Hindari Toxic Relationship Mulai dari Akarnya

Toxic Relationship,Love Language yang Beracun.

Hindari Toxic Relationship Mulai dari Akarnya

Kita semua pasti sudah mengetahui bahwa manusia adalah mahkluk sosial. Manusia pasti akan membutuhkan rekan dalam menjalani kehidupannya, baik itu keluarga, teman, sahabat, atau pacar. Ketika menjalin hubungan tersebut sudah sewajarnya kita menginginkan hubungan yang sehat dan saling take and give. Alih- Alih menjalani hubungan yang sehat justru seringkali manusia menjalani toxic relationship. Padahal sebagian besar manusia pasti menginginkan hubungan dua arah, yang sifatnya saling menghargai antara satu orang ke orang yang lain.

Namun, orang yang tidak berada dalam hubungan toxic akan dengan mudahnya mengenali bahwa orang lain terjebak di dalam hubungan toxic. Hal ini akan mengakibatkan korban sulit untuk bisa menghindar dan keluar dari hubungan tersebut. Hal tersbut tentunya akan membawa banyak dampak negatif di dalam diri korban. Ketika suatu lingkungan negatif maka hal itu akan membentuk ketidakstabilan emosi dari orang tersebut. Mungkin saja ia akan merasa worthless, tidak percaya diri, insecure dan tidak bahagia. Nah untuk mengetahui dan menghadapi semua hal di atas mari kita simak blog berikut ini.

“Dalam membina hubungan seharusnya tidak pernah mengorbankan kedamaian dan kebahagiaan.  Jika dalam hubungan akan lebih banyak hal negatif, daripada positif, maka sebaiknya hubungan itu tidak perlu ada”

Veronica Kristiyani,S.Psi.,M.Si.,Psikolog

Apa Itu Toxic Relationship?

Istilah toxic ini telah muncul berasal dari kata bahasa Inggris yaitu memiliki arti racun, sedangkan relationship adalah kesinambungan interaksi antara dua orang atau lebih yang memudahkan proses pengenalan satu akan yang lain. Toxic relationship adalah hubungan yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri atau orang lain dan akan menjadi beban seiring berjalannya waktu.

Ketika ada di dalam hubungan yang toxic, kamu akan merasa asing bahkan sering mempertanyakan valuemu yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena pasanganmu itu perlahan-lahan mengubah sifatmu menjadi orang yang tidak baik. Bahkan ketika menjalani hubungan tersebut pelaku seringkali memberikan beban dan tidak menghargai kehadiran atau pendapatmu.

Kemudian hal ini terus berlanjut ke pola pikirmu yang menoleransi perbuatan buruknya kepadamu. Selanjutnya, kamu mengetahui bahwa hubungan yang kamu jalani ini sangat beracun. Akan tetapi, seringkali kamu memilih untuk bertahan karena kamu terlalu sayang dan kamu tidak cukup kuat untuk melawannya.

BACA JUGA : Maiyah Sebagai Perwujudan Moderasi Beragama

Macam Bentuk Toxic Relationship

  1. Mengontrol Perilaku

Pasangan yang beracun biasanya akan cenderung mendominasi kehidupan pasanganya, tetapi hal ini bisa terjadi kalau terjadi ketidakseimbangan kekuatan di dalam sebuah hubungan. Ciri utamanya kamu takut untuk bilang “enggak” ke pasanganmu. Kamu akan sungkan menolak permintaanya, dan memilih untuk memendam perasaanmu.

2. Kurang Dukungan

Kamu merasa kesepian dan merasa hanya kamu yang memperjuangkan hubungan ini. Kamu merasa bahwa pasanganmu kurang mendukungmu, baik sceara mental maupun secara emosional. Bahkan, seringkali pasanganmu membuatmu mempertanyakan setiap keputusanmu. Kamu selalu merasa bahwa ada sesuatu ‘yang salah’ dalam pribadimu sehingga hal itu bisa menurunkan tingkat self esteemmu.

3. Tidak Menghargai Pasangan.

Ketika kamu di dalam hubungan yang beracun, kamu akan merasa bahwa pasanganmu tidak menghargaimu, bahkan , kamu menginjakmuseperti keset. Pasanganmu akan dengan mudahnya menginjakmu dan mengatakan bahwa kamu tidak berguna. Padahal menurutmu kamu sudah melakukan semua hal yang terbaik, tetapi pasanganmu akan membuatmu terus mengalah.

4. Victim Blaming, Gaslighting dan Self Doubt

Secara psikologi pelaku seringkali melemahkan rasa percaya diri korban dengan membuat mereka mempertanyakan ingatan, sudut pandang, atau kewarasan mereka. Kalau kata anak muda zaman sekarang “Lo yang salah, Lo yang nge-gas”

Dampak Toxic Relationship

Korban akan merasa cemas “Aduh gimana ya kalo nanti dia marah”, “Nanti kalo dia memukuli saya gimana ya”. Selanjutnya hal tersebut akan mempengaruh fisik korban. Korban akan cenderung terkena Psikosomatis, misalnya saja pusing, sakit perut, selalu merasa sedih berkepanjangan. Kemudian korban akan terus merasa rejected dan merasa tidak percaya pada lingkungannya. Korban akan merasa ia menghadapi masalah ini sendiri dan merasa terisolasi “Kok engga ada yang bantuin saya ya ?”, “Kok engga ada yang peduli sama saya ya?”.

Selanjutnya kamu akan merasa Insecure terhadap perbuatannya kepadamu. Kamu takut akan perbuatanya selanjutnya yang akan ia lakukan kepadamu. Bahkan seringkali kamu merasa tidak aman, dan kamu merasa ada dalam kondisi terancam. Akhirnya karena terlalu sering mendaptkan perlakuan buruk kamu menjadi percaya bahwa pada dasarnya manusia memang tidak baik. Nantinya pelaku akan membuat korban merasa tidak mampu melawan dan membuat korban menjadi tidak percaya diri. Sampai akhirnya kamu merasa tidak bahagia menjalani hubungan itu karena kamu merasa tidak ada hal yang baik pada diri kamu.

Pahami Faktor Penyebabnya

Untuk menilai seseorang berada di dalam hubungan beracun itu tidak bisa melihatnya hanya berdasarkan faktor tunggal. Akan tetapi harus melihat secara komprehensif, karena pasti ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Banyak kasus terjadi Pelaku yang ikut mengambil bagian dalam hubungan toxic pasti memiliki beberapa faktor. Terkadang pelaku mempunyai masa lalu yang kurang menyenangkan atau tipe tipe kepribadian yang lain, berikut contohnya:

  1. Faktor Genetik

Faktor genetik bisa datang dari hubungan antar anggota keluarga yang tidak harmonis, yaitu adanya kekerasan emosional, fisik, atau seksual dan penelantaran anak dalam rumah tangga (child abuse) atau kekerasan terhadap pasangan (spouse abuse), yang melukai emosi dan fisik korban dan menjadikan keluarga sebagai lingkungan tempat tinggal

2. Faktor Lingkungan

Orang tuanya suka kasar memperlakukan anak, kemudian pengalaman hidupnya yang sering ia alami pada saat masa kecil, sehingga terjadi sugestinya tidak percaya . Pelaku yang penuh dengan luka batin akan cenderung suka mengintimidasi orang lain.

3. Faktor Vulnerable/ Keretanan Diri

Memiliki tipe kepribadian tertentu yang memiliki kebutuhan/ keinginan/ perilaku tertentu yang tidak puas
dengan diri, dsb

Cara Mengatasi Toxic Relationship

Toxic Relationship, Love Language yang Beracun.

Locallove

Tidak semua hubungan Toxic relationship itu berakhir menyedihkan. Setiap hubungan pasti akan mengalami masa toxic itu sendiri, tetapi tidak semua pasangan bisa menyadari hal itu. Kalau kedua pasangan tersebut bisa menyadari ada sesuatu yang salah’ mungkin saja mereka bisa melewati masa toxic itu. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, dan pasanganmu terus menerus menyalahkanmu atas semua hal. Hal itu adalah sebuah red flags bahwa kamu harus segera mengakhiri hubunganmu. Berikut adalah beberap cara berdamai dengan hubungan yang toxic :

  1. Set Boundaries

Kalau kamu merasa pasanganmu terlalu banyak mengambil alih ruang privasimu, mungkin kamu bisa mulai menetapkan batasanmu. Mulailah untuk menetapkan batasanmu sehingga, kamu bisa dapat memperjelas dan menegaskan kepada orang lain untuk tidak melewati batas tersebut. Oleh karenanya, kita akan merasa tenang dan aman saat orang lain memahami batasan itu.

2. Limit Toxic Communication

Kalau kamu sudah menyerah dengan toxic relationship ini, kamu bisa mengakhiri hubungan ini. Orang yang toxic ini akan membuatmu lelah, baik secara mental maupun emosional. Oleh karena itu, cara terbaik adalah membatasi komunikasi dengan mereka. 

3. Accept all emotions.

Jika kamu merasa sulit untuk mengontrol emosimu setelah mengakhiri hubungan toxic, mungkin kamu bisa memberikan waktu untuk dirimu sendiri. Kamu membutuhkan waktu untuk bisa sembuh dari semua rasa sakit yang kamu alami. Sedikit demi sedikit mulailah menerima semua emosimu, sampai akhirnya kamu bisa berdamai dengan masa lalumu yang menyakitkan dan bisa memaafkan mereka.

BACA JUGA: Idul Qurban Di Masa Pandemi, Korban Apa?

Tak cukup hanya modal cinta saja untuk bisa menjaga hubungan tetap langgeng tetapi, perlu juga sikap saling menghargai, dan keterbukaan setiap pasangan. Menurut Mark Hanson, seorang penulis buku, cinta tanpa rasa hormat memungkinkan pelaku memperlakukan seperti keset, cinta tanpa kepercayaan membuka banyak bentuk ketidakjujuran, seperti berbohong dan selingkuh, dan cinta tanpa kasih sayang yang tulus mengarah pada hubungan yang dingin dan jauh.

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.