free page hit counter

Martin van Bruinessen, Tarekat dan Islamisasi Nusantara

Martin van Bruinessen, Tarekat dan Islamisasi Nusantara

Contents

Bertemu Martin van Bruinessen

Ada sederet nama Indonesianis di mancanegara, dari Australia hingga Belanda. Rasa-rasanya keterlaluan kalau melewatkan nama Martin van Bruinessen. Seorang antropolog berdarah Belanda yang publikasinya telah menghiasi jagat Indonesia. Barangkali bukunya yang bertajuk Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat tidak asing di telinga pengkaji Islam.

Hari ini (31/05/2024) ia menjadi pembicara pada Kuliah Umum Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada pembukaan ceramahnya, Martin menyebut dua nama tokoh yang ia kagumi. Dua nama tersebut tidak lain Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo. Tidak hanya kagum, ia mengakui bahwa kedua tokoh ini mempengaruhi tulisan-tulisannya.

Tarekat dan Islamisasi

Pada Kuliah Umum berdurasi dua jam ini (dari 09:00-11:00), pembahasan berfokus pada tarekat. Secara spesifik bagaimana tarekat menjadi semacam media penyebaran Islam di Indonesia. Sejak dini, Martin van Bruinessen dengan lugas menyatakan bahwa tarekat merupakan sarana komunikasi masyarakat akar rumput, antara satu desa dengan desa lainnya. Lebih daripada itu, tarekat juga menjadi semacam riadat batin yang mempunyai efek psikologis.

Kemunculan tarekat ini, dalam pandangannya, memunculkan rias Islam yang tidak sama. Musabab, tarekat mempunyai polanya tersendiri yang berpijak pada peran silsilah keilmuan. Silsilah inilah yang menghubungkan murid masa kini dengan nabi di masa lampau. Pada puncaknya, silsilah keilmuan ini membangun mata rantai legitimasi (legitimative chains). Manakala terdapat gerakan tarekat yang silsilah keguruannya tidak sampai kepada nabi, maka konsekuensinya adalah kehilangan daya legitimasi.

Tarekat Mula-mula

Semula, sebagaimana Martin van Bruinessen kemukakan, tarekat ini hanya semacam paket amalan. Kegunaan paket amalan ini bisa berupa ketenangan, keberanian, bahkan kesaktian. Kemudian, paket amalan tersebut tersistematiskan di bawah satu sosok penting di gerakan tersebut. Menariknya, ulama pengikut tarekat juga dekat dengan kekuasaan. Pada bentuknya belakangan tarekat ini mempunyai partai tersendiri, kata Martin.

Tarekat ini juga mempunyai wajah yang tidak sama dengan gerakan Islam pada abad ke-19. Islam abad ini—yang oleh Martin disebut sebagai gelombang kedua—lebih bersifat purifikatif dan cenderung antipati terhadap kepercayaan lokal. Lain daripada itu, tarekat memberikan semacam jalan menjadi Islam namun tetap tidak kehilangan identitas kejawaannya. Poin inilah yang menurut Martin van Bruinessen membedakan genre Islam ala tarekat dengan lainnya.

Sebagai penutup, Martin van Bruinessen kemudian waktu peserta untuk bertanya dan berdiskusi. Ia dengan rendah hati juga terbuka meminta kritikan peserta. “Saya sangat apabila ada yang berbeda dan tidak setuju dengan saya” ungkapnya sambil mempersilakan peserta bertanya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *