Pelajaran dari Kartini di Masa Pandemi

Memasuki masa sepertiga terakhir bulan April. Dunia masih saja diselimuti oleh pandemi. Pandemi yang disebabkan oleh virus kecil tak kasat mata bernama corona. Keberadaannya bukan saja mengancam nyawa manusia, kehadirannya turut mengubah tatanan kehidupan manusia. Ekonomi terpuruk, kesehatan terenggut, hubungan sosial terbatasi. Manusia diterpa ketakutan yang mendalam.


Di situasi mencekam semacam ini, manusia membutuhkan harapan. Memerlukan secercah ketenangan batin, agar ketakutan dapat sirna di dalam jiwa. Dalam menumbuhkan harapan tersebut, manusia perlu aktif berjuang memperbaiki keadaan.


April menjelang akhir, manusia diajarkan agar dapat menyulut semangat perjuangan. Manusia ditarik untuk kembali merangkak dari lumpur ketakutan melalui peringatan lahirnya Kartini.


“Habislah Gelap Terbitlah Terang”
Untaian kalimat filosofis yang mengajak siapapun untuk percaya bahwa sesudah kelabu akan hadir mentari di ujung sana jika tetap melangkah. Kartini mempercayai itu. Kepercayaan yang membawa harapan baru di tatanan masyarakat di zamannya hingga kini. Perempuan tidak lagi dikungkung adat. Perempuan dapat bebas bersekolah, mengejar asa. Perempuan kini memiliki derajat yang sama dengan lelaki.
Pengejawantahan semangat Kartini di masa-masa pandemi seperti saat ini dapat diwujudkan dengan tidak mengubur harapan. Terus berharap dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengeluarkan manusia dari jerat kecemasan.


Maka dalam riak ketakutan yang terur bergejolak, tugas manusia adalah terus berjalan. Melangkah meperjuangkan hidup, asa, dan cinta. Sebagaimana Kartini yang terus berjuang melawan ketidakadilan dan diskriminasi.

Sebagaimana Kartini yang berani mendobrak tradisi melalui tulisan-tulisan penanya. Manusia harus terus melukiskan harapan di masa-masa pandemi ini. Saling tolong melolong untuk mereka yang membutuhkan. Tetap diam di rumah demi meminimalisir resiko penyebaran. Adalah sedikit tindakan yang dapat dilakukan di situasi pilu saat ini. Tanpa mengeluh, dan terus bergerak.

Baca juga ini kebencian tidak akan membawa kebahagiaan


Tekad yang gigih, bukankah itu yang diajarkan oleh kisah Kartini. Mendobrak pemikiran kolot tentang fungsi dan perempuan di mata lelaki. Maka, tugas manusia di masa pandemi adalah mendobrak rasa takut dan cemas yang menyelimuti tubuh. Agar kabut bukit bernama corona ini segera berlalu.
Sebagaimana setiap manusia pernah mengalami masa kegelapan dari rahim ibunya, dan menemukan terangnya kehidupan pasca ia dilahirkan. Maka, di sanalah kehidupan tercipta. Gelap akan senantiasa menemukan terang.


Di penghujung April, ketika masa depan tak tahu rimanya seperti apa. Kala ketakutan bertebaran di atap-atap negeri. Di mana harapan menjadi satu-satunya teman umat manusia. Semoga masa-masa kegelapan ini segera usai dan esok ada terang yang siap menyambut. Dan manusia tidak berhenti melangkah guna memperjuangkan kehidupan. Seperti Kartini yang tidak pernah lelah melawan gelap untuk menyambut terang.

Lebaran Dan Anomali Pakaian Baru

Lebaran adalah momen istimewa. Karenanya, sanak saudara kembali berkumpul. Momen yang menghadirkan ruang bertemu kepada siapa saja yang ditelan rindu. Sejauh apapun jarak yang ditempuh dan sepadat apapun kesibukan yang melanda, lebaran akan selalu menarik diri untuk berjumpa dengannya. Sebab di sana, ada mereka yang telah lama menunggu pulang.

Lebaran juga perayaan bagi mereka yang usai menuntaskan ego. Di dalamnya ego terkikis dengan bara ramadhan sebulan penuh. Lebaran adalah puncak perjuangan dan ruang kebahagiaan. Memfitrahkan kembali manusia ke hakekat awalnya. Tabula rasa, bersih seperti kertas putih.

lebaran
Lebaran dan pakaian baru

Di Indonesia, tradisi lebaran dirayakan dengan beragam cara. Paling umum, tradisi sungkeman kepada sesepuh di dalam keluarga, biasanya Kakek-Nenek. Lalu ada pula tradisi berkunjung. Tiap daerah punya namanya sendiri. Intinya saling berkunjung dan bermaaf-maafan kepada keluarga, kerabat, tetangga, hingga kawan sepermainan.

Satu lagi sebenarnya yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia ketika lebaran tiba, yakni membeli baju baru. Menjelang hari H, masyarakat ramai berbondong-bondong menuju toko-toko yang menawarkan diskon. Biasanya, sepuluh malam terakhir tempat perbelanjaan akan sesak dengan kerumunan masa. Pada hari-hari itu, diskon membludak dengan gila-gilanya. Momen yang tidak mungkin dilewatkan masyarakat Indonesia.

Tradisi ini sebenarnya tidak lahir tiba-tiba demi memuaskan nafsu berbelanja. Ia datang sudah sejak lama. Sejarah Indonesia mencatat bahwa tradisi ini dimulai sejak Kesultanan Banten berdiri. Pada saat itu ketika lebaran tiba, masyarakat merasa perlu mengenakan pakaian baru karena lebaran dianggap sebagai momen sakral. Bahkan petan-petani saat itu banyak yang beralih profesi menjadi tukang jahit demi pakaian baru di Hari Raya. Hingga kini, tradisi itu terus turun temurun menjamur di kalangan masyarakat Indonesia.

Esensi mengenakan pakaian baru secara tidak sadar di beberapa tempat mengalami pereduksian. Orang-orang kini hanya mengejar eksistensi semata. Yang penting punya baru dan bisa dipakai saat lebaran. Kemenangan yang seharusnya sudah diraih karena hati telah dicuci sebulan penuh kembali menuai godaan. Godaan untuk memamerkan, godaan bersuka riya di medsos, godaan untuk mencibir mereka yang tidak mengenakan pakian baru. Kemuliaan Lailatul Qadr tidak mengapa digadai dengan diskon yang menggiurkan dompet.

Padahal kebaruan pakaian di saat lebaran adalah simbol atas kebaruan diri yang sudah berjuang mengalahkan diri sendiri saat Ramadhan. Tanda atas kemenangan bukan kesombongan. Bukti bersama orang-orang sekitar pula yang suka cita merayakan kebahagiaan saat berkumpul. Karena yang terpenting sebenarnya bukan seberapa baru apalagi mahal pakaiaan yang melekat di badan, melainkan seberapa pantas kita melekatkan makna baru (fitrah) pada diri kita saat lebaran. Sebab kebahagiaan tidak melulu berbicara tentang hal-hal baru yang materialistik, ia bersumber jauh dari dalam lubuk sanubari.

Reduksi atas makna kebaruan diri tidak lepas dari roda zaman yang terus berputar. Ranah materialistik yang semakin menjamur bisa jadi menjadi salah satu sebabnya. Simbol-simbol yang dianggap mampu merepresentasikan keimanan seseorang dipercayai sebagai manifestasi atas kecintaan kepada Tuhan. Padahal hidup bukanlah perkara simbol semata. Hidup adalah pemaknaan atas perintah-Nya yang diwujudkan bukan sebatas simbol tetapi juga pada perkara tindakan dan ucapan.

Filosofi kebaruan ini apabila diresapi secara mendalam, maka niscaya akan melahirkan kedamaian. Terlebih lagi di Indonesiayang baru-baru ini melewati fase-fase kritis. Bencana yang datang berturut-turut, tensi politik yang kian memanas, hingga aksi kekerasan dan teror yang melanda negri.

Oleh karenanya, sangat disayangkan di hari kemenangan nanti kita masih berpikiran sempit dan hanya terkungkung pada pikiran harus punya pakaian baru. Tindakan yang harus kita lakukan ialah bagaimana sebisa mungkin meresapi proses Ramadhan yang telah dilalui. Menghadirkan kedamaian dan menghilangkan kebencian di dalam dada. Sebagaimana Nabi dan Para Sahabat yang dahulu melakukan perayaan Lebaran ketika ahun Kedua Hijriah sesaat setelah menang di Perang Badar. Mereka begitu suka cita, bukan hanya karena menang kala perang tetapi juga karena telah menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Maka, lebaran sesungguhnya adalah membarukan niat dan diri. Melepaskan benci yang tersimpan di dada. Merelakan masa lalu yang menghantui di benak pikiran. Bukan terjebak pada anomali pakaian baru. Sebab lebaran adalah tempat bagi orang-orang yang berbahagia.

Imaduddin Fr – Duta Damai BNPT

Pemerintah(an) dan Agama

Mari berandai-andai, bagaimana ketika dunia tempat yang kita singgahi berada dalam keadaan alamiah (natural), sebuah dunia tanpa adanya pemerintahan?

Pemerintah(an) adalah sebuah istilah yang disematkan kepada sebauh entitas yang luas yang dikelola oleh institusi-institusi politik: pemerintah pusat, pemerintah daerah, polisi, pengadilan. Berbagai macam institusi tadi mendistribusikan dan mengelola kekuasaan politik. Tugasnya yakni menempatkan siapa saja yang pantas menduduki jabatan, lalu orang-orang ini mengklaim diri mereka sebagai pemilik atas hak dalam memerintah dan membuat kebijakan. Apabila tidak mematuhi aturan yang dibuat, maka akan tertangkap lalu dihukum. Kehidupan kita secara tidak sadar dibentuk dan dikontrol dalam genggaman keputusan yang dibuat orang lain. Campur tangan politik semacam ini tampaknya tidak bisa terhindari. Suka tidak suka, mau tidak mau, eksistensi manusia akan selalu berbenturan dengan eksistensi manusia lainnya.

Keberadaan pemerintah kerap kali dituduh sebagai biang keladi atas segala problematika yang muncul. Kematian, kelaparan, kemiskinan, adalah sedikit hal yang terus menerus terjadi karena pemerintah yang dinilai tidak becus. Orang-orang yang bergelut di dalam pemerintahan menggunakan kekuasaan yang menempel padanya hanya untuk kepentingan golongan.

Lantas pertanyaan selanjutnya yang menarik untuk diajukan adalah apakah keberadaan pemerintah justru menjadi lumbung terciptanya kekerasan? Sumber dari mengalirnya kemiskinan? Cikal bakal munculnya para pelaku koruptor? Terkadang manusia justru hidup semakin baik manakala hidup secara kolektif. Artinya manusia membangun interaksi sosial satu sama lain secara berkelompok. Idealnya suatu kelompok, maka tiap individu memiliki perannya masing-masing. Dalam hal ini, suatu ‘pemerintahan’ terbentuk secara alamiah sama halnya dengan manusia.

Keberadaan pemerintahan yang kuat sebenarnya adalah untuk menjamin agar kita semua yang hidup di dalamnya tidak tergelincir ke dalam peperangan antar sesama. Ketika tidak ada pemerintahan, tabiat dasar manusia pasti akan membawa manusia pada konflik yang keras. Manusia memiliki insting untuk mempertahnkan hidupnya. Tidak ada sebuah sistem yang mengatur akan membuat kekacauan. Hal ini karena manusia didorong ketakutan terhadap kematian.

Ada dua kunci untuk memahami situasi ini. Pertama, memahami bahwa segala persoalan yang timbul di dunia selalu bermuara kepada manusia. Sejatinya, manusia terlabih dahulu harus mengintrospeksi diri secara jujur terhadap dirinya mengenai siapakah manusia itu sebenarnya. Lalu jika hal tersebut telah selesai, maka beranjak kepada level berikutnya. Bagaimana kemudian memahami manusia yang tergabung dalam masyarakat politik, manusia sebagai warga negara. Kunci kedua, yakni mengetahui motif apa yang menggerakkan manusia baik secara personal maupun sosial. Dalam melakukan suatu tindakan manusia senantiasa didorong atas nilai-nilai. Nilai ini yang kemudian menjadi sumber apakah perbuatan seseorang baik atau buruk.

Kalau kita kembali melakukan sebuah asumsi, seharusnya nilai tertinggi yang menjadi motif dibalik tingkah laku manusia adalah nilai yang tidak lagi melihat enak atau tidaknya sesuatu, sakit atau tidak, berat atau ringan, ada suatu dorongn sejati yang menggerakkan seorang manusia untuk bertindak. Kita sering menyebut nilai ini dengan agama. Dalam diri manusia ada insting keberagamaan. Di sana tersimpan bermacam-macam emosi manusia, mulai dari rasa tkaut, harap, cemas, cinta, kesetiaan, pengagungan, penyucian dan beragam emosi yang menghiasi jiwa manusia. Emosi itu adalah dorongan bagi manusia untuk melakukan hubungan antar jiwa dengan sesuatu kekuatan yang diyakini sebagai Maha Agung.

Maka, dari sini seharusnya kita dapat mengetahui sumber dari pemerintahan yang buruk adalah tidak adanya agama sebagai pegangan hidup. Sebelum mengenal peradaban seperti sekarang, meski tidak menamakan diri sebagai sebuah ‘pemerintahan’, manusia berbondong-bondong dalam satu kelompk yang terstruktur menempuh jalan untuk mencari kekuatan yang Maha Agung ini, meski nama yang disandang berbeda-beda, seperti Penggerak Pertama, Yang Mahamutlak, Pencipta Alam, Kehendak Mutlak, Yang Mahakuasa, Yahwa, Allah, dan sebagianya. Itu mengapa tiap agama datang membawa dan mengajak pada kedamaian: salam, syalom, assalumaalikum. Semua bermakna pada pesan kedamaian. Damai memiliki konotasi yang mendalam. Artinya kehidupan harmonis tanpa saling menyakiti dan memberi gangguan.

Kedamaian tidak hadir jika hanya seorang saja. Ia justru lahir karena adanya manusia lain yang turut memahami satu sama lain sehingga menghasilkan apa yang disebut damai. Damai hanya terjadi ketika individu tergabung dalam suatu kelompok. Makna damai artinya kita bermunajat bahwa tiap-tiap manusia mendapat keselamatan.

Kembali ke pertanyaan di awal, maka jawabannya adalah tidak bisa. Karena hidup berkelompok adalah insting manusia yang tidak dapat dilepaskan. Hal ini bagian dari hakekat manusia sebagai manusia bertuhan yang memerlukan pencarian terhadap sesuatu yang Maha Agung dengan melibatkan manusia lainnya. Sehingga pemerintah yang mendasari agama sebagai pijakan, terlepas dari agama manapun, sejatinya menjamin keselamatan tiap-tiap warga negaranya. Karena ada tanggungjawab penuh yang akan dikembalikan kelak kepada yang Maha Agung.

Puasa dan Pengendalian Diri

Segala sesuatu yang menjadi respon diri terhadap dunia luar selalu bermuara pada diri sendiri. Kebahagiaan, kesedihan, rasa sakit, amarah, dimulai dari diri sendiri. Bukan hubungan pekerjaan, bukan uang, bukan kekuasaan yang membangun itu semua. Tapi diri sendiri yang mencipatakn semua sensasi itu.

Yang tetap bisa menjalani hidup dengan penuh suka cita di tengah keterbatasannya. Ada pula yang hidupnya begitu tersiksa dikejar-kejar rasa bersalah meski memiliki segalanya. Maka, semua yang berasal dari luar diri kita hanyalah perantara untuk menjadikan hidup kita menjadi ‘hidup’. Bermakna dan meninggalkan kesan terbaik bagi diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.

Adalah bagaimana kita bisa mengelola diri kita dengan arif dan bijaksana. Menjadikan dunia hanya sebagai wadah, kehidupan yang sementara sebagai substansinya, usia sepanjang hayat menjadi metodanya, dan targetnya adalah jangkauan transenden yang disebut akhirat.

Pointnya adalah bagaimana kita mampu untuk mendamaikan pikiran dan hati agar berjalan beriringan. Sehingga kita bisa mengendalikan akal untuk berpikir secara sehat dan hati dapat menjadi tempat bersemayanya intuisi (akhlak) yang memunculkan tindakan-tindakan sukarela, tindakan benar atau salah. Jika diri tidak dibina dengan pembinaan yang proposional, maka kita hanya akan tenggelam dalam kesenangan semu dan keinginan tak terbatas. Kehadiran kita hanya akan menjadi benalu di setiap tempat.

