Simbol Identitas dalam Pendidikan Indonesia

Pendidikan Indonesia, sejarahnya tidak akan lepas dari perjalanan panjang sejarah bangsa ini. Terutama peranan agama yang menjadi salah satu lensa untuk memotret kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Seperti yang ditulis Leo Agung dan T. Suparman dalam buku Sejarah Pendidikan (2012: 2), umumnya pendidikan Indonesia sudah berdasarkan agama. Indonesia menerima agama, kebudayaan dan pengetahuan dari berbagai latarbelakang bangsa. Sehingga hal ini memperkaya dan memberikan corak tersendiri pada pola pendidikan Indonesia secara spesifik.

Pendidikan Ideal

Adapun pola-pola pendidikan pada abad ke-4 sampai abad ke-8 begitu terbatas dari seorang guru kepada muridnya di padepokan. Pendidikan di sini bersifat umum, seorang murid bisa belajar apa saja. Dari spiritual religius dan cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tentu hal ini dengan cara bekerja.

Menilik pendidikan di zaman Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha sudah mengarah pada kesempurnaan persoanal, kekebalan dan kekuatan fisik, keterampilan, dan keahlian memainkan senjata bagi anak konglomerat. Sedangkan rakyat kalangan bawah kebanyakan tidak mempunyai kesempatan untuk mempelajari hal tersebut. Inilah sepintas potret pendidikan di masa awal.

Bisa kita lihat bagaimana relasi pendidikan di bumi Nusantara, adanya kesenjangan kelas. Diskriminasi golongan dan hak-hak istimewa bagi kalangan tertentu.

Amartya Sen seorang peraih nobel ekonomi dalam buku Kekerasan dan Identitas (2016), menelaah lebih jauh jubah identitas dan dampak kekebalan juga kekejaman identitas pada seseorang dan kelompok tertentu, yang salah satunya membuka kran kekerasan. Amartya Sen mempunyai pengalaman sendiri dalam melihat dan mendengar langsung kekerasan berdasarkan identitas ketika terjadi adanya pemisahan antara Pakistan dan India, kemudian Pakistan dan Bangladesh.

Bagi Zen, polemik itu sudah menghilangkan rasa kemanusiaan. Adanya kepemilikan identitas tunggal bukan membuka tabir kebahagiaan. Melainkan menjadi satu ancaman dan ledakan konflik tak berkesudahan. Sehingga tak menutup kemungkinan pertumpahan darah terus menjadi tinta sejarah kekerasan atas nama identitas.

Kebanggaan Identitas Tunggal

Bahkan lahirnya kebanggaan pada satu identitas akan menyuburkan stereotipe pada kelompok lain dengan begitu mudah dan cenderung mematahkan pilihan rasionalitas terhadap keinginan bebas memilih identitas sendiri.

Ironinya, dalam dunia pendidikan kita, justru klaim-klaim atas identitas tunggal sudah subur sejak awal. Lihat saja misalnya, bagaimana agama, kebudayaan dan daerah bisa menentukan keberadaan pendidikan masyarakat Indonesia. Kultur Jawa selama ini masih mendominasi pendidikan Indonesia, baik akses dan sarana-prasarana. Agama pun begitu, masih agama tertentu yang berada di garda terdepan dalam kurikulum pendidikan nasional.

Lalu, adakah konsep multikulturalisme dan pluralisme dalam pendidikan kita? Atau jangan-jangan malah terjebak pada identitas tunggal?

Membangun Pendidikan Ideal

Banyaknya kasus intoleransi di sekolah, kampus dan masyarakat masih menjadi PR besar kepada masyarakat. Padahal multikulturalis dan pluralis sudah menggaung lantang dalam wacana pembangunan pendidikan Indonesia. Tetapi sampai hari ini belum maksimal dan justru malah jadi kabur antara satu ideologi, kepercayaan dan kebudayaa. Tidak ada kerja sama untuk saling sapa dan dialog antar sesama.

Mujiburrahman dalam buku Mengindonesiakan Islam: Representasi dan ideologi (2008: 72) menegaskan bahwa keberanian untuk menghadapi keragaman dan berdialog dengan orang yang tidak setuju dengan ideologi multikulturalisme dan pluralisme menjadi alternatif untuk mematahkan identitas tunggal. Dalam artian kehidupan yang majemuk ini sudah saatnya melakasanakan dialog bersama dalam membangun pendidikan yang ideal. Tanpa harus terjebur pada fanatisme identitas tertentu.

Dengan demikian, di era pandemi saat ini, sangat perlu adanya kesadaran bersama untuk membangun pendidikan yang lebih toleransi. Jadi, toleransi di sini bukan hanya sama-sama memngetahui perbedaan antara identitas yang majemuk itu. Melainkan harus sama-sama mempelajari, memahami dan lebih lanjut menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yogyakarta, 2021

Related Post

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *