Haji 2021, Polemik Dan Peran Media

Haji 2021, Polemik Dan Peran Media

Pemberangkatan haji 2021 batal

Polemik tentang pembatalan haji 2021 dari Indonesia menjadi isu terhangat. Beberapa hari terakhir sejak pengumuman pembatalan pemberangkatan jamaah haji oleh Kementerian Agama terus menjadi perbincangan. Pembatalan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Agama No 660 Tahun 2021. Dengan begitu, pada penyelenggaraan ibadah haji 2021 atau tahun 1442 H Indonesia resmi tidak memberangkatkan jamaahnya. Dari keputusan tersebut kemudian muncul semacam polemik.

Pihak pro dan kontra masih terus berkonfrontasi. Kesimpulan tetap berujung pada polarisasi percaturan politik pasca Pemilihan Umum 2019.

Polemik Ibadah Haji 2021

Dari polemik ini muncul berita aneka rupa dan kepentingan. Bahkan, berita-berita ini salah satunya menjadi bumerang bagi Haikal Hassan. Tagar #TangkapHaikalHassan seketika ramai di media sosial. Banyak yang menganggap Hasan menyebarkan kabar palsu (hoaks).

Meski Jasa. sudah meminta maaf, perkaranya masih lanjut ke ranah hukum. Ini adalah dampak dari luput memfilter berita. Seharusnya, filter terhadap berita itu penting. Seandainya ia mau sedikit sabar dan tidak menelan mentah semua berita bisa lain cerita.

Filter berita penting. Hal tersebut dapat meminimalisir adanya kabar bohong atau hoaks.

Tanpa berita hoaks saja umat muslim di Indonesia sudah berang dengan pembatalan ibadah haji 2021. Pemicunya karena masa antri pemberangkatan haji yang tidak sebentar. Namun ketika sampai pada masa pemberangkatan justru batal. Kekesalan calon jamaah haji yang gagal berangkat pada tahun sebelumnya juga ikut menambah panas suasana.

Kemana larinya dana haji?

Kemudian, pertanyaannya seputar dana haji muncul di mana-mana. Ini masuk akal, sebab pemilik dana berhak bertanya ke mana dana untuk haji mereka. Dari sini, kembali muncul berita-berita yang membuat kericuhan, utamanya di media sosial. Belum lagi alasan pembatalan pemberangkatan yang oleh salah satu pihak terdengar abu-abu. Meski Menag sudah menjabarkan.


Di sisi lain, yang menjadi problem bagi saya sendiri adalah eksistensi media. Lebih-lebih media daring. Framing yang media Lakukan turut mempengaruhi cara pandang masyarakat luas. Sehingga, jika suatu media menampilkan kabar bohong hal itu akan masyarakat terima dengan cepat. Ini merupakan sebagian dampak dari kurangnya pendidikan bermedia (media education).

Memang benar bahwa tidak sedikit masyarakat kita kurang cekatan dalam menangani wacana bermedia ini. Puncaknya, kabar bohong akan terus-terusan menghantui. Hal ini semakin mengerikan ketika kabar bohong tersebut justru mendapat dukungan oleh seorang tokoh atau public figure.

Dari problem itu, semestinya semua orang paham ke mana media itu berlabuh. Artinya, bagaimana suatu media membuat berita, objektif atau tidak. Tentu, persoalan tersebut bisa kita rasakan dengan melihat sejauh mana kompetensi media tersebut dan berita-berita yang tayang sebelumnya. Jika sebelumnya telah melahirkan banyak kabar yang tidak benar, alih-alih objektif, tentu media tersebut harus mendapat tanda merah. Sebab, kecenderungan dan orientasi dari sebagian media (baca:media daring) sudah tidak mempedulikan mutu berita. Hal yang lebih penting adalah bagaimana mendapat banyak kunjungan di situsnya.

Eksistensi Media

Mengenai polemik haji 2021 yang terpenting adalah bagaimana suatu media tersebut membangun berita ihwal haji. Tentu, agar lebih berhati-hati dalam menelan berita sebelum terlebih dahulu mengunyah. Selebihnya, agar tidak perlu merepotkan pihak terkait untuk klarifikasi ihwal berita bohong yang bertebaran. Maka dimulai dengan menyaring berita merupakan satu-satunya jalan. Hal lain, para elit seharusnya menyampaikan kabar yang juga selaras agar tidak menimbulkan kegaduhan, utamanya terkait soal dana haji. Kericuhan sering disulut oleh berita yang abu-abu dan semu.

Bagaimanapun, ritual ibadah haji sudah mengakar kuat dalam pribadi masyarakat muslim. Sehingga, ketika ada kebijakan yang seolah bertentangan dengan hal tersebut—meski dengan alasan yang logis—tetap akan mendapat atensi yang cukup beragam. Buktinya hari ini, ketika pemberangkatan haji 2021 akhirnya batal, atensi yang muncul ke permukaan ibarat pelangi.

Persoalan selanjutnya, bagaimana Menag dalam hal ini mampu bersosialisasi dengan berbagai pihak terkait. Utamanya dengan para elit ormas untuk mengondisikan umatnya di tengah polemik haji 2021.
Media harus memegang tupoksi untuk selalu memberikan berita yang bermutu. Berita yang dapat dikonfirmasi keabsahannya. Sebab, di tengah masyarakat kita yang awam tentang edukasi media dan filter berita, andil media untuk menampilkan berita terbaik sangat diharapkan. Sehingga, persoalan berita bohong dan hoaks ini bisa terselesaikan. Demi mewujudkan masyarakat yang bijak bermedia.

Share this post

Comment (1)

  • S prabowo Reply

    Mantab tulisannya. Ditunggu tulisan bermutu lainnya mas Rofqil Bazikh..

    7 Juni 2021 at 7:06 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.