free page hit counter

Desa Sadar Kerukunan: Prototipe Toleransi ala Desa

Desa Sadar Kerukunan: Prototipe Toleransi ala Desa

Contents

Toleransi Keberagaman Kemajemukan

Di berbagai tulisan, orasi ilmiah, tidak sedikit ungkapan perihal kemajemukan Indonesia dan tentu saja toleransi. Ini adalah fakta yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Keberagaman, dengan berbagai jenisnya itu, telah eksis dan secara faktual ada di sini. Eksistensi keberagaman tidak hanya wacana para akademisi, melainkan fakta lapangan yang terbentang luas di hadapan kita. Kendati demikian, sedikit dari kita yang bersentuhan langsung dengan keberagaman tersebut—lebih-lebih keberagaman agama.

Efek domino yang terjadi akibat kita tidak sentuhan dengan keberagaman melahirkan konsepsi liar. Kesimpulan yang lahir dari prakonsepsi yang sering tidak presisi. Ini dampak terisolasinya kita dari dunia luar yang berbeda serta tidak punya akses untuk bersentuhan langsung. Di kampung saya, umpamanya, bergabung pada ormas moderat semacam Muhammadiyah saja adalah hal tabu. Hal tersebut disebabkan tidak bersentuhannya langsung dengan ormas satu ini.

Satu-satunya cara menghindari dari sikap fanatik yang berlebihan adalah dengan bersentuhan langsung. Bergaul dengan mereka yang selama ini dipandang berbeda. Entah berbeda dalam organisasi keagamaan hingga keimanan. Hanya dengan cara inilah, sikap fanatis yang tak dapat dibendung menjadi terkendali.

Bersentuhan dengan Keragaman

Ada banyak desa yang merepresentasikan bentuk interkasi antar umat beragama dengan baik. Salah satu kampung yang saya kunjungi adalah Dusun Karanggede, Padukuhan Dagen, Pendowoharjo, Bantul. Sebagaimana hasil pengamatan lapangan, secara tata ruang memang hidup masyarakat berdampingan. Tidak hanya bangunan milik masyarakat saja yang berdampingan, bahkan rumah ibadah juga berjajar.

Saat baru memasuki dusun, terdapat bangunan Susteran Gembala Baik yang berjajar dengan Pura dan hanya dibatasi gang sempit. Di ujung gang terdapat masjid yang tidak jauh dengan Gereja Pantekosta. Dengan anatomi seperti ini, maka jelas umat beragama bergandengan dalam keberagaman. Menariknya, selama bertahun-tahun masyarakat justru guyub dan rukun. Dalam hal-hal ritual pun, tidak ada yang ganggu menganggu satu sama lain. Hal semacam ini sulit terbentuk di dalam sebuah masyarakat yang homogen.

Bayangkan, sebuah masyarakat yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan perbedaan. Hal yang terjadi adalah konsepsi-konsepsi liar terhadap orang yang berbeda tersebut. Atas dasar ini, intoleransi sejujurnya bermula dari tertutupnya akses terhadap perbedaan. Terisolasinya individu atau kelompok dari keberagaman merupakan faktor penting terjadinya intoleransi. Kendati juga tidak ada yang menjamin bahwa heterogenitas meniscayakan sikap toleransi.

Yang jelas, dengan anatomi kampung yang beragam, kesempatan untuk menjadi toleran semakin terbuka lebar. Bersentuhan langsung dengan perbedaan memberikan kesan lain. Tidak mengerikan sebagaimana prakonsepsi yang telah terbangun.

Toleransi dari Desa

Bersandar pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 81.616 desa. Kisaran 4.982 merupakan desa yang tertinggal. Tanpa niat untuk memandang sebelah mata, saya kira rakyat desa pada umumnya mempunyai kerentanan dari beragam aspek. Tidak hanya aspek ekonomi, bahkan aspek toleransi juga. Lagi, anatomi banyak desa justru homogen dan memiliki banyak persamaan satu sama lain.

Homogenitas semacam ini, di satu sisi adalah berkah tersendiri. Sebab tidak akan pernah bertemukan konflik SARA. Bagaimana mungkin ada konflik tersebut di tengah masyarakat yang relatif identik?

baca juga cerita dari Kotagede

Namun, orang-orang dari lingkungan homogen seperti itu akan sedikit eksklusif terhadap orang asing di luar diri dan kelompoknya. Inilah mengapa konstruksi desa sadar kerukunan menjadi istimewa. Ia hadir dengan latar belakang desa tapi bukan dalam atribut homogenitasnya, melainkan sifat heterogennya. Semakin banyaknya desa sejenis itu, maka semakin banyak pula peluang toleransi terhadap perbedaan.

Barangkali kita bisa memulai toleransi dari desa. Saya tidak hendak mengatakan bahwa di dalam masyakarat urban toleransi berjalan sedemikian mulus. Tidak. Hanya saja dalam anatomi masyarakat urban, mereka lebih mempunyai akses terhadap perbedaan. Berbanding terbalik dengan desa yang segalanya serba terbatas. Sebagaimana cerita saya di awal, menjadi warga Muhammadiyah saja adalah hal tabu, apalagi menjadi muslim Syi’i dan Ahmadi.

Akhirnya, Desa Sadar Kerukunan yang sudah ada menjadi semacam contoh mula-mula. Ia sebagai sebuah prototipe bagaimana desa yang mestinya terbuka terhadap perbedaan. Desa yang membawa inisiatif toleransinya sendiri untuk kemudian menyodorkannya dalam wacana keindonesiaan. Ini sumbangan yang luar biasa!

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *