Prambanan Jazz Festival 2020 Digelar Virtual Akhir Oktober

Tengah Co-Founder Prambanan Jazz Festival, Bakkar Wibowo. Kanan Direktur Utama Rajawali Indonesia TOvic Raharja. Kiri Ovie Ermawati
Tengah Co-Founder Prambanan Jazz Festival, Bakkar Wibowo. Kanan Direktur Utama Rajawali Indonesia, Tovic Raharja. Kiri Ovie Ermawati

Prambanan Jazz Festival 2020 (PJF) akan tetap terselenggara di Candi Prambanan pada 31 Oktober dan 1 November 2020. Namun karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda, terlebih melonjaknya angka kasus Covid-19, membuat Rajawali Indonesia selaku promotor acara ini, hanya mendapatkan izin pertunjukan secara virtual. Sebelumnya, Prambanan Jazz Festival 2020 (PJF) direncanakan digelar pada 3-5 Juli 2020 dan harus diundur karena adanya pandemic Covid-19.

Duta Damai Yogyakarta berkesempatan menghadiri acara press conference yang diadakan pada 1 Oktober 2020 di kantor Rajawali Indonesia. “Kami turut prihatin dengan terus melonjaknya angka kasus Covid-19, namun kami ingin tetap menghadirkan PJF 2020 di tengah keterbatasan. Dengan berat kami sampaikan kepada #PJFLovers jika PJF 2020 tidak akan hadir secara offline,” ujar Anas Syahrul Alimi selaku Founder Prambanan Jazz Festival.

Menurut Anas, keputusan ini adalah langkah terbaik yang bisa ditempuh pada saat ini. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada #PJFLovers dikarenakan belum bisa menggelar penghelatan secara offline.

Selain itu, Bakkar Wibowo selaku Co-Founder Prambanan Jazz Festival menyampaikan “ Prambanan Jazz Virtual Festival 2020 akan digarap oleh Tompi untuk visual broadcastingnya. Seorang musisi yang akhir-akhir ini kerap menggarap film layar lebar sebagai film director atau sering didapuk menjadi video music director.”

Tulus, Fourtwnty, Isyana Sarasvati, Joko In Berlin, Pusakata dan Tompi yang akan mengisi pada hari pertama 30 Oktober 2020. Untuk hari ke dua 1 November 2020 yang akan mengisi adalah Andmesh, Ardhito Pramono, TheEverydayBand, Nadin Amizah, Pamungkas, Sinten Remen, dan Yura Yunita yang  akan menampilkan penghelatan musik bergengsi ini. Mereka akan membawakan lagu-lagu mereka dalam jazz version.

Direktur Utama Rajawali Indonesia Tovic Raharja menuturkan, untuk pertama kalinya PJF menggandeng musisi asal Yogyakarta yang tergabung dalam TheEverdayBand. Merekan mengaransemen dan membuat lirik lagu “Ke Prambanan Jazz Lagi” sebagai tema lagu.

“Ini jadi upaya untuk terus mempromosikan Yogyakarta dan sebuah harapan untuk bisa menyaksikan Prambanan Jazz kembali secara langsung nantinya,” tutur Tovic.

Pramabanan Jazz Virtual Festival 2020 tidak ada musisi atau artis dari luar negeri. Pada saat acara hanya akan ada kru yang bertugas dan musisi/artis yang akan menghadiri venue secara bergantian sesuai dengan rundown.

Standar protokol kesehatan tetap akan diterapkan dalam acara ini. Penampil dan kru akan melakukan rapid test terlebih dahulu sebelum acara dan selama pelaksanaan. Promotor memastikan protokol kesehatan tetap berjalan, seperti dengan menyiapkan hand sanitizer,  tempat cuci tangan, menggunakan masker dan face shield serta tidak berkerumun dan tetap menjaga jarak.

Konser Musik Digital Duta Damai Yogyakarta

Duta Damai mengadakan konser musik digital pertama dalam rangka memperingati Hari “Perdamaian Internasional” yang jatuh pada tanggal 21 September 2020.

Konser musik digital pertama Duta Damai

Penonton acara ini dapat menyaksikannya melalui melalui channel Youtube Duta Damai Yogyakarta mulai pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Sejak awal terbentuk pada tahun 2016 silam, Duta Damai Yogyakarta telah menyelenggarakan berbagai kegiatan daring maupun luring.

Namun karena pandemi, maka Duta Damai Yogyakarta berinisiatif untuk menggelar konser musik digital pertama Duta Damai melalui platform Youtube.

Alternatif acara di Masa Pandemi

Kesuksesan acara ini juga tidak terlepas dari dukungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pusat Media Damai (PMD) serta beberapa pihak sponsor yaitu Kedai  Wowa, Kopi Merah Jinemo, Biznet, Official Internet Provider Biznet Home.

Media partners yang terlibat dalam mempromosikan acara ini yaitu Jogjakampus.id, Koloni Gigs, Istakalisa Yogya 96.2  FM, Radio Edukasi.

Melalui konser musik digital ini pula Duta Damai Yogyakarta berkolaborasi dengan musisi lokal yaitu Mitty Zasia.

Duta Damai Yogyakarta juga secara resmi membuka Open Recruitment tahun 2020 melalui acara ini.

Duta Damai Yogyakarta

Pihak penyelenggara acara juga telah memberikan giveaway berupa e-money senilai 50.000, kaos, 2 buah kopi merah jinemo (500g) senilai 300.000, dan 2 merchandise dari Biznet Home untuk 10 pemenang.

Arti damai menurutku itu tentram

Mitty Zasia

Fakta menarik dalam acara ini bahwa ternyata ulang tahun Mitty Zasia yang jatuh pada tanggal 21 September bertepatan dengan peringatan Hari “Perdamaian Internasional”.

Selain berbakat dalam dunia musik Mitty Zasia juga merupakan seseorang yang sangat mencintai perdamaian.  

Pengalaman Toleransi Mitty Zasia

Pengalaman toleransi yang menarik menurut Mitty Zasia adalah ketika ia sedang berpuasa justru temannya yang berbeda kepercayaan pun ikut menahan lapar bahkan berpuasa bersama.

Bincang toleransi bersama Mitty Zasia

“Arti damai menurutku itu tentram.” ucap Mitty.

Mitty Zasia dalam acara ini juga memberikan penampilan spesialnya dengan membawakan lagu “Damai Itu Indonesia”.

Mitty Zasia mengakui bahwa ia sangat menyukai lagu ini bahkan sejak pertama kali mendengarnya. “Aku suka banget sama lirik pertamanya” tuturnya.

Mitty Zasia menyanyikan lagu Damai itu Indonesia

Sebagai penutup acara, Mitty memberikan persembahan terakhir yaitu lagu berjudul “Man Upon The Hill” dari Stars and Rabbit.

Pada acara ini selain pesan damai, terdapat suatu cerita inspiratif dari seorang Mitty Zasia yang merupakan talenta muda musik Indonesia.

Cara Membuat Hand Sanitizer Sendiri – DIY

WHO : Hand Sanitizer
Hand sanitizer atau pembersih tangan, salah satu fungsinya untuk mencegah diri kita terkena virus corona(covid-19). Meningkatnya kasus corona di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia khawatir. Kekhawatiran itu terbukti dengan banyaknya orang yang berburu masker dan hand sanitizer.

Tim Duta Damai Yogyakarta mencoba untuk mendapatkan hand sanitizer ke beberapa apotek di Yogyakarta. Namun dari hasil pencarian kami, stok di apotek telah habis. Kemudian kami mencoba untuk mencari alternatif lain untuk mendapatkan hand sanitizer.

Kami menemukan cara pembuatan hand sanitizer dari WHO(World Health Organization) yang ditulis ulang oleh BPOM(Badan Pengawas Obat dan Makanan). Dan kamu bisa membuatnya sendiri dirumah. Berikut adalah alat dan bahan untuk pembuatan hand sanitizer serta cara pembuatannya.

Bahan-bahan yang harus disiapkan :
1. Etanol 96 %
2. Gliserol 98%
3. Hidrogen Peroksida 3%
4. Air steril atau Aquadest 1000ml

Alat yang harus disiapkan :
1. Gelas Ukur 1000 ml
2. Beckerr glass
3. Gelas Ukur 50 ml
4. Gelas Ukur 25 ml
5. Batang Pengaduk
6. Botol Kaca

Cara pembuatan :
1. Siapkan gelas ukur 1000 ml, kemudian masukkan 833 ml etanol 96%
2. Selanjutnya tambahkan 41,7% hidrogen peroksida 3% ke dalam gelas ukur tadi
3. Tambahkan 14,5 ml gliserol 98% menggunakan gelas ukur, pastikan gliserol tidak tertinggal dengan cara membilasnya menggunakan air dan masukkan bilasan air ke gelas ukur 1000 ml tadi
4. Masukkan air steril atau aquadest hingga volume menjadi 100 ml, kemudian aduk hingga homogen(rata)
5. Pindahkan campuran kedalam botol kaca bersih
6. Simpan selama 3 x 24 jam guna memastikan tidak ada kontaminasi organisme dari wadah botol
7. Selesai, hand sanitizer siap untuk digunakan

Jika kamu kesulitan mencari etanol 96% kamu bisa menggunakan alkohol dengan minimal kadar 70%. Namun alkohol di beberapa apotek juga sulit dicari. Tips untuk mendapatkannya, coba cari di beberapa toko sembako untuk mendapatkannya.


Sumber : BPOM( Badan Pengawas Obat dan Makanan)
WHO – Guide to Local Production
BPOM: Pembuatan hand sanitizer sendiriBPOM: Pembuatan hand sanitizer sendiri

Rakornas Duta Damai Dunia Maya BNPT Tahun 2020

Mayjen TNI Paruhuman Lubis
Duta Damai

Denpasar, seperti tahun sebelumnya setelah sekian waktu dibentuk, komunitas Duta Damai Dunia Maya BNPT melakukan rapat koordinasi nasional. Rakornas kali ini di adakan di Hotel Prama Sanur beach Denpasar Bali, diikuti oleh kurang lebih 130 Duta Damai dari 13 kota di Indonesia. Di mulai sejak tanggal 4-6 Maret 2020.

Rakornas Duta Damai kali ini dihadiri pula oleh Kasubdit Kontra Propaganda Kol. Pas. Drs. Sujatmiko dan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Paruhuman Lubis. Dalam sambutannya, Mayjen TNI Paruhuman Lubis menekankan bahwa Duta Damai mengemban tugas penting sebagai penggerak literasi masyarakat khususnya generasi muda sebayanya.

Duta Damai bukanlah organisasi politik bukan pula nonprofit. Duta Damai harus menjadi corong edukasi untuk mencerahkan masyarakat agar cerdas dalam mencari informasi, bijak dalam berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya.

Kehadiran Duta Damai dibentuk tidak untuk melawan narasi radikal. Melainkan hadir untuk membentengi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi kekerasan. Salah satu caranya yaitu dengan membanjiri dunia maya dengan konten-konten positif yang beraroma perdamaian.

Agenda tahunan ini tidak hanya acara selebrasi mengumpulkan Duta Damai. Namun juga menyusun program kerja pula membahas tentang perban (peraturan badan). Perban ini adalah awal dari perjalanan baru Duta Damai. Akan menjadi satu hukum yang mengikat sekaligus melindungi ruang gerak Duta Damai.

Di peraturan badan yang telah disahkan tersebut, Duta Damai memiliki prinsip: sukarela, non-profit, berintegritas, support group, independen. Duta Damai hadir sebagai pendukung terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh BNPT. Khususnya terkait dengan kampanye damai. Baik itu kampanye di dunia maya maupun kegiatan offline dibanyak kota di Indonesia. (min)

Penerapan Resilience Pada Generasi Muda

Source: Herman Damar Photography

Generasi Muda

Setiap manusia tumbuh dan berkembang seiring dengan masalah yang dihadapi, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga memiliki porsi masalah yang berbeda-beda di tiap manusia.

Ada yang tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, pertemanan, bahkan pasangan. Ada yang jam makan siang sudah tidak mampu menahan lapar menunggu pesanan datang, ada yang masih berpanas-panasan mengumpulkan botol bekas untuk ditukarkan menjadi makan siang.

Kemudian, ada yang kerja, seringnya ngeluh karena kerjaan tidak sesuai passion, namun ada yang sedang mengantar berkas kesana-sini untuk mendapatkan pekerjaan. 

