free page hit counter

Fanatisme Budaya Barat dan Dampak Degradasi Moral

Fanatisme Budaya Barat dan Dampak Degradasi Moral

Contents

Budaya barat saat ini telah merajalela di seantero dunia, tak terkecuali Indonesia. Adat istiadat serta budayanya yang telah masuk dan melekat dikalangan masyarakat global, dewasa maupun remaja, juga anak-anak. Hal ini menyebabkan kefanatikan terhadap barat yang berdampak pada degradasi moral, terlebih budaya di Indonesia dengan budaya yang ada di Negara-negara barat sangat jauh berbeda, sehingga tak sesuai dengan adat istiadat nusantara yang sopan santun dan harmonis. Dalam fase inilah kemudian muncul fenomena Fanatisme Budaya Barat yang berpotensi menciptakan degradasi moral, Apakah benar demikian?

Fenomena ini nampaknya telah menjadi suatu hal yang ‘lazim’ di zaman sekarang, apalagi ditambah dengan perilaku candu terhadap gadget dan sosial media yang telah dikonsumsi oleh berbagai lini, dewasa, remaja, anak-anak, bahkan lansia pun dapat mengaksesnya. Tidak ada masalah dalam hal ini, namun dengan mengikuti budaya barat tersebut, harus diperhatikan dari saspek-aspeknya dan jangan sampai lalai terhadap budaya asli dari tanah air. Jika tidak demikian, maka budaya nusantara tergerus sehingga sedikit demi sedikit nantinya akan hilang termakan arus barat.

Merebaknya budaya barat ini telah menjadikan orang-orang fanatik akan adat istiadat barat. Sehingga budaya asli Indonesia sendiri dilupakan dan ditinggal begitu saja. Hal ini sungguh miris, terlebih Indonesia dalam mata dunia merupakan Negara dengan budayanya yang beragam, adat istiadat yang kaya, suku, dan lainnya. Sehingga alangkah mirisnya jika dengan datangnya budaya barat menjadikan rakyat Indonesia lupa akan budayanya sendiri.

Fanatik ini ialah ketertarikan yang berlebih-lebihan serta tidak rasional dalam menghadapi sesuatu halnya atau sebagai pengabdiannya terhadap sesuatu teori, keyakinan, maupun garis tindakan yang itu akan menentukan sikap sangat emosional, dan praktis tidak mengenal batasan. Antusiasme ini sendiri didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni kegirahan, semangat bergelora, minat besar akan sesuatu hal. Namun menurut Wolman (dalam patriot, 2001) menyatakan fanatisme ini adalah antusiasme yang bersifat eksrim  dan emosional.(Orever dalam Budi, 2004).

Mengungkap Istilah Fanatisme Budaya

Fanatisme ini asalnya dari dua suku kata yaitu fanatic dan isme. “Fanatic” yang asalnya dari bahasa latin adalah fanaticus, frantic atau frenzied, yang memiliki arti kegila-gilaan, mabuk, kalut atau hingar binger. Fanatik juga bisa berarti sikap perilaku seorang yan mengerjakan ataupun mencintai sesuatunya secara serius, sedangkan kata “isme” artinya ialah bentuk kepercayaan atau keyakinan.

Secara ringkas fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran baik itu politik, agama dan lain-lain (Sudirwan dalam Handoko & Andrianto, 2006).

JP Chaplin mengatakan (dalam Kamus Lengkap Psikologi, 2008) bahwa fanatik yaitu suatu sikap penuh semangat yang berlebihan terhadap satu pandangan atau sebab. Begitupula dengan KBBI (diakses : 2017) bahwa fanatisme ini ialah keyakinan atau kepercayaam yang benar-benar tertanam kuat akan suatu ajaran (politik, agama, dan lain sebagainya). Fanatisme adalah suatu cara untuk mempertahankan diri dari keterasingan dan kesepian jiwa.(Wattimena, n.d.)

Menurut Gulo dan Kartono (2003) mekanisme pertahanan diri adalah teknik yang digunakan oleh individu untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan atau hal-hal yang memprovokasi kecemasan. Terdapat beberapa mekanisme-mekanisme pertahanan utama yang diidentifikasikan oleh Freud salah satu yaitu pengalihan. (Bungin et al., 2009)

Pengalihan adalah pembentukan reaksi terbatas hanya pada satu objek tungal. Juga pengalihan (displacement), seseorang dapat mengarahkan dorongan-dorongan yang berlainan dengan sejumlah orang maupun objeknya, sehingga dorongan yang aslinya itu dapat terselubung atau tersembunyi. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa fanatisme terjadi karena hasil dari perwujudan dari pengalihan seseorang terhadap keterasingan dan kesepian jiwa.(Jess Feist, Gregory J. Feist ; penerjemah, 2010)

Lalu bagaimana bisa fanatik terhadap budaya barat?

Fanatisme Budaya

Hal ini disebabkan oleh berkembangnya budaya barat, adat istiadat, mode, dan lainnya yang sudah dapat diakses darimanapun, baik internet, Youtube, TV, dan sebagainya. Kebebebasannya itulah yang membuat orang-orang dengan bebas mempelajari itu semua tanpa menyaring dan memilih memilah dengan baik serta waspada. Terutama hal ini terjadi pada orang dewasa dan remaja, sebagaimana kita lihat disekitar kita mengenai perilaku mereka, kebiasaan, adab nya bagaimana, itu semua sudah bisa dilihat dengan mudah. Apakah sudah tergerus, sedang prosesnya kah, atau sedang dalam masa-masa peniruan? Silakan dianalisis saja.

Fanatik dapat menimbulkan sisi negatif dan positif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Goddard (2001) menyatakan bahwasanya fanatik ialah suatu keyakinan yang dapat membutakan hingga berkemauan untuk mengerjakan segala sesuatu apapun itu demi memperjuangkan kepercayaan yang dianutnya. Fanatisme umumnya akan menjadi hal negatif dan juga sesuatu yang positif.

Meskipun demikian, pada umumnya fanatik ini banyak menimbulkan dari sisi negatifnya, terutama dalam mendegradasi atau merusak perilaku, norma, dan nilai-nilai keadaban (value) seseorang.

Lantas, bagaimana solusi atas degradasi moral yang dimunculkan dari fanatisme tersebut?

Menerima budaya barat itu tak maslah, namun yang menjadi persoalan disni ialah jika budaya tersebut mengalahkan budaya asli kita sendiri yakni budaya nusantara. Mempelajari budaya barat pun tidak menjadi masalah besar jika pada akhirnya tetap memegang teguh nilai-nilai dan moral dari budaya Indonesia.

Sekarang ini, zaman sudah modern, perkembangan budaya dari berbagai sudut dunia dapat kita akses dengan sangat mudah. Bukan hanya yang berasal dari Negara-negara barat, namun dari Timur Tengah, benua Amerika, Asia dan secara keseluruhannya. Hal ini sudah lazim bagi perkembangan teknologi saat ini yang sudah berkembang sangat pesat dan maju. Namun, poin utamanya ialah ‘jangan sampai identitas budaya nusantara ini ditelantarkan begitu saja dan meninggalkan nilai-nilai moral yang ada didalamnya’ karena jika itu terjadi maka hilanglah yang dinamakan ‘identitas’ budaya asli tanah air.

BACA JUGA: Media Sebagai Penakar Instabilitas Pers

Kemudian, dilansir dari brainly.com untuk mengatasi problematika tersebut, sebaiknya kita memperhatikan beberapa poin berikut:(Eruzlan, 2018)

  • Pendidikan formal, Yakni dengan partisipasi aktif dari tenaga pengajar, guru, dosen, dalam mengajarkan pentingnya mencintai budaya Indonesia, dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan (moral) sehingga tidak terjadinya degradasi moral di masa depan.
  • lingkungan keluarga, keluarga pada tahapn ini memiliki peran yang sangat penting, terutama ketika anak dalam masa pertumbuhan. Memberikan bimbingan serta pengawasan moral menjadi poin utama dalam pengajaran di keuarga
  • Lingkungan pergaulan, dengan bergabung kedalam lingkungan yang baik, jujur, dan berakhlak baik maka kepribadiannya pun akan terjaga. Carilah circle atau lingkaran pertemanan yang mendukung kepada perbaikan dan pengembangan diri.
  • Penegakan hukum / sanksi, perlunya ketegasan dalam menerapkan sanksi supaya menajadi shock terapy (jera) bagi orang-orang yang tidak bermoral menjadi bermoral

Referensi

Bungin, B., Nazir, M., Penelitian, M., Harlock, E., Mahasiswa, K., Slta, I., & Sutopo, H. B. (2009). Daftar pustaka. 72.

Eruzlan. (2018). Cara mengatasi degradasi moral. Brainly.Co.Id. Retrieved from https://brainly.co.id/tugas/13810319

Jess Feist, Gregory J. Feist ; penerjemah, H. (2010). Teori kepribadian = Theories of personality. Salemba Humanika. Retrieved from https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=689311

Wattimena, R. A. . (n.d.). Akar-Akar Fanatisme. Rumahfilsafat.Com. Retrieved from https://rumahfilsafat.com/2012/11/17/akar-akar-fanatisme/

Share this post

Comments (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *