Mengenal Jenis Konten


Mengenal jenis konten sebenarnya sangat mudah. Postingan kali ini akan melanjutkan kelas membuat konten beberapa waktu lalu. Kalau kemarin sudah dibahas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membuat  konten yang direncanakan maka postingan ini lebih kepada pembagian konten.

Seperti yang kita tahu bahwa sosial media akan berubah jadi ‘rumah kosong’ tanpa adanya postingan. Postingan atau konten itu juga enggak bisa sembarangan untuk kita yang ingin mencitrakan diri di sosial media. Coba bayangkan saja, kamu buka sebuah akun Instagram, mana yang akan kamu follow: akun yang isinya gak jelas apa konsepnya atau akun yang rapi dengan gambar yang tampak dipikirkan setiap detailnya?
Kalau saya tentu pilih akun yang kedua.

Begitu pun dalam membaca website. Website yang dibuat dengan konsep jelas akan lebih banyak mendatangkan traffic dibanding website abal-abal.

Yuk kita bahas konten yang bisa dibuat.
Secara umum jenis konten yang bisa kita ciptakan ada dua jenis. Yaitu:
1. Konten yang lagi trending
2. Konten yang Evergreen

Apa sih itu konten trending mau pun konten evergreen?

KONTEN TRENDING
Namanya trending ya berarti adalah konten-konten yang sedang naik daun atau viral. Maka konten kita akan mengacu pada hal tersebut.

Contohnya: kemarin lagi viral Prince Mateen maka kita nulis tentang itu atau pas sekarang ini lagi dihajar drakor World of the married. Atau masalah virus Corona sampai disinfektan yang enggak kelar-kelar. Satu tema bisa jadi lebih dari sepuluh tulisan.

Ya sudah jadikan hal-hal itu sebagai konten disesuaikan dengan citra atau niche sosial media kita.

Membuat konten trending sebenarnya tidak terlalu susah. Tinggal membahas hal yang lagi trend. Kelemahannya terletak pada waktu postingan itu di-upload. Kalau sudah lewat masa trending maka akan tampak basi.

KONTEN EVERGREEN
Atau biasa disebut konten timeless. Ciri dari konten ini adalah abadi sepanjang masa. Bisa dipublish kapan saja dan enak dibaca sewaktu-waktu bahkan untuk bacaan dua tahun lagi masih menyenangkan juga relevan.

Contohnya cerita tentang kesuksesan para difabel dalam menjalankan UMKM. Biasanya kalau dalam tulisan panjang konten jenis ini akan cocok masuk dalam jenis tulisan inspirasi atau feature.

Setelah tahu jenis konten dan persiapan membuat konten yang direncanakan, maka selanjutnya adalah menentukan judul.
Postingan selanjutnya akan membahas bagaimana kita membuat judul. Nantikan saja postingan selanjutnya.

Merencanakan Konten Sosial Media

Jika ditanya, apa yang paling identik dengan kamu (anak muda), maka saya yakin jawabannya tidak jauh-jauh dari seputar sosial media. Instagram, Facebook, Twitter, Tik Tok, YouTube, dan lain sebagainya.

Facebook adalah media sosial yang paling gampang dipelajari pula menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak kecil sampai kakek nenek, dari kaum perkampungan sampai urban. Hanya saja daya tariknya semakin hari semakin melemah sejak kehadiran Instagram. Meski begitu bukan berarti Facebook sudah tidak digemari. Indonesia masih tercatat sebagai pengguna aplikasi Facebook dengan jumlah besar.

Twitter dulu sempat booming, namun perlahan goyah dan akhirnya setelah peremajaan kini dia eksis kembali. Penggunanya berbondong ‘pulang kampung’, Twitter jadi satu media yang kembali digandrungi banyak orang. Apa yang ingin diviralkan akan lebih cepat tersiar lewat Twitter dibanding media lain.

Instagram dan tik tok, kurang begitu familiar untuk mereka yang berada di ‘pinggiran’. Dua aplikasi ini memang dikenal cukup berkelas. Bahkan tidak jarang dijuluki ‘tempat untuk pansos’. Etalase pamer. Diam-diam banyak yang kurang percaya diri untuk mengisi Instagram karena dirasa tidak menarik, tidak berkelas atau dianggap tidak menjual.
Padahal sama dengan media sosial yang lain, baik instagram mau pun tik tok adalah media untuk berekspresi dan saling sapa. Meski tidak bisa dihindari, semua media sosial juga bisa jadi alasan sebuah konflik.

Kunci dari sosial media tentu saja konten. Apa pun aplikasinya, yang kita posting di situ disebut konten. Yang perlu digaris bawahi, konten yang kita buat itu apakah konten baik, positif dan berkualitas atau justru sebaliknya?
Tidak jarang, niat kita baik menciptakan konten tapi ditanggapi berbeda oleh netizen.

Semalam di kelas online sosial media, saya mencatat beberapa hal berkaitan dengan konten. Semua anggota kelas online setuju bahwa konten baik, positif dan berkualitas sangatlah penting. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa konten menjadi salah satu gerbang untuk bertemu patner/ klien. Sebagian yang lain beranggapan konten yang dishare di media sosial adalah citra dari si pemilik akun. Konten di sosial media menjadi satu identitas bagi seseorang.

Personal branding seseorang bisa dibangun melalui unggahan konten di sosial media. Saya sepakat dengan ini.
Baik itu sosial media pribadi mau pun sosial media komunitas/ instansi. Tidak jarang sebelum berkenalan atau  memulai kerjasama, kita saling cek sosial media yang bersangkutan.

Era influencer dimulai dari semenarik dan sekuat apa media sosial seseorang. Brand tidak akan dengan ceroboh asal memilih akun untuk jadi mitranya dalam memasarkan produk.
Kadang kala akun kita tidak terpilih bukan karena postingannya yang buruk atau kurang menarik. Namun lebih kepada kita yang belum punya ciri khusus.

Ada beberapa hal yang sudah saya catat tentang bagaimana menciptakan konten yang menarik perhatian khalayak. Hal-hal dasar ini bisa dipraktikkan jika kita memang ingin menjadikan sosial media sebagai satu wadah identitas diri.
Kunci konten yang baik adalah konten yang direncanakan, begitu menurut Kak Wardah selaku social media associate  CFDS.

Berikut hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menciptakan perencanaan konten, yaitu: menentukan bahasan media sosial, menentukan tujuan dari media sosial, dan terakhir mengenal media sosial yang ingin dipakai.
Persis seperti yang tertulis di awal postingan ini, bahwa sosial media baik itu Twitter, Facebook, Instagram, tik tok dan lain sebagainya, adalah punya karakter sendiri-sendiri.

Jika kita sudah tahu media apa yang dipakai, untuk apa konten itu dibuat pula tema apa yang kita ambil, maka akan mudah untuk membuat kontennya.
Setelahnya baru kita promosikan hasil karya kita.
Bagaimana caranya? Next time akan ada postingan lanjutan di website ini.

Menangkal Radikalisme dengan Pendekatan Literasi Kampung

Tentu kita sudah merasakan dampak radikalisme akan hadirnya sosial media. Selain semua dapat dengan mudah diakses, masyarakat juga disuguhkan dengan berbagai pengetahuan yang tidak layak konsumsi di dalamnya. Tentu hal ini akan melahirkan pemahaman yang sangat minim kepada setiap orang, karena ia hanya disuguhkan pemahaman yang belum tentu ada kebenaran yang mutlak.

Perihal inilah yang seharusnya menjadi sorotan bersama, bagaimana menanggulangi kebocoran tersebut. Tentu salah satu alasan mendasar ialah terlalu banyak orang yang mengkonsumsi gadget, tetapi ia tidak sepenuhnya menguasai dunia maya yang semakin canggih, alhasil banyak sekali pemahaman yang keliru yang di dapat di dalam dunia maya tersebut. Terlebih banyak survey juga sudah mencatat, bahwa minta baca anak Indonesia masih sangat minim.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Mohammad Nasir menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Menristekdikti), pada 2018 dan 2019 dalam bidang sains Indonesia berada pada urutan 62 dari 72 negara, sedangkan dibidang matematika Indonesia berada di 64 dari 70 negara. Dirinya menyayangkan adanya gerakan membaca yang redup dilakukan oleh masyarakat, yang dapat berpengaruh ke segala aspek peringkat pendidikan Indonesia di kancah internasional. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Maman Suherman, yang mengungkapkan, kondisi masyarakat Indonesia terhadap minat baca sangat memprihatinkan khususnya di era perkembangan teknologi komunikasi.

Menangkal radikalisme dengan literasi kampung
Menangkal radikalisme dengan literasi kampung

Kadar kehidupan yang demikianlah yang seharusnya menjadi perhatian, gerakan literasi harusnya tidak hanya berada di area kampus. Harus ada jaring-jaring yang mensuport anak kampus untuk terjun ke lapangan, pelosok-pelosok desa untuk menyebarkan gerakan literasi tersebut, membiarkan penyuluhan tentang pentingnya membaca dan bahaya radikalisme. Karena seperti yang sudah kita ketahui, bahaya radikalisme bisa mempengaruhi keutuhan bangsa kalau tidak di tangani dengan cermat dan benar.

Fakta yang pernah saya alami sebagai seorang pelosok yang kebetulan bisa menikmati pendidikan di kota, menemukan sebuah kejanggalan, bahwa budaya kehidupan yang terjadi baik dari remaja sampai dengan sebagian anak yang masih kecil sudah dengan lihai mengendalikan gadget. Yang menjadi problem di sini bukan tentang bagaimana seseorang menggunakan gadget tersebut, tetapi bagaimana dirinya akan dengan mudah terserang radikalisme online, karena dirinya belum sepenuhnya mengetahui dunia maya.

Di sini saya juga menemukan pemandangan, bagaimana daya baca yang sangat minim dalam kesehariannya. Setiap hari hanya disibukkan dengan gadget tanpa adanya pengetahuan baru, pun gadget yang dipegang hanya digunakan Facebook, IG, dan media sosial lainya, tanpa mempedulikan bahaya akan hal tersebut. Sedangkan ketika kita membaca sejarah yang panjang, membaca adalah salah satu membuka jendela dunia. Kita bisa membuka wawasan yang lebih luas, tidak hanya dalam ruang lingkup lokal, ataupun Indonesia semata, kita bisa memahami bagaimana sejarah kehidupan ini berlangsung, hingga kita akan memahami bagaimana radikalisme itu sangat tidak cocok untuk kehidupan di Indonesia.

Tulisan ini sebenarnya ingin mengutarakan, bahwasanya perlu kiranya sebuah terobosan tentang literasi kampung. Seperti misalnya memberikan perpustakaan di desa-desa, dengan tujuan menjunjung nilai-nilai keindonesiaan yang ada. Agar masyarakat desa tidak hanya disibukkan dengan kehidupan yang monoton. Pun dengan adanya ruang baca ini, tentunya masyarakat akan menemukan inovasi baru bagaimana memajukan Indonesia melalui kampung-kampung.

Sejalan dengan itu, penyuluhan tentang bahaya radikalisme seharusnya juga senantiasa disuarakan. Agar orang kampung bisa memahami mana yang perlu diprioritaskan untuk menjaga keutuhan bangsa. Sebab kerap kali unsur radikal disebarkan dengan mengatasnamakan agama. Sedangkan ketika kita berkaca pada keadaan yang sebenarnya, orang pelosok desa sangat kental dengan agama dibandingkan kedekatannya dengan negara.

Kerap kali kita hanya memahami bahwa benda Indonesia itu merah putih tanpa tau detail makna sejarahnya. Indonesia itu ada Pancasila tapi kita tidak tau tujuannya, karena kita selalu menganggap apa yang kita anut lebih benar dari pada yang dianut orang lain. Inilah alasan mengapa budaya membaca dan penyuluhan tentang Radikalisme di Indonesia itu penting. Khususnya bagi masyarakat yang berada di pelosok desa. Dan untuk menjaga kestabilan desa, sudah seharusnya dunia membaca di kembangkan di sini. Dan pemerintah memberikan support buku yang memadai, baik dalam ajaran beragama, sejarah Indonesia, dan tentunya tentang persatuan Indonesia yang di dalamnya banyak perbedaan.