Masalah yang selalu beriringan dengan manusia menjadi sebuah krisis yang unik disetiap kisah hidup manusia itu sendiri. Masalah terus gugur lalu tumbuh masalah baru. Akan tetapi, sadarkah manusia akan kehadiran masalah dalam hidupnya, menjadikan setiap diri tersebut lebih kuat dan mampu menjalani hari dengan lebih siap, tentunya dengan masalah dan tantangan baru?

Cara menyikapi masalah pada setiap manusia tentu tidaklah sama. Bisa jadi lebih sering reaktif menghadapi masalah, atau malah cenderung responsif.

Menurut KBBI, reaktif adalah sikap tanggap untuk memberikan suatu aksi pada sesuatu yang timbul atau muncul, sedangkan responsif merupakan pemberian respon secara cepat dan menanggapi suatu hal.

Keduanya sama-sama sikap pemberian tanggapan dan aksi secara cepat, namun reaktif lebih kepada pemberian tanggapan atau aksi dengan lebih mendahulukan sisi emosional, beda dengan responsif yang cenderung memberikan reaksi pada suatu hal dengan mengutamakan unsur kognitif terlebih dahulu namun tetap memberikan aksi yang cepat pula.

Perkembangan kehidupan di lingkungan dan masyarakat sudah semakin pesat, baik pada kehidupan nyata maupun di media sosial. Tentu saja masalah di keduanya selalu ada pula, terutama di era ini ialah maraknya masalah yang lebih cepat berkembang dan tersebar melalui media sosial.

Banyak sekali kasus cyber bullying yang terjadi di media sosial dalam bentuk hujatan. Pelaku bisa saja bersembunyi di belakang sebuah fake account dan merasa puas dengan hujatan yang diberikan, mungkin saja merasa ada kepuasan tersendiri.

Namun, tidakkah pelaku menyadari betapa si korban begitu terpuruk. Berbagai sikap yang muncul dari hujatan pun beragam. Mari berbicara kembali mengenai reaktif dan responsif. Korban yang reaktif bisa saja langsung merespon hujatan dengan umpatan, jika korban bersikap responsif, ia akan merespon dengan memberikan waktu untuk dirinya berpikir jernih dan membalasnya dengan kata-kata yang lebih halus seperti orang yang memiliki tingkat kesabaran yang amat tinggi, namun ada pula yang memilih untuk diam dan tidak merespon, tetapi itupun menjadi sebuah respon yang lebih aman, agar pelaku tidak merasa tertantang.

Sikap-sikap yang terlihat kecil dan sepele seperti itulah justru yang akan memberikan dampak positif negatifnya bagi media sosial. Pun dalam dunia nyata, bila kebanyakan orang terutama generasi muda menerapkan sikap seperti itu, maka hujat-menghujat akan lebih berkurang. Sikap tersebut pula menggambarkan seorang generasi muda yang cerdas, memiliki pengetahuan dan moral yang seimbang dalam penerapannya di kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh ketua BNPT, bapak Suhardi Alius dalam tulisannya, karakter generasi bangsa yang mulai hilang perlu dibentuk lagi melalui adanya peran keluarga dan pentingnya pendidikan usia dini.

Selain itu, perlunya menyeimbangkan antara pengetahuan serta moral agar menciptakan karakter bangsa yang lebih baik lagi setelah pudarnya karakter bangsa yang diharapkan. Selain itu bapak Suhardi Alius juga mengatakan bahwa kita sebagai generasi bangsa, perlu memupuk sikap resilience pada diri sendiri, guna merespon dan menghadapi perkembangan lingkungan. Hal tersebut juga berkaitan dengan cara generasi bangsa untuk memiliki jiwa yang kokoh serta daya tahan dan kemampuan diri yang kuat dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Resilience memanglah penting untuk dimiliki generasi bangsa sejak dini, karena ketika memiliki tantangan dan masalah didepan, generasi bangsa dengan segera bangkit dengan kokoh, tanpa berlama-lama terpuruk dan kebingungan terhadap apa yang sebenarnya harus dilakukan. Przybylski, dkk (2014)

Generasi bangsa yang resilience adalah mereka yang mampu responsif menanggapi kemudian mengatasi suatu krisis dengan berfokus pada masalah yang ada, bukan hanya pada emosional. Bukan ketika mereka ditolak pada sebuah pekerjaan lalu mengurung diri dikamar, namun mereka yang terus mencari pekerjaan lain walaupun sempat merasa sedih dan hampir menyerah karena selalu gagal. Hal tersebut dinamakan dengan strategi Problem Focus Coping (PFC).

Maka, sepenting itulah menumbuhkan sikap resilience pada generasi bangsa, agar mampu bersikap responsif pada tantangan atau masalah dan menggunakan strategi Problem Focus Coping (PFC) dalam menyelesaikan krisis dalam hidup, baik krisis perasaan, krisis jati diri, krisis kesehatan, krisis keuangan dan lain-lain.

Seminar Wawasan Kebangsaan Kolaborasi Duta Damai Yogyakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Seminar Kebangsaan
Duta Damai Yogyakarta

Yogyakarta, 19 Oktober 2019
Duta Damai Yogyakarta dibentuk dengan tujuan untuk mengkampanyekan pesan-pesan damai diberbagai kesempatan dan platform. Sejak berdiri dari tahun 2016, Duta Damai Yogyakarta telah banyak menyelenggarakan berbagai acara online maupun offline. Baik acara yang diprakarsai dan dilaksanakan secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain diberbagai bidang.


Pada kesempatan kali ini Duta Damai Yogyakarta mendapat kepercayaan berkolaborasi dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk menggelar acara seminar kebangsaan. Sebuah acara yang digelar dengan target peserta kalangan milenial.


Seminar kebangsaan bertajuk Wawasan Kebangsaan Untuk Generasi Milenial di Era Digital ini dilaksanakan pada Sabtu, 19 Oktober 2019 di gedung Bonaventure Kampus 3 Universitas Atma Jaya dengan menghadirkan narasumber yang cukup kompeten dibidangnya masing-masing. Yaitu, Dr. H. Amir Mahmud yang merupakan Alumni Akademi Militer Afghanistan dan juga direktur Amir Mahmud Center; M. Mustafid, S. Fill selaku Koordinator Bidang Agama FKPT DIY; dan Dr. Muhammad Suaib Tahir selaku pejabat BNPT.


Acara ini dibuka oleh Dr. Bernadus Wibowo Suliantoro, M. Hum selaku koordinator mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Beliau dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda agar terus update informasi dan jangan mau ketinggalan zaman. Tidak lupa memberi penjelasan bahwa paham radikalisme terorisme bisa merasuki siapa saja tidak terkecuali mahasiswa maupun aparat negara.


Dalam seminar ini Dr. Amir Mahmud membeberkan beberapa fakta yang terjadi di Suriah dan Damaskus sebelum dan sesudah terjadi konflik. Beliau menjelaskan bahwa 85% rusaknya Suriah karena media sosial. Untuk itu beliau berpesan kepada generasi Indonesia agar jangan mau menjadikan Indonesia tercinta menjadi seperti Suriah. Maka, langkah yang perlu diambil adalah dengan selalu bijak memberikan informasi di media sosial. “Indonesia bukan negara agama namun Indonesia ini negara religius. Indonesia punya pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. “Dimana negara tidak mengusik, namun mengatur kehidupan beragama,” tutur beliau.

Kenyataannya memang Indonesia dikenal dengan negara Bhineka Tunggal Ika, meski beda namun tetap satu. Selain itu juga Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi. Sementara konflik-konflik sosial yang terjadi selama ini (tidak hanya di Indonesia) disebabkan oleh tidak ada ikatan kuat dan adanya gesekan-gesekan yang menghadirkan kekacauan.

Kekerasan, radikalisme, terorisme adalah bentuk-bentuk kekacauan yang terjadi oleh beberapa sebab diantaranya perbadaan fisik, emosi, kebudayaan dan perilaku.


Apa yang disampaikan Dr. Amir Mahmud ini sejalan dengan yang disampaikan oleh M. Mustafid, S.Fill bahwa 4 akar dari radikalisme adalah penafsiran agama yang salah (terlalu kurang atau berlebihan), adanya politisasi pada agama, persoalan pencarian identitas dan konteks kesenjangan ekonomi, politik, hukum dll.
Menurut M. Mustafid, S. Fill tantangan kebangsaan terletak pada Globalisasi Ekonomi, Global Governance (homogenisasi budaya), Etno Nasionalisme dan Separatisme, Intoleransi Radikal Terorisme dan Identitas Jati Diri. Maka, cara untuk menghadapi tantangan tersebut bisa dilakukan dengan mengambil nilai-nilai baik dari sebuah kebudayaan, membangun komunikasi untuk menumbuhkan jati diri dan generasi milenial haruslah melakukan kontekstualisasi. “Saat ini tantangan terbesar adalah kemajuan teknologi. Era analog pindah ke ranah digital. Media sosial tidak bisa lagi dibendung. Sebagai generasi milenial hendaknya bisa berubah dari konsumen menjadi produsen,” ujar beliau.


Sementara itu Dr. Muhammad Suaib Tahir juga menjelaskan bahwa tantangan dan keresahan yang ada disuatu negara merupakan tanggung jawab semua warga bangsa. Beliau menjelaskan bahwa aksi terorisme sejatinya sudah terjadi sejak lama di benua lain. Dari hasil penelusuran beliau yang sudah lama malang-melintang ke berbagai negara dapat disimpulkan bahwa tantangan bagi negara-negara berkembang (khususnya Afrika) terletak pada falsafat negara. Beruntung Indonesia punya pancasila yang didalamnya mengandung sila-sila yang cukup ideal untuk dijalankan. Tidak lupa beliau juga mengingatkan bahwa teroris itu bukan Islam. Pula target rekrutmen para penganut paham ini adalah anak-anak muda.


Pada akhirnya acara seminar wawasan kebangsaan ini digelar dengan maksud untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dikalangan anak muda sekaligus memberi motivasi agar generasi milenial tidak acuh pada perkembangan teknologi di era industri 4.0.


Hendaknya milenial dan siapa saja lebih peduli lagi dengan apa yang diposting di media sosial dan juga agar tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang bernarasi negatif. Selain itu, sangat baik kiranya jika generasi milenial sebagai pengguna aktif sosial media untuk menerapkan penciptaan opini di masyarakat kemudian disebarluaskan di sosial media guna perlawanan terhadap narasi yang bertolak belakang pada data faktual, yang mana biasa kita sebut sebagai Narasi Alternatif (Alternative Naratif), saran dari bapak Dr. Muhammad Suaib Tahir.

Youth Ambassadors For Peace 2019 Resmi Digelar

Youth Ambassadors For Peace

Brigjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) secara resmi membuka Youth Ambassadors For Peace 2019 yang diselenggarakan di Discovery Hotel & Convention Ancol Jakarta.

Kegiatan yang bertema Spreading Peace in Cyberspace ini merupakan yang pertama diselenggarakan secara internasional dengan mengundang perwakilan anak-anak muda penggiat perdamaian dari Filipina, Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Singapura, dan Laos. “Penyebaran paham radikal sudah melalui dunia maya dan banyak sekali anak-anak muda yang sedang mencari identitas diri di dunia maya menjadi terpapar. Kita sebagai Duta Damai bertugas untuk memproduksi sebanyak-banyaknya konten positif untuk membendung paham-paham radikal itu,” ujar Hendri.

Hendri yang menjabat sejak 24 September 2018 ini mengungkapkan pentingnya membentuk duta damai dunia maya lintas negara. “Melalui internet informasi dapat tersebar dengan sangat cepat, termasuk informasi negatif. Maka kita juga harus berkolaborasi lintas negara untuk membendungnya. Saya berharap tahun 2020 kita bisa mengadakan kegiatan semacam ini tingkat dunia, termasuk Afrika dan Amerika,” kata lulusan Akademi Militer tahun 1986 ini.

Kegiatan yang dihadiri oleh 51 orang muda se-Asia Tenggara dan 65 peserta perwakilan Duta Damai dari 13 provinsi di Indonesia ini tak hanya menyajikan pemaparan materi dari orang-orang berpengalaman di bidang kontra narasi radikal tetapi juga memberikan workshop-workshop mengenai penulisan, information technology , dan desain komunikasi visual. Sehingga peserta dapat secara produktif dan berkala memproduksi konten-konten melawan narasi radikal di negaranya masing-masing.

Berdasarkan data pengguna internet yang menunjukan penggunanya berada di rentang usia muda, maka workshop-workshop tiga bidang itu diberikan oleh anak muda sendiri, yaitu para perwakilan Duta Damai dari 13 provinsi yang telah berpengalaman memproduksi konten sejak 2016. Selain memudahkan komunikasi antar mentor dan peserta, peer group workshop ini juga diharapkan dapat menghasilkan konten-konten yang kreatif dan fresh dari anak-anak muda.

Rencananya, kegiatan yang berlangsung selama 22-25 April 2019 ini akan dihadiri oleh Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Jenderal TNI Dr. H. Wiranto, S.H.

Y. Bara

Seperti kita ketahui bahwa Peran generasi muda sangatlah besar dan dibutuhkan untuk keutuhan NKRI. Di tangan generasi muda inilah juga Masa depan Bangsa Indonesia ditentukan. Generasi muda tak terkecuali mulai dari pelajar sampai dengan eksekutif muda merupakan orang-orang andalan Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa, juga dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Menilik sejarah, peran orang-orang muda ini sangatlah penting mulai dari pra kemerdekaan sampai dengan pasca kemerdekaan. Di tangan pemuda inilah negara Indonesia dibangun. Dari masa lalu pula kita tahu pemuda adalah pilar dan motor penggerak bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa, sekaligus benteng terkuat dalam mencegah gempuran dan rongrongan dari pihak yang ingin menghancurkan dasar negara.

Hal inilah yang ditangkap oleh generasi muda yang tergabung dalam Duta Damai. Duta Damai yang dibentuk oleh BNPT ini memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan semangat nasionalise untuk tetap konsisten dalam keikut sertaan setiap generasi muda dalam menjaga keutuhan negeri ini.

Saat ini yang menjadi keprihatinan kita semua adalah isu tentang paham radikalisme dan terorisme. Kegiatan radikalisme dan terorisme sudah semakin nyata dalam memecah belah kita sebagai bangsa yang bersatu.

Terkait dengan perkembangan jaman dan teknologi yang semakin cepat dan nota bene dekat dengan generasi muda, dibutuhkan agen-agen perdamaian yang juga menguasai teknologi dan dunia maya untuk dapat berperan aktif mencegah penyebaran paham radikal dan terorisme yang dapat mengancam keutuhan Pancasila.

Saat ini kegiatan penyebaran isu dan propaganda radikalisme sudah menggunakan media Internet untuk menyasar semua lini pengguna dunia maya. Seperti yang pernah dikatakan oleh tito carnavian bahwa “Penggunaan internet oleh jaringan terorisme cukup intens penyebarannya, hal menjadikan agak sulit untuk dideteksi. Maka untuk melawannya dibutuhkan melalui kemampuan para duta damai yang melek teknologi ini sebagai penangkalnya”

Para pemuda Duta Damai ini dengan pasti dan mantab bergerak dalam menangkal setiap isu radikalisme dan terorisme serta menyebarkan pesan perdamain lewat dunia maya. Disinilah Duta damai ikut ambil peranan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Mengapa Duta Damai yang nota bene berisi para generasi muda ? Pemuda masih memiliki energi yang besar, jiwa, semangat, dan ide-ide brilian untuk menjadikan Bumi Pertiwi menjadi tempat yang lebih baik lagi. Mereka inilah juga orang-orang yang pasti memiiki pemikiran-pemikiran yang visioner untuk kemajuan Indonesia.

Hal inilah yang dibutuhkan oleh negara untuk dapat mewariskan semangat perdamaian dan nasionalisme ke seluruh bangsa Indonesia terutama penggiat dunia maya agar tidak terpengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Nasionalisme harusnya tertanam didalam diri setiap generasi muda untuk dapat menyikapi setiap perkembangan zaman dan ikut berperan aktif dalam rangka membangun Indonesia yang kuat, bersatu dan damai walaupun berbeda agama, suku dan kebudayaan. Menjunjung tinggi nilai nasionalisme dan persaudaraan sehingga  perpecahan dan perselisihan antar Agama, suku, Ras dan budaya dapat dihindari.