Yang terkelola dengan benar adalah representasi dari lingkungan dia berada. Maka, jadikan keluarga sebagai lingkungan yang nyaman, bergaullah dengan teman-teman yang menghadirkan kebaikan di dalamnya, bergurulah dengan mentor (guru) yang tepat, pelajari hal-hal yang sesuai passion. Dengan demikian akan melahirkan informasi-informasi yang kemudian direspon oleh pikiran dan disampaikan kepada tubuh sebagai eksekutornya.

Itu mengapa manusia diperintahkan untuk berpuasa wajib sebulan penuh. Bukan untuk Tuhan, karena Tuhan sudah terlalu Maha Besar untuk urusan sepele seperti manusia, melainkan keberadaan puasa justru untuk manusia itu sendiri. Puasa adalah seni mengelola rasa untuk mengasa asa nurani pada manusia. Pekerjaan menahan tumpah ruahnya keinginan, atau usaha mengendalikan kebiasaan melampiaskan. Pada tesis yang lebih jauh, puasa adalah usaha konstruktif untuk membangun relasi sosial.

Mengajarkan kita untuk pandai dalam memilah. Seperti halnya dalam berbuka, tidak semua makanan yang terhidang disantap habis. Dan, tidak semua makanan layak menjadi teman berbuka. Ada skala prioritas, menyeusaikan kondisi finansial, kesehatan, dan juga kondisi perut. Puasa melatih manusia untuk menaklukkan kesenangannya. Dengan begitu, kita sebagai manusia akan memilah segala infromasi yang hadir disekitar.

Puasa adalah sebuah metode untuk memelihara asupan yang baik bagi pikiran dengan informasi positif dan tindakan bermanfaat. Sebab hidup adalah apa yang dibuat oleh pikiran. Kala seseorang merasa malas mengerjakan tugasnya, maka hidupnya tidak akan jauh-jauh dari kemalasaan. Jodoh akan malas menghampirinya, rejeki akan malas mendatanginya, pekerjaan akan malas memilihnya, hingga orang-orang akan malas bertemu dengannya lagi. Seseorang adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari. Jika mampu merekonstruksi pikirannya dengan siifat rajin mislanya, maka tubuhnya akan ikut merespon untuk melawan rasa malas.

Puasa melatih menjauhi sifat-sifat semacam itu. Membangun mental baja, dimulai dari bangun sahur di sepertiga malam. Karena kita pada dasarnya menyenangi nyenyak, atau kenyang, tapi kita tidak diperkanankan melakukan itu sepuasanya. Puasa mengerem keinginan-keinginan tadi dari subuh hingga magrib.

Pepatah bijak pernah mengatakan bahwa kita bukan apa yang kita pikir diri kita, melainkan apa yang kita pikir, itu diri kita. Sebuah pernyataan filososif yang mengandung makna mendalam. Yang memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya kitalah yang menjadi raja atas diri kita sendiri. Pikiran kita yang memegang kendali mau dibawa ke mana hidup kita. Lalu, puasa datang untuk mengosongkon pikiran dari kotoran yang terhimpun selama sebelas bulan terakhir. Untuk kembali menjadikan pikiran kita raja atas diri kita, bukan raja atas nafsu.

Pikiran agar menghasilkan kerangka yang jernih dalam mengelola informasi yang masuk harus didukung dengan hati yang bersih. Dan lagi-lagi, puasa akan menghadirkan hati yang terawat. Hati yang akan melahirkan sifat-sifat terpuji yang menjadi trade mark-nya perbuatan-perbuatan yang muncul.

Sehingga diri yang dapat mencapai titik tersebut akan memiliki kekuasaan sejati. Kekuasaan atas diri sendiri – kekuasaan atas pikiran, kekuasaan atas ketakutan, dan kekuasaan atas akal dan jiwa. Sebab tidak ada yang dapat mebuat kita dami, kecuali diri kita sendiri.

Dengan begitu, meski ditimpa kondisi apapun diri dapat merespon dengan tepat. Walau dilanda musibah, maka seseorang yang mampu mengelola diri dengan baik tidak akan berlarut dalam kesedihan terlalu lama. Ia akan bangkit dan bergerak kembali melanjutkan hidupnya. Karena pikiran dan hatinya telah menuntunnya untuk memaknai hidup dengan lebih berarti.

Imaduddin Fr – Duta Damai BNPT