Multiperspektif Memahami Islam Indonesia

Islam Indonesia

Multiperspektif Memahami Islam Indonesia

Peta Jalan Islam Indonesia

Pertentangan antara dua kubu ini semakin sengit. Satu kubu berpegang teguh bahwa Islam Indonesia memang berbeda dengan Islam lain. Kubu yang lain beranggapan bahwa Islam murni sebagaimana Islam yang telah tumbuh di tanah Arab. Namun, penulis tidak terlalu tajam masuk dalam konfrontasi tersebut. Hanya saja, penulis mencatat corak Islam di Indonesia dari beragam aspek. Semula penulis sudah memberikan peta jalan Islam Indonesia yang secara spesifik tertuju pada dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah. Meski, penulis juga menyinggung kelompok-kelompok lain di beberapa bagian.

Islam Indonesia beda Islam Arab, meski tidak murni. Dalam arti, ada beberapa titik besar diferensial yang membedakan kedua Islam ini. Bagi sebagian golongan pembedaan ini mendapat atensi yang negatif. Mereka beranggapan jika Islam hanya satu dan murni, yakni Islam sebagaimana di Arab.

Padahal, dalam realitas yang berkembang titik pijak antara Islam Indonesia dan Islam Arab tidaklah sama. Islam Indonesia—yang mengalami kontroversinya ketika dideklarasikan dengan sebutan Islam Nusantara—memiliki titik pijak dan kultur yang khas Indonesia. Sementara, Islam Arab masih dengan ciri dan pola yang berpijak pada realitas dunia Arab.     

Islam Dari Berbagai Aspek khas

Secara garis besar, yang ingin penulis rekam adalah bentuk Islam Indonesia dari beberapa aspek yang memang khas. Mulai dari tinjauan terhadap aspek teologis Islam Indonesia yang banyak mengikuti konsep Asy’ariyah, baik secara substantif maupun deklaratif. Semisal NU dalam organisasinya yang lebih mengarah ke ranah deklaratif. Selebihnya, penganut Asy’ariyah justru tidak sedikit yang substantif, yakni tidak memformalkan dalam organisasi.

Berlanjut ke bidang tasawuf, terdapat dualisme yakni tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Meski, berujung pada pemilihan terhadap konsepnya dari al-Ghazali yang memadukan nilai esoteris dari tasawuf dan nilai-nilai syariat.

Ranah yang lebih hangat tidak lain adalah bidang politik, secara spesifik bentuk negara Indonesia. Sejak awal bentuk negara Indonesia memang mengalami perdebatan yang pelik sekali. Orang-orang nasionalis berkonfrontasi dengan orang-orang yang menganjurkan formalisasi bentuk negara Islam. Kelompok yang terakhir ini mengklaim bahwa Islam telah menentukan bentuk negara secara formal. Namun, orang yang menyanggah beranggapan bahwa tidak ada bentuk formal negara dalam Islam. Hanya saja, ruh-ruh keislaman bisa dapat mewarnai eksistensi bernegara. Ungkapan penulis yang menarik dalam hal ini bahwa Islam lebih menggunakan filsafat garam daripada filsafat gincu. Dengan kata lain, yang terpenting adalah hal-hal yang esensial dan bersifat memberi cita rasa Islami (hlm.53). 

Islam, Adat dan Budaya Lokal

Dalam kelindan erat dengan budaya lokal, di sini menjabarkan atensi sebagian kelompok Islam terhadap budaya lokal. Saya mulai dari yang sangat akomodatif terhadap budaya lokal, semisal NU, dan juga kelompok yang sejak awal cenderung menolak seperti Muhammadiyah. Namun, sifat penerimaan seperti apa yang NU contohkan lebih condong terhadap akomodasi yang selektif. Tidak semua tradisi dan budaya lokal diterima oleh kalangan ini. Siasat yang mereka bangun adalah dengan mengganti ruh dari budaya itu sehingga tampak lebih Islami. Dalam bagian ini, memang menjadi perbedaan yang cukup sengit, bahkan sampai saat ini. Apalagi, kelompok yang hendak melakukan purifikasi secara vulgar justru tidak menoleransi adat dan budaya lokal.            

Dari multiperespektif tersebut yang hendak dikemukakan adalah ide perihal moderasi. Setelah meninjau beberapa aspek di atas, ternyata mayoritas pemahaman Islam Indonesia mengarah pada ide moderat. Kelompok-kelompok fundamentalis cum ekstremis memang tidak sedikit, namun mereka tidak juga dominan. Kita terdorong untuk selalu menggemakan ide perihal moderasi ini. Meski tidak perlu berlebihan, semisal menggunakan konsep “moderasi, toleransi” untuk membenarkan status quo. Hal yang terakhir ini yang saya nilai kurang etis dan justru terasa memanfaatkan ide moderasi itu sendiri. Maka, yang patut kita catat adalah sebuah upaya preventif dari serangan fundamentalis-ekstremis secara proporsional saja.

Sebab, ketika sudah berlebihan dalam hal ini jatuhnya juga terhadap lembah fanatisme. Dari itu, kita mencoba untuk selalu terbuka untuk apapun. Selalu dapat menghadapi banyak hal secara proporsional dan tepat. Tidak perlu juga menanggapi hal demikian secara overdosis. Dalam hal ini tinjauan penulis terhadap keberadaan Islam Indonesia dari beragam perspektif bisa membantu memahami corak pemikiran Islam yang berkembang. Upaya tersebut untuk memperkaya corak pemahaman dan ragam perbedaan yang sudah menjamur. Hanya dengan pemahaman itu, ide-ide moderasi dan kedamaian beragama akan terus menyala-nyala.

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *