Isra Mikraj Dan Ihwal Kebohongan

Isra Mikraj

Isra Mikraj Dan Ihwal Kebohongan

Isra Mikraj Sebuah Perjalanan ‘keajiban’

Isra Mikraj – sepintas agama memang tak jarang tidak masuk akal. Orang-orang yang dengan tegas menggunakan akalnya atas peristiwa religius tentu akan banyak mempertanyakan banyak hal. Kita tahu bersama bagaimana Nabi Ibrahim selamat dari kobar api, nabi Yunus keluar dari perut paus yang besar, atau bahkan nabi Musa yang membelah lautan. Cerita-cerita tersebut bagi orang yang enggan untuk memikirkan akan semata-mata kembali kepada kehendak Yang Kuasa. Namun, bagi orang orang yang dengan cerdas mempertanyakan tentu kembali kepada ‘kehendak Yang Kuasa’ bukan sebuah jawaban. Untuk hal itu, saya menyimpulkan bahwa ada beberapa dimensi di dalam agama yang memang desainnya untuk tidak masuk akal.

Rancangan tidak masuk akal di sini saya kira untuk melegitimasi bahwa manusia mempunyai sisi kelemahan. Ia bukanlah entitas yang sempurna dan mampu mencapai puncak pengetahuan terhadap hal di atas. Sehingga, ketidakmampuan untuk menjangkau hal tersebut menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan yang terbatas atau bahkan sempit. Meski, tidak jarang, orang-orang yang tidak mampu menjangkau cerita-cerita di atas akan menafikan eksistensi dari cerita itu.

Baca Juga Konsep Perdamaian Dalam Paradoks Damai

Kasarnya, mereka anggap hal tersebut hanyalah bualan karena tidak masuk akal. Tentu, hal ini bisa bisa kita terima sebab bagaimana pun tidak semua orang bisa menerima apa-apa yang tidak diimaninya. Namun, bagi orang Islam sendiri, ingkar terhadap hal tersebut adalah suatu pelanggaran yang sangat besar.

Realitanya, umat Islam—atau bahkan saya sendiri tepatnya—akan menerima apa-apa yang datang dari agama. Sifat kritis justru akan tumpul jika dikonfrontasikan dengan hal-hal religius. Maka, ihwal cerita-cerita di atas mungkin hanya sedikit dari umat Islam yang mempertanyakannya perihal keabsahan. Terlepas dari apakah cerita tersebut ada di dalam teks teologis atau pun tidak. Kalau tidak hendak mempertanyakan, saya kira perlu untuk kembali menelaah beberapa ibrah yang terkandung di dalamnya. Ada lagi, yang tidak akan pernah terlepas dari iman umat Islam, yakni perihal peristiwa perjalanan Nabi Muhammad ke langit, katakanlah begitu. Cerita ini memang masyhur dan semua menerima dengan lapang dada, bahkan bertahun-tahun diperingati. Kita sepakat untuk menyebutnya isra mikraj.

Cerita Isra Mikraj

Isra Mikraj adalah perjalanan monumental bagi manusia paling agung. Ini sekaligus awal mula perintah kewajiban atas salat lima waktu. Mula-mula nabi Muhammad di-israkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu diangkat ke langit menunggangi burak. Perihal fenomena ini ada sebuah perbedaan pandang, yakni apakah Nabi itu isra hanya ruh atau beserta jasadnya. Ketikan Nabi kemudian menceritakan kepada orang sekitar, tentu banyak yang tidak percaya. Hal ini juga yang menjadi hujjah bahwa perjalanan nabi beserta jasadnya. Sebab, andai hanya ruhnya tentu banyak yang menerima dan menyebutnya sebagai mimpi belaka. Karena isra menggunakan jasad, maka banyak yang menolak. Bagaimana pun perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa mustahil terlaksana dalam semalam. [Abul Hasan an-Nadwi, 2020: 234]

Pada masa itu Islam masih dalam tahap pengembangan. Sehingga, bisa-bisa menentang hal-hal tidak masuk akal. Tidak menerima sesuatu yang semu keberadaannya secara mentah-mentah. Buktinya, sesudah nabi menceritakan itu banyak sekali orang Islam yang murtad. Tentu, hal tersebut dalam perspektif kita adalah sesuatu yang buruk. Namun, ada beberapa hal yang tidak boleh terlupakan di sini.

Kebohongan Dalam Berita

Semestinya, hari ini kita perlu banyak belajar dari orang-orang yang ingkar pada masa itu. Bukan belajar ihwal keingkaran atau kemurtadan. Kita belajar bagaimana sesungguhnya menanggapi sebuah berita yang datang. Apalagi, di fase bertebaran berita yang tidak jelas bahkan sampai dalam taraf kebohongan atau hoaks. Perihal hoaks tentu kita mampu menyanggah keberadaannya, hal ini sudah menjadi rahasia, atau bahkan aib, bersama. Meski, orang-orang sekitar nabi masa itu tidak menyelidiki melainkan menolak secara gamblang.

Sebagaimana UNESCO mencatat Indonesia masih menjadi negara dengan minat baca yang rendah. Rendahnya minat baca juga menentukan terhadap mudahnya mengambil sikap dan terburu-buru dalam menelan kabar yang beredar. Di titik ini, saya perlu menekankan bagaimana kita belajar kembali pada sekitar masa isra mikraj nabi. Hal yang negatif hari itu harus direfleksikan kembali hari ini. Kita, terlebih dahulu harus menyelidiki keberadaan kabar yang beredar. Maraknya informasi di satu sisi memang menambah kemudahan. Namun, sisi lainnya justru terdapat sebuah ketimpangan yang besar. Dualisme yang bertentangan ini yang sering tampak ke permukaan. Begitulah, sekali-kali dan di waktu tertentu kita harus menengok ke masa lalu. Belajar tidak hanya dari hal-hal yang positif, namun juga dari sebaliknya. Semua demi tidak menjerumuskan kita terhadap lubang gelap dan jauh dari nilai-nilai agamis.

Share this post

Comments (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *