Perdamaian di Era Global

perdamaian

Perdamaian di Era Global

Selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya, manusia hidup dalam lintasan konflik dan perang. Mulai dari adu kekuatan fisik hingga adu kekuatan non-fisik. Manusia tidak berhenti untuk bertikai untuk mencari kekuasaan dan kedigdayaan atas manusia lainnya.

Kini, manusia berkonflik dengan beragam rupa dan bentuk. Terbaru, manusia tidak lagi berperang dengan menggunakan senjata atau adu jotos. Manusia melemparkan serangan dengan kata dan cuitan. Dampaknya, yang terluka bukan sekadar raganya saja melainkan yang diserang adalah jiwanya. Mentalnya terbunuh oleh serangan tak kasat mata. Dewasa ini, perang menjelma menjadi apa dan di mana saja.

Maka, di abad 21 ketika segala batas-batas negara menjadi lebih relatif, menghadirkan perdamaian adalah kunci menjaga keseimbangan antara ruang realitas dan digital. Perdamaian di satu sisi tidak sekadar dipahami sebaga sebuah kondisi di mana tidak ada perang. Memaknai kata perdamaiaan di era globalisasi setidaknya mampu menembus batas budaya dan politik. Sehingga perdamaian di zaman modern sejalan dengan pemikir Kant, bahwasanya membutuhkan aturan dari hukum-hukum yang adil baik di negara, antar negara, dan antar negara dan orang asing, dan menjadikannya situasi yang diterima secara global.

Namun, di saat bersamaan, ketika dunia semakin global dan terbuka malah timbul sebuah paradoks. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang turut menciptakan ruang dan waktu yang begitu fleksibel sehingga memungkinkan proses komunikasi terjalin dengan begitu mudah, singkat, dan murah, mebentuk sebuah ironi baru. Diskriminasi yang terjadi mengatasnamakan rasa, suku, agama, dan etnis malah semakin marak. Bahkan banyak masalah sosial justru berakar dari keterbukaan yang semakin transparan. Ketika dunia sudah semakin terbuka dan bergerak maju, justru kelompok-kelompok sempit dan menyulut pertikaian ikut berkembang pesat.

Masifnya konfik dan pertikaian yang terjadi baik dunia nyata maupan maya menjadi sebuah indikasi bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak diimbangi dengan perkembangan keutamaan diri manusia. Dalam hal ini, berkembangnya infrastruktur fisik di era globalisasi tidak diiringi dengan perkembangan mental spiritual manusia. Hal ini yang menyebabkan ketimpangan peradaban global dunia.

baca juga : Menghindari Jebakan Dunia Maya

Sekiranya manusia tidak ingin berakhir dalam suatu bencana global, maka manusia harus terbuka untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang tidak menafikkan peranan teknologi dengan pemahaman bahwa manusia adalah makhluk sosial yang bermoral.

Berikutnya, perdamaian hanya mungkin terjadi apabila masing-masing orang memulai untuk menemukan kedamaian di dalam hatinya. Terdengar klasik dan kuno, namun inilah kenyataannya. Sebab gemerlap globalisasi cenderung menutup akal budi manusia untuk berpikir lurus. Manusia terjebak dengan hal-hal semu sehingga mudah untuk terprovokasi.

Maka, ketika manusia mulai menumakan kedamaiaan di dalam hatinya dan memahami peranannya sebagai makhluk sosial, perdamaian akan hadir sebagai akibat dari konsekuensi logis kesadaran moral manusia. Dengan begitu, manusia akan saling terhubung satu sama lain untuk membangun ruang yang adil berdasarkan aturan bersama baik di antara kalangan sendiri, hingga meluas menembus batas antar negara.

Dengan begitu, perdamaian bukan semata-mata hal utopis semata. Melainkan suatu kondisi nyata di mana manusia hidup dalam tatanan global dengan rasa aman dan nyaman

Share this post

Comments (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.