikannya sebagai olahraga paling populer di dunia. Tidak heran jika terkadang ada sekelompok orang yang terlibat adu fisik hanya karena berbeda dukungan terhadap tim sepak bola. Mereka biasanya akan mengikuti kemanapun tim yang dibelanya bermain.

Dalam dunia balbalan, apapun bisa terjadi, salah satunya adalah kasus rasisme. Bahkan seiring dengan perjalanan sepak bola itu sendiri, kejadian-kejadian yang bersifat rasialisme selalu mengikuti.  Sudah banyak kasus-kasus yang terjadi, salah satunya pada laga antara Inter Milan dengan AS Roma, dimana pemain Inter Milan dan AS Roma, Romelu Lukaku dan Chris Smalling mendapat perlakuan yang tidak pantas dari Jurnalis Corriere dello Sport. Corriere dello Sport menjadikan gambar dari keduanya sebagai cover, tetapi dibagian bawah ditambahi dengan tulisan “Black Friday”.

Pada lanjutan laga Liga 1 yg mempertemukan antara Bali United dengan Borneo FC, tiga pemain Bali United merayakan golnya dengan gaya sedang melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Hal ini tentu saja mendapat perhatian dari dunia luar, salah satunya dari Washington Post, mereka dianggap sebagai pemain Indonesia yang menjadi simbol sebagai perdamaian dalam dunia sepak bola.

Bahkan di liga-liga Eropa, seperti di Jerman misalnya, salah satu klub di sana membangun ruang untuk beribadah bagi orang-orang Islam, yang mana kita ketahui bahwa Islam merupakan agama minoritas di negara Eropa. Sehingga untuk mencari ruang untuk beribadah tentu akan sulit.

Kasus rasisme yang baru-baru terjadi adalah ketika pertandingan pekan ke-21 Liga Nos primeira Portugal antara Vitoria Guimaraes melawan Porto, dimana penyerang Porto, Moussa Marega melakukan aksi keluar lapangan yang disebabkan karena diejek oleh suporter tuan rumah. Ia diejek idiot oleh para pendukung Vitoria Guimaraes, sehingga Marega memutuskan keluar dari lapangan. Marega mencetak gol kemengan untuk timnya, dan ia menunjukkan gestur jempol ke bawah yang kemudian hal itu membuatnya digajar kartu kuning oleh wasit. Padalah gestur itu ia tunjukkan bagi supporter tuan rumah yang telah mengejeknya. Masih banyak kasus rasisme yang sering menyerang pemain sepak bola. Entah itu menyerang perbedaan warna kulit, suku, sosial politik, ataupun agama.

Padahal federasi tertinggi sepak bola dunia (FIFA) telah mengeluarkan kampanye anti rasisme melalui slogan yang berbunyi “Say Noto Racism”. Kampanye-kampanye ini sering digaungkan di setiap pertandingan sepak bola, tujuannya jelas untuk mengurangi kejadian-kejadian yang seringkali melukai salah satu pihak pemain.

Bahkan dalam kode disiplin 2019 yang terbitkan oleh FIFA mengatakan bahwa, apabila terdapat seseorang yang mengancam martabat seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan kata-kata atau tindakan yang merendahkan, mendiskriminasi atau memalukan dengan cara apapun  dengan alasan ras, warna kulit, etnis, agama, politik, atau alasan apapun, maka akan dikenai sanksi penagguhan minimal sepuluh pertandingan. Terkadang perbedaan bisa disatukan lewat berbagai macam cara, salah satunya sepak bola. Maka dengan adanya perbedaan di lapangan, tidak perlu lagi adanya ciutan-ciutan kecil yang bertujuan mengejek pemain yang berbeda. Entah itu berbeda dalam warna kulit ataupun berbeda keyakinan.