Solidaritas Kunci Sukses Kebudayaan

Pada tulisan ini saya terinspirasi dari pemikiran salah satu filosof muslim bernama Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai ilmuwan kebudayaan sekitar abad 14. Konteks zaman ketika Ibnu Khaldun ini mengembara tidak terlalu sesuai dengan isi kepalanya. Pandangan umum yang cenderung memahami kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap dan tertutup cukup populer ketika itu. Kemudian hadirlah sosok Ibnu Khaldun dengan pemikiran alternatifnya memandang kebudayaaan sebagai sesuatu yang dinamis, artinya suatu kebudayaan bukan begitu saja merupakan warisan nenek moyang yang bersifat dogmatis namun sesuatu yang lebih mengalir dan fleksibel.

            Tentu saja pemikiran semacam ini menimbulkan keresahan di kalangan pemikir kebudayaan lainnya ketika suatu hegemoni berpikir kala itu dinegasikan dengan alternatif yang diberikan oleh Ibnu Khaldun. Masyarakat yang berubah dan dinamis seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun sekaligus  menimbulkan tantangan baru terhadap diskursus kebudayaan yang pada saat itu cenderung singular. Memang sejauh ini paradigma kebudayaan yang berkembang seperti itu―kebudayaan yang statis―maka ketika muncul wacana baru tentu sangat mengelisahkan para pemikir.

            Corak berpikir yang kaku selalu menganggap suatu persoalan selalu memiliki jawaban yang identik dengan sebelumnya tanpa memikirkan keterlibatan proses mewaktu. Ibnu Khaldun menjawab kegelisahannya ini dengan menawarkan perspektif baru yaitu dengan melihat sejarah sebagai catatan perubahan-perubahan watak masyarakat. Bahkan dalam pandangannya, Ibnu Khaldun juga menemukan bahwa manusia dapat bersikap jahat dan baik pada saat yang sama. Perluasan cakrawala ini tampaknya juga menimbulkan semangat baru dalam perbincangan kebudayaan yang tidak begitu populer ketika itu.

Baca juga tulisan lain di sini

            Wacana kebudayaan yang dinamis yang dipopulerkan oleh Ibnu Khaldun ini pun membawanya juga untuk merumuskan suatu teori siklus. Teori ini bermula ketika Ibnu Khaldun meyakini bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan politik. Manusia dalam hal ini selalu membutuhkan eksistensi manusia yang lain. Kegiatan bercengkrama ini atau dapat dikatakan sebagai aktivitas sosial kemudian memicu munculnya suatu organisasi sosial. Dengan bentuk sosial yang konsisten inilah maka peradaban manusia dapat diciptakan. Pertemuan manusia yang bersekutu dalam kehidupan sosial inilah yang meniscayakan suatu konflik dapat terjadi. Ibnu Khaldun beranggapan bahwa konflik merupakan suatu yang justru mengharmonisasi ikatan sosial daripada apatisme. Konflik dalam pengertian ini bukan berkonotasi negatif jika dapat dikelola dengan baik. Ibnu Khaldun juga mengharapkan seorang pemimpin yang ideal yang dapat mengelola konflik ini dengan baik, maka tidak heran jika kehidupan saat ini kita selalu membutuhkan sosok pemimpin.

            Pemimpin dalam pengertian ini saya pikir bukanlah suatu jabatan formal namun merupakan suatu tanggung jawab sosial yang diperlukan bagi setiap individu. Dengan demikian kondisi ketiadaan sosok pemimpin yang ideal dapat menimbulkan permasalahan yang serius karena hilangnya tanggung jawab sosial dalam mengelola konflik. Ibnu Khaldun juga dengan perspektif dinamisnya tidak menafikan adanya kemungkinan suatu kemunduran peradaban dalam keadaan buruk tersebut.

Hal ini disebabkan juga karena hilangnya harmonisasi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga kreativitas kebudayaan tidak akan dapat berkembang dengan baik begitupun peradaban juga akan mengalami kemunduran. Ketika tantangan zaman terus-menerus memberikan pertanyaan sedangkan kohesi sosial justru mengendur maka kemunduran peradaban suatu bangsa pun menjadi mungkin. Misalnya jika kita melihat sejarah beberapa kerajaan besar di Nusantara yang pernah mengalami masa kejayaan justru pada akhirnya akan mengalami keruntuhan karena lunturnya semangat solidaritas yang sebelumnya menjadi kunci sukses masyarakat tersebut dalam membangun kebudayaan dan peradabannya.

            Sikap apatisme disini menjadi sangat berbahaya bagi kebudayaan dan peradaban suatu bangsa sebab dapat menjadi faktor rasional bagi kemundurannya. Upaya  memegang teguh kebudayaan tentunya juga harus selaras dengan semangat solidaritas ini yang perlu terus dipupuk di dalam akal budi manusia sebab modal inilah yang memungkinkan suatu kebudayaan dapat menjawab tantangan zaman yang begitu dinamis dan kontingensi.

            Dalam konteks bangsa Indonesia saya pikir perlu untuk menyadari peran pemimpin yang dapat mengelola konflik sosial secara tepat dan adil sehingga dapat ditanggapi dengan baik. Soal pemimpin seperti apa yang ideal itu kita tidak perlu khawatir untuk mencarinya pada setiap pemilihan umum namun harus kita tanamkan keyakinan bahwa pemimpin itu ada dalam diri kita sendiri. Jika kesadaran ini muncul maka secara aksi dapat meng-influence individu-individu lainnya sehingga kita tidak perlu khawatir soal kemunduran dalam kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia, sebab faktor-faktor kemunduran tadi telah dijawab dengan banyaknya pemimpin yang ideal serta solidaritas sosial yang kita miliki.  

Ibnu Khaldun

Related Post

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *