Puasa dan Ritual Kemanusiaan

Puasa dan Ritual Kemanusiaan

Ibadah puasa merupakan salah satu anjuran ibadah yang tidak hanya diperuntukkan kepada umat Islam saja. Menurut pendapat Sahabat Nabi, Sayyidina Ali, pertama kali yang mendapatkan perintah puasa adalah Nabi Adam, puasa itu ibadah yang lawas (qadīm)–, dan Allah pernah menganjurkan kepada mereka, tidak hanya kepada umat muslim saja (Al-Zamakhsyari, 1986: 225). Sebagai ritual kemanusiaan puasa juga memiliki banyak makna.

Jadi tidak perlu heran, umat selain muslim juga mengenal aktivitas ibadah puasa. Bahkan, fenomena yang terjadi di negeri kita ada sebagian kecil umat selain muslim ikut serta melaksanakan puasa. Selain karena bentuk penghormatan terhadap umat muslim saat bulan Ramadan, di dalam agama mereka juga mengenal spiritual puasa. Bahkan menurut Syeikh Al-Zamakhsyari jumlah waktu berpuasa mereka (ahlu al-Injīl) lebih banyak, yaitu 50 hari.

Pertanyaannya, mengapa puasa dianjurkan kembali dalam kitab Al-Qur’an? Bagaimana puasa yang dikehendaki syari’at? khawatir, justru puasa yang kita jalani selama ini terjangkit apa yang dimaksud oleh sabda Nabi Muhammad: “Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga?Hadis ini sangat populer dan banyak dikutip sebagai landasan introspeksi puasa kita.

MENGENAL ARTI PUASA SEBAGAI RITUAL KEMANUSIAAN

Ritual Kemanusiaan

Imam Al-Ghazali di dalam salah satu kitabnya yang fenomenal, ihyā’ ‘ulūmiddīn menjelaskan; puasa artinya menahan (hawa nafsu) & meninggalkan (aktivitas buruk). Adapun karakter ibadah puasa itu samar (urusan pribadi). Orang lain tidak akan benar-benar tahu bahwa orang lain itu berpuasa atau tidak.

Berbeda dengan aktivitas ibadah yang lain, seperti salat, aktivitas salat dapat dilihat secara langsung dengan mata, puasa hanya bisa dilihat secara langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi, konektivitas (networking) ibadah puasa itu yang tau hanya kita (orang yang berpuasa) dan Allah.

Puasa adalah bentuk perlawanan diri terhadap musuh Allah, yaitu setan. Karena akses setan (melumpuhkan manusia) adalah dengan syahwat, sedangkan letak kekuatan syahwat adalah disebabkan dengan banyak makan dan minum. Semakin banyak kita makan dan minum, semakin banyak kemungkinan kita akan berbuat hal yang menuruti keinginan nafsu.

Bahkan, terdapat hadis Nabi yang mengatur urusan makan, yaitu –agar makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang–; hadis ini menunjukkan bentuk moderasi spiritual agar kita seimbang mengatur lambung. Sebab, apabila kita kekenyangan akan menimbulkan rasa malas dan apabila kita kelaparan akan menimbulkan rasa lemas. Nah, puasa ini barangkali sebagai sytem control setelah sekian bulan kita menikmati makan dan minum.

Salah satu hadis yang ingin kami kutip dari penjelasan Imam Al-Ghazali perihal relevansi dengan kondisi di atas, misal; “Sesungguhnya setan itu benar-benar akan (menjadi virus yang) mengalir di dalam aliran darah anak cucu Adam. Maka, persempitlah aliran darah (kita) dengan rasa lapar.” 

Tiga Tingkatan dalam Puasa

Selain aspek lahir, tapi juga batin. Adapun manfaat adanya tingakatan puasa ini agar kita dapat memposisikan diri, sejauh mana puasa yang akan kita jalani. Imam Al-Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga tingkatan; (pertama) puasanya orang awam  (shaum al-‘Umūm), (kedua) puasa khusus (shaumu al-khusūs), dan yang (ketiga) adalah puasa paling khusus (shaumu khusūsi al-khusūs). Pembagaian seperti ini, selain memudahkan cara memahami arti puasa, di sisi lain berbanding lurus dengan tingkatan spiritual seseorang dalam melaksanakannya.

Pertama, puasanya orang awam maksudnya adalah manahan keinginan dan kesenangan dari melakukan hal-hal yang mengikuti hawa nafsu (syahwat), seperti menahan makan dan minum, serta hal-hal lain yang dapat menjadi sebab batalnya puasa secara lahir. Semua orang memahami bahwa puasa adalah menahan makan dan minum, ini adalah pemahaman lumrah. Kemudian, sebagai tolak ukur disiplin keilmuan yang mengontrol bagian ini secara mendetail adalah ilmu praksis, seperti ilmu fikih.

Kedua, menjaga segala aktivitas badan yakni menahan telinga (dari mendengarkan berita bohong), menahan mata (dari menyaksikan prilaku negatif), menahan lisan (untuk berkata bohong), menahan tangan (menetukan keburukan), menahan kaki (tidak melangkah dengan kemaksisatan), dan menahan semua anggota tubuh dari perbuatan dosa. Yang menjadi tolak ukur adalah sikap perbuatan kita, baik pada diri sendiri maupun kepada yang lain.

Dan yang terakhir adalah puasa khususnya khusus; adalah puasa dalam rangka mencegah hati dari rasa hina, berfikir materialistik, dan menahan hati dari ketergantungan diri dari selain Allah. Tingkatan yang ketiga ini adalah tingkatan tertinggi bagi orang yang mampu mempraktekannya. Yaitu dengan cara menjaga niat atau maksud hati agar tidak salah maksud dalam menjalankan ibadah puasa.

PUASA SEBAGAI LATIHAN JIWA

Puasa memiliki implikasi terhadap kesehatan mental. Bagaimana tidak? berdasarkan klasifikasi tingkatan puasa di atas, sebenarnya seluruh anggota badan, bahkan hati harus ikut serta puasa. Mulai dari mengurangi makan dan minum, beraktivitas yang baik, dan yang paling tinggi adalah menjaga hati.

BACA JUGA: Jugun Ianfu di Masa Penjajahan Jepang

Oleh karena itu, sebenarnya manusia yang beriman dan dekat dengan Tuhannya, tiada hari tanpa puasa; puasa dalam rangka menjaga mental dan mengurangi patologi sosial. Dunia kita saat ini semakin ramai dan keruh, penuh dengan kontestasi dan noda kebencian, hoax, berita bohong, dan statement-statement yang tidak bertanggung jawab. Puasa harus menjadi solusi dan control system agar menjadi manusia sesunguhnya, manusia yang mampu menjaga keselamatan dirinya, keselamatan orang sekitar, dan yang terakhir adalah keselamatan bangsanya.

*Penulis adalah Misbahul Wani; Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *