Memahami Filosofi Jawa “Urip Iku Urup”

Memahami Filosofi Jawa “Urip Iku Urup”

Dalam beberapa minggu terakhir ini saya telah berbincang dengan salah satu orang yang cukup memahami mengenai sejarah mataram hingga berbagai aspek filosofisnya. Perbincangan yang terjadi secara spontan tersebut meskipun hanya melalui media daring namun sesungguhnya sudah cukup membuat saya semakin penasaran terhadap sejarah mataram dan sekitarnya bahkan mulai dari awal abad ke-10.

Tidak hanya soal kisah sejarah yang begitu kompleks dan butuh beribu-ribu lembar untuk menceritakannya namun ternyata dalam setiap peristiwa sejarah telah memiliki nilai-nilai luhur yang terkadang belum kita cermati.  Mulai dari kisah percintaan hingga sosial politik sangat erat kaitannya dengan sejarah yang pernah terjadi di tanah agung ini (Nusantara). Mempelajari sejarah merupakan sesuatu yang saya anggap penting terlepas daripada berbagai polemik dan sudut pandang beragam tentang sejarah itu sendiri.

Tokoh proklamator kita pun Bung Karno sangat terkenal dengan wejangannya yaitu “Jas Merah” (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Melalui sejarah kita juga terasa hidup beribu-ribu zaman tanpa kenal waktu. Meskipun peristiwa sejarah telah terjadi namun selalu ada hikmah atau falsafah yang dapat kita ambil guna mengarungi kehidupan di masa kini dan yang akan datang.

Urip Iku Urup

Secara terminologi urip iku urup berarti “Hidup Itu Menyala”. Jika kita mulai tafsirkan secara pengertian awam kata “nyala” mungkin dapat merujuk pada sifat dari api. Keberadaan api dalam kehidupan merupakan sesuatu yang esensial setidaknya seperti sifat “nyala” yang memiliki arti untuk penerangan kehidupan. Bahkan pusat tata surya yaitu matahari tentu saja memiliki sifat nyala ibarat api. Dapat dikatakan pula jika di dunia ini tidak ada satupun yang memiliki sifat “nyala” maka dapat dipastikan kegelapan akan mendominasi. Mungkin saja kita tidak akan mengenal aneka macam ragam warna dalam kehidupan ini kecuali kegelapan itu sendiri.

Pepatah jawa “urip iku urup” memanglah sudah sangat tua dan lama dikenal juga dihormati terutama oleh masyarakat Jawa hingga saat ini. Namun pada prinsipnya ajaran “urip iku urup” tidak cukup hanya dihormati. Tetap perlu adanya laku seperti dalam ungkapan Ronggowarsito bahwa “Ilmu iku kelakone kanti laku” yang artinya Ilmu itu harus sampai pada pengamalannya.

Arti dari “urip iku urup” banyak ditafsirkan sebagai suatu keharusan bahwa hidup harus saling memberikan manfaat bagi sekitarnya. Ibaratkan lilin yang menyala menerangi gelapnya malam selalu ada manfaat yang dapat kita rasakan. Mungkin dapat kita persepsikan bahwa ungkapan “urip iku urup” sangat begitu klasik dan universal. Namun sesungguhnya keberadaan ajaran ini tidak dikekang oleh waktu. Artinya kita pun masih dapat mengamalkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan arif dalam masyarakat Jawa ini merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Besar dalam hal ini tidak hanya luasnya wilayah namun juga disertai dengan luasnya pikiran dan hati dari setiap elemen bangsa ini. Lalu apakah jika ini merupakan ajaran masyarakat Jawa maka selain masyarakatnya tidak dapat mengamalkannya? Tentu saja tidak. Setiap daerah tentu memiliki pandangan arifnya masing-masing namun pada dasarnya kebajikan yang universal itu tetaplah ada sebagai substansi kehidupan terlepas darimana kita memandangnya. Ajaran “urip iku urup” juga merupakan panggilan kemanusiaan tidak hanya bagi masyarakat Jawa namun juga bagi seluruh alam semesta.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *