Metode AKM Dalam Persepektif Pembelajaran

Metode AKM

Metode AKM Dalam Persepektif Pembelajaran

Sekilas Tentang Metode AKM

Metode AKM merupakan sebuah terobosan baru dalam proses pembelajaran yang cukup efektif dan dapat menumbuh kembangkan keterampilan anak didik. Proses AKM ini menuntut siswa untuk lebih aktif dan kedepannya dapat menuangkan ilmu serta pengalamannya di kehidupan bermasyarakat (kontributor aktif). Di AKM ini terdapat dua kompetensi yang sangat penting yakni literasi dan numerasi. Kedua hal itu merupakan pokok paling penting dalam proses pembelajaran.

Metode AKM

Dalam perspektif penulis pun menilai bahwa metode AKM ini telah matang dari segi program dan upaya dalam rancangannya. Siswa akan memiliki keterampilan berpikir logis-sistematis. Keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah mereka pelajari. Juga keterampilan memilah serta mengolah informasi. Bukan hanya itu, tapi juga melatih memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Hal ini cukup sesuai dengan apa yang ada pada kehidupan realistis. Siswa memang sudah sebaiknya mendapat pelajaran dan pelatihan dalam penanganan masalah. Berpikir kritis lalu mencari apa permasalahan, dan kemudian mencari solusinya. Dengan metode AKM maka kemampuan siswa tidak hanya tampak dari penguasaan objek, namun juga mengukur tingkat kompetensinya.

Perkara Literasi Membaca dan Numerik

Melihat secara detail bahwa literasi membaca sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu. Baik sebagai warga Indonesia dan warga dunia. Serta dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat. Sedangkan numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. (puspendik.kemdikbud, n.d.)

Dalam soal uji kompetensi siswa dengan AKM ini menggunakan cara yang beragam. Mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian. Hal ini membuatnya menjadi kompleks dan tidak membosankan.

Metode AKM Pengganti UN

AKM juga kabarnya menggantikan UN (Ujian Nasional) di tahun 2021. Mengambil dari liputan6.com bahwa menurut Nadiem, Ujian Nasional kurang ideal untuk mengukur prestasi belajar. Materi UN juga terlalu padat, sehingga cenderung berfokus pada hafalan, bukan kompetensi. Bahkan, ini sudah menjadi beban stres antara guru dan orang tua. Karena sebenarnya UN berubah menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu.

Dengan menjadikan AKM sebagai pengganti UN, ada harapan baru. Yakni bisa menilai dan mengetahui bakat keterampilan dan keahlian para siswa. Sehingga lebih dapat memperdalam dan mengembangkannya. Hal ini penting, supaya siswa tidak berpatok pada penguasaan teori-teori saja. Juga, siswa nantinya akan lebih mudah menentukan kemana arah dalam mengambil program studi di jenjang yang lebih tinggi lagi. Serta bisa mengembangkan keahliannya. (Makdori, 2020)

Meskipun demikian, Nadiem Anwar Makarim mengatakan bahwasanya semangat UN itu ialah supaya dapat mengasesmen sistem pendidikan. Baik sekolahnya, geografinya, ataupun dalam sistem pendidikan secara nasional.

AKM (Assesmen Kompetensi Minimum)

Hal utama untuk mencapai keberhasilan penerapan AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) ini adalah konsistensi dari program yang telah dicanangkan. Jangan sampai program hanya berjalan untuk setahun dua tahun saja, atau setelah berjalan ternyata terputus, tidak lanjut kembali, dan sebagainya. Dari sini jelas butuh konsistensi, serta dukungan baik dari lembaga kementerian, lembaga penyelenggara pendidikan, pengajar, dan siswa. Supaya ketika berjalannya program dapat berjalan efektif dan sesuai dengan yang kita semua harapkan.

Begitu pula, adakan evaluasi setiap akhir semester atau setahun sekali untuk membahas sekaligus mengevaluasi atas program AKM ini. Baik dari aspek perkembangan dan kemajuan siswa, keefektifan belajar, efisiensi, emosional, keaktifan, dan lain sebagainya. Dengan begitulah akan tercipta pembelajaran yang sejahtera dan mensejahterakan.

Referensi

Makdori, Y. (2020). Mendikbud Nadiem Sebut Tak Perlu Ada Bimbel Asesmen Kompetensi Minimum. Liputan6.Com. Retrieved from https://www.liputan6.com/news/read/4433040/mendikbud-nadiem-sebut-tak-perlu-ada-bimbel-asesmen-kompetensi-minimum

Puspendik.kemdikbud. (n.d.). Assesmen Kompetensi Minimum (AKM). Puspendik.Kemdikbud.Go.Id. Retrieved from https://hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id/akm/frontpage/detail

